Friday, April 12, 2013

[BeraniCerita #07] Si Pendiam yang Aneh

Credit
Pagi ini aku memasuki kelas dengan penuh semangat. Aroma kayu dan rempah yang menguar dari parfum baru di badanku membuatku semakin percaya diri. Setelah menyimpan tas di bangkuku, aku segera menghampiri Ana yang sedang membaca buku di bangkunya.

"Makasih ya." kataku sambil duduk di sebelah Ana, kebetulan Ari teman sebangkunya belum datang.

Ana mengangkat kepalanya dan menatapku bingung. "Untuk apa?" tanyanya.

Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ana rupanya pura-pura tidak mengerti, mungkin karena malu.

"Makasih untuk parfumnya. Aku suka." kataku.

Ana terlihat kaget.

"Kamu mengaku saja, aku sudah tahu dari Pak Cipto, penjaga sekolah. Dia bilang, kemarin melihat kamu datang pagi-pagi sekali dan menyimpan sesuatu di laci mejaku." jelasku.

Ana terlihat gugup. Dia menggigit bibir bawahnya, manis.

"Kamu enggak perlu khawatir, aku juga suka kok sama kamu." kataku merasa tidak perlu berbasa-basi.

"Hah?!" matanya membulat, cantik.

"Kamu harus tahu, aku sudah suka sama kamu sejak kelas X. Aku enggak menyangka kalau ternyata kamu juga suka sama aku. Di saat teman-teman yang lain hanya mendapatkan bunga sebagai hadiah Valentine, aku malah mendapat parfum darimu. Tentu kamu mengeluarkan uang yang tidak sedikit." kataku mencoba menyenangkan hatinya.

"Hhhh... Oke aku mengaku." kata Ana akhirnya menyerah.

Yes! Aku bersorak di dalam hati.

"Aku melakukannya atas permintaan Isma. Kebetulan ayahku mempunyai kios parfum, jadi Isma memintaku untuk memilihkan parfum untukmu dan sekalian menyimpannya di laci mejamu." kata Ana datar.

Sejenak aku terperangah. Pandanganku lalu mengarah pada Isma yang baru masuk ke kelas. Aku terpaksa duduk sebangku dengannya karena wali kelasku, Bu Mala membuat peraturan tempat duduk sesuai dengan nomor absen. Aku tidak pernah merasa nyaman berada dekat dengannya. Dia tidak banyak bicara, penyendiri, dan tidak mempunyai banyak teman. Perilakunya juga abnormal. Dia tidak pernah lupa membawa minyak angin dan selalu menghirupnya setiap saat, bahkan ketika sedang ulangan sekalipun. Tidak wajar.

"Jadi selama ini si kuper beraroma nenek-nenek itu menyimpan perasaan suka padaku?" tanyaku pada Ana.

Badanku terasa lemas. Duduk sebangku dengan Isma saja sudah membuatku tersiksa, apalagi mengetahui bahwa ternyata dia menyukaiku. Tidak! Aku berteriak di dalam hati.

Sret! Ana menarik kerah kemejaku dan berbisik di telingaku dengan nada marah, "Isma memang tidak pandai bergaul, tapi tidak sepantasnya kamu menghina dia! Dia selalu membawa minyak angin gara-gara kamu! Dia tidak tahan dengan bau badanmu! Makanya dia memberimu parfum itu!"

Wajahku menghangat. Aku merasa malu bukan kepalang.

~~~~~

381/500 kata

Ditulis dalam rangka menjawab tantangan Monday Flashfiction Prompt #9 Parfum dan Berani Cerita #07 dengan judul Si Pendiam yang Aneh.

33 comments :

  1. ya ampuuuuuun, bahahahahahahaa, ngakak di endingnya :))). keren!

    ReplyDelete
  2. hahahaa, mandi dulu gak ya itu ke sekolahnyaa? :P

    ReplyDelete
  3. Berkunjung ke blognya sahabat dan tidak lupa meninggalkan komentar dan followersnya, kalau ada waktu luang di tunggu kunjungan dan followersnya di blog "Karya Kuring Haratis"

    Terimakasih, salam blogger mania...

    ReplyDelete
  4. Mbuahahaha.... Pukulan telak itu mba :D

    ReplyDelete
  5. walaaaahh :)))) udah karya ke berapa ini tentang BB yaaa.. haha *jadi mengendus diri sendiri*

    ReplyDelete
  6. Wahahaha... Isma bau nenek2.

    Saya juga suka pakai minyak angin karena saya sering mual dan sakit kepala. Dulu pernah harus ke dokter dan masih bau minyak angin huwahahaha... dokternya malah gantian mual2 nyium baunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ups hihihi..

      saya juga berteman baik sama minyak angin, soalnya alergi dingin :D

      Delete
  7. Huahahaha... keren nih endingnya...
    Kok bisa gak nyadar dg BBnya sendiri gitu sih?

    ReplyDelete
  8. Biasanya yang BB emang ga nyadar kalau dia BB. hihihi
    Mantap,mbak!

    ReplyDelete
  9. bagus bagus...
    tapi kok pake adegan tampar menampar ya? aku agak ilfil di bagian itu. Ana galak amat. bisa kali, ngomong baik-baik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe terbawa suasana mba, abis sebel banget sama cowok itu, ngehina oramg lain tapi engga sadar diri :))

      tapi akhirnya saya ilangin mba, dengan pertimbangan, klo ada adegan tampar2an bisa menarik perhatian temen2 sekelas :D

      makasih mba :)

      Delete
  10. itu cowok kepedean amat yak.. gak nyadar bau badan pula..

    ReplyDelete
  11. xixixiiii,....keren mba, endingnya juara :)

    ReplyDelete
  12. Asyeeekk! Keren ceritanya! Ngejab bener akhirnya! Bhahaha

    ReplyDelete
  13. Mba Dian selalu bisa bikin kejutan dalam tulisannya. Salut :)

    ReplyDelete
  14. ahahahaha.....kocak bgt! malu bgt tuh cowoknya..haha

    ReplyDelete
  15. Parah. Kepedean tapi ternyata dia bau badan. Rasain. Hihi..

    ReplyDelete