Showing posts with label #13HariNgeblogFF. Show all posts
Showing posts with label #13HariNgeblogFF. Show all posts

Friday, January 25, 2013

Cut!

"Gue tau lo lagi sedih.. Tapi dimakan dulu dong nasinya, lo kan belum makan dari tadi pagi.." kata Belinda.

"Gimana gue bisa nafsu makan kalau tau ternyata pacar gue mau nikah dengan cewek lain.." kata Stella sambil terus menangis.

"Duh! Cut! Cut!" aku memotong adegan Belinda dan Stella.

"Nessa.. Pakai penjiwaan dong acting-nya.. Yuk kita mulai lagi!" kataku.

"Camera rolling and action!" lalu Tari dan Nessa pun memulai lagi acting-nya.

"Gue tau lo lagi sedih.. Tapi dimakan dulu dong nasinya, lo kan belum makan dari tadi pagi.." kata Belinda.

"Gimana gue bisa nafsu makan kalau tau ternyata pacar gue mau nikah dengan cewek lain.." kata Stella sambil terus menangis.

"Memangnya dengan lo nangis dan enggak mau makan, bisa bikin cowok itu batal nikah? Enggak kan? Minum dulu nih, biar tenang.." kata Belinda sambil menuang air putih ke dalam gelas dan memberikannya pada Stella.

"Gue sakit hati Bel, sakiiittt.." kata Stella sambil menerima gelas dari Belinda.

"Ah! Cut! Cut! Cut" aku menghampiri Nessa.

"Mana ekspresinya?! Kita udah ngulang adegan ini berkali-kali tapi enggak ada satu pun yang layak!" aku memarahi Nessa.

Namun tidak disangka-sangka, Nessa menyiramku dengan air putih dari gelas yang sedang dipegangnya.

"Cut! Cut! Cut! Kamu pikir kamu sutradara ya! Temanmu sedang mementaskan dramanya, kamu malah tidur!" kata Nessa balas memarahiku.

Kenapa Nessa berkata seperti itu? Aku mengucek mataku. Ternyata Pak Sofyan, guru Bahasa Indonesia kami sedang berkacak pinggang di depanku.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-13

Thursday, January 24, 2013

Tunggu di Situ, Aku Sedang Menujumu!

Hiks.. Presentasi makalahku gagal..

Kamu dimana?

Di kampus..

Tunggu di situ, aku sedang menujumu!

Beberapa saat kemudian Firman datang untuk menghiburku dan mentraktirku makan sushi. Dia bukan hanya temanku, tapi juga sahabatku.

~~~

Bingung nih, lagi nyari kado buat Papa.. Banyak banget pilihannya..

Kamu dimana?

Di Paris Van Java..

Tunggu di situ, aku sedang menujumu!

Aku pun tenang karena ada Firman yang akan membantuku memilih kado untuk Papa. Dia bukan hanya temanku, tapi juga kakakku.

~~~

Ijal nyebelin banget sih! Bukannya aku yang marah gara-gara dia batal nemenin aku survei lapangan, malah dia yang marah.. Aku dibilang enggak pengertian, enggak peka.. Padahal aku kan enggak tau kalau dia lagi sakit.. "

Kamu dimana?

Di Cafe Famous..

Tunggu di situ, aku sedang menujumu!

Lalu Firman muncul dan menyediakan telinganya untuk mendengarkan curhatku tentang Ijal.

"Kayanya Ijal lagi pengen dimanjain tuh.. Memangnya cewek aja yang butuh diperhatiin dan dimanjain.. Pulang gih, dandan yang cantik, terus tengok Ijal ke rumahnya.. Supaya dia cepet sembuh.." kata Firman. Dia bukan hanya temanku, tapi juga konsultan percintaanku.

~~~

Bantuin dong.. Tugasnya harus dikumpulin besok, tapi aku belum terlalu bisa pakai AutoCad huhu..

Kamu dimana?

Di rumah..

Tunggu di situ, aku sedang menujumu!

Firman memang selalu bisa diandalkan. Tidak butuh waktu lama untuk menunggunya, dia sudah tiba di rumahku, membantu mengerjakan tugasku. Dia bukan hanya temanku, tapi juga guru andalanku.

"Makasih yah.." aku mencium pipi Firman saat tugasku sudah selesai, tapi Firman membalas dengan mencium bibirku dan melumatnya. Hmmm aku benar-benar menikmatinya. Dia bukan hanya temanku, tapi juga segalanya bagiku.

Siapa yang setuju bahwa laki-laki dan perempuan tidak akan pernah bisa bersahabat, mereka diciptakan untuk saling tertarik satu sama lain?

Aku setuju.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-12

Wednesday, January 23, 2013

Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja

"Jadi sekarang kita mau dateng ke tempat Rian nih?" tanya Vera padaku. Dia butuh kepastian, karena dia lah yang sedang mengendarai mobil yang membawa kami berdua.

"Iya Vera sayang.." jawabku sedikit kesal karena Vera sudah menanyakan hal ini berkali-kali.

"Soalnya aku masih enggak abis pikir.. Seminggu sebelum hari pernikahanmu, kok ya masih sempet-sempetnya dateng ke tempat Rian.." kata Vera.

"Memang kenapa? Enggak boleh?" kini aku yang bertanya.

"Udah hampir lima tahun Rian pergi ninggalin kamu.. Harusnya kamu udah bisa lupain dia.. Apalagi kamu akan menikah dengan Anggit, apa Anggit enggak akan ngerasa dikhianatin.." Vera mengungkapkan pikirannya.

"Anggit tau dan dia enggak ngerasa dikhianatin kok.." jawabku sambil tersenyum.

"Masa sih?" Vera tidak percaya.

"Iya.." aku mengangguk dengan mantap.

"Kok bisa?" Vera meminta penjelasan.

"Kata Anggit, dia dan Rian mempunyai ruangan masing-masing di hati aku.. Dia enggak bisa nempatin ruang dan ngegantiin posisi Rian.. Dia cuma bisa berusaha supaya aku lebih sering ngunjungin ruangan dia daripada ruangan Rian.. Gitu.." kataku.

"Oh.. Ya ya ya sekarang aku ngerti.. Bijak juga ya si Anggit.." kata Vera sambil mengangguk-angguk.

"Aku juga engga tau dia dapet kata-kata bijak itu darimana.." kataku, lalu kami berdua tertawa.

Beberapa saat kemudian mobil kami sudah sampai di kompleks tempat tinggal Rian. Vera menemaniku turun untuk menemui Rian, mantan pacarku, cinta pertamaku.

Kami harus berjalan beberapa meter terlebih dahulu. Beruntung, sinar matahari sore ini tidak terlalu terik. Rasa sesak di dadaku kembali menyeruak ketika kami sampai di tempat Rian. Meskipun lima tahun sudah berlalu, tapi aku masih dapat mengingat dengan persis bagaimana rasanya dicintai sekaligus ditinggalkan oleh Rian.

Aku dan Vera duduk di bangku mini yang terbuat dari tembok. Wangi harum menguar dari bunga mawar yang kutanam lima tahun yang lalu. Syukurlah penjaga yang dibayar oleh orang tua Rian melakukan amanahnya dengan baik. Rumput dan tanaman di sekitar tempat tinggal Rian tampak rapi dan terawat.

"Rian.. Maafin aku ya baru sempat ngunjungin kamu lagi.. Akhir-akhir ini aku sedang disibukkan dengan persiapan pernikahanku.. Iya, aku sudah menemukan lelaki sempurna untuk menjadi suami sekaligus ayah dari anak-anakku.. Namanya Anggit.. Dia mencintaiku sama besarnya seperti cintamu padaku.. Setidaknya begitulah yang aku rasakan.." aku menghela nafas sejenak.

"Minggu depan kami akan menikah.. Tapi asal kamu tau.. Sampai kapan pun aku enggak bisa dan enggak akan ngelupain kamu.. Makanya, kamu jangan kemana-mana, di hatiku saja ya.." aku menghapus air mata yang menetes di pipiku.

"Semoga kamu tenang disana ya.. Disini aku selalu ngedoain kamu.." aku menutup monologku di depan makam Rian.

"Yuk.." aku berdiri dan mengajak Vera untuk kembali ke mobil.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-11

Tuesday, January 22, 2013

Bangunkan Aku Pukul 7

Jangan lupa ya Beib, nanti pukul 8 jemput orang tuaku di stasiun.. Aku ada jadwal ngajar les privat soalnya.. Oke?

Begitu isi SMS yang dikirim Gita padaku. Aku pun langsung membalasnya.

Siap Beib.. Muach..

Tentu saja aku tidak akan mengecewakan Gita dan calon mertuaku. Inilah kesempatanku memperbaiki kesalahanku sebulan yang lalu. Waktu itu aku sengaja mengunjungi rumah orang tua Gita di Yogya. Selain untuk menjemput Gita karena jadwal liburan kuliah kami sudah selesai, aku juga berniat untuk menjalin silaturahmi dengan orang tua Gita. Namun yang terjadi adalah bencana. Dengan bodohnya, aku mengira pria tua yang sedang memotong rumput di halaman rumah Gita adalah tukang kebun, padahal pria itu adalah ayah Gita! Sungguh kesan pertama yang sangat buruk. Meskipun aku sudah berulang kali meminta maaf, tetapi suasana ketika menjadi kaku. Kini saatnya aku menghilangkan image buruk itu. Akan kubuktikan bahwa aku adalah calon menantu yang dapat diandalkan.

Aku mengintip penunjuk waktu di ponselku. Pukul setengah 7. Tidur dulu ah. Masih ada waktu selama setengah jam lagi. Jam 7 aku akan bersiap-siap dan sudah bisa standby di stasiun pukul setengah 8. Aman.

Aku melongok keluar kamar. Sepi. Tetapi syukurlah orang yang aku cari kebetulan lewat. Sri, asisten ibu kosku.

"Sri, aku mau minta tolong.. Bangunkan aku pukul 7 ya.." kataku.

"Baik Mas.." jawab Sri sambil mengangguk.

Aman. Selama ini Sri sudah terbukti selalu bisa diandalkan untuk membangunkanku.

Karena kelelahan setelah bermain futsal, aku pun langsung terlelap saat badan ini mendarat di kasur.

~~~

"Mas.. Mas Aryo.. Bangun Mas.. Sudah pukul 7.." aku mendengar Sri mengetuk pintu sambil membangunkanku.

Aku mengucek mata dan mengintip ponselku. Pukul 7. Aman. Tapi aku begitu kaget saat melihat ada 10 missed call dan 4 SMS dari Gita. Ada apa?

Dimana Beib? Ayah dan Ibu udah sampai di stasiun, tapi mereka enggak ngeliat kamu..

Kamu dimana?!

Dimana sih?! Terpaksa ayah dan ibu jadinya pakai taksi..

Aku benci kamu!

Arrgghh! Aku bergegas keluar kamar, memanggil Sri. Yang dipanggil langsung menghampiriku dengan tergopoh-gopoh.

"Iya.. Ada apa Mas?" tanyanya.

"Kamu kok enggak bangunin aku pukul 7?" tanyaku.

"Loh, barusan saya bangunin Mas tepat pukul 7.." jawabnya polos.

"Maksud aku tuh pukul 7 tadi malam, bukan pukul 7 pagi.." kataku gemas.

"Oh maaf.. Biasanya Mas kan minta saya bangunin kalau ada kuliah pagi.. Saya kira tadi malam juga begitu.." kata Sri.

Arrgghh! Hancur sudah reputasiku di hadapan calon mertua.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-10

Monday, January 21, 2013

Menanti Lamaran

"What?! Congrats ya dear.." mataku terbelalak melihat benda berkilau yang tersemat di jari manis tangan kiri Dania, tapi hanya sesaat karena setelah itu aku langsung berdiri dan memeluknya.

"Thanks cantik.." Dania menerima pelukanku.

"I'm really happy for you.. So, detail please.." aku duduk kembali di kursi, menyereput iced cappucino-ku, dan menunggu cerita Dania dengan tidak sabar.

Dania hanya tersenyum, membuatku semakin penasaran.

"Oh come on..!" kataku semakin tidak sabar.

"Hahaha.. Jadi.. Seperti yang kamu tahu, tadi malam aku dinner sama Kemal.. Pulangnya dia ngajak aku ke Boscha.. Terus, bentar.." cerita Dania terpotong karena ponselnya berbunyi.

"Aku angkat dulu ya.." Dania pamit padaku untuk menerima telepon entah dimana, karena sekarang cafe ini sedang sangat ramai.

Aku mengangguk padanya dengan maklum.

Lega. Itulah yang aku rasakan saat mendengar kabar bahagia dari sahabatku itu. Bagaimana tidak, setelah hampir tiga tahun menanti lamaran yang tidak kunjung datang dari Farid-sialan yang tiba-tiba menghilang entah kemana, akhirnya Dania dapat melupakan Farid dan mau menerima lamaran Kemal yang sudah setahun ini mendekatinya. Tentu saja aku yang mengenalkan mereka.

Semua orang pasti setuju bahwa Kemal, temanku sang eksekutif muda yang tampan sangat cocok dengan Dania yang bukan hanya cantik tapi juga cerdas. Hanya orang bodoh seperti Farid yang beruntung mendapatkan cinta Dania lalu berjanji akan melamar sahabatku itu, namun malah menyia-nyiakannya seperti seorang pengecut.

Dania sudah kembali ke meja kami. Namun kurasa ada yang tidak beres karena mata yang tadi memancarkan kebahagiaan kini dipenuhi genangan air mata yang sepertinya sebentar lagi siap meluncur dengan deras.

"Hei.. Kenapa?" tanyaku panik.

"....." Dania tidak menjawab. Dia menyimpan ponselnya di meja dengan tangan yang bergetar.

"Siapa yang nelepon?" tanyaku lagi.

"Farid.." jawab Dania pendek.

"Apa?! Terus dia bilang kemana dan kenapa dia menghilang?" tanyaku kesal.

"....." Dania tidak menjawab lagi.

"Untuk apa dia tiba-tiba menghubungi kamu lagi?" aku terus bertanya.

"Dia mau melamarku.." jawab Dania.

"Hahaha.. Tapi kamu bilang kan sama dia kalau sekarang kamu udah tunangan?" aku bertanya lagi.

Dania menggeleng.

"What?!" aku tidak habis pikir.

"Aku bingung Ta.. Aku masih cinta sama Farid.." jawab Dania seiring dengan air mata yang mengalir turun ke pipinya.

"....." kini aku pun tidak bisa berkata-kata.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-9

Sunday, January 20, 2013

Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

Aku menikmati detik-detik keberadaanku di toko buku ini dengan penuh suka cita. Beralih dari satu rak ke rak yang lain, menghibur diri dengan berbagai gambar cover depan buku yang cantik, dan tenggelam dalam sinopsis di balik cover belakangnya. Beberapa menit kemudian aku sudah membawa Heart of The Matter-nya Emily Giffin, 9 dari Nadira-nya Leila S. Chudori, dan The Journeys 2-nya Alanda Kariza dkk.

"Aku boleh beli ini Tante?" Icha muncul dengan membawa tujuh buah buku.

Aku menelan ludah.

"Boleh dong sayang.." aku tersenyum. Untuk keponakanku ini, apa sih yang enggak boleh. Apalagi aku merasa bangga karena keponakanku ini hobi membaca sepertiku, padahal umurnya baru tujuh tahun. Sungguh bertolak belakang dengan ayah ibunya yang sangat anti pada buku. Jangankan melahap buku tebal, membaca buku manual mesin cuci pun malas.

"Empat ratus empat puluh lima ribu lima ratus rupiah.." kata petugas kasir.

Aku menelah ludah lagi, lalu mengeluarkan kartu debit dan memasukkan nomor PIN-nya. Demi Icha, berarti jatahku untuk membeli buku bulan depan sudah terpakai.

"Kemana ya sekarang? Pulang?" tanyaku pada Icha. Aku selalu merasa mati gaya bila berada di mall. Apalagi mall yang letaknya di Bandung Selatan ini luas sekali. Hanya toko buku, bioskop dan foodcourt lah tempat yang tidak akan membuatku mati gaya.

"Kayanya aku pengen donat deh.." jawab Icha setelah berpikir beberapa saat.

"Boleh.. Kalau gitu kita beli donat dulu yuk.." lagi-lagi aku menyetujui keinginannya dan mengajaknya ke kedai donat yang masih berada satu lantai dengan toko buku.

Setelah memesan Iced Cappuccino Caramello dan Alcapone untukku serta Iced Chocolate dan Oreology untuk Icha, kami pun bersantai sejenak. Lumayanlah, malam minggu kali ini aku yang sedang jomblo bisa mempunyai teman kencan. Saat Icha sedang menceritakan film The Hobbit yang baru ditontonnya kemarin, tiba-tiba matanya mengarah ke belakangku.

"Hmm.. Aku kesana dulu ya Tante.. Ada Wulan, temenku.." kata Icha sambil berdiri.

Aku ikut melihat ke arah yang dilihat Icha. Ada gadis kecil seumur Icha yang melambaikan tangannya.

"Oke.. Jangan lama-lama ya.." kataku. Mendengar hal itu Icha langsung mengangguk dan berlari menuju temannya.

Untuk mengisi waktu, aku pun berniat untuk membaca buku yang baru saja dibeli. Namun aku bingung buku mana yang akan kubaca lebih dulu.

"Tante.. Icha mau nemenin Wulan beli buku juga.. Tante tunggu disini ya?" tanya Icha yang tiba-tiba muncul.

"Enggak mau ah.. Ngapain Tante disini sendiri.. Tante ikut kalian aja, tapi tunggu Tante abisin minumannya ya.." kataku sambil segera beres-beres.

"Tante ditemenin kakaknya Wulan kok.. Tuh..!" Icha menunjuk ke arah Wulan, sekarang gadis kecil itu ditemani seorang lelaki muda seumurku yang tampan. Penampakannya mirip Rio Dewanto dan dia tersenyum padaku!

"Gimana? Boleh ya?" tanya Icha.

"Oh.. Untuk kamu, apa sih yang enggak boleh.." jawabku sambil tersenyum manis pada Icha. Kurasakan kupu-kupu beterbangan di dalam perutku.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-8

Saturday, January 19, 2013

Cintaku Mentok di Kamu

"So.. Berapa hati yang lu sakitin di Melbourne?" tanya Adjie sambil mengendarai New CRV-nya keluar dari tempat parkir Cititrans dan menyusuri Jalan Dipati Ukur.

"Dua taun engga ketemu.. Dan itu pertanyaan pertama dari lu?" aku geleng-geleng kepala.

"Hahaha ya gimana lagi.. Waktu kita kuliah, lu kan banyak fansnya dan hobi gonta-ganti pacar.." Adjie membela diri.

"Nope..!" jawabku pendek.

"What?! Becanda kan lu?" Adjie menengok ke arahku yang duduk di sebelahnya.

"Engga lah.." kataku.

"Masa sih.. Jadi lu belum bisa move on dari anak pengusaha minyak itu?" tanyanya sambil menyebutkan pacarku yang terakhir sebelum kepergianku ke Melbourne.

"Enak aja.." jawabku

"Terus kenapa dong?" Adjie masih penasaran.

"Engga kenapa-kenapa.." jawabku sambil menatap ke luar jendela. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya pada sahabatku ini.

"Gema masih kerja di bank?" aku menanyakan kabar istrinya.

"Sejak Ariel lahir, dia mutusin untuk jadi ibu rumah tangga.." jawabnya.

"Oohh.." aku merasa iri pada Gema.

"Gimana, seru jadi ayah?" tanyaku lagi.

"Seru banget! Engga terkatakan deh.. Makanya lu juga cepet nikah, cepet punya anak.." katanya.

Aku hanya tersenyum.

Rupanya kami sudah sampai di tempat tujuan. Adjie pun mencari tempat parkir. Saat weekend seperti ini, cukup sulit mendapatkan tempat parkir.

"Wow.. Banyak banget yang berubah ya.." kataku saat melihat bangunan Ciwalk yang baru. Kami ke sini untuk menjemput Gema yang katanya baru selesai bertemu dengan teman-teman SMA-nya.

"Yup.." Adjie menjawab pendek.

"Tuh..!" syukurlah aku melihat tempat parkir yang kosong. Adjie pun langsung memarkirkan mobilnya.

Dug!

"Ups! Mentok hahaha.." rupanya ban mobil Adjie sudah mengenai besi pembatas.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Bukan hanya ban mobil yang mentok, tapi cintaku juga mentok. Aku menghela nafas berat.

Cintaku mentok di kamu Djie. Tentu saja kamu tidak tahu bahwa aku sudah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Dan kamu tidak tahu bahwa aku bergonta-ganti pacar hanya untuk mengalihkan perasaanku darimu. Kamu juga tidak tahu bahwa aku sengaja melanjutkan kuliah ke Melbourne agar aku tidak perlu menghadiri pernikahanmu dan Gema.

"Yuk! Gema udah nunggu di Starbucks.." kata Adjie saat kami sudah keluar dari mobil.

Kami pun berjalan masuk ke tempat yang dimaksud. Dan memang benar Gema sudah menunggu kami bersama Ariel. Adjie langsung menghampiri Gema dan menggendong Ariel yang begitu senang melihat ayahnya datang.

"Halo jagoan Papa.. Kenalin nih temen Papa.. Nanti kamu minta diajarin main bola ya sama Om Ferro.." Adjie mengenalkan bayi tampan berumur satu tahun itu padaku.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-7

Friday, January 18, 2013

Bales Kangenku Dong!

Udah makan? Lusa jadi pulang kan? Kangen berat nih :D

Kirim engga kirim engga. Ah biarin kirim aja. Eric kan pacarku, wajar kalau aku rindu padanya. SMS pun terkirim. Duh, jadinya aku seperti menjilat ludah sendiri dong. Sejak dulu aku tidak pernah mengumbar kata-kata romantis dengan pacar. Bahkan saat Eric mengusulkan agar membuat panggilan sayang untuk kami masing-masing, aku menolak. Aku berpikir bahwa kata-kata romantis dan panggilan sayang hanya pantas untuk para ABG. Tapi cinta memang tidak memiliki logika. Cintaku pada Eric telah mengubahku menjadi seperti ABG-ABG itu. Arrgghh! Aku menyesal telah mengirim SMS itu pada Eric. Bagaimana nanti tanggapan Eric? Tapi semua sudah terlanjur, sekarang aku hanya bisa pasrah menunggu jawaban dari Eric.

Sudah setengah jam berlalu, tapi Eric belum juga membalas SMS-ku. Padahal sekarang kan jam istirahat makan siang.

Aku baru aja selesai makan.. Kamu juga udah makan kan?

Akhirnya Eric membalas SMS-ku sejam kemudian. Tapi dia tidak merespon kata-kata kangenku. Uh sebal!

Syukur deh udah makan, aku sih udah dari tadi.. Kok kamu engga jawab semua pertanyaanku sih?

Oh iya, aku bakal pulang secepatnya kok..

Ih! Eric nih memang engga sadar atau pura-pura engga sadar sih.

Kamu tuh engga kangen sama aku? Oke kalau begitu..

Oh itu.. Hahaha.. Kamu tadi kan engga nanya itu sama aku..

Aku melihat kembali SMS pertama yang kukirimkan pada Eric. Aku memang tidak bertanya.

Iya aku engga nanya, tapi pernyataan seperti itu tanpa ditanya pun seharusnya kamu balas dong.. Ya udah lah kalau emang engga kangen, aku engga maksa..

Hhhh! Jatuh sudah harga diriku pada level paling bawah.

Loh, kan dulu kamu sendiri yang bilang sama aku kalau kamu engga suka hubungan yang menye-menye.. Say no to kata-kata romantis.. Say no to panggilan sayang.. Rasa sayang mending langsung ditunjukkan dengan tindakan..

Ih! Eric jual mahal banget sih. Pakai acara mengolok-olokku segala.

Tapi sekarang aku lagi ingin dikangenin sama kamu.. Sekali-sekali..

Lama aku menunggu, tapi Eric tidak membalas SMS-ku. Arrgghh! Perasaanku tidak karuan. Rindu bercampur kesal menjadi satu. Aku pun merasa bodoh karena telah mempermasalahkan hal yang tidak penting. Namun yang lebih bodoh lagi, kini aku menangis karena mengemis rindu dari Eric.

.....Dua jam kemudian.....

Aku mendengar suara orang yang mengetuk pintu depan. Siapa sih? Mengganggu saja. Aku kan sedang sedih. Mataku juga bengkak karena menangis. Aku biarkan saja, mungkin hanya orang yang meminta sumbangan.

Lalu ponselku berbunyi. Bukan SMS, tapi telepon dari Eric.

"Ya..?" aku menjawab telepon dengan ketus.

"Bukain pintunya dong.." kata Eric.

Aku kaget sekali. Lebih kaget lagi saat melihat bayangan wajahku di cermin. Berantakan sekali. Tapi aku segera membukakan pintu untuk Eric.

"Loh? Kamu ada disini? Katanya lusa baru pulang dari Surabaya?" tanyaku.

"Besok aku ada meeting di Jakarta.. Jadi sore ini aku mampir ke Bandung dulu buat ketemu kamu.. Soalnya aku juga kangen berat sama kamu.." kata Eric.

Aku tersenyum. Terharu.

"So? Katanya kangen aku.. Peluk dong.." Eric menggodaku.

Aku pun menghambur ke dalam pelukannya.

"Seru kan ngomong kangen-kangenan ala ABG?" Eric berbisik di telingaku.

Aku mengangguk.

"Kalau panggilan sayang kita pipi-mimi gimana?" tanya Eric.

"Engga segitunya kali!" aku langsung protes.

Eric tertawa dan mengacak-acak rambutku dengan sayang.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-6

Thursday, January 17, 2013

Sambungan Hati Jarak Jauh

Matanya, senyumnya. Sungguh indah dipandang . Suaranya, tawanya. Sungguh merdu didengar.

Aku sudah melihatnya sejak hari pertama bekerja di gedung perkantoran ini. Setiap pagi dan sore, bila perhitungan waktuku pas, aku bisa berada dalam satu lift bersamanya. Rupanya kantor kami hanya berbeda satu lantai.

Sudah hampir enam bulan waktu berlalu, tapi tidak ada yang berubah. Aku tidak mempunyai nyali yang cukup besar untuk mengajaknya berkenalan. Sampai hari ini, banjir yang mengepung Kota Jakarta justru memberikan kesempatan padaku untuk dapat mengenalnya. Saat itu dia kebingungan karena ojeg yang biasa menjemputnya tidak datang karena terjebak banjir. Aku pun nekat untuk menawarkan bantuan padanya. Rupanya dengan senang hati dia menerima tawaranku untuk mengantarnya pulang.

Namanya Bunga. Ternyata sikapnya tidak jauh berbeda dari nama dan penampilannya. Menyenangkan. Tak terasa satu porsi nasi goreng kambing dan satu gelas jeruk hangat di warung langgananku serta tiga gelas kopi di kafe favoritnya meluncur ke perutku saat menghabiskan waktu bersamanya.

Aku jatuh cinta.

Aku sudah siap tidur saat ponselku berbunyi. Ratih.

"Halo.." kataku.

"Kamu engga apa-apa kan? Atau ada masalah atau sakit atau kecelakaan? Kebanjiran?" pertanyaannya berderet.

"Aku sehat dan baik-baik saja.. Kok jam segini belum tidur?" tanyaku. Sekarang sudah lewat jam 12 malam.

"Aku terbangun karena mimpi buruk.. Aku merasakan firasat tidak baik tentangmu.. Hhhh syukurlah kalau kamu baik-baik saja.." katanya.

"Aku baik-baik saja.. Kamu tidur aja lagi.." kataku meyakinkan Ratih.

"Oke.. Bye.. Kamu juga tidur ya.. Besok pagi aku telepon lagi.." katanya sebelum menutup sambungan telepon.

"Oke.. Bye.." aku membalas.

Aku menghela nafas panjang. Kalau firasat buruk yang Ratih rasakan berkaitan dengan tubuhku, maka dia salah. Tapi kalau firasat buruk itu berkaitan dengan hatiku, maka dia betul seratus persen. Karena sejak malam ini, hatiku sudah bukan miliknya lagi, tapi milik Bunga.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari-5

Tuesday, January 15, 2013

Orang Ketiga Pertama

Jauhi dia! Kalau tidak aku akan membuatmu menderita!

Aku mengerutkan dahi saat membaca sms gelap yang masuk ke ponselku.

"Mba Ina mengancamku.." kataku sambil duduk di samping Mas Beni yang sedang menonton berita di televisi.

"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

"Barusan dia mengirim sms padaku dan berkata agar aku harus menjauhi Mas.. Kalau tidak dia akan membuatku menderita.." aku menjelaskan.

"Hahaha.. Untuk apa dia mengancammu?" Mas Beni malah tertawa.

"Karena aku menjadi orang ketiga dalam pernikahan kalian.. Aku sudah merebut Mas darinya! Tentu saja Mba Ina marah.." kini nada suaraku mulai terbawa emosi.

"Ina tidak tahu dan tidak akan pernah tahu tentang kita.. Dia itu begitu polos.. Kamu tenang saja.. Mungkin itu sms salah sambung.." kini Mas Beni berbicara sambil menatap mataku.

"....." aku merasa tidak yakin dengan perkataan Mas Beni.

~~~

Dug dug dug..! Dug dug dug..! Dug dug dug..!

Seseorang mengetuk pintu rumahku dengan kasar. Jangan-jangan Mba Ina datang kesini untuk melabrakku. Aku segera menghentikan kegiatan memasakku dan melihat siapa yang datang.

Aku mengintip lewat jendela. Bukan Mba Ina, tetapi perempuan muda yang seumur denganku. Mungkin anak Mas Beni dan Mba Ina? Tapi seingatku mereka tidak mempunyai anak perempuan.

"Ya.. Ada apa?" tanyaku saat pintu sudah kubuka.

"Sudah kubilang, jangan dekati Mas Beni! Dia milikku!" perempuan itu berteriak padaku.

"Memangnya kamu siapa?" aku menantangnya.

"Aku Dewi! Istri kedua Mas Beni.. Dan kamu harus meninggalkan Mas Beni!" katanya membentakku.

Apa??? Mas Beni mempunyai istri lain selain Mba Ina dan aku???

"Mas Beni sangat mencintaiku.. Dia tidak mungkin mau menceraikanku!" kataku.

"Jadi Mas Beni sudah menikahimu?! Aku bilang tinggalkan dia!" dia mendorongku.

"Tidak mau! Kamu saja yang tinggalkan dia!" aku balas mendorongnya.

"Kurang ajar! Akan kubunuh kamu!" dia mengeluarkan sebuah gunting dari tasnya.

~~~

"Terus saja cari.. Bagaimana pun hasilnya, kamu harus selalu mengabari saya.. Oke.." kudengar Mas Beni menutup pembicaraan dengan seseorang di telepon.

"Apa yang dicari Mas? Ada yang hilang?" tanyaku sambil membelai rambutnya.

"Urusan pekerjaan, aku sedang tidak ingin membahasnya.." jawab Mas Beni lesu.

Aku tersenyum di dalam hati. Aku tahu bahwa Mas Beni mencari keberadaan Dewi. Sayangnya Mas Beni tidak tahu bahwa Dewi sudah mati. Kemana pun anak buah Mas Beni mencari, mereka tidak akan menemukannya, karena mayat Dewi sudah terkubur rapat di dalam rumah ini.

Kini aku bukan lagi orang ketiga kedua dalam pernikahan Mas Beni dan Mba Ina. Kini aku menjadi orang ketiga pertama dan satu-satunya dalam pernikahan mereka. Cara apapun akan kulakukan agar tetap begitu.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-3

Monday, January 14, 2013

Pukul 2 Dini Hari

And I hate how much I love you, boy
I can’t stand how much I need you
And I hate how much I love you, boy
But I just can’t let you go

Ponselku berbunyi. Dari ringtone-nya aku tahu bahwa Ardi yang meneleponku. Jam berapa ini? Aku menyipitkan mataku melihat jam yang menempel di dinding. Pukul 2 dini hari! Ada apa Ardi meneleponku selarut ini? Perasaan tidak enak datang menghampiriku.

"Halo.. Ada apa Di?" tanyaku.

"Gue di depan rumah lu.. Jantungku.." kata Ardi.

"Ngapain lu di depan rumah gue malem-malem gini?! Kenapa jantung lo?!" aku panik karena tahu bahwa Ardi mempunyai penyakit jantung bawaan.

"Tolong cek jantung gue yah.." katanya.

"Ngecek jantung kok ke rumah gue? Ke rumah sakit dong! Gue bukan dokter, gue mahasiswa kedokteran semester satu!" aku memarahinya.

"Tapi bokap lu kan dokter.. Bukain pintunya yah.." kata Ardi lagi.

Aku pun segera berlari ke lantai bawah dan membukakan pintu untuk Ardi. Perasaanku campur aduk antara panik, khawatir, sekaligus kesal.

"Masuk Di! Gue bangunin bokap dulu yah.." kataku hendak kembali ke atas, tapi Ardi menahan tanganku.

"Tolong cek dulu sama lu.." Ardi memohon dengan tatapan memelas lalu dia mengarahkan tanganku ke dadanya.

"Sakit?" tanyaku.

"Ssshhh.. Rasain detak jantung gue.." katanya.

"Cepet banget yah?" tanyanya lagi.

"Iyah.. Bentar gue bangunin Bokap dulu ya.. Gue engga ngerti.." aku menarik tanganku, tapi Ardi masih tetap menahanku.

"Jantung gue engga kenapa-kenapa.. Gue cuma deg-degan mau nyatain perasaan cinta gue sama lo.." kata-kata Ardi sungguh di luar perkiraanku.

What?!

"Engga lucu tau!" aku langsung menarik tanganku.

"Ada apa ini? Kok ramai sekali? Oh ada Ardi.. Ada apa Nak Ardi malam-malam begini?" ternyata Mami terbangun dan turun ke bawah.

"Engga tau nih Mam, Ardi engga ada kerjaan banget!" aku langsung menyambar.

"Iya Tante, maaf saya mengganggu malam-malam begini.. Saya sedang menyampaikan perasaan saya pada Intan.." Ardi memberi penjelasan.

"Oalah, anak muda jaman sekarang.. Udah langsung kamu terima aja Ntan.. Selama ini kamu kan sering curhat sama Mami soal Ardi.." Mami berkata dengan santai dan berjalan kembali ke kamarnya.

What?! Rasanya aku ingin tenggelam ke dasar bumi. Ternyata Mami dan Ardi sama saja.

"Oh.. Jadi kamu suka curhat sama Mami tentang aku.. Berarti selama ini kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku ya?" Ardi tersenyum menggodaku.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-2

Sunday, January 13, 2013

Kenalan Yuk!

Aku berjalan pulang dengan tergesa dari kampusku di Jalan Ganesha menuju Jalan Dago. Aku ingin segera bisa istirahat di rumah setelah rangkaian UAS yang melelahkan ini. Namun aku begitu kesal saat melihat Jalan Dago yang sudah begitu ramai dipadati oleh kendaraan roda empat berplat B. Ah iya, besok long weekend. Bagaimana aku bisa cepat sampai di rumah kalau jalanan sudah macet begini. Aku mendengus kesal.

"Permisi.." aku membalikkan tubuh tepat sebelum menyeberang jalan karena mendengar suara seorang lelaki di belakangku. Sepertinya dia memang berbicara padaku karena saat itu hanya aku satu-satunya orang yang berada di sini.

"Yah?" aku memandangnya tidak mengerti.

"Boleh kenalan?" tanyanya sambil menjulurkan tangan yang terlihat gemetar.

What?! Lelaki culun ini ingin mengajakku kenalan?! Kayanya dia engga punya cermin deh! Aku bersungut di dalam hati sambil melihat penampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Haris.. Geologi 2010.." dia memperkenalkan dirinya. Ternyata dia sama-sama angkatan baru di kampus kami, pantas culun.

"Mela.." jawabku sambil sekilas menerima jabatan tangannya.

"Boleh minta pin BB?" tanyanya sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

"Engga pakai BB.." jawabku singkat.

"Kalau gitu boleh minta nomor telepon?" tanyanya.

"Nol delapan satu delapan tiga tiga lima lima enam lima.." jawabku dengan tidak sabar. Aku juga sengaja memberi nomor yang salah padanya, mengganti angka nol menjadi angka enam.

"Makasih ya.." dia tersenyum kikuk.

"Oke.." aku menjawab dengan malas lalu segera berbalik dan menyeberang jalan.

Tiba-tiba di perjalanan dalam angkutan kota aku merasa sedikit bersalah karena tidak bersikap ramah dan bahkan memberikan identitas palsu pada siapa tadi namanya, ah aku tidak memperhatikan. Tapi ya sudahlah, resiko dia mengajakku kenalan pada waktu, tempat, juga cara yang salah.

Dua tahun kemudian...

"Dia belum punya cewek?" tanyaku pada Citra setelah dia bilang padaku bahwa pacarnya, Tomi yang kuliah di Geologi akan membawa seorang teman.

"Setauku sih engga.." jawab Citra.

Sore ini Citra akan memperkenalkan pacar barunya. Setelah itu kami akan menonton film bersama.

Beberapa saat kemudian, dua orang yang kami tunggu akhirnya muncul. Aku sudah pernah melihat wajah Tomi secara sepintas dari Facebook-nya. Berarti lelaki di sebelah Tomi yang dimaksud Citra. Benar kata Citra, lelaki itu memang ganteng.

"Halo say.." Tomi mencium pipi Citra.

"Kenalin nih temen aku.. Namanya Meta.." Citra mengenalkan aku pada Tomi dan temannya.

"Hai.. Meta.." aku mengulurkan tangan pada Tomi.

"Tomi.." Tomi menyambut uluran tanganku dengan ramah.

"Meta.." aku mengulurkan tangan pada teman Tomi.

"Haris.. Kita kan udah pernah kenalan.." katanya sambil menyambut uluran tanganku.

Aku mengernyitkan kening. Aku tidak ingat pernah berkenalan dengan Haris. Bagaimana mungkin aku lupa jika sudah pernah berkenalan dengan lelaki ganteng ini. Ah, mungkin ini cara dia menggombaliku.

"Oh ya.. Kapan?" aku bertanya padanya.

"Beberapa tahun yang lalu.. Tapi kamu memberikan identitas palsu.. Waktu itu kamu mengaku bernama Mela dan memberikan nomor telepon yang salah.." jawabnya santai.

Awalnya aku tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Haris. Namun tiba-tiba aku ingat pada adegan di perempatan Ganesha-Dago dua tahun yang lalu. Lelaki culun itu adalah orang yang sama dengan lelaki ganteng di depanku ini?

"Ingat?" Haris bertanya sambil tersenyum. Gantengnya. Tapi aku tidak peduli karena saat ini warna mukaku pasti sudah semerah kepiting rebus. Aku malu sekali. Sementara itu Citra dan Tomi memperhatikan kami dengan pandangan tidak mengerti.

~~~~~

#13HariNgeblogFF Hari ke-1