Monday, May 25, 2015

Teknik Penerapan Disiplin pada Anak Usia Dini


Masih ingat artikel saya mengenai Penerapan Disiplin pada Anak Usia Dini beberapa waktu yang lalu? Nah, sekarang saya akan berbagi artikel lanjutannya nih.

Jadi, hari Sabtu tanggal 18 April yang lalu, Jule & Antzer Mother School kembali mengadakan seminar parenting di komplek rumah saya. Ups, sudah lama ya, lebih dari sebulan yang lalu, hehehe…. Masih mengundang narasumber yang sama, yaitu Ibu Aundriani Libertina, M. Psi (psikolog, kepala sekolah Binar Indonesia Preschool di Rancabolang, Bandung). Apabila dalam seminar sebelumnya, memberi pencerahan pada para orang tua tentang betapa pentingnya menerapkan disiplin pada anak, seminar kali ini lebih menekankan pada tekniknya.

Sebelum masuk pada teknik disiplin, sedikit kilas balik dulu mengenai materi sebelumnya. Dari film Helen Keller, kita dapat menyimpulkan bahwa kualitas hidup Helen bisa berubah jauh lebih baik setelah diterapkan disiplin yang tegas dan konsisten. Tapi, penerapan disiplin baru akan berhasil apabila anak mempunyai respek kepada orang tua. Bagaimana caranya mendapatkan respek dari anak? Yuk, baca terus ;)

Pertanyaan peserta:
  • Disiplin dapat mulai diterapkan sejak anak berumur berapa?
Dua tahun (ketika anak mulai disapih dan toilet training). Sebelum dua tahun, ketika anak menumpahkan obat, namanya eksplorasi, tugas orang tua untuk menyesuaikan lingkungan agar aman bagi anak. Tapi setelah dua tahun, ketika menumpahkan obat, anak harus diajarkan mengenai aturan dan disiplin.
  • Bolehkah marah pada anak?
Marah boleh dong, yang tidak boleh itu marah-marah :p
  • Bagaimana apabila ibu memilih untuk bekerja di luar rumah?
Ibu boleh memilih untuk tidak bekerja, bekerja full time, atau bekerja part time. Yang penting, ibu memahami kondisinya masing-masing serta mengetahui dan mengantisipasi risikonya.

Pembahasan teknik disiplin dimulai dengan mendengarkan dan melakukan evaluasi praktik disiplin yang direkam oleh salah satu peserta. Selama sekitar 10-15 menit, ibu itu mendisiplinkan anaknya (laki-laki, 3 tahun) yang sudah selesai bermain lego tetapi tidak mau membereskan mainannya dan malah mulai menggambar.
Kesan saya, duh ibu itu sabar banget….
Tapi menurut Bu Aund, justru banyak kekurangannya. Di antaranya:
  • Eksekusi terlalu lambat.
  • Suap diawal (akan memberi kertas kosong apabila anaknya mau membereskan legonya).
  • Memberikan alasan dengan bahasa tingkat tinggi, terlalu panjang, dan bertele-tele.
  • Nada terlalu lembut, sehingga anak tidak respek.

Tiga Senjata Utama
Dalam menerapkan disiplin, ada tiga senjata yang dapat digunakan. Yaitu:
  • Suara
  • Mata
  • Bahasa tubuh

Ketika Bu Aund menanyakan senjata utama yang dimiliki tiap peserta, sebagian besar menjawab suara dan bahasa tubuh. Padahal senjata yang paling utama dalam menerapkan disiplin yaitu mata. Lihat mata anak, untuk memastikan bahwa dia memperhatikan apa yang kita katakan. Jadi jangan sambil main handphone atau sambil masak ya :p

1. Kenali nada bicara
  • Nada sehari-hari: datar dan normal (Contoh: Tolong cuci tanganmu)
  • Nada memerintah: rendah tapi tegas (Contoh: Duduk di sini)
  • Nada menghargai: tinggi dan bergairah yang menunjukkan kegembiraan (Contoh: Hebat)
  • Sampaikan pesan dengan jelas, singkat, dan mantap (jangan ragu, memberi peluang untuk didebat/kompromi, ada nada bersalah/cemas).

Pssst, suara perempuan itu sopran (tinggi) sehingga tidak enak didengar mana kalau sedang mengomel, kalimatnya merepet pula, hihihi…. Berbeda dengan suara laki-laki yang rendah. Makanya ketika ayah berbicara, cenderung lebih mendapat perhatian.

Pertanyaan peserta:
Disiplin berarti tidak ada diskusi?
Iya. Diskusi dilakukan sebelumnya. Misalnya ketika di jalan melihat bapak-bapak meludah sembarangan. Langsung diskusikan dengan anak bahwa hal tersebut tidak sopan.

2. Kenali tatapan mata
  • Hangat
  • Tegas
  • Menghina
  • Tidak percaya
  • Latihan/evaluasi menggunakan cermin.
  • Jika anak menolak menatap saat diberi penjelasan/perintah, pegang tangan atau pipi/dagunya dengan tekanan yang secukupnya saja sambil katakan, "Tatap mata Ibu, Ibu sedang berbicara denganmu."

3. Kenali bahasa tubuh
  • Bahasa tubuh sehari-hari: santai, luwes, sentuhan lembut
  • Bahasa tubuh saat mendisiplinkan: tegap, jaga jarak (tidak terlalu dekat/jauh), gunakan tangan untuk menunjukkan tempat (bukan dagu, kepala, atau yang lainnya), menatap mata anak sejajar dengannya, minimalisir penggunaan jari

Pertanyaan peserta:
Apakah bahasa tubuh ibu dapat memberikan efek psikologis pada anak?
Iya, tapi tidak secara langsung. Bahasa tubuh yang tepat dapat membuat ibu merasa percaya diri, kompeten, mempunyai hak/otoritas untuk mengatur anak.

Ingat, pergunakan tubuh sesuai fungsinya, bukan untuk menunjukkan kemarahan. Apabila jarak ibu dan anak terlalu dekat serta tangan ikut menunjuk-nunjuk, maka terlalu mengintimidasi. Sebaliknya, apabila jarak ibu dan anak terlalu jauh, maka anak tidak akan respek.

Cek, apakah sikap ibu lebay atau tidak. Apabila setelah mendisiplinkan anak, ibu merasa cape, mungkin nada bicara, tatapan mata, dan bahasa tubuh ibu terlalu berlebihan.

Penyampaian materi ini diselingi juga dengan praktik. Secara bergiliran, setiap peserta diminta untuk mengucapkan kalimat dengan nada sehari-hari, nada memerintah, dan nada menghargai. Hasilnya sih cenderung datar, entah ya kalau di rumah, hihihi…. Begitupun dengan tatapan mata dan bahasa tubuh, dipraktikan juga.

Time Out
  • Bisa berupa pojok merenung, kursi berpikir, karpet menyendiri, sesuai kondisi masing-masing.
  • Merupakan kendali yang tegas atas perilaku buruk anak, bukan hukuman.
  • Anak diminta untuk memikirkan tindakannya dan memahami akibat dari perilaku buruknya (konsekuensi).
  • Langkah utama: menjauhkan anak dari tempat kejadian perkara untuk sementara waktu agar ia memiliki kesempatan untuk menenangkan diri, berpikir tentang perilakunya, dan meminta maaf atas perilakunya tersebut.

Teknik time out:
  • Beri peringatan satu kali.
  • Membawa anak ke zona time out jika ia mengulangi perilaku buruk.
  • Beri penjelasan dan tetapkan waktu time out-nya (sampaikan dengan jelas, jangan pakai kata 'itu' atau 'nakal').
  • Waktu time out disesuaikan dengan umur anak (misal untuk anak berusia 5 tahun, waktu time out-nya selama 5 menit).
  • Tinggalkan dan jangan melakukan komunikasi.
  • Kembali dan jelaskan jika anak tidak patuh.
  • Meminta anak untuk minta maaf.
  • Akhiri dengan pelukan dan berikan pujian dengan nada yang lebih tinggi dan riang.

Penting! Ajarkan anak cara untuk meminta maaf. Namun poin utamanya, apabila anak memukul, bukan untuk meminta maaf pada orang yang dipukul. Tetapi menyadari bahwa perbuatannya salah dan tidak akan mengulanginya lagi.

Berikut pesan terakhir yang disampaikan Bu Aund dalam acara ini.
Menjadi orang tua memang sulit. Menjadi orang tua yang baik memang tidak bisa instan. Makanya orang tua harus realistis. Anak bisa menunjukkan perilaku di luar rencana Anda. Tugas orang tua untuk mengembalikan perilaku anak ke rencana semula. Apabila merasa lelah mengasuh anak, ingatlah pahala jihad seorang ibu.

Alhamdulillah…. Seru, bermanfaat, dan bisa langsung dipraktikkan di rumah. Tidak sabar menunggu acara seminar selanjutnya, terutama yang temanya mengenai mendidik anak sesuai kepribadian ibu :D

Read more >>

Sunday, May 17, 2015

World Baking Day: Jelly Cookie untuk Jav



Sejak Jav memasuki masa MPASI, saya yang tadinya paling anti masuk ke dapur, mulai rajin mengoleksi berbagai resep makanan untuk Jav. Membuat sendiri kue dan masakan untuk Jav rasanya memberi kepuasaan tersendiri bagi saya. Kenapa? Karena makanan yang saya buat terjamin menggunakan bahan alami dan berkualitas. Selain itu, saya juga bisa mengatur komposisinya, misalnya porsi gula dan garam yang minimalis.

Ketika Jav mulai masuk playgroup, saya semakin bersemangat membuat sendiri bekal makanan untuk Jav. Apabila sedang rajin, saya juga menyajikannya dengan bentuk yang lucu-lucu. Rupanya teman-teman Jav menyukai bekal yang dibawa Jav. Tidak jarang, mereka meminta orang tuanya untuk memesan makanan pada saya. Lumayan, bisa menjadi sumber penghasilan tambahan, hohoho....

Berawal dari sana, kini tetangga dan teman-teman lain pun mulai memesan makanan pada saya. Akhirnya, yang terjadi beberapa bulan terakhir ya adegan-adegan seperti di bawah ini. 

Jav menghampiri saya yang sedang memarut keju.
Jav: "Bunda lagi bikin apa?"
Saya: "Bikin schotel."
Jav: "Jav mau…."
Saya: "Ini buat Habil. Umminya Habil pesan schotel sama Bunda."

Jav menghampiri saya yang sedang menuang vla vanila di atas puding cokelat.
Jav: "Jav mau vla."
Bunda: "Iya, nanti kalau ada sisanya ya."

Saya: "Besok Jav mau bekel apa ke sekolah?"
Jav: "Mau mi goreng."
Saya: "Yah, bahan-bahannya habis. Bekel jeli aja ya?"

Ya, saya sudah jarang menyediakan makanan yang memang khusus dibuat untuk Jav. Kalau tidak disesuaikan dengan pesanan, ya disesuaikan dengan bahan yang ada. Apabila tidak ada sisa atau sedang malas, saya belikan saja makanan yang praktis seperti roti atau biskuit untuk bekal ke sekolah. Saya pun merenungkan kembali adegan-adegan tersebut. Kenapa saya lebih memprioritaskan pesanan orang lain ya daripada anak sendiri, hiks….  

Makanya di hari yang spesial ini, saya sengaja membuat makanan khusus untuk Jav. Ketika saya bertanya pada Jav ingin dibuatkan apa, Jav katanya kepingin chocolate cookie. Ups, saya memang sudah lama sekali tidak membuatkan cookie untuk Jav, malas mencetaknya, hehehe.... Kebetulan, saya baru menemukan resep jelly cookie yang bahan dan cara pembuatannya sangat praktis.



Berhubung saya tidak mempunyai mixer *curcol*, maka saya mengganti gula kastor dengan gula tepung. Sedangkan margarinnya, saya menggunakan produk berkualitas kesayangan keluarga, yaitu Blue Band Cake and Cookie. Seperti kita ketahui bersama, dibandingkan dengan mentega yang terbuat dari lemak susu, margarin yang terbuat dari lemak nabati cenderung lebih sehat karena tidak mengandung lemak trans dan bebas kolesterol. Nah, yang spesial dari Blue Band Cake and Cookie ini, walaupun terbuat dari lemak nabati, namun mempunyai aroma harum dan rasa yang lembut seperti mentega.



Saya membagi adonan menjadi dua bagian. Adonan yang pertama, saya bentuk dengan cetakan beruang. Sedangkan adonan yang kedua saya bentuk bulat pipih biasa dan diberi taburan chocolate chip.



Memang, setelah selesai dipanggang, kuenya masih agak lembek. Tapi setelah didinginkan dalam suhu ruang, tidak lembek lagi kok. Teksturnya renyah, aromanya harum, dan rasanya full cokelat. Alhamdulillah.... Jav menyukai kuenya, apalagi dinikmati bersama sebotol susu.   

Happy world baking day! Hari ini teman-teman membuat kue apa untuk orang tersayang? ;)


Read more >>

Thursday, May 7, 2015

Mempersiapkan Anak Tampil di Depan Umum

Ada yang spesial di hari Sabtu tanggal 25 April kemarin. Dalam rangka memeriahkan Hari Kartini dan Konferensi Asia Afrika, di komplek rumah saya diadakan acara bertajuk Semarak Pesta Warga. Ada bazar dan beberapa macam perlombaan yang diselenggarakan di lapangan serbaguna komplek.

Sekolah Jav ikut ambil bagian dalam acara tersebut dengan menyewa dua stand bazar. Ceritanya menumpang kegiatan Market Day. Gara-gara sering membuat sendiri bekal untuk Jav, saya kebagian membuat makanan yang akan dijual hari itu.

Jav dan Bu Guru

Idealnya ya anak-anak yang bertugas untuk belajar berjualan. Sejak awal pun mereka sudah semangat duduk di balik meja. Tapi karena terlalu lama menunggu acara dimulai (panitia membuat aturan bahwa sebelum acara dimulai, tidak boleh ada transaksi), Jav keburu bosan serta memilih main dan bercanda bersama teman-temannya. Maknya deh yang menggantikan :p

Rupanya Jav melihat kumpulan piala dan hadiah yang dipajang di atas meja di depan panggung. Di antara berbagai bingkisan dari sponsor, Jav berkata pada saya bahwa dia menginginkan bingkisan dari M*D. "Itu sih hadiah untuk yang menang lomba nyanyi dan fashion show," kata saya. "Jav mau ikut lomba fashion show!" ucapnya semangat. "Iya, nanti sore yah," saya menutup pembicaraan.

Saya kira, itu hanya keinginan sesaat. Tapi rupanya Jav serius. Karena sampai siang, kalau tidak main mobil-mobilan di atas panggung (iya di atas panggung, heuheu…) Jav nangkring di depan meja hadiah, hihihi…. Akhirnya saya bertanya lagi untuk memastikan, "Jav bener mau ikut lomba fashion show?" Jav pun menjawab dengan tetap penuh semangat, "Mau! Biar dapet hadiah."

Pukul tiga sore, saya mulai merapikan lapak jualan dan berdiskusi dengan suami dan ibu saya. Ribet amat ya, mau ikut lomba fashion show saja harus diskusi dulu, hehehe…. Soalnya beberapa hari sebelumnya, ibu saya sudah menyanggupi permintaan panitia untuk menjadi juri dalam lomba fashion show anak-anak. Siapa yang menyangka coba, Jav tiba-tiba kepingin ikut lomba fashion show. Kalau ibu saya tetap jadi juri, sementara cucunya ikut lomba, kan aneh. Tapi kalau ibu saya mengundurkan diri, mendadak pula, tidak enak juga.

Suami: "Mamah tetep jadi juri aja. Jav biar jadi anak bawang, nggak usah dinilai."
Saya: "Tapi Jav kan kepingin hadiahnya."
Mamah: "Ya udah, Mamah ngundurin diri aja."

Namun setelah menghubungi panitia, rupanya ibu saya tetap dipercaya untuk menjadi juri. Walaupun yakin bahwa ibu saya akan memberi penilaian secara adil, saya tetap mewanti-wanti beliau agar menilai penampilan Jav secara netral. Jangan sampai terjadi nepotisme ;)

Masalah juri sudah beres, tapi persiapan untuk Jav justru belum sama sekali, padahal lombanya dimulai pukul empat sore. Berikut persiapan singkat yang kami lakukan agar Jav bisa tampil optimal di atas panggung.

  • Memberi motivasi. Kali ini, bisa dikatakan bahwa saya dan suami tidak memberi motivasi apapun pada Jav. Keputusan Jav untuk mengikuti lomba fashion show seratus persen muncul dari keinginannya sendiri. Motivasinya kan karena berharap bisa mendapat hadiah :))
  • Memberi fasilitas. Karena tidak ada rencana mengikutkan Jav pada lomba fashion show, saya pun belum menyiapkan kostumnya. Tapi tidak mungkin kan saya membiarkan Jav tampil apa adanya. Sempat terpikir untuk memakaikan baju pangsi, baju tentara,  atau setelan ala Arab. Namun akhirnya, ayahnya Jav menyiapkan pakaian kasual saja, celana selutut dan kaus, serta jas, topi, dan sepatu supaya lebih kece.
  • Memberi pengarahan. Jav belum pernah melihat fashion show, bagaimana bisa dia ikut lombanya coba? Lagi-lagi ayahnya Jav memberi solusi praktis, yaitu memperlihatkan video fashion show anak di Youtube pada Jav. Biar dia melihat sendiri bagaimana para model cilik itu berjalan dengan sangat maskulin di atas catwalk.
  • Memberi apresiasi. Sebelum dan sesudah tampil, saya tegaskan pada Jav bahwa keberanian Jav untuk tampil di atas panggung benar-benar membuat saya bangga.
  • Menyiapkan mental. Saya tidak ingin kejadian ketika lomba 17 Agustus di sekolahnya terulang lagi. Jav kalah dan menangis karena ingin mendapat hadiah. Oleh karena itu, saya tidak bosan-bosan mengingatkan Jav bahwa dalam sebuah lomba akan ada yang menang dan akan ada yang kalah.

Melihat tingkah laku Jav yang sangat aktif, saya tidak khawatir Jav akan tampil malu-malu di atas panggung. Yang saya takutkan justru Jav akan mengacau dan mengobrak-abrik panggung :D Ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti! Jav bisa berbaris, berjalan bersama, dan berjalan sendiri sesuai dengan arahan panitia. Bonus joget di depan juri pula. Membuat hati saya diliputi perasaan haru karena bahagia.

Jagoan Bunda

Beberapa menit sebelum Magrib, panitia mengumumkan pemenangnya. Jav menjadi juara kedua kategori balita. Yeay! Alhamdulillah Jav berhasil mendapatkan piala dan hadiah yang sudah diincarnya sejak pagi, hihihi…. Walaupun bagi saya sih, Jav mau dan berani ikut lomba serta tampil dengan percaya diri saja sudah merupakan hadiah yang tak ternilai.


Bahagia dapat hadiah... 

Read more >>

Tuesday, May 5, 2015

Jav @ Mangle


Sebenarnya ini cerita akhir Maret yang lalu. Profil Jav dimuat di Mangle Alit, salah satu rubrik di majalah berbahasa Sunda--Mangle. Bukan saya yang mengirim, tapi Ninnya. Karena di kantornya rutin berlangganan Mangle, ibu saya pun berinisiatif untuk memasukkan profil kedua cucunya di majalah tersebut.

Yang memilih fotonya juga ibu saya. Karena beliau enggak menemukan foto yang bagus di ponselnya (kebanyakan foto Javnya lagi bareng-bareng atau kalaupun ada yang sendiri Javnya lagi nunduk), akhirnya beliau memilih foto dari ponsel saya.

Kebetulan ada beberapa foto Jav yang sedang mengenakan baju Persib dan iket Sunda--ikat kepala khas Jawa Barat. Waktu itu saya sedang main ke rumah orang tua, santai menonton TV. Tiba-tiba Jav muncul dengan iket Sunda di kepalanya. Rupanya dipasang sama Yangkinya. Buru-buru deh saya foto. Eh, setelah difoto langsung dilepas ikatannya sama Jav. Karena gatal atau panas, saya lupa alasannya, heuheu.... Sayang, dicetaknya hitam putih, jadi kurang kelihatan Bobotohnya :D

Makasih Nin dan Yangki :)

Read more >>

Sunday, May 3, 2015

Jav 4 Tahun 4 Bulan



Jav: "Jav sayang sama Bunda."
Saya: "Bunda juga sayang sama Jav."
Jav: "Kalau Bunda sayang sama Jav, berarti Jav boleh main sepeda."
Sedang berusaha membujuk bundanya supaya boleh main sepeda di siang hari saat matahari sedang pas berada di atas kepala :p Lagi semangat banget main sepeda karena dua roda kecil di samping ban belakangnya udah dilepas. Yeay!

Jav: "Tadi waktu Jav di sekolah ada odong-odong lewat."
Saya: "Oya?"
Jav: "Iya, Jav mau naik odong-odong sama Bunda."
Saya: "Masa Bunda naik odong-odong. Mending naik kereta atau naik pesawat."
Jav: "Ke rumah Habil?"
Saya: "Rumah Habil mah deket, naik angkot aja. Kita naik pesawat ke Bali atau ke luar negeri."
Jav: "Di luar negeri yang ada salju?"
Saya: "Iya, nanti kita liat salju."
Jav: "Waktu itu Jav liat Pi***to di TV."
Saya: "Iklan?"
Jav: "Iya, di luar negeri, setirnya di sebelah kiri."
Saya: "Oiya."
Jav: "Kalau di Indonesia, setirnya di sebelah kanan."
Apapun bahasannya, ujung-ujungnya pasti nyambung ke mobil :))

Read more >>