Thursday, October 31, 2013

Jleb!

Percakapan 1
Suatu hari, saya bangun dengan perasaan cukup bete. Bagaimana enggak bete, sebelum tidur kepikiran faktur pengganti, lagi tidur mimpiin faktur pengganti, bangun tidur inget lagi sama faktur pengganti. Huaaa saya diteror sama si faktur pengganti T_T

Maka setelah selesai shalat Shubuh, saya lanjut browsing lagi, siapa tau bisa dapat pencerahan dari internet sebelum siangnya konsultasi ke kantor pajak. Tapi tiba-tiba Jav datang menghampiri saya sambil mengucapkan sebuah kalimat yang belum pernah saya dengar terucap dari bibir mungilnya.

Saya: "Jav tadi ngomong apa?"
Jav: "Selamat pagi sayangku!"
Saya: "Oiya! Selamat pagi, Sayangku..." *sambil memeluk dan menciumi Jav*

Setiap Jav baru bangun tidur, saya memang biasa menyapa Jav dan memberikannya hipnosis positif supaya dia memulai hari dengan perasaan yang baik. Pagi itu, rupanya Jav menagih sapaan pagi dari saya. Gara-gara si faktur pajak saya sampai lupa menyapa Jav, dan membuat Jav ngerasa dicuekin huhu.

Saya jadi sadar bahwa sekarang ini saya bukan gadis remaja lagi. Saya tidak bisa lagi merasa bete dan berharap semua orang (termasuk Jav) harus mengerti akan kebetean saya. Tidak peduli sedang senang, sedih, atau kesal, saya tidak boleh mangabaikan Jav.

Percakapan 2
Setelah selesai mandi sore, saya mengajak Jav pergi ke rumah Yangkinya. Soalnya saya harus mempersiapkan kedatangan Yangki dan Ninnya Jav dari tanah suci keesokan harinya. Sebetulnya, saya enggak tega mengganggu Jav yang sedang asik tidur-tiduran sambil bermain bersama truk kesayangannya. Tapi bagaimana lagi.

Saya: "Jav... Kita ke rumah Yangki yuk."
Jav: "Enggak mau."
Saya: "Kita makan di rumah Yangki."
Jav: "Makan di sini aja."
Saya: "Di rumah Yangki aja, sambil nonton Timmy."
Jav: "Nonton Timmynya di sini aja."
Saya: "Kenapa sih enggak mau di rumah Yangki? Kan sama aja?"
Jav: "Udah gelap." *sambil menunjuk ke arah jendela*
Saya: *speechless*

Selama ini, kalau Jav tiba-tiba ingin jalan-jalan malem-malem, atau enggak mau berhenti main sore di luar rumah, saya selalu mengatakan "Udah mulai gelap." Alasan paling logis dan sederhana. Tapi ternyata kalimat itu kini dijadikan alasan juga oleh Jav.

Saya jadi malu. Kalau Jav yang ingin sesuatu, kadang saya membatasinya dan menolak dengan berbagai alasan. Giliran saya yang mempunyai kepentingan, alasan tersebut saya patahkan sendiri. Membuat saya menelaah kembali. Apakah yang saya ucapkan pada Jav selama ini memang untuk kebaikan Jav atau hanya disesuaikan untuk kepentingan saya semata?

Aahh.. Saya harus bisa lebih bijak lagi dalam mengucapkan dan melakukan sesuatu.

Shubuh-shubuh (yang tentunya masih gelap) krucil udah pada ikut bangun gara-gara ibu-ibunya pada ribut masak di dapur (dok. pribadi)

12 comments :

  1. iya sih, aku juga Mbak, biasanya orang terdekatku secara nggak langsung jadi "tong sampah" lagi bete atau marah, yang kena ya orang terdekatku.. jadi kasian sama mereka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. asal kalau lagi seneng "nyampah"nya ke mereka juga yah :D

      Delete
  2. Anak kecil emang paling cepet nangkep omongan irang tua ya mbak, ada anak tetangga yang ibuknya suka ngomel jadinya anaknya yang masih 5 taunan ikut niruin ngomong kasar.

    Hayyoo, wes gak boleh bete lagi mbak, ntr Jav ikutan bete :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih sering jav yang bete terus sayanya jadi ikut bete :))

      Delete
  3. Saya juga biasa mengalami ini dan saya biasa speechless bahkan hilang kesabaran *malu*

    ReplyDelete
  4. ucapan orang terdekat biasanya selalu ditiru anak ya

    ReplyDelete
  5. Anak belajar dari orang dewasa di sekitarnya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya.. belajar berkomunikasi, belajar berekspresi, belajar merespon sesuatu :D

      Delete
  6. aaahh.... aku jatuh cinta dengan si kecil yang pake topi kijang ituuuuu... lucuuuu ... imuuuuttt... nggemesiiiinnn.... titip cium pipi kiri dan kanannya dongggg... iiihh... gemessss....

    ReplyDelete