Sunday, November 17, 2013

PLATO untuk Perencanaan Pembangunan Jalan yang Lebih Baik

Pernah melihat ada orang yang nongkrong di pinggir jalan sambil memperhatikan dan mencatat kendaraan yang lewat? Orang itu sedang melakukan traffic counting atau survei lalu lintas. Sebagai mantan mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota yang cita-citanya untuk bisa bekerja di Kementrian Pekerjaan Umum belum kesampaian, tentu saya juga pernah beberapa kali melakukan survei lalu lintas. Berdiri di pinggir jalan sambil menghitung dan mencatat jumlah kendaraan berdasarkan jenisnya sungguh merupakan pekerjaan yang melelahkan. Bagaimana tidak melelahkan, kurang lebih begini keadaan yang saya rasakan saat sedang melakukan survei lalu lintas:
  • Kalau cuaca sedang panas, ya kepanasan. Kalau cuaca sedang hujan, ya kehujanan.
  • Belum lagi harus menghirup udara yang sudah tercemar polusi dari kendaraan bermotor.
  • Apabila sedang beruntung, saya bisa menumpang duduk di kios pinggir jalan atau pos polisi. Selain mendapat tumpangan, Pak Polisinya juga baik mentraktir saya teh botol hihihi... Tapi apabila sedang sial, seperti saat sedang survei di halte misalnya. Memang sih enak bisa duduk dan berteduh, tapi rawan dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari para calon penumpang angkutan umum yang penasaran dengan apa yang saya lakukan. Selain mengganggu konsentrasi, kadang harus sabar juga menghadapi calon penumpang angkutan umum yang kadang malah iseng menggoda saya, fiuh.
Selain hal-hal yang berkaitan dengan masalah pribadi, melakukan survei lalu lintas secara manual juga berpotensi mengurangi keakuratan hasil perhitungan. Apalagi saat lalu lintas sedang padat, bisa terjadi kemungkinan ada kendaraan yang terlewat dan tidak terhitung, terutama motor yang hobinya salip sana salip sini. 

Padahal hasil survei lalu lintas sangat penting loh sebagai tolak ukur dalam melakukan perencanaan pembangunan jalan. Bahkan, lebih jauh lagi, dapat dijadikan sebagai sumber data untuk melakukan analisis perencanaan ekonomi dan pengembangan wilayah.

Syukurlah, sekarang ini Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementrian Pekerjaan Umum (PU), sesuai visinya yaitu "Menyelenggarakan Penelitian dan Pengembangan serta Penerapan: IPTEK, norma, standar, pedoman, manual dan/atau kriteria pendukung infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman.", sudah menciptakan sebuah inovasi yang disebut PLATO (Penghitung Lalulintas Otomatis). PLATO adalah sebuah teknologi yang dapat menghitung jumlah dan jenis kendaraan secara otomatis. Alat ini berupa kabel-kabel yang dipasang pada badan jalan. Setiap ada kendaraan yang melintasi kabel tersebut, maka akan tersimpan di kotak memori yang berada di pinggir jalan. Lalu alat tersebut akan mengirimkan sinyal ke pusat data untuk diproses.
PLATO (sumber)
Berikut beberapa keunggulan dari PLATO: 
  • Tidak membutuhkan listrik, karena mengandalkan energi matahari sebagai sumber tenaga kerja alat. 
  • Dapat dipindah-pindahkan. 
  • Mampu mengirim data ke pusat data dengan sistem SMS, bahkan akan dikembangkan juga sistem GPRS sehingga dapat mengirim gambar visual. 
  • Mampu menyimpan data dengan kapasitas yang tidak terbatas (disesuaikan dengan kemajuan teknologi penyimpan data). 
Namun alat ini masih mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya: 
  • Rawan kehilangan 
  • Rawan kerusakan 
Walaupun masih memiliki beberapa kelemahan, kita patut merasa bangga karena alat tersebut merupakan hasil inovasi anak bangsa. Apalagi teknologi tersebut juga masih terus dikembangkan. Rencanananya, alat ini akan digabungkan dengan IPT (Image Procesing Technologi), sebuah teknologi penghitungan lalu lintas secara visual yang dihasilkan oleh National Institut for Land Infrastructure Management (NILIM) – Jepang. Alat tersebut dilengkapi dengan lima buah kamera yang dipasang di tempat tinggi dengan perspektif antara 30–90 derajat. Sehingga hasil dari perhitungan pun akan lebih akurat. 

8 comments :

  1. Eh..waktu awal aku pas baca dalam hati bergumam kenapa gak pake alat hitung otomatis aja sih? Eh..ternyata plato itu ya alat hitung otomatisnya ya..iya bener..bangga dengan karya anak bangsa ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya mba, jadi ga usah ngitung pake cara manual lagi :)

      Delete
  2. Ternyata Plato itu singkatan to mbak? hehehe... baru tahu aku.
    Sepertinya di kotaku belum terpasang Plato deh.

    ReplyDelete
  3. ooh pantesan saya pernah liat juga di dket lampu merah tuh mbak

    kirain si plato itu alat untuk nangkep energi matahari buat lampu merahnya *tepok jidat* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. keren jg tuh klo bisa skalian jd sumber energi buat si lampu :)

      Delete