Friday, May 1, 2015

Tetangga Masa Gitu

Sumber
Beberapa minggu terakhir ini, Jav sedang gemar-gemarnya bermain bersama salah satu anak tetangga, sebut saja X. Setelah selama ini dikelilingi oleh anak-anak tetangga perempuan, wajar apabila dia senang sekali bermain dengan anak tetangga laki-laki. Umurnya pun sebaya, hanya berbeda satu bulan.

Jujur, saya tidak mengenal orang tua X. Keluarga mereka baru pindah beberapa bulan yang lalu. Tidak ada acara syukuran, oke lah. Tapi juga tidak berusaha memperkenalkan diri pada tetangga sekitar--saya. Hmmm… mungkin memang begini perilaku orang-orang zaman sekarang, sudah melupakan etika bertetangga.

Walaupun baru tinggal di rumah ini selama empat tahun, tapi saya sudah tinggal di komplek ini sejak lahir. Sebagai warga lama, sejak remaja hingga sekarang, saya lumayan aktif di komplek. Jadi tidak heran apabila sebagian besar warga di komplek ini sudah mengenal dan berhubungan baik dengan saya. Jadi, kalau ada tetangga baru yang tidak mau kenal ya sudah, saya sih tidak rugi.

Dulu, rumah saya merupakan bangunan pertama yang menempati kaveling baru di komplek ini. Kanan-kiri-depan rumah dikelilingi oleh tanah kosong. Ketika satu per satu rumah lain mulai dibangun, saya merasa sangat antusias karena akhirnya bisa mempunyai tetangga. Saya berkhayal bahwa nanti bisa bertukar resep masakan, bersama-sama menemani anak bermain di taman, atau saling menjaga anak ketika salah satu butuh pergi mendadak.

Sayangnya, khayalan saya belum pernah kesampaian. Jangankan bisa seakrab itu, kenal saja tidak. Tetangga-tetangga saya tersebut pindah dan tinggal begitu saja. Setiap melewati rumah saya, ya lewat saja, padahal saya sedang nangkring di depan rumah. Mau saya ajak senyum, malah pura-pura tidak melihat. Kesal? Tidak. Kecewa? Iya.

Kalaupun akhirnya kami kenal, itu karena saya yang SELALU menghampiri mereka ketika mereka sedang berada di halaman rumah. Padahal saya tipe orang yang sangat pemalu loh. Habis bagaimana lagi? Masa tinggal di lingkungan yang sama tapi tidak saling mengenal?

Bagi saya hubungan dengan tetangga seharusnya lebih erat daripada dengan saudara. Bukankah apabila terjadi sesuatu pada kita, tetangga yang akan tahu lebih dulu tahu daripada saudara. Jadi, siapa yang memperkenalkan diri terlebih dahulu tidak menjadi masalah.

Lucunya nih. Kemarin, Jav mengajak X main di dalam rumah. Awalnya X menolak, tapi menyerah juga setelah dibujuk oleh Jav. Yang membuat saya bengong yaitu ketika kakak perempuan X datang dan melarang X main di dalam rumah Jav. Sambil memasak di dapur, saya menguping kata-kata kakaknya X. Intinya, X tidak boleh main di dalam rumah Jav, karena nanti dimarahi mamanya. Ini--rumah Jav--rumah orang lain, keluarga mereka tidak mengenal ayah dan ibu Jav.

*Gubrak!* Tetangga masa gitu?

Alasan mamanya X untuk tidak membiarkan anaknya bermain di rumah orang asing memang bagus sih. Tapi, rasanya tidak pantas deh dia berbicara seperti itu selama dia--sebagai warga baru--belum memperkenalkan dirinya pada tetangga sekitar.

Saya sendiri belum pernah memiliki pengalaman menjadi warga baru. Tapi berdasarkan hasil pencarian dari berbagai sumber, berikut beberapa etika bertetangga untuk beradaptasi di lingkungan baru:
  • Kalau ada dananya, mengundang tetangga sekitar untuk datang ke rumah. Syukuran sekaligus memperkenalkan diri.
  • Mendatangi langsung rumah tetangga. Tidak perlu semuanya, cukup tetangga kanan-kiri-depan.
  • Rajin nangkring di depan rumah.
  • Murah senyum dan tidak malas menyapa tetangga.
  • Aktif mengikuti kegiatan di lingkungan seperti arisan, kerja bakti, dan lain-lain.
  • Rajin mengikuti pengajian atau--untuk laki-laki--rutin salat berjamaah di masjid.

Bukan hanya warga baru loh, untuk warga lama pun ada etikanya juga untuk menyambut tetangga baru, di antaranya:
  • Menyambut atau minimal memberi senyum pada tetangga baru ketika melihat truk pengangkut barang di depan rumahnya.
  • Menawarkan bantuan atau memberikan camilan ketika tetangga baru sedang sibuk pindahan.
  • Meyakinkan tetangga baru agar tidak sungkan menghubungi apabila membutuhkan informasi.

Ada tambahan? :)

47 comments :

  1. Duh Mbak, jangankan yang baru kenal, yang sudah lama juga nggak kalah mencengangkan. Tapi nggak mungkin cerita di sini, bisa nggak kalah panjang dengan postingan nanti. hihihi

    Betul kata Mbak Lia, tetangga itu saudara terdekat. Makanya salah satu anugerah itu punya tetangga yang baik. Sekarang masalahnya, apakah kita sudah jadi anugerah bagi orang lain, itu yang berat. Saya tipe yang nggak terlalu suka bertetangga (main ke rumah tetangga), tapi berusaha senyum atau ramah tamah kalau ada tetangga lewat. Bgai rejeki kalau ada rejeki lebih. Saya nggak merasa punya masalah dengan sebagian besar tetangga (setidaknya ini perasaan saya). Cuma ya itu, mbak, kita nya nggak tahu yang orang lain rasakan terhadap kita... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba... kejadian kemarin bikin saya introspeksi juga... mungkin karena muka saya defaultnya memang jutek, jadi bikin tetangga baru males kenal hihihi...

      Delete
  2. Kalo di jawa biasa bikin syukuran kecil untuk dibagikan ke 7 rumah sekitar. Biasanya jadi tahu ada orang baru karena syukuran itu. Tapi zaman sekarang orang yang ngontrak pun kadang malas melapor ke RT. Klo ada keperluan mendesak baru minta surat. Padahal pindah udah lama. Kyk gimana gitu jadinya. -.-"

    ReplyDelete
  3. tetangga terdekat minimal kita berkunjung ya mbak

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. padahal di komplek saya, kekeluargaannya kental sekali loh... orang2 barunya aja nih yang agak kurang asyik :)

      Delete
  5. baru baca judul nya langsung teringat Chelsea Islan pemeran di sitkom :)

    ReplyDelete
  6. Mungkin sebelumnya dia tinggal di apartement jadi gak suka bertetangga....

    ReplyDelete
  7. Kalau tetangga rmh kebanyakan sodara sebuyut, jd ya fine2 aja. Kalau nasib mbakku yg org pindahan di Pati sono, ada tetangganya yg memang gak akrab. Pdhal sih mbak udah namu. Kalo anak tetangga main ke rmhnya sering, cuma dibilangin kalau jam dzuhur sama magrib kudu pulang

    ReplyDelete
    Replies
    1. tetangga memang beda2 ya... walaupun ga akrab yg penting kenal :)

      Delete
  8. Sampai sekarang saya masih terus belajar etika bertetangga mbak. selama ini masih kurang aktif di kegiatan RT. Kalau ada pengajian masih suka bolos :(

    Tulisan ini serasa menampar sekali mbak. ngingetin saya banget kalau hubungan antar tetangga itu harus dijaga baik. karena kalau ada apa apa, orang pertama yang diminta tolong kan yang dekat dengan rumah kita dulu ya. tfs mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 mba...
      saya apalagi ga pernah ikut pengajian rutin di masjid... paling ikutnya kalau ada undangan pengajian aja... tp klo arisan, diusahain rutin dateng... alesannya klo bawa jav arisan ga akan sestres bawa jav ke pengajian :D

      Delete
  9. Kalau zaman sekarang apalagi di kota besar banyak yang seperti itu. Orang sudah tidak mau kenal tetangganya. Harusnya budaya syukuran pindahan rumah tetap dilestarikan akrena bermanfaat untuk memperkenalkan diri terutama tetangga baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau syukuran dirasa memberatkan, menurut saya berkunjung saja sudah cukup kok :

      Delete
  10. Hal seperti itu sudah umum mba apalagi dikota-kota besar.Bahkan kadang saya sendiri tidak tahu nama tetangga saya padahal bersebelahan harusnya penghuni baru memperkenalkan diri namanya siapa kerja dimana jadi suatu saat ada apa apa bisa cepat diketahui.Bahkan pernah tetangga saya kecelakaan ketika pihak lain menanyakan rumah si anu dimana karena saya nggak kenal namanya saya bilang nggak tahu eh ternyata tetangga depan rumah,

    ReplyDelete
  11. di kota besar seperti medan yang sistem rumahnya seperti perumahan memang susah mengenal tetangga, artinya mereka meanggunakan slogan, gue ya gue, lo ya lo

    ReplyDelete
  12. itulah kenapa, orang tua saya gak pernah mau menjual rumah pertama yang mereka miliki walopun sekarang udah pindah. Begitupun mertua saya, tetap setia dengan rumah yang ditempati sekarang padahal punya rumah yang lebih besar dengan halaman yang luas pula. Alasannya adalah karena tetangga.

    Lingkungan di rumah pertama orangtua saya itu antar tetangganya sangat akrab. Bahkan setelah orang tua gak tinggal di sana pun hubungan tetap akrab. Lingkungan di rumah mertua saya pun begitu. Antar tetangga sangat akrab. Berbeda dengan rumah yang ditinggali oleh orang tua saya sekarang, atau di rumah mertua yang lebih luas itu. Sesama tetangga saling masing-masing

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama dong... walaupun sering kena banjir, tp orang tua saya ga pernah ada niatan untuk pindah... udah nyaman dengan lingkungan dan tetangganya :)

      Delete
  13. Beruntunglah saya yang tinggal di desa. Anak biaa dititipin tetangga. Tetangga panen apapun selalu dapet cipratan walau sebiji dua biji. Pengen minta hasil tanaman tetangga nggak perlu sungkan2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. senangnya...
      alhamdulillah di sini jg walau judulnya kota, masih suka ada tetangga yg ngirim hasil panen... tapi ya itu tetangga2 lama :D

      Delete
  14. Cerita tentang kehidupan bertetangga memang gak ada habisnya ya mbak. Saya bersyukur tinggal di kompleks yang antar warganya semua saling kenal, hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah... di sini juga warga2 lamanya mah sebagian besar saling kenal kok :)

      Delete
  15. Kok lucu ya baca ceritanya, itu tetangga orang tua X menganggap orang lain sbg orang asing padahal yang lebih mengasingkan diri itu mereka sendiri. Mbaknya belum nyoba main2 ke rumahnya kah?
    Btw, salam kenal mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dia mah ngontrak pula, siapa yang 'asing' coba yah, hihihi...
      akhirnya saya udah mampir ke rumahnya :)

      Delete
  16. betul mba, saya merasakan sendiri kehidupan bertetangga di kampung dan di perumahan tempat saya tinggal sekarang. Jauh berbeda....eh tapi sekarang di kampung juga suka ada perumahan yang berdiri hy bbrp unit itu pun kalo warga baru gak memperkenalkan diri ya yang penduduk setempat jadi sungkan.

    ReplyDelete
  17. Tetangga rumah baik baik.Meski di kota serasa di kampung deh..

    ReplyDelete
  18. Ah ngegosipin tetangga baru nih...
    Tetangga masa gitu?

    :)
    *kabur...

    ReplyDelete
  19. Ketakutan yang ngga berdasar, kalok menurut ku, Mbak.. Sayang banget yah.. Setuju sama apa kata Mbak, tetangga itu seharusnya lebih dekat dari saudara.. :(

    ReplyDelete
  20. saya juga termasuk pemalu mba, saat pertama pindah ke komplek ga ada syukuran cuma kumpul keluarg besar aja. tapi karena pengen kenal tetangga saya simpen malu dulu sebentar ketok pintu tetangga minimal kanan kiri depan memperkenalkan diri, ikut arisan dan pengajian juga. udah itu aja

    ReplyDelete
  21. Nanti main diteras aja mba jangan sampe masuk rumah ^^
    Nanti kebiasaan....
    tapi saya termasuk yg nggak nonggo :D Karena pengalaman dulu2 sok ngakrab di komplek lama rentan banget singgungannya...jafi mulai saat itu mau dimanapun juga...saya nggak mau deket2 tetangga xD...biasa aja ...hehehe

    ReplyDelete
  22. jangankian warga baru warga yang sudah lama tinggal saja terkadang masih ada yang seperti itu.

    ReplyDelete
  23. kl menurut sy, mbak, kykny lebih enak tinggal di perumahan deh (cie, gayanya, padahal blm pernah ngerasain tinggal di perumahan). karena di perkampungan aja orangnya suka usil bin sirik sama keberadaan kita. contoh nih ya, ada tetangga sendiri yang protes berat ke saya karena asap mobil yang baru beli melanglang buana sampai ke rumahnya. secara ya mbak, mobil solar :D alhasil, tiap mobil nyala, si tetangga tersayang menutup semua jendelanya disertai bunyi "brak" (baca: dibanting abis tuh jendela). dan sekarang? mobil udah berganti menjadi mobil premium. si tetangga? tetap saja ber-"brak" ria. mungkin, hidung tetangga saya tersayang belum bisa membedakan antara asap knalpot solar dan asap knalpot premium.

    ReplyDelete