Wednesday, January 23, 2013

Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja

"Jadi sekarang kita mau dateng ke tempat Rian nih?" tanya Vera padaku. Dia butuh kepastian, karena dia lah yang sedang mengendarai mobil yang membawa kami berdua.

"Iya Vera sayang.." jawabku sedikit kesal karena Vera sudah menanyakan hal ini berkali-kali.

"Soalnya aku masih enggak abis pikir.. Seminggu sebelum hari pernikahanmu, kok ya masih sempet-sempetnya dateng ke tempat Rian.." kata Vera.

"Memang kenapa? Enggak boleh?" kini aku yang bertanya.

"Udah hampir lima tahun Rian pergi ninggalin kamu.. Harusnya kamu udah bisa lupain dia.. Apalagi kamu akan menikah dengan Anggit, apa Anggit enggak akan ngerasa dikhianatin.." Vera mengungkapkan pikirannya.

"Anggit tau dan dia enggak ngerasa dikhianatin kok.." jawabku sambil tersenyum.

"Masa sih?" Vera tidak percaya.

"Iya.." aku mengangguk dengan mantap.

"Kok bisa?" Vera meminta penjelasan.

"Kata Anggit, dia dan Rian mempunyai ruangan masing-masing di hati aku.. Dia enggak bisa nempatin ruang dan ngegantiin posisi Rian.. Dia cuma bisa berusaha supaya aku lebih sering ngunjungin ruangan dia daripada ruangan Rian.. Gitu.." kataku.

"Oh.. Ya ya ya sekarang aku ngerti.. Bijak juga ya si Anggit.." kata Vera sambil mengangguk-angguk.

"Aku juga engga tau dia dapet kata-kata bijak itu darimana.." kataku, lalu kami berdua tertawa.

Beberapa saat kemudian mobil kami sudah sampai di kompleks tempat tinggal Rian. Vera menemaniku turun untuk menemui Rian, mantan pacarku, cinta pertamaku.

Kami harus berjalan beberapa meter terlebih dahulu. Beruntung, sinar matahari sore ini tidak terlalu terik. Rasa sesak di dadaku kembali menyeruak ketika kami sampai di tempat Rian. Meskipun lima tahun sudah berlalu, tapi aku masih dapat mengingat dengan persis bagaimana rasanya dicintai sekaligus ditinggalkan oleh Rian.

Aku dan Vera duduk di bangku mini yang terbuat dari tembok. Wangi harum menguar dari bunga mawar yang kutanam lima tahun yang lalu. Syukurlah penjaga yang dibayar oleh orang tua Rian melakukan amanahnya dengan baik. Rumput dan tanaman di sekitar tempat tinggal Rian tampak rapi dan terawat.

"Rian.. Maafin aku ya baru sempat ngunjungin kamu lagi.. Akhir-akhir ini aku sedang disibukkan dengan persiapan pernikahanku.. Iya, aku sudah menemukan lelaki sempurna untuk menjadi suami sekaligus ayah dari anak-anakku.. Namanya Anggit.. Dia mencintaiku sama besarnya seperti cintamu padaku.. Setidaknya begitulah yang aku rasakan.." aku menghela nafas sejenak.

"Minggu depan kami akan menikah.. Tapi asal kamu tau.. Sampai kapan pun aku enggak bisa dan enggak akan ngelupain kamu.. Makanya, kamu jangan kemana-mana, di hatiku saja ya.." aku menghapus air mata yang menetes di pipiku.

"Semoga kamu tenang disana ya.. Disini aku selalu ngedoain kamu.." aku menutup monologku di depan makam Rian.

"Yuk.." aku berdiri dan mengajak Vera untuk kembali ke mobil.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-11

8 comments :

  1. endingnya sedih.....heummm,
    *8salam kenal mbk :D

    ReplyDelete
  2. @ Hanna HM Zwan: salam kenal juga :)

    @ Bety Sanjaya: :)

    @ Ila Rizky Nidiana: waduh jd pd sedih nih :D

    ReplyDelete
  3. aku ngerasa Ketipu, dan sudah berprasangka buruk dg Rian.
    Ternyata..

    Kalimat bijaknya si Anggit, tentang Ruang hati itu langsung ku jadikan quotes :D

    ReplyDelete