Friday, December 28, 2012

Pulang Kampung

Udara pedesaan yang sejuk menemani perjalananku dengan beca menuju rumah Ratna. Ya, setelah menjadi TKI selama tiga tahun di Jepang, rumah Ratna lah yang pertama kali aku tuju di Kabupaten Garut ini. Aku tidak sabar untuk merayakan kebahagiaan ini dengan melamarnya.

"Assalamualaikum!" aku mengucapkan salam saat tiba di rumah Ratna.

"Waalaikumsalam.. Ada keperluan apa?" seorang pria muda yang seumur denganku keluar rumah dan membalas salamku. Siapa dia?

"Ratna ada?" tanyaku.

"Oh ada.. Silakan masuk dulu.. Ratna, ada temanmu! Biar Fathia sama aku aja!" lelaki itu berteriak ke dalam rumah.

Lalu muncullah Ratna dengan seorang bayi dalam gendongannya. Aku terpaku melihatnya. Ratna sudah menikah dan mempunyai anak?!

"Kang Dadan.. Silakan duduk Kang.." kata Ratna sambil memberikan bayi itu pada suaminya. Aku pun duduk, berusaha menahan emosi demi harga diriku.

"Abah.." Ratna menjawab rasa penasaranku sambil menunduk. Rupanya ayahnya telah menjodohkan Ratna dengan pria itu.

"Kamu mencintainya?" tanyaku.

"Mencintai siapa?" Ratna bertanya seolah tidak mengerti pertanyaanku.

"Aku tidak tau siapa namanya! Apa kamu mencintai lelaki tadi? Lelaki yang dijodohkan oleh Abahmu?!" nada suaraku mulai meninggi.

"Ya ampun Akang.. Abah tidak menjodohkan Ratna dengan siapa-siapa.. Lelaki tadi namanya Pak Irfan.. Dia membeli rumah ini yang digadaikan Abah gara-gara berjudi.. Sekarang Abah ada di Bandung, mencari pekerjaan.. Ratna diperbolehkan tinggal disini, karena Pak Irfan dan istrinya membutuhkan pengasuh untuk anaknya.. Ratna malu sama Akang, karena kelakuan Abah.." Ratna menjelaskan.

Rasanya lega sekali mendengar penjelasan Ratna. Aku ingin tertawa sekeras-kerasnya menertawakan pikiranku yang sok tahu, tapi tidak mungkin karena kini Ratna sedang menangis.

"Maaf Neng.. Akang sempat salah paham.. Eneng tidak usah malu.. Bagaimana pun keadaan Eneng, Akang tetap mencintai Eneng dan akan menikahi Eneng.. Eneng mau kan menikah dengan Akang?" tanyaku sambil mengeluarkan sebuah cincin dari saku kemejaku.

"Mau.." jawab Ratna sambil tersenyum.

"Alhamdulillah..!" aku mengucap syukur atas kebahagiaan yang tak terkira ini.

~~~~~

Tulisan ini diikutsertakan pada event #postcardfiction yang diadakan oleh @kampungfiksi dan @smartfrenworld.

6 comments :

  1. waduh.. padahal saya udah keburu esmosi di pertengahan cerita. untung happy ending :3

    ReplyDelete
  2. @ rinibee: insya allah :)

    @ ruri: hihi.. alhamdulillah happy ending :D

    ReplyDelete
  3. Untung saya gak ikut teriak meninggi kepada Ratna he he he.
    Semoga berjaya dalam kontes jeng
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  4. Keren ceritanya mbak. Saya juga mengira si Ratna sudah nikah :D

    ReplyDelete
  5. @ abdul cholik: untung ya :D
    salam sejuk juga dari bandung :)

    @ mugniar: makasih mba :)

    ReplyDelete