Monday, July 8, 2013

Motivasi Menulis dari Tere Liye

Saya punya janji nih sama seseorang untuk bagi-bagi oleh-oleh dari Pelatihan Menulis Just Write 2 kemarin sebulan yang lalu. Iya, acaranya udah berlalu sebulan yang lalu, tapi saya belum sempat nulis. Pulang dari Yogya, langsung istirahat. Seminggu kemudian adik saya sakit dan harus diopname, jadi saya sibuk ngasuh bayinya. Eh seminggu kemudian gantian saya yang sakit, enggak harus diopname tapi ya jangankan nulis, baca aja males. Terus sisanya males lupa *pembenaran* heuheu... Nah, sekarang mumpung lagi inget, saya mau share materinya Bang Tere Liye tentang Motivasi Menulis.

Kenapa harus menulis? 
Hmmm ternyata ribet juga ya kalau udah kelamaan, banyak yang lupa hehe... Untung saya inget pernah baca ceritanya Bang Tere di Fans Page-nya beliau. Langsung saya copy aja ya. Siapa tau ada yang belum pernah baca.
Cerita Tiga Dokter
Ada tiga dokter muda, wanita, berteman baik, yang baru saja mengucapkan sumpah dokternya. Kalian tahu isi sumpah dokter? Itu keren sekali, amat indah. Saya akuntan, tapi saya tetap terharu membacanya, bahkan baru kalimat-kalimat awalnya saja, membaca sumpah dokter ini membuat saya amat menghargai profesi ini.
Terbawa suasana riang baru saja menjadi dokter, juga dilingkupi dengan semangat kebaikan yang ada dalam sumpah socrates tersebut, ketiga sahabat baik ini berjanji satu sama lain untuk mengadakan sebuah kompetisi positif, yaitu: siapa yang paling banyak melayani orang lain selama mereka menjadi dokter, siapa yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain (entah itu merawat pasien, orang-orang berkonsultasi, murid/mahasiswa, bimbingan, apa saja, sepanjang mendapatkan manfaat dari ilmu kedokteran mereka). Dua puluh tahun lagi mereka akan bertemu, dua puluh tahun lagi mereka akan melihat siapa yang memenangkan kompetisi tersebut.
Waktu berlalu cepat, lepas dari acara pengucapan sumpah tersebut, ketiga dokter itu berpisah, karena asal kota mereka memang berbeda satu sama lain, berjauhan. Dua puluh tahun berlalu, mereka disibukkan dengan rutinitas masing-masing, hingga tibalah reuni akbar fakultas kedokteran kampus mereka. Tiga dokter itu bertemu kembali. Tertawa bahagia, saling berpelukan, mengenang banyak hal, dan bercerita lebih banyak lagi. Hanya soal waktu ketika mereka bertiga sambil tersenyum simpul mulai membicarakan tentang kompetisi dua puluh tahun lalu.
Dokter pertama, kembali ke kota asalnya, menjadi dokter yg amat terkenal. Dia bekerja di rumah sakit daerah, sekaligus membuka praktek. Dia dokter yg berdedikasi, sumpah socrates membuatnya menjadi dokter yang penuh kasih sayang, peduli pada pasien, selalu membantu. Maka tidak heran, puluhan orang memenuhi tempat prakteknya setiap hari. Dua puluh tahun berlalu, berapa jumlah orang yang pernah dilayaninya? Seratus ribu orang. Wow, dua sahabatnya berseru kagum, bukan main.
Dokter kedua, giliran dia bercerita, sejak masih mahasiswa dia sudah menjadi aktivis yg baik. Saat sudah menjadi dokter, maka dia mendedikasikan ilmunya untuk orang-orang yang tidak mampu, terpencil dan terkena musibah. Saat kejadian tsunami di suatu tempat, puluhan, ratusan, tidak terhitung pasien setiap hari yang harus ditangani, belum lagi belasan posko kesehatan yang berada di bawah komandonya. Dia dokter yg hebat. Dua puluh tahun berlalu, maka jumlah orang yang dilayaninya tidak kalah mengagumkan, seratus lima puluh ribu orang. Wow, dua sahabatnya berseru tidak kalah kagumnya, bukan main. Terlebih orang-orang yang dia layani adalah orang-orang yang tidak mampu atau terkena musibah.
Setelah seruan kagum atas cerita temannya, dokter ketiga terdiam, giliran dia bercerita, tapi hei, dia menggeleng. Ada apa? Dua temannya yang penasaran hendak mendengar rekornya bertanya. Dia menggeleng lagi. Kenapa? Ternyata, sejak sumpah socrates itu dilakukan, dia seharipun tidak pernah membuka tempat praktek dokter atau bekerja di rumah sakit, klinik. Mengapa? Karena saat kembali ke kota asalnya, menikah, suaminya memang mengijinkan dia bekerja, tapi Ibunya mendadak jatuh sakit. Lumpuh, hanya bisa tiduran di ranjang. Anak semata wayang, dia memutuskan merawat Ibunya, penuh kasih sayang, telaten. Bertahun-tahun Ibunya sakit, dan saat usia tua tidak bisa dikalahkan oleh perawatan medis sebaik apapun, Ibunya meninggal dalam pelukannya. Satu tahun setelah kesedihan itu, dia hendak kembali memulai cita-cita membuka praktek dokternya, tapi suaminya, tiba-tiba juga menyusul jatuh sakit, stroke. Terbaring di ranjang tidak berdaya. Maka dimulai lagi siklus yang sama. Bertahun-tah merawat suaminya, penuh kasih sayang, telaten. Kondisi suaminya memang membaik belakangan, sudah bisa berjalan normal, tapi semua sudah berlalu, dua puluh tahun telah lewat, kesempatan telah dimakan waktu. Hanya dua orang itu saja pasiennya selama ini.
Lantas siapa yang memenangkan kompetisi ini? Dokter yang ketiga.
Tentu saja bukan karena semata-mata dia merawat Ibu dan suaminya. Karena jumlahnya tetap kalah telak dibanding rekor pasien dua sahabatnya tadi. Dia memenangkan kompetisi itu, karena dia punya sebuah rahasia kecil.
Kalau mau jujur-jujuran, tidak terhitung dokter ketiga ini marah, kecewa dengan situasi yang dialaminya. Dia iri melihat tetangganya, ibu-ibu rumah tangga yang juga memiliki karir. Apalagi saat membayangkan temannya yang sekarang pasti sibuk melayani pasien. Dia termasuk lulusan terbaik, tapi sekarang hanya terkurung di rumah. Tapi mau dikata apa? Siapa yg akan merawat Ibu dan suaminya? Maka dengan kesadaran baru, di tengah-tengah keterbatasan tersebut, di sisa-sisa waktu yang dimilikinya di rumah, karena jelas dia tidak bisa pergi lama meninggalkan ibunya dan suaminya, dia mulai menulis. Bertahun-tahun tulisannya tentang kesehatan, dunia medis mulai menggunung. Dan satu persatu menjadi buku dan diterbitkan penerbit besar. Mencengangkan melihat buku-buku itu bisa jauh sekali menyerbu hingga ke kamar tidur, toilet. Karena dia menulis apa saja, mulai dari tips kesehatan simpel, hingga update dunia kedokteran modern, maka buku-bukunya amat beragam. Menjadi teman bagi ibu-ibu yang sedang hamil. Menjadi teman bagi ibu-ibu yg punya balita. Menjadi teman bagi siapa saja yang merawat pasien di rumah. Puluhan judulnya, ratusan ribu oplahnya, jutaan pembacanya.
Wow, dua sahabatnya berseru kagum setelah terdiam lama. Hei, ternyata itu buku karanganmu? Dua temannya berseru riang, kami bahkan memakainya sebagai referensi loh, mereka memeluk erat dokter ketiga. Mereka bersepakat, dialah yang memenangkan kompetisi tersebut.
Burung Pipit, Penyu dan Pohon Kelapa
Ada tiga teman baik, burung pipit, penyu dan pohon kelapa. Ketiga-tiganya menghuni sebuah pulau kecil, persis menghadap samudera luas. Bagaimana mereka bertiga bisa berteman? Satu mahkluk udara, satu mahkluk air, satu tumbuh-tumbuhan.Jangan ditanya, karena saya juga tidak tahu jawabannya. Dalam membuat sebuah perumpamaan, ada hal-hal yang tidak perlu dibahas panjang lebar, karena tidak ada gunanya. Jadi mari fokus saja ke ceritanya. Insha Allah kalian akan suka.
Nah, tiga teman ini sedang saling bercerita, tentang petualangan mereka kemana saja selama bertahun-tahun terakhir. Si burung pipit mendapat giliran pertama bercerita. Dia bilang, dia baru saja terbang ke pulau-pulau lain, mengunjungi sawah-sawah luas, menatap kota-kota besar, melihat banyak hal, menyaksikan hal-hal menakjubkan. Jauh sekali, bisa puluhan kilometer terbangnya. Lincah. Maka pengalamannya tidak terbilang. Seru sekali mendengar cerita si burung pipit. Dua temannya bertepuk tangan senang.
Si penyu mendapat giliran kedua bercerita. Wah, kalian tahu penyu, bukan? Usianya ratusan tahun, dan sesuai siklus, mereka bisa berenang melintasi samudera untuk mencari pasangan dan bertelur. Maka ceritanya lebih dahsyat lagi. Si penyu bilang dia menyaksikan kota-kota di tempat jauh, gedung-gedung tinggi, budaya dan peradaban berbeda, mereka bisa berenang ratusan hingga ribuan kilometer, penjelajah air yang tangguh. Lebih seru lagi mendengar cerita si penyu ini. Dua temannya bertepuk riuh, senang.
Giliran si pohon kelapa yang bercerita terakhir kali. Aduh, si kelapa bingung mau cerita tentang apa? Gimana sih? Bukankah dia tumbuh-tumbuhan, ya sudah takdirnya terbenam di tanah, pinggir pantai, tidak bisa kemana-mana, menyaksikan iri, menonton cemburu hewan-hewan lain yang berpetualang. Dia tidak bisa kemana-mana. Dia hanya bisa menatap matahari terbit, kemudian sorenya tenggelam, sunset, hanya disitu-situ saja, di pinggir pantai sepanjang hidupnya. Aduhai, apa yang harus dia ceritakan?
Si burung pipit dan si penyu menunggu antusias. Ayolah si pohon kelapa, apakah kau tidak punya cerita petualangan yang hebat? Dua teman baiknya membujuk. Maka setelah diam sejenak, si pohon kelapa akhirnya bercerita. Tentu saja dia punya cerita petualangan hebat. Namanya juga ini tulisan karang-karangan si Tere Liye, pasti ada sebuah rahasia kecil yang disimpan si pohon kelapa.
Apa rahasinya? Ternyata sederhana sekali. Lihatlah buah-buahnya yang ranum, berwarna kelabu, matang, lantas jatuh sendiri di pasir pantai. Air pasang datang menggulung si buah-buah kelapa yang terjatuh. Lantas membawanya pergi ke lautan luas. Kalian tahu, buah kelapa itu tahan banting, mengapung, terombang-ambing oleh ombak, ikut saja kemana dibawa, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga ke seberang benua jauh tak terbilang, hingga akhirnya kandas sendiri di pantai berbeda, akarnya keluar, tunasnya tumbuh, menjadi pohon kelapa yang tinggi.
Itulah petualangan si pohon kelapa. Tidak terbilang ratusan buah-buahnya yang mengambang, melayari samudera luas. Si burung pipit terdiam, kemudian berseru, "Amboi, bukankah itu buah-buah kelapamu yang tumbuh di pulau seberang itu, Teman?". Si penyu juga tidak kalah berseru, "Astaga, kawan, aku mengenal buah kelapamu yang tumbuh di pulau ribuan kilometer sana. Sudah jadi pohon kelapa yang berbuah lebat. Ternyata itu buah darimu?"
Maka, kata siapa? Kata siapa sih kalau kita hanya ditakdirkan ada di situ-situ saja, tidak bisa kemana-mana, entah karena keterbatasan, entah karena memang sudah nasib, maka kita tidak bisa melakukan hal hebat? Tentu saja bisa. Lihatlah si pohon kelapa di pinggir pantai itu. Dia tidak bisa terbang, tidak bisa berenang, tapi buah-buah miliknya melanglang buana kemana-mana, lebih jauh dibanding si burung pipit dan si penyu. Apalagi kita, manusia.
Lalu hubungannya antara menulis dengan kedua cerita tadi apa? Silakan disimpulkan sendiri ya :D

Nah, semangat untuk menulis sudah ada, tetapi biasanya masalah yang muncul berikutnya adalah menemukan ide untuk menulis.

Apakah menemukan ide memang sesulit itu?
Ide tulisan bisa apa saja. Adalah BOHONG jika kita kehabisan ide tulisan. JANGAN PERNAH PERCAYA. HANYA saja penulis yang baik selalu punya 'sudut pandang spesial'.

Apakah menulis membutuhkan amunisi?
Bagaimana kita mengisi GELAS kosong, kalau TEKO-nya kosong?
Penulis yang baik selalu pandai membaca, mengamati, mencatat, mengumpulkan, merekonstruksi, dan menuliskan.

Bersambung...

16 comments :

  1. kereenn.. gue mau nyonteekk ahh.. aku juga janji ke banyak orang dik, dan sampai sekarang belum kelar juga nulisnyaa.. hahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi.. ayo mba semangat..
      lia juga blum beres nih :D

      Delete
  2. beberapa buku karya Tere Liye sudah aku baca, tapi semuanya dapat dari hadiah hehehe gak modal ya

    ReplyDelete
  3. yupz, inspiratif mba, :) hampir semua karya bng tere aq udh pernah baca. salah satu ny ini dan salah satu favoritku. monggo :)
    http://pudjakusumah.blogspot.com/2013/03/belajar-ilmu-ekonomi-from-novel-negeri_25.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. waa seru yah..
      masih banyak karya tere liye yang blum saya baca :(

      Delete
    2. hhe.. segera hunting mba, :)
      btw, mohon berkenan berkomentar di postingan ini ya, :) trim's http://pudjakusumah.blogspot.com/2013/07/kota-santri-cetak-ilmuwan-religi.html
      sdg ikut lomba blog hhe...

      Delete
  4. makasiy mak sudah kasih motivasi, daku salah satu penggemar Tere Liye juga,pertama baca bukunya itu "Semoga Bunda Disayang Allah" pas hamil si Kakak tahun 2007, disambung dengan novel-novel lainnya. Ide bisa didapat dimana saja, nah kendalanya kadang aku malah susah untuk merangkaikan katanya, jadi asal 'jeplak' saja niy. harus siapin amunisi lebih banyak lagi niy tetag gaya bahasa yang baik dan benar sehingga bisa nyaman dibaca.

    ReplyDelete
  5. woooww.. belum pernah baca buku2nya Tere Liye sih tapi suka baca update2an status atau notes-nya and emang bagus2 karena selalu ada 'sesuatu' yang bisa didapat sehabis membacanya ;)

    ReplyDelete