Wednesday, November 4, 2015

3 Tips Mengelola Keuangan ala Safir Senduk


Blogger bisa kaya enggak sih? Hmmm...

Ternyata jadi blogger bisa kaya loh. Begitu sih kesimpulan yang saya dapatkan setelah mendengarkan pencerahan dari Mas Safir Senduk (seorang perencana keuangan) ketika saya menghadiri acara Jumpa Blogger Sun Life di Mozaik and Co, Trans Studio Mall Bandung pada tanggal 3 Oktober 2015 yang lalu. Acara yang disponsori oleh Sun Life Financial ini diawali dengan kegiatan registrasi, pre test, dan makan siang bersama. Diselingi dengan kuis. Serta ditutup dengan post test, pembagian hadiah, dan foto bersama. Ramai banget loh yang hadir. Puluhan blogger Bandung, berkumpul semua di sini.

Acara dibuka dengan penjelasan mengenai Sun Life Financial oleh Ibu Elin Waty (Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia), dan kemudian dilanjutkan dengan tips mengelola keuangan yang disampaikan oleh Mas Safir Senduk dengan gayanya sangat atraktif.


So, kembali ke pertanyaan di atas tadi. Masa iya blogger bisa kaya? Mas Safir Senduk menjawabnya melalui pertanyaan berikut. Di antara berbagai pekerjaan, karyawan, profesional (termasuk blogger), dan pengusaha, sebenarnya siapa sih yang paling kaya? Yuk, kita selisik satu per satu.


  • Karyawan, bekerja di dalam sebuah organisasi. Penghasilannya berasal dari gaji rutin yang diberikan setiap bulan, tapi ya segitu-segitu aja karena dibatasi oleh peraturan di dalam perusahaannya.
  • Profesional, bekerja dengan memberikan jasanya. Penghasilannya bergantung pada harga jual dan frekuensi pekerjaan yang didapatkan. Kalau tenar, jumlah penghasilannya bisa sangat besar. Kalau belum tenar? Hehehe.... 
  • Adapun pengusaha, memiliki dan menjalankan bisnisnya sendiri. Penghasilannya berasal dari keuntungan yang dihasilkan dari bisnisnya. Kalau bisnisnya lancar, keuntungannya besar, bahkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Kalau bisnisnya bangkrut?

Jadi, kekayaan seseorang tidak bergantung pada jenis pekerjaannya, penghasilannya, popularitasnya, maupun harta konsumtif yang dipamerkannya dimilikinya. Orang yang paling kaya adalah orang yang paling banyak investasinya. Apapun pekerjaannya dan berapapun penghasilannya, apabila tidak bisa mengelola keuangan, ya tidak bisa kaya.

Cara mengelola keuangan dipengaruhi oleh karakter pribadi seseorang. Karakter tersebut ditentukan oleh otak, yaitu otak kiri dan otak kanan.

  • Orang yang cenderung menggunakan otak kiri senang berpikir berdasarkan logika, cara berpikirnya sistematis, dan kemampuannya bersifat spesialis (mendalami satu bidang hingga benar-benar mahir). Kekurangannya, orang-orang ini terlalu serius. Untuk menyiasatinya, bisa diimbangi dengan bersantai seperti mendengarkan musik, olahraga, liburan, dan lain-lain.
  • Orang yang cenderung menggunakan otak kanan senang berpikir berdasarkan insting dan perasaan, serta kemampuannya bersifat generalis (menyukai beberapa bidang, tapi tidak terlalu dalam). Kekurangannya yaitu terlalu santai. Untuk menyiasatinya, dapat diimbangi dengan melakukan kegiatan yang lebih serius seperti membaca koran, blogwalking, mengikuti seminar, dan lain-lain.

Karakter tersebut menentukan bagaimana seseorang mengelola penghasilan, mengatur pengeluaran, hingga memilih aset dan investasi. Pengguna otak kiri, cenderung lebih rasional. Misalnya ketika berbelanja, biasanya mempertimbangkan harga, kualitas, fitur, keandalan, dan garansi. Sedangkan pengguna otak kanan, cenderung lebih emosional. Ketika berbelanja biasanya mempertimbangkan tampilan, perasaan, merk, dan gengsi.

Yang mana yang paling baik? Otak kiri atau otak kanan? Otak kiri dan otak kanan sama pentingnya, asalkan kita menggunakannya pada saat yang tepat. Contohnya nih.... Ketika belanja barang konsumtif, sebaiknya kita menggunakan otak kiri. Pertimbangkan dulu apakah kita benar-benar membutuhkan barang tersebut atau hanya sekadar lapar mata. Sedangkan ketika hendak memulai bisnis, sebaiknya kita menggunakan otak kanan. Kalau menggunakan otak kiri, dijamin tidak akan mulai-mulai bisnisnya, karena terlalu banyak perhitungan.

Setelah mengetahui bahwa karakter mempengaruhi cara mengelola keuangan, sekarang cari tahu yuk, kita ini termasuk ke dalam golongan ekonomi yang mana, miskin, menengah, atau kaya.... Yaitu dengan menganalisa cashflow (arus keluar masuk uang dari penghasilan yang sudah didapatkan).

  • Misalkan nih, kita mempunyai penghasilan sepuluh juta rupiah per bulan, tetapi semuanya habis tak bersisa. Berarti kita termasuk ke dalam golongan ekonomi miskin. Ketika suatu saat tidak ada penghasilan, kita tidak mempunyai apa-apa untuk melanjutkan hidup. Kalau penghasilan sepuluh juta rupiah dan pengeluaran dua belas juta rupiah, wah berarti kita berada di bawah garis kemiskinan tuh :p
  • Apabila penghasilan kita sepuluh juta rupiah, lalu enam juta rupiahnya dihabiskan, dan empat juta rupiahnya digunakan untuk membeli barang konsumtif (kendaraan, furnitur, busana, dan lain-lain). Maka kita termasuk ke dalam golongan ekonomi menengah. Ketika suatu saat tidak memiliki penghasilan, setidaknya kita bisa menjual barang-barang konsumtif tersebut meskipun harganya sudah turun.
  • Nah, apabila penghasilan kita sepuluh juta rupiah, kemudian lima juta rupiah dihabiskan, tiga juta rupiah digunakan untuk membeli barang konsumtif, dan dua juta rupiahnya disisihkan untuk investasi (harta produktif). Selamat, berarti kita termasuk ke dalam golongan ekonomi kaya :)

Lalu bagaimana sih mengelola keuangan dengan baik itu? Begini caranya.

1. Miliki investasi sebanyak mungkin
Da saya mah apa atuh, gaji hanya segitu-segitunya. Memang bisa investasi? Eits, ingat kata Mas Safir Senduk, semua uang besar dimulai dari uang kecil. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mulai berinvestasi. Yang menjadi perhatian utama justru jenis investasinya. Investasi seperti apa yang paling baik? Memilih investasi yang tepat sama seperti ketika kita memilih kursi pesawat. Apakah lebih suka duduk di dekat jendela dan melihat pemandangan, atau lebih suka duduk di gang karena beser, atau malah lebih suka duduk di dekat pintu darurat karena lebih luas dan mudah kabur kalau ada apa-apa, hihihi.... Semua itu bergantung pada karakter yang dimiliki masing-masing. Namun, apabila diurutkan, berikut jenis investasi yang dianjurkan oleh Mas Safir Senduk.

  • Saham, yaitu surat tanda kepemilikan pada sebuah perusahaan. Dengan memiliki saham, sama seperti kita mempunyai bisnis tetapi tanpa perlu repot membangun dan mengelola bisnis tersebut. Apabila perusahaannya untung, kita akan mendapat dividen. Saham tersebut juga dapat dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi (capital gain).
  • Investasi melalui manajer investasi, yaitu uang yang kita investasikan dikelola oleh pihak ketiga. Misalnya asset management dengan produk berupa reksadana (pssst, mahasiswa dengan uang seratus ribu pun bisa berinvestasi melalui reksadana loh), perusahaan asuransi dengan produk berupa unit link, atau bank. Tips memilih manajer investasi yaitu dengan melihat reputasinya, ke mana investasinya, serta bagaimana prestasinya di masa lalu.
  • Properti. Keuntungan dari properti bisa didapatkan dengan cara menjualnya atau menyewakannya. Harga properti memang cepat naik, tetapi menjualnya tidak semudah menjual kacang goreng loh. Oleh karena itu, orang-orang seperti kita sih sebaiknya fokus untuk menyewakan saja. Berikut faktor yang menentukan besarnya harga jual properti, yaitu lokasi, pasar, kondisi, lingkungan, dan usia properti. Nah, kalau tertarik untuk menyewakan properti (rumah tinggal, apartemen/rusun, ruko/rukan, kios), ada tipsnya nih supaya lebih menguntungkan. Pertama, sewakan dengan jangka waktu yang pendek (bulanan, mingguan, harian, atau bahkan jam-jaman). Kedua, sewakan ke banyak penghuni (daripada menyewakan rumah ke satu keluarga, lebih baik menyewakan kos-kosan ke banyak mahasiswa). Untuk menambah daya tarik kos-kosan, bisa ditambahkan furnitur, wifi, warung (cross selling), hingga membuat gathering.

Yang perlu diingat yaitu hindari investasi yang tidak jelas (investasi bodong)! Ciri-cirinya diantaranya bunga yang sangat tinggi, menjanjikan pengembalian dana tunai setiap bulan, dijamin tidak akan rugi, mendapatkan bonus apabila berhasil mengajak anggota baru, serta skema mustahil dan tidak jelas. Intinya sih jangan serakah. Karena semakin serakah, semakin hilang logika kita.

2. Siapkan dana untuk masa depan


Apapun impian yang kita miliki, semua akan indah kalau ada uangnya, begitu kata Mas Safir Senduk. Berikut lima pos pengeluaran besar yang harus disiapkan selama kita hidup, diantaranya menikah, membeli rumah dan isinya, sekolah anak, pensiun, dan liburan (transportasi, akomodasi, makan minum, jalan-jalan, belanja, oleh-oleh).

3. Atur pengeluaran
Hidup ini indah, yang bikin ribet adalah tagihan-tagihannya, lagi-lagi begitu kata Mas Safir Senduk. Apalagi mengeluarkan uang jauh lebih mudah daripada mendapatkannnya. Makanya pengeluaran harus diatur. Bukan berarti harus mengeluarkan uang sesedikit mungkin loh, tapi berusaha agar pengeluaran tidak melebihi yang seharusnya. Berikut cara-cara untuk mengatur pengeluaran.

  • Ketahui di mana borosnya, lalu kurangi pelan-pelan. Siapa yang lebih boros, perempuan atau laki-laki? Perempuan, frekuensi belanjanya lebih sering, tapi sangat tega untuk menawar dengan harga serendah-rendahnya. Biasanya sih uangnya habis untuk penampilan. Kalau pria, jarang belanja, tapi sekalinya belanja tidak suka menawar. Biasanya uangnya habis untuk hobi (elektronik, otomotif, alat musik, olahraga, dan memelihara sesuatu).
  • Kendalikan ingin. Pahami perbedaan antara kewajiban, kebutuhan, dan keinginan. Kewajiban, apabila tidak penuhi, kita akan mendapatkan risiko seperti denda karena tidak membayar pajak. Kebutuhan, apabila tidak dipenuhi, kita sendiri yang akan merasakan risikonya, seperti lapar karena tidak makan. Sedangkan keinginan, apabila tidak dipenuhi, tidak memiliki risiko apapun. Siapa yang bisa mengendalikan ingin, berarti bisa mengatur keuangan.
  • Prioritas pada pengeluaran. Dalam mengeluarkan uang, ada prioritasnya nih. Pertama, cicilan hutang dulu maksimal sebesar 30% dari penghasilan (kalau mencicil rumah boleh lah 40%). Selanjutnya tabungan/investasi minimal sebesar 10% dari penghasilan. Kemudian premi asuransi sebesar 10% dari penghasilan. Dan terakhir, biaya hidup maksimal sebesar 50% dari penghasilan.
  • Miliki asuransi. Asuransi? Yup. Kata Mas Safir Senduk, asuransi ibarat payung. Payung tidak menjamin hujan tidak akan turun, tetapi menjamin tidak akan basah kalau ada hujan :) Jenis asuransi tergantung pada tahap kehidupan dan jumlah anggota keluarga. Kebutuhan asuransi untuk seseorang yang masih lajang, berbeda dengan seseorang yang baru mempunyai anak, dan berbeda juga dengan seseorang yang anak-anaknya sudah dewasa.
  • Hati-hati terhadap sale. Pasti sering lihat nih di toko, diskon 40% + 30%. Eits, jangan langsung tergoda karena diskon 40% + 30% bukan berarti diskon 70% ya. Atau misalnya diskon 50%, tapi ada embel-embelnya yaitu setiap pembelian kelipatan seratus ribu rupiah. Kesimpulannya, tidak semua sale benar-benar sale. Santai saja. Karena setiap bulan dalam satu tahun, sebenarnya ada sale loh. Contohnya, bulan Januari ada sale Tahun Baru, bulan Februari ada sale Valentine, bulan Maret ada sale Gong Xi Fa Cai, bulan April ada sale Kartini, dan seterusnya. Enggak percaya? Buktikan sendiri deh :p
Sekarang, waktunya mengevaluasi cara saya mengelola keuangan ah.... Mengatur pengeluaran sih, sudah dong. Asuransi juga sudah. Yang menjadi PR besar yaitu investasi dan mempersiapkan dana untuk masa depan, huhu....

Kalau teman-teman bagaimana? Ayo coba dicek juga cara mengelola keuangannya. Untuk asuransi dan investasinya, mungkin bisa menggunakan jasa Sun Life Financial. Berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh Ibu Elin Wati di awal acara, Sun Life Financial merupakan perusahaan jasa keuangan internasional. Didirikan pada tahun 1965 di Kanada dan sudah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1995. Produknya sih bermacam-macam. Ada proteksi, simpanan dan investasi, riders (jenis pelayanan yang melengkapi asuransi standar), bancassurance (kerjasama dengan bank), serta Sun Life Financial Syariah.


Apabila dinilai sesuai poin yang disebutkan Mas Safir Senduk dalam memilih perusahaan asuransi, Sun Life Financial ini sudah oke banget, baik dilihat dari reputasinya, ke mana investasinya, maupun prestasinya di masa lalu. Risk Based Capital Konvensional-nya sebesar 664%, sangat jauh di atas angka yang disyaratkan oleh pemerintah Indonesia, yaitu sebesar 120%. Adapun Risk Based Capital Syariah-nya sebesar 122%, juga berada di atas angka yang disyaratkan pemerintah, yaitu sebesar 30%.

Pantas saja apabila Sun Life Financial sudah mendapatkan banyak penghargaan. Baik untuk produk asuransinya, produk syariahnya, marketing-nya, layanan contact center-nya, media sosialnya, program Brighter Life, dan lain-lain.


Sun Life Financial juga tidak lupa loh turut berpartisipasi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia melalui program Sun Bright-nya.


Hmmm, senangnya hati ini bisa menghadiri acara ini. Banyak ilmu dan pengetahuan baru yang saya dapatkan. Terima kasih Sun Life Financial untuk acara kerennya.... Tinggal praktiknya saja nih yang butuh perjuangan. Semangat! :D


37 comments :

  1. sulit banget ngelola keuangan dengan bijak, apalagi kalo pemasukan nggak sebarapa,
    poin ini saya ambil dulu 'Orang yang paling kaya adalah orang yang paling banyak investasinya. Apapun pekerjaannya dan berapapun penghasilannya, apabila tidak bisa mengelola keuangan, ya tidak bisa kaya'
    saya coba baca berulang tipsnya, supaya lebih memahami secara keseluruhan, makasih teh.

    ReplyDelete
  2. Konsepnya memang gampang, melalakuaknnya itu yang susah :D

    ReplyDelete
  3. ilmu yg bermanfaat, makasih udah di share, yang paling jago atur uang dirumah tetap istri

    ReplyDelete
  4. Wiih saya terpaku sama infografisnya dan membayangkan berapa lama membuatnya.

    Kerennya acaranya, Mbak Lia

    Di Makassar kapan yah ...

    ReplyDelete
  5. Keren nih mak artikelnya,jadi paham banget... so mari berinvestasi :)

    ReplyDelete
  6. nganggung - ngangguk, oke makasih sharingnya

    ReplyDelete
  7. Saya setuju dengan buku mas Sefir, Bagi orang yang ekonomi pas-pasan yang artinya tanpa modal besar, lebih baik menjadi pegawai sebagai posisi aman tetapi tetap mempunyai sampingan sebagai pengusaha. Saya juga cenderung menggunakan otak kanan, tetapi pakai tangan kiri kalau lagi cebok

    ReplyDelete
  8. waw keren nih mba berarti kalo penghasilan satu bulan misalkan 2 juta terus pengeluaran nya juga 2 juta itu termasuk kategori miskin ya mba,
    jaman sekarang emang di perlukan yang namanya investasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau gaji 50 juta jg, kalau habis semua, termasuk kategori miskin :D

      Delete
  9. Informatif banget Mbak. Mau nih kl ada acara serupa di Semarang :)

    ReplyDelete
  10. Thank you mak sharingnya. Komplit dan jelas. Untuk investasi tiga2 jenis itu blm berani nyoba hehe. Masih type konvensional

    ReplyDelete
  11. Sip... Sedikit menambahkan teh biar bisa hidup cukup * sedikit berlebih dg berbagi * sodaqoh y hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, untuk yang muslim, jangan lupa zakat & sodaqohnya ;)

      Delete
  12. Saya tidak pernah mengikuti acara seminar seperti ini atau belajar khusus tentang finansial tapi prinsip untuk membedakan keinginan dan kebutuhan selalu saya terapkan. Untuk investasi pendidikan dan masa depan anak saya lebih memilih emas dan properti mengingat saya hanyalah seorang buruh pabrik

    ReplyDelete
  13. Mari jangan sampe salah berinvestasi :D

    ReplyDelete
  14. manggut-manggut *lalu intip dompet* eh kosong, haha ... makasih sharingnya bermanfaat banget

    ReplyDelete
  15. dapet wawasan baru lebih gimana memanage keuangan ya mbak..mturnuwun deh :)

    ReplyDelete