Thursday, December 12, 2013

Culinary Trip To Makassar [3]: Makan-Makan di Makassar

Sekarang saatnya cerita tentang kegiatan utama dari acara culinary trip ke Makassar ini, apa lagi kalau bukan jalan-jalan dan wisata kuliner! Siap-siap ngiler yah :p

Konro Karebosi
Konro Karebosi adalah tempat pertama yang kami kunjungi. Setelah melewati perjalanan panjang Jakarta-Makassar (ditambah Bandung-Jakarta), rasa galau saya mulai hilang, dan perut pun mulai lapar :D Cocok banget kan makan konro :)

Menu utama di tempat ini yaitu Sop Konro dan Konro Bakar. Kalau Sop Konro, iganya bersatu dengan kuah sopnya. Sedangkan Konro Bakar, iganya terpisah dengan kuah sopnya. Iganya dibakar dulu lalu disiram dengan bumbu kacang. Pilihan saya pun jatuh pada Konro Bakar.

Konro Bakar... Itu tulang iganya empat biji loh! (Dok. Pribadi)
Nafsu makan saya langsung meningkat drastis ketika melihat penampakan si Konro Bakar. Besar dan banyak! Dagingnya empuk, dan bumbunya pun meresap ke dalam daging... Mmmm maknyus! Dulu, saya juga pernah mencoba Konro Bakar, di Bandung satu kali, di Jakarta satu kali. Enak, tapi yang ini enaaak banget. Namanya juga makan di tempat asalnya ya, pasti lebih nikmat :) Kuah sopnya juga enak banget, apalagi ditambah perasan jeruk nipis, segar! Tapi saya sih menambahkan garam lagi pada kuah sopnya. Selain itu, yang perlu diperhatikan, makan konro bakar itu enggak boleh lama-lama. Soalnya kalau kelamaan, nanti iganya berlemak dan mengganggu kenikmatan.

Dibakar... Dibakar... (Dok. Pribadi)
Tempatnya sih lumayan enak dan nyaman. Hanya saja, kita harus siap baju kita jadi bau asap, harap maklum heuheu... Kenapa namanya Karebosi? Karena pada awalnya, Konro Karebosi ini hanyalah sebuah warung kaki lima di daerah Lapangan Karebosi. Setelah dilakukan revitalisasi pada Lapangan Karebosi, warung ini pun pindah ke Jl. Gn. Lompobattang hingga akhirnya menjadi besar seperti sekarang. Lompobattang itu artinya perut besar. Jadi cocok banget kan kalau tempatnya di sini. Sering-sering ke sini makan konro, bisa-bisa perut kita jadi besar hihihi... 

Pallubasa Serigala
Setelah selesai acara Demo Masak dan Travel Talk, kami langsung meluncur ke Pallubasa Serigala. Serem amat ya namanya? Soalnya letaknya berada di Jl. Serigala. Tempatnya memang tidak terlalu besar. Maka kami pun harus duduk berdesak-desakkan, mana panas pula. Tapi tempat yang sempit dan udara yang panas menjadi tidak penting lagi ketika pesanan kami tiba.

Ramai... (Dok Pribadi)
Saya memesan Pallubasa Campur tanpa telur. Campur itu maksudnya isinya bukan hanya daging, tapi campur dengan jeroan juga seperti paru, babat, dan lain-lain. Kalau tanpa telur, soalnya bisa juga ditambah kuning telur mentah. Tapi saya enggak berani, takut bau anyir.

Pallubasa... Enak! (Dok. Pribadi)
Awalnya saya agak kecewa melihat porsinya yang kecil (disajikan dalam sebuah mangkok kecil). Tapi setelah dimakan, ternyata kenyang juga :D Potongan dagingnya besar-besar. Kuahnya pun kental dan gurih. Top markotop! Katanya kalau pakai telur, makin gurih lagi dan enggak bau anyir kok. Duh, saya jadi penasaran. Mudah-mudahan ada kesempatan lagi buat nyicipin pallubasa pakai telur.

Pallubasa sebenarnya identik dengan daging kerbau. Tapi karena daging kerbau sudah sulit didapatkan, jadi menggunakan daging sapi. Oiya, pallubasa ini agak mirip dengan coto. Bedanya, kuah pallubasa menggunakan bubuk kelapa sangrai, sedangkan kuah coto (kata Mba Firma) menggunakan bubuk kacang. Pallubasa disajikan bersama nasi putih, sedangkan coto disajikan bersama buras (mirip ketupat tapi kecil). Dulu saya pernah mencoba coto. Bukan di Makassar, tapi di Buol. Kuahnya memang tidak sekental pallubasa.

Seafood Apong
Seafood Apong ini tempatnya cukup nyaman. Katanya sih termasuk restoran baru di Makassar. Tapi karena selalu menyajikan seafood yang beragam dan segar, membuat restoran ini menjadi sangat terkenal.

Ikan segar (Dok. Pribadi)
Malam itu kami benar-benar makan besar. Semua menu khas di Seafood Apong, kami pesan. Ada cumi bakar, kangkung asap, ikan gindara bakar, tim ikan kerapu, kerang, kepiting, dan yang paling unik ada ikan kudu-kudu. Bentuknya segi empat, dan kulitnya keras seperti tulang. Saking kerasnya, sampai ada gurauan seperti ini, “Kalau ikan ini menabrak kapal selam, justru kapal selamnya yang bocor," hihihi... Daging ikannya ditaburi tepung, lalu digoreng dengan metode deep fry. Dagingnya lembut, dan rasanya gurih. Kulitnya juga digoreng meskipun tidak dapat dimakan, sehingga penampilannya menjadi lebih menarik.

Pesta seafood (Dok. Pribadi)
Selain itu, yang unik di restoran ini yaitu kita dapat meracik sambal sendiri. Di meja sudah disediakan berbagai jenis bahan untuk membuat sambalnya seperti sambal kacang, petis, tauco, terasi, bawang, mangga muda, tomat hijau, dan cabe rawit.

Yang sebelah kanan itu, sambal racikan saya... Seger! (Dok. Pribadi)
Alhamdulillah nikmat banget! Pulang ke hotel langsung tidur nyenyak :D

Pallumara Mappanyuki
Wisata kuliner ini ditutup dengan Pallumara Mappanyuki. Pallumara yaitu sop kepala ikan kakap merah, sedangkan Mappanyuki adalah nama jalannya. Lagi-lagi kami harus makan sambil keringetan. Kalau teman lain sibuk mengeluh tentang kolesterol dan berat badan yang bertambah gara-gara wisata kuliner ini. Di dalam hati, saya malah membatin, merasa badan menyusut karena cairan tubuh yang terlalu banyak menguap #enggakpenting #abaikan :D

Pallumara (Dok. Pribadi)
Porsinya besar. Makanya kami pun makan berdua-berdua. Karena tempat duduk saya berhadapan dengan Mba Febri, maka saya pun kebagian makan berdua dengannya. Beruntung, karena ternyata saya makan dengan lahap sekali, sedangkan Mba Febri makannya sedikit sekali hihihi... Pallumara ini agak mirip dengan gulai kepala ikan ala Padang. Hanya saja kuahnya lebih segar karena ditambah asam. Mantep banget!
Cucur Bayao
Ini dia juaranya. Makanan favorit saya di Makassar. Cucur bayao! Kue ini menjadi salah satu dessert yang disajikan di hotel ketika sarapan. Kata Mba Firma, cucur bayao hanya bisa ditemukan di acara pernikahan. Waa beruntung sekali saya berkesempatan mencicipi kue spesial ini. Bayao artinya telur. Bahan utamanya memang terbuat dari telur dan gula. Kata Mba Firma, cara membuatnya seperti membuat sponge cake biasa. Yang membuatnya berbeda karena gulanya baru disiram setelah kuenya matang. Rasanya? Lembut, legit, dan maniiis banget. Tapi enggak eneg. Ah... Heaven on earth

Yang depan itu cucur bayao (Dok. Pribadi)

20 comments :

  1. Selamat malam Mbak Nathalia woow kaya nya enak-enak makanan dan kuenya
    Yah Mbak. tempatnya bersih adem acara kuliner yah Mbak mantep deh jadi ngiler
    Nih kalau inget jangan lupa bungkus buat baa pulang Mbak hhhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. sayang ga bisa dibungkus & dibawa pulang ke bandung :D

      Delete
  2. Saya pilih sea food apong aja ahh mak, sama cucur bayaonya xixixiii....

    ReplyDelete
  3. uwhhhhh seru banget,penasaran sama rasa sop konronya mbk..heummm..

    ReplyDelete
    Replies
    1. smoga ada kesempatan buat nyobain ya mba :)
      di siak ada ga yg jual? di bandung & jakarta sih ada..

      Delete
  4. Nama-nama makanannya unik2 ya mbak. lihat fotonya pasti lezat banget.......
    pengalaman yg sangat menyenangkan. seandainya aku, kubuat jadi 2-4 posting mbak. xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, soalnya pakai nama jalan, dan nama jalannya unik2 :)

      hehe ini jg udah saya bagi jd 4 posting, klo posting yg ini dibagi lg, jd bnyk bgt :D

      Delete
  5. Eh pernah mampir ke sini ya mbak ^^ Kenapa gak coba kue barongko?

    ReplyDelete
    Replies
    1. pengen, tp blum ada kesempatan :D
      yg kaya pepes itu bukan?

      Delete
  6. Aku nggak nyobain cucur bayau sama Konro mbak. Hiks

    ReplyDelete
  7. Mbak Lia ... kalo pallumara itu gak pake santan. Itu berminyak karena bumbunya ditumis. Trus pake asam, makanya warnanya bisa begitu ^_^

    Eh tau gak, saya itu gak pernah makan pallu basa .. hihi aneh ya ... aneh memang saya koq gak pernah minat mencobanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah makasih infonya mba.. udah saya edit yah hehe..

      eh masa sih blum pernah nyoba pallu basa? bukan pecinta daging kah? :D

      Delete