Sunday, May 26, 2013

Warung Bu Euis

Credit: Dok pribadi RinRin Indrianie
"Kamu harus nyobain gorengan di warung Bu Euis ini. Ini warung langgananku sejak kecil. Aku juga udah lama banget enggak ke sini. Terakhir dua bulan yang lalu waktu Enin sakit." kataku saat kami turun dari mobil Beni. Aku sengaja mengajak Beni mampir di warung Bu Euis sebelum mengunjungi rumah nenekku.

Beni tidak menjawab, tapi dia menggandeng tanganku sambil berjalan ke warung Bu Euis.

"Punteun Pak!" Beni menyapa bapak pemilik warung yang nampak salah tingkah melihat kedatangan kami.

Bapak itu mengangguk. Dia tidak tersenyum dan melihat kami dengan tatapan yang terasa ganjil. Aku mencoba untuk tidak menghiraukannya dan mengajak Beni duduk di bangku panjang yang berada di dalam warung.

"Aku paling suka bala-balanya. Cobain deh." kataku sambil mengambil satu buah bala-bala untukku dan satu buah lagi untuk Beni.

"Gimana? Suka?" tanyaku.

"Enak." jawab Beni sambil mengunyah bala-balanya.

Aku sedang mengambil bala-bala yang kedua ketika Beni berbisik di telingaku, "Bapak itu suami Bu Euis?"

Aku mengangguk.

"Dari tadi dia merhatiin kita terus. Kamu enggak akrab sama dia? Kan udah langganan di sini." Beni bertanya lagi.

"Selama ini dia kerja di luar kota. Udah setahun ini pensiun, tapi sakit-sakitan. Makanya aku enggak pernah kenal sama dia. Aku juga baru kali ini ketemu sama dia." jawabku lagi.

"Bapaknya aneh." kata Beni.

"Hush! Nanti kedengeran orangnya!" kataku sambil mencubit pinggangnya.

Beni membalas mencubit tanganku lalu menciumi leher dan telingaku.

"Ahaha! Beni! Stop Ben!" aku tertawa geli sambil mencoba menghindari ciuman Beni, tapi Beni tidak mau berhenti.

"Diliatin si Bapak tuh!" kataku.

"Biarin! Kaya enggak pernah muda aja!" Beni terus menciumiku. Akhirnya aku pun pasrah.

Beberapa menit kemudian.

"Eh ada Neng Indah! Loh Marni mana?" tanya Bu Euis sambil masuk ke dalam warung, kedua tangannya membawa barang belanjaan.

"Dari tadi saya enggak ngeliat Marni, Bu." kataku.

Bu Euis menggelengkan kepalanya. "Anak itu pasti main lagi sama teman-temannya! Jadi tadi warung ini kosong?!" kata Bu Euis sambil menyimpan barang belanjaannya dengan kasar ke atas meja.

"Tadi ada suami Ibu kok." jawabku.

"Suami?" tanya Bu Euis.

Aku mengangguk.

"Suami Ibu sudah meninggal sebulan yang lalu Neng." kata Bu Euis, tatapan matanya berubah sendu.

Mendengar perkataan Bu Euis, aku dan Beni saling bertukar pandang. Wajah Beni berubah pucat, sementara bulu kudukku meremang. Pantas bapak tadi terlihat aneh, ternyata dia itu han...

"Maling!" Bu Euis tiba-tiba berteriak sambil memperlihatkan kepada kami kaleng tempat menyimpan uang warung yang kini telah kosong. Suaranya bergetar dan matanya berkaca-kaca.

~~~~~

Ditulis dalam rangka menjawab tantangan Monday Flashfiction: Prompt #13 Bapak Pemilik Warung.

10 comments :

  1. haduuuu, kasiannya bu Euis :(, ini gegara kalian berdua main mesum disini! *marah2samasibeni :D

    ReplyDelete
  2. kasihan banget bu euis. Lia orang sunda ya? soalnya diatas menulis bala-bala hehehe. btw nama panggilan aku juga Lia loh dirumah dan teman-teman dekatku :) eh gak ditanya main nyerocos aja ya aku

    ReplyDelete
  3. gak tau nih mesti serem apa mesti kertawa mba..tp yg pasti aku cekikikan baca endingnya..
    bawa td ternyata maling kan?

    ReplyDelete
  4. Waaahh ga terduga banget ya endingnya..

    ReplyDelete
  5. keren inih mbak, endingnya nggak nyangka loh... :D

    ReplyDelete
  6. Waaaah keren pisan euy...

    Jadi sebetulnya, Neng enggak tahu persis kan suami euis, tetapi ada laki-laki yang aneh itu ngali bukan suaminya, jadi bukan hantu...hihiiii...

    KEren, acungin jempol enam daaah, dua pinjam punya Marni.

    Salam
    Astin

    ReplyDelete
  7. domisili di bandung? ayok sesekali ikut kopdar :D

    ReplyDelete
  8. jadi itu bukan hantu ya, tapi maling hehe

    ReplyDelete