Thursday, June 16, 2016

Kisahku Bersama Pegadaian

Pegadaian

"Pak, bagaimana ini? Sekarang sudah waktunya kita membayar SPP untuk kuliah Gina." 
Sunyi.
"Bapak juga bingung, Bu. Ternyata membuka usaha percetakan itu tidak semudah yang kita kira. Kalau bulan ini uang Bapak dipakai untuk membayar SPP kuliah Gina, terpaksa Bapak menunda gaji Iwan dan Rian."
"Jangan, Pak. Kasihan mereka."
"Tapi kuliah Gina juga penting. Ibu pakai saja dulu uang ini, mudah-mudahan bulan depan kita mendapatkan pesanan dengan jumlah yang besar."
"Ibu tidak setuju."
"Lalu bagaimana? Uang pesangon dari perusahaan sudah habis untuk modal usaha. Tabungan juga sudah habis untuk biaya masuk kuliah Gina. Semua perhiasan Ibu pun sudah habis dijual untuk memenuhi biaya hidup. Kita tidak punya apa-apa lagi. Bahkan mas kawin milik Ibu juga terpaksa dijual."
Hening sejenak. Lalu kudengar suara langkah kaki mendekati tempatku berada. 
Kriet.... Seseorang membuka lemari dan mengangkat tubuhku dari kotak perhiasan. 
"Kita masih punya ini."
"Tidak, Bu. Itu warisan dari orang tuamu." 
"Tidak apa-apa, Pak. Ibu ikhlas." Suara itu tegas, namun aku dapat merasakan getaran pada tangan lembutnya saat dia mengelus tubuhku.
Ah, rupanya mereka sedang membicarakanku. Mereka akan menjualku. Tidak!
Bayangan tentang teman-temanku--penghuni kotak perhiasan--langsung memenuhi pikiranku. Dulu, satu per satu, mereka dibawa kemari menemaniku. Namun sejak suami perempuan yang menggenggamku di-PHK, satu per satu juga mereka semua dibawa pergi untuk dijual demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga ini. Ya, sebagian besar dari mereka adalah penghuni baru. Maka ketika harus dijual, mereka sama sekali tidak merasa sedih. 
Sedangkan aku.... Aku adalah penghuni pertama di kotak perhiasan itu. Aku sudah sering menemani perempuan ini dalam berbagai acara, beragam momen. Dan bukan hanya itu, aku juga selalu menemani ibu dari perempuan ini. Aku bukan perhiasan biasa. Meskipun tubuhku tidak memiliki model terbaru serta hargaku tidak seberapa, tapi aku memiliki ikatan yang kuat dengan perempuan ini dan orang tuanya. Tubuhku menyimpan begitu banyak kenangan tentang keluarga ini.
Tidak! Aku tidak mau dijual. Aku tidak mau pergi dari tempat ini.
Tangan seorang laki-laki tiba-tiba mengambil alih tubuhku. Kemudian dia mengembalikanku ke tempat semula.
"Bapak tidak akan membiarkan Ibu menjual kalung ini."
"Tapi, Pak...."

~~~

Tangan perempuan itu meraihku. Dia menimang-nimang tubuhku sambil terisak. 
Eh, kenapa?
"Kamu sangat berarti bagiku. Tapi maaf, aku benar-benar sedang membutuhkan uang. Semoga keputusan yang kuambil ini benar. Bismillah...."
Aku pun disimpan ke dalam kantung dan dimasukkan ke dalam tas.
Tidak! Aku mau dibawa ke mana? Jangan jual aku! 
Aku mencoba berteriak, tapi tentu saja tidak ada yang dapat mendengar suaraku.
Hingga kami tiba di suatu tempat dan perempuan itu mengeluarkanku dari tasnya. 
Seperti yang sudah kuduga, perempuan itu menyerahkan tubuhku ke tangan orang lain. Orang itu--perempuan juga--menganalisis tubuh dan menaksir hargaku.
Beberapa menit kemudian, orang itu menyebutkan sebuah angka rupiah kepada perempuan yang membawaku. Dan dia setuju. Dia menukarku dengan sejumlah uang. 
Tidak! Kenapa kamu tega menjualku? Aku ini satu-satunya kenangan dari ibumu. Dalam tubuhku ini, tercurah cinta dan kasih sayang dari ibumu. Tolong, jangan tinggalkan aku!
Percuma. Tangan orang itu membawaku menjauh dari perempuan itu. Dia menyimpanku di sebuah tempat yang asing.

~~~

"Terima kasih, Bu. Ini barangnya." 
Beberapa bulan kemudian rupanya ada orang lain yang membeliku. Kini tubuhku diserahkan kepada seseorang.
"Sama-sama, Mba."
Ah! Suara ini.... Tangan ini....
Aku bisa kembali lagi kepadanya. Pada pemilik sejatiku. Tapi bagaimana mungkin?
"Alhamdulillah, Pak. Kita bisa menebus kalung ini."
Perempuan itu mengelus tubuhku dengan penuh rasa sayang.
"Iya, alhamdulillah. Berkat usaha dan doa kita semua, masalah keuangan kita bisa teratasi."
"Ibu tidak menyangka Pak, Gina bisa mendapat beasiswa serta usaha percetakan kita mulai terlihat kemajuannya."
"Dan yang paling penting, Ibu tidak kehilangan kalung ini. Bapak kaget sekali loh Bu, waktu Ibu menyerahkan uang hasil menggadaikan kalung ini. Bapak kira, Ibu menjualnya."
Perempuan itu tertawa sambil memasukkan tubuhku ke dalam tas.
Oh, ternyata selama ini aku digadaikan, bukan dijual. Syukurlah.


"Untung waktu itu Bu Yossi--tetangga kita--memberitahu Ibu tentang Pegadaian dan Gadai Emas."
"Seandainya dari dulu kita memanfaatkan Pegadaian Emas, kita tidak perlu menjual mas kawin Ibu."
"Biarlah Pak, yang sudah berlalu tidak perlu disesali."
"Padahal di sekitar rumah kita ini banyak ya cabang Pegadaian. Kok Bapak tidak berpikir untuk datang ke Pegadaian saja."
"Prosesnya juga mudah dan cepat, Pak. Untuk pengajuan, Ibu hanya perlu membawa jaminan--kalung ini--dan fotokopi KTP."
"Oh...."
"15 menit kemudian, Ibu sudah mendapatkan uang pinjaman. Bisa tunai, bisa ditransfer. Tapi waktu itu Ibu ambil uang tunai saja."
"Tapi Bu, seandainya saat ini kita belum mempunyai uang untuk melunasi pinjaman, bagaimana?"
"Ya tidak apa-apa. Kita bisa melunasi pinjamannya kapan saja kok, tidak ada batas waktu. Hanya perlu dilakukan perpanjangan saja setiap 4 bulan sekali."
"Oh, begitu...."
"Oiya, Pak. Mumpung kondisi keuangan keluarga kita sudah mulai membaik, bagaimana kalau kita membuka tabungan emas di Pegadaian?"
"Bisa?"
"Bisa, Pak. Kalau membeli emas batangan di toko emas kan minimal harus 1 gram. Dengan membuka tabungan emas di Pegadaian, kita bisa membeli emas mulai dari 0,01 gram. Jadi kalau ada uang berapa pun, bisa digunakan untuk mencicil emas sedikit demi sedikit."
"Syaratnya?"
"Hanya fotokopi KTP, serta membayar biaya administrasi Rp 5.000, biaya materai Rp 6.000, dan biaya pengelolaan Rp 30.000 per tahun."
"Ayo Bu, Bapak setuju."
Hore! Keluarga ini mau mulai menabung emas. Aku tidak akan sendiri lagi.

~~~

Hmmm, mana ya teman-teman baruku. Katanya perempuan itu dan suaminya mau menabung emas. Tapi kok aku tetap sendiri. Selama bertahun-tahun, hanya ditemani sebuah buku kecil dan tipis.

Tabungan Emas Pegadaian

~~~

Kriet.... Seseorang membuka lemari dan menyimpan sesuatu di sebelah tempatku.
Apa ini? Emas, tapi bukan perhiasan.
"Jadi emas yang selama ini kita tabung, bisa dicetak juga ya?"
"Iya, Pak. Ibu ingin memberi hadiah untuk Gina, karena dia sudah lulus kuliah dengan hasil yang baik. Apalagi beasiswa yang selama ini berhasil diraihnya telah mengurangi beban keuangan keluarga kita."
"Iya Bu, Bapak setuju."
"Tapi ada biayanya, Pak. Ibu mengeluarkan Rp 177.000 untuk mencetak emas batangan seberat 10 gram."
"Oh, dibandingkan dengan harga emasnya, itu kan tidak seberapa."
"Iya, Pak."
"Sisanya, kita biarkan saja terus mengendap di tabungan. Untuk investasi."
"Iya, Pak. Misalkan nanti kita butuh dana, bisa juga diambil dalam bentuk uang."
"Praktis ya."
Aku melirik teman baruku. Oh, jadi selama ini mereka menabung dan menyimpan emasnya di Pegadaian. Pantas saja selama ini aku sendiri.
"Oiya, Bu. Sudah lama Ibu tidak membeli perhiasan emas lagi. Trauma ya?"
Ibu tertawa. "Tidak dong, Pak. Sebenarnya Ibu memang tidak terlalu suka memakai perhiasan emas. Jadi untuk simpanan, Ibu merasa lebih puas menabung emas batangan di Pegadaian saja. Emasnya murni 24 karat sehingga harganya lebih tinggi dibandingkan dengan perhiasan emas. Kalau untuk menghadiri acara-acara istimewa, cukup mengenakan kalung warisan dari orang tua Ibu saja."
Aih, perempuan itu menyebut diriku.
"Loh, Bapak kira Ibu mau menjual dan menggantinya dengan emas batangan?"
Apa?!
Giliran Bapak yang tertawa. "Bapak bercanda, Bu."
Kini Ibu juga ikut tertawa.
Fiuh.... Lega dan senang sekali rasanya, karena mengetahui bahwa mereka begitu menyayangiku serta akan selalu menjagaku.

*****

Seandainya benda mati memiliki perasaan, mungkin barang berharga seperti emas perhiasan yang menjadi tokoh 'aku' dalam cerita di atas akan merasa sedih jika harus dijual oleh pemiliknya. Apalagi kalau benda tersebut sudah menemani pemiliknya selama bertahun-tahun.

Saya pun--sebagai manusia--sering merasa sedih jika harus berpisah dengan barang-barang yang sudah lama menemani saya. Jangankan barang berharga seperti emas perhiasan. Kemarin saja ketika saya menemukan kaus-kaus zaman kuliah di lemari, rasanya sedih saat harus merelakan mereka disumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan. Tentu bukan karena pelit, tapi karena banyak kenangan yang menyertainya. Begitu juga ketika radio tape rusak saya dijual ke tukang loak. Duh, ada sedikit perasaan tidak tega karena banyak histori di dalamnya.

Itu untuk barang yang sudah tidak bisa dipakai lagi ya. Bagaimana kalau barang tersebut masih berharga dan harus dijual karena kita sedang membutuhkan uang? Mau meminjam uang ke bank, prosesnya panjang dan rumit. Meminjam uang ke tetangga atau saudara, tidak enak. Seandainya tidak bisa mengembalikan, hubungan dengan mereka akan menjadi tidak baik. Meminjam uang ke koperasi simpan pinjam di sebelah rumah, bunganya saja bisa sampai 10%. Tentu menjual barang berharga merupakan pilihan yang dirasa paling mudah.

Tapi, tunggu dulu. Masih ada alternatif lain loh untuk mendapatkan dana cepat di saat genting. Ya, Pegadaian. Kita bisa mendapatkan uang pinjaman secara instan dengan menggadaikan barang berharga yang dimiliki. Uang pinjaman tersebut dapat segera digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Dan barang berharga kita pun tetap aman sampai bisa mendapatkan uang untuk membayarnya.

Pegadaian memang sudah terkenal sebagai lembaga keuangan yang dapat memberikan solusi dana cepat. Sejak didirikan pertama kali pada tahun 1901, Pegadaian telah banyak membantu masyarakat Indonesia sehingga dapat terhindar dari ijon, rentenir, dan pinjaman tidak wajar lainnya.

Selama ini, persepsi sebagian besar masyarakat--termasuk saya--menganggap bahwa Pegadaian hanya tempat untuk meminjam dana secara cepat dengan jaminan mudah bagi masyarakat. Padahal lini usaha Pegadaian ternyata bukan hanya gadai saja loh. Tetapi ada mikro, emas, dan aneka jasa juga. Banyak. Tinggal pilih saja mana yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Emas Pegadaian

Kalau saya, saat ini tertarik dengan produk tabungan emas Pegadaian. Sejak menikah dan meminta emas batangan sebagai mahar dari suami, saya memang biasa membeli emas batangan untuk investasi. Kenapa? Karena bagi saya, emas batangan merupakan alternatif instrumen investasi jangka panjang yang paling murah, mudah, dan aman. Dibandingkan dengan saham, keuntungan investasi emas memang tidak terlalu tinggi. Tapi cocok sih untuk saya yang tidak berani mengambil risiko. Begitu juga apabila dibandingkan dengan properti, investasi emas bersifat likuid karena lebih mudah untuk dijual. Menjual properti tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Hmmm, saya sih jangankan menjual properti, membelinya saja butuh waktu yang lama, hihihi....

Namun selama ini saya membeli emas batangan secara konvensional. Kalau uang di tabungan sudah cukup untuk membeli beberapa gram emas, baru deh pergi ke toko emas. Nah, produk tabungan emas di Pegadaian ini asyik loh. Seperti yang sudah dijelaskan dalam cerita di atas, secara sepintas menabung emas memang mirip dengan membeli emas secara konvensional. Namun, apabila diperhatikan secara lebih dalam, tentu saja berbeda dan lebih menarik. Apa saja keunggulannya?
  • Murah. Kita dapat membeli emas mulai dari 0,01 gram. Meskipun hanya ada uang Rp 100.000, Rp 50.000, atau bahkan Rp 10.000, bisa tetap ditabungkan. Nanti, angka rupiah tersebut otomatis langsung dikonversikan ke bentuk gram emas, sesuai harga pada hari itu. Coba kalau membeli emas di toko emas. Minimal kan harus 1 gram atau setara dengan Rp 548.000 (harga emas per 16 Juni 2016). Biaya administrasi dan pengelolaannya pun sangat ringan. Biaya administrasi Rp 5.000 saat pembukaan tabungan dan biaya pengelolaan Rp 30.000 per tahun.

Emas Pegadaian
  • Mudah. Bisa menabung kapan saja dan di mana saja. Saat ini Pegadaian sudah memiliki 4.500 outlet di seluruh Indonesia.
  • Aman. Karena disimpan di Pegadaian dan sudah diasuransikan. Kalau membeli emas di toko emas, tentu di rumah harus mempunyai brankas, apabila ingin menyimpan emas dengan lebih aman.
  • Fleksibel. Hasil tabungan bisa diambil baik berupa uang sesuai harga buyback pada hari itu (mulai dari berat 1 gram) ataupun dalam bentuk emas batangan (mulai dari kepingan 5 gram). Tergantung kebutuhan.
Emas Pegadaian
  • Terjamin. Tabungan emas ini dikelola oleh BUMN yang berpengalaman serta transparan dalam pengelolaannya. Selain itu, terdaftar dan diawasi juga oleh  Otoritas Jasa Keuangan. Karatase emasnya pun dijamin 24 karat.

Menarik bukan? Makanya beberapa waktu yang lalu, sepulang dari mengantar anak ke sekolah, saya mampir dulu ke cabang Pegadaian terdekat untuk membuka tabungan emas. Prosesnya sangat praktis dan syaratnya sangat mudah. Berikut langkah-langkahnya.

Pertama, mengisi formulir permohonan pembukaan rekening, lembar pernyataan, dan formulir data nasabah. Data yang harus diisi sedikit kok, tidak banyak. Standar lah. Oiya, kalau tidak mau berlama-lama mengisi formulir di Pegadaian, bisa loh mengunduh berkasnya dari sini, kemudian mencetak dan mengisinya terlebih dahulu di rumah.

Emas Pegadaian

Kedua, menyerahkan formulir permohonan pembukaan rekening, lembar pernyataan, formulir data nasabah, fotokopi KTP, biaya administrasi, dan setoran awal. Saat itu saya memberikan uang Rp 100.000. Dipotong biaya materai Rp 7.000 dan biaya administrasi Rp 5.000, jadi jumlah setoran awal untuk tabungan emas saya yaitu Rp 88.000. Oiya, di awal pembukaan rekening tabungan emas ini, seharusnya dipotong juga untuk biaya pengelolaan selama satu tahun yaitu Rp 2.500 per bulan atau Rp 30.000 per tahun. Namun karena sedang ada promo--kalau tidak salah sampai akhir Juni 2016--jadi gratis dulu. Asyik.

Emas Pegadaian

Ketiga, mengisi formulir spesimen tandatangan. Dilakukan di hadapan petugas Pegadaian.

Emas Pegadaian
Klik gambar untuk melihat lebih jelas

Jadi deh tabungan emasnya. Saya langsung mendapatkan bukti setoran dan buku tabungan. Yeay! Saya sudah resmi nih menjadi nasabah Pegadaian dengan No. CIF 1007630475.

Emas Pegadaian
Klik gambar untuk melihat lebih jelas

Emas Pegadaian
Klik gambar untuk melihat lebih jelas

Selanjutnya petugas Pegadaian menjelaskan mengenai cara membaca isi buku tabungan, cara bertransaksi, juga ketentuan dalam bertransaksi.

Emas Pegadaian

Saya merasa sangat puas dengan pelayanan di Pegadaian. Selain proses pengajuan kredit yang mudah dan produk tabungan emasnya yang memang unggul, pegawainya juga sangat ramah. Mulai dari satpam di luar hingga petugas di dalam, semuanya menyambut dan melayani keperluan saya dengan keramahan yang alami-tidak terlihat dibuat-buat, sehingga membuat saya--dan mungkin nasabah lainnya juga--merasa nyaman. Ketika saya bertanya, mereka menjawab dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami, tidak berbelit-belit. Suka deh.


PR saya sekarang yaitu tinggal rajin menabung emas secara rutin. Memang sih melakukan transaksi di tabungan emas ini belum bisa online, tetapi cabangnya juga sangat banyak. Di sekitar rumah saya saja ada tiga cabang. Jadi ya tidak ada alasan untuk malas menabung, hehehe....

Kalau hanya untuk mengetahui harga emas batangan, kita bisa mengeceknya di website Pegadaian. Bahkan saya sudah mengunduh dan memasang aplikasi Sahabat Pegadaian juga di ponsel. Ternyata sangat membantu. Saya tidak hanya dapat mengetahui harga emas batangan, tetapi juga penjelasan mengenai berbagai produk Pegadaian dan simulasi perhitungannya, informasi cabang Pegadaian, hingga promo yang sedang berlangsung. Selain itu, dengan mengajak teman atau saudara untuk menjadi nasabah dan melakukan transaksi di Pegadaian, kita bisa mendapatkan poin. Nanti poin yang sudah terkumpul bisa ditukar dengan berbagai hadiah menarik. Asyik banget kan.

Sahabat Pegadaian

Jadi, tunggu apa lagi? Apapun kebutuhannya, yuk bertransaksi di Pegadaian ;)

Pegadaian

44 comments :

  1. Wah mb nath baca ini aku jdi kepikiran nabung emas
    Gimanapun harganya jarang jatuh ya, malah naik ada kecenderungan tiap tahunnya

    ReplyDelete
  2. Kalo aku butuh dana tunai dan segera aku larinya ke Pegadaian.. Di sana layanannya cepat dan kita bisa langsung bawa uang dari hasil barang yang digadaikan.. Biasanya sih emas.. Ntar kalau sudah punya duit bartu deh ditebus kembali..

    ReplyDelete
  3. Pegadaian emang keren, sekarang juga membuka beberapa jasa lainnya. Pegadaian semakin maju dan semakin bergelora. Pegadaian emang tempat yang cocok untuk menyelesaikan masalah tanpa masalah :)

    ReplyDelete
  4. Makin maju, ya. Makin dekat sama slogannya yang menyelesaikan masalah tanpa masalah. Dulu belum sebegini bagus teknis dan programnya

    ReplyDelete
  5. what ? pegadaian punya aplikasinya? astaga donlot ah segera.
    pegadaian ini andalannya mama papa saya sedari dulu, dan sekarang menular ke anaknya (saya). Kalo butuh uang gak perlu utang, tinggal gadai, kelar!

    ReplyDelete
  6. Enak bngt sekarang ada aplikasi onlinenya :)

    ReplyDelete
  7. Hai teeeh.. Waaah artikelnya kece pisan.. Semoga menang yaaa..
    Btw, aku tertarik bgt untuk buka tabungan emas itu. Itung2 investasi yaa :)
    Makasih sudah share yaaa :)

    ReplyDelete
  8. Mantap mengatasi masalah tanpa masalah . . .!

    ReplyDelete
  9. Aku juga suka ga tega melepas barang lama. Bukan karena pelit, tapi kalau ada story behindnya itu, lho. Hehehe. baper, kah? Tapi katanya sih aku bukan tipe melankolis dari sisi psikologis *lol*

    Btw aku juga udah nabung emas di Pegadaian. Dari dulu pengen punya emas batangan, baru ada jalannya sekarang.

    ReplyDelete
  10. Bisa 0.01 gram. Siapa aja bisa kalau gitu, ya. :D

    ReplyDelete
  11. Aku sampai sekarang amsi simpan perhiasan almarhum mama, mba. Nggak terpakai. Mau dijual sayang yaa :(
    Pegadaian memang membantu ya

    ReplyDelete
  12. tertarik jd pengen nabung emas, mudah juga ya di Pegadaian

    ReplyDelete
  13. Waah Pegadaian memang oke ya..Bisa mengggadaikan emas dengan sejumlah uang tanpa harus menjual barangmya. Apalagi jika barang itu penuh kenangan ya Mbaak. Sekarang ada tabungan emas lagi. Bisa buat persiapan tabungan anak-anak kelak.

    ReplyDelete
  14. Wuihhh asyik..informasinya lengkap banget ini mbak ^_^
    Saya malah baru tahu nih Pegadaian udah ada aplikasinya juga.

    ReplyDelete
  15. walah, aku kenal pegadaian sekedarnya aja bun. belum berkeluarga blum pernh coba yg bgini, tpi bgus jg ya buat investasi emas. ntr dijual disaat harga emas naik. :D
    sukses lombanya bunda :)

    ReplyDelete
  16. Mantap ya pegadaian. Salam blogger, mbak!

    ReplyDelete
  17. Jadi pingin nabung emas di pegadaian deh. Lumayan buat investasi jangka panjang nanti.

    ReplyDelete
  18. Lengkap bangeeet teeeh
    Aku juga mau buka tabungan emas di pegadaian rencananya hehhee

    ReplyDelete
  19. selamat ya mbak ^^ tulisannya menang yang pegadaian ini ^^
    btw tambaaah cantikkkkkk*salfok sama lipen

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih... sama2 mba, selamat juga yah :)
      masa sih? itu pdhl mata lg oke, merah gt :D

      Delete
  20. Beh,, DP nya emang bisa dijangkau ya mbak...
    btw, salam kenal, dan selamat ya mbak ^_^

    ReplyDelete
  21. Mba Nathalia, selamat yaa sudah jadi Juara 1. Oh ya saya juara 2 Pegadaian Blog Competition dari Bandung. Mba sudah dihubungi kah soal hadiahnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat juga mba :)
      Waktu ada pengumuman, saya langsung kirim data yg diminta nama lengkap + softcopy ktp dan npwp. Sekalian nanya juga hadiahnya dikirim ke rumah atau ditransfer ke rek tab emas, tp belum dibalas...
      Kalau ada update kita saling kabar2i ya ;)

      Delete