Thursday, May 16, 2013

Tersiksa Masubah

Setiap Idul Fitri, tante saya yang memiliki suami asal Jambi selalu menyediakan masubah di rumahnya. Kue ini mirip dengan kue asal Palembang, mungkin karena sama-sama berasal dari daerah Sumatera Selatan. Namanya pun bermacam-macam, ada yang menyebut masuba, masubah, maksuba, sama saja. Cara penyajiannya, kue ini dipotong kecil-kecil karena rasanya yang sangat manis.

Saya sangat suka masubah. Dulu waktu masih kecil, saya betah sekali duduk di ruang tamu rumah tante dan menghabiskan beberapa potong masubah. Sekarang saya sudah dewasa, harus jaga image dong hihihi. Maka saya pun makan secukupnya saja.

Beberapa waktu yang lalu, saya ingin sekali makan masubah. Duh, masa sih harus menunggu Idul Fitri. Saya juga enggak tau, bisa mendapatkan masubah ini di mana di Kota Bandung. Saya pun langsung mencari resepnya di Mbah Google. Ternyata bahan utamanya sangat simple, hanya telur, gula, dan susu kental manis. Yang enggak simple itu cara bikinnya, ribet lapis per lapis hehehe. Membuat saya maju mundur untuk mencoba membuatnya.

Sampai akhirnya saya menemukan bahwa IDFB Challenge bulan ini yaitu kue berlapis. Akhirnya saya berkeyakinan bahwa inilah saatnya saya mencoba membuat masubah. Semangat! Saya pun memilih menggunakan resep ibu mertua Mba Ruri (almh) yang asli dari Palembang.

Bahan:
  • 20 btr telur bebek (saya pakai telur ayam)
  • 1 kaleng susu kental manis
  • 100 gram margarin cair
  • 6 sdm tepung terigu
  • 1 kg gula pasir (saya pakai 500 gr saja)
  • 1 sdt garam
  • 1 sdt essens pisang (enggak punya, diganti dengan vanilli bubuk)

Cara membuat:
  • Siapkan loyang ukuran 22 x 22 cm, olesi bagian bawahnya dengan mentega, lapisi kertas baking, olesi lagi dengan mentega.
  • Campurkan gula dan telur lalu aduk sampai gula larut. Bisa menggunakan whisker atau hand mixer dengan kecepatan paling rendah. Lalu saring.
  • Masukkan tepung terigu, garam, susu kental manis, margarin, dan vanilli bubuk. Lalu aduk hingga rata.
  • Tuang adonan lapis pertama ke dalam loyang dan panggang adonan dengan sistem seperti memanggang lapis legit. Apabila permukaannya sudah berwarna kecoklatan, keluarkan dari oven. Tusuk gelembungnya dengan tusuk gigi atau garpu, lalu ratakan dengan alat untuk meratakan adonan lapis legit yang telah diolesi mentega. Tuang lagi adonannya. Tiga lapis pertama menggunakan api bawah lalu pindah api atas. Apabila adonan sudah habis, gunakan api bawah kembali untuk mematangkan semuanya.

Sesuai dengan judulnya, saya lumayan tersiksa saat membuat masubah ini. Wangi adonan yang sedang dipanggang sungguh menggoda dan menerbitkan air liur, sementara proses pembuatannya masih sangat lama karena harus dipanggang lapis per lapis.

Hasilnya? Membuat saya lebih tersiksa lagi. Berantakan huhuhu. Ini memang salah saya, pemula kok nekat bikin kue berlapis hahaha. Maka dengan ini saya menyatakan bahwa hasil karya saya ini tidak layak untuk ikut IDFB Challenge. Mana kemampuan food photography-nya juga malu-maluin :))

Sumber: dok. pribadi
Tapi jangan salah, walau penampilannya kurang cantik, namun rasanya dapet banget. Manis dan legit. Hmmm puas deh. Cuma ya itu, saya harus latihan lagi belajar memanggang lapis per lapis. Pantas harga kue ini cenderung mahal. Membuatnya memerlukan teknik, ketelitian, dan kesabaran tingkat tinggi. Fiuh!

18 comments :

  1. Sepertinya enak tuh Mba. He,,,x9

    Salam,

    ReplyDelete
  2. *ngiler mak
    jadi inget pas nikahan kakak saya pas dapat orang palembang. kayaknya bawa kue ini juga buat hantaran. rasanya legit banget ngalahin lapis legit dan basah2 gimana gitu teksturnya?bener gak mak?

    ReplyDelete
  3. Hm...sama dengan lapis legit kah? hm....aku penggemar kue yang legit-legit, dilempar ke aku pasti langsung menghilang di perut tuuu

    ReplyDelete
  4. Hemm..kebayang legitnya..pakai telurnya soalnya banyak ya Mak..^_^..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya telurnya banyak, udah makan ini hrs lgsg olahraga :D

      Delete
  5. Kayaknya lembut banget teksturnya ya, Mak. *cuma bisa ngebayangin*

    ReplyDelete
  6. Aduh, bikin kangen nih, dulu waktu tinggal di Palembang, Lebaran selalu makan kue ini (ndak bisa bikinnya) bersama kawan-kawannya lapis legit, lapis keju, engkak ketan, dan kue delapan jam.

    ReplyDelete
  7. disurabaya itu mirip kue lapis khas nya surabaya.. *haalaah sok tahu asmie iki heee*
    gak papa mbak, percobaan pertama sedikit berantakan maka harus dicoba lagi ya.. trus kali ini tolong dikirim kesurabaya... *dilemparsandal*

    ReplyDelete
  8. aaaaaa.... makanan favorit saya itu mbak :D

    dulu masih kecil suka bantuin ibu bikinnya, tapi nggak pernah tau berapa aja takaran bahannya.
    Jadi pas nikah nggak berani bikin sendiri, ujung2nya beli aja :D

    ReplyDelete
  9. waaaa.... ini makanan kesukaan saya selain kue 8 jam yang nikmat itu.. setiap hari raya saya selalu merindukan makanan ini.. harganya mahal jadi cuma ada di moment spesial.. jika bukan hari raya maka cuma bisa dapat pas ada yang nikah atau lamaran saja... bikinnya susah emang.

    ReplyDelete