Saturday, January 25, 2014

25 Januari

Tangan kananku mengetuk-ngetuk ponsel yang dipegang tangan kiriku. Perasaanku berdebar menunggu giliran di ruang tunggu dokter Maximus. Suamiku tidak dapat menemaniku. Padahal hari ini, 25 Januari adalah hari yang sangat bersejarah. Semoga.

Aku mencoba mengusir kecemasanku dengan menyapa perempuan yang duduk di sebelahku. Ternyata dia di sini untuk memastikan kehamilannya setelah mendapat jawaban 'positif' dari test pack yang sudah dicobanya tadi pagi. Aku sendiri cukup trauma dengan test pack. Biar dokter saja yang memeriksa apakah transfer embrio dua minggu yang lalu berhasil atau tidak.

"Ibu Rani, Bapak Radit..." perawat memanggil namaku.

Aku segera bangkit dari kursiku sambil merapal doa di dalam hati. Semoga penantianku selama lima tahun ini, terbalas dengan kabar baik di hari ini.

Dua puluh menit kemudian aku keluar dari ruangan dokter Maximus dengan perasaan yang luar biasa bahagia. Segera kukirimkan pesan singkat berisi kabar istimewa ini pada Raditya.

~~~

Credit
"Ibu Rani, Bapak Radit..."

Panggilan perawat memotong pembicaraanku dengan perempuan di sebelahku. Huh! Kenapa sih perawat itu harus menyebutkan nama pasien dan pasangannya. Padahal tidak semua yang sedang menunggu di sini datang berpasangan, termasuk aku dan perempuan di sebelahku yang langsung berdiri karena namanya sudah dipanggil.

Aku menghela nafas panjang. Tidak boleh ada yang merusak perasaanku di hari yang spesial ini. 25 Januari. Hari ketika aku mengetahui bahwa sepertinya aku sedang mengandung.

Dua puluh menit kemudian, ketika perempuan yang tadi duduk di sebelahku keluar dari ruangan dokter Maximus, perawat memanggil namaku. Aku segera masuk dengan langkah yang mantap.

Tidak berapa lama, aku juga keluar dari ruang dokter Maximus sambil meraih ponselku, hendak memberi tahu kabar bahagia ini pada Raditya, ayah dari calon bayi yang sedang kukandung. Namun sebelum aku sempat mengetikkan sesuatu, sebuah pesan singkat darinya muncul di ponselku.

Istriku hamil. Aku tidak bisa menemuimu lagi. Maaf.

~~~~~

289 kata

Ditulis dalam rangka ulang tahun Monday FlashFiction yang pertama.

14 comments :

  1. Blah, anaknya ntar kembar dari ibu beda, dong *eh :D

    ReplyDelete
  2. Hwaduh!!!
    Rumit ini, Pemirsa!

    Makasih ya udah mau ikutan nulis buat MFF :')

    ReplyDelete
  3. sakit banget rasanya jadi si perempuan kedua. duh duh.

    ReplyDelete
  4. aiiisshhh,.... kabar baik menjadi kabar buruk *_*

    ReplyDelete
  5. Enak banget ngomongnya yak laki2 itu.. Jadi kalo istrinya blm hamil masih selingkuh jg.. huhuhu

    ReplyDelete
  6. aaarkkkkkkkkkkkkk.......rasanya pingin gigit wajan >_<

    ReplyDelete
  7. walah lalaki macam apa itu. emosi, hihihi

    ReplyDelete
  8. Kayaknya Raditya pengin banget punya anak, makanya langsung dapet dua :D

    ReplyDelete