Sudah setengah jam semenjak Ferdy memasang papan bertuliskan 'Buka' di pintu kaca kedai kopi ini, tetapi belum ada seorang pun pengunjung yang datang. Mungkin karena udara yang dingin sisa hujan yang mengguyur kota ini tadi pagi, membuat sebagian besar orang lebih memilih untuk bergelung di balik selimut yang hangat di hari libur ini.
Klining! Akhirnya seseorang membuka pintu kedai. Aku segera melihat ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang datang. Perempuan itu! Aku bersorak di dalam hati.
Perempuan itu melambaikan tangannya pada Ferdy, membuat Ferdy -pemilik kedai- segera menghampirinya. Mereka lalu terlihat berbincang-bincang. Aku menunggu dengan perasaan berdebar-debar.
"Nino! Tolong buatkan Hot Cappucino untuk pelanggan kita yang cantik ini! Spesial ya!" teriak Ferdy.
"Siap Bos!" Nino mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
Perempuan itu tersenyum melihat sikap Ferdy dan Nino yang berlebihan. Ah dia begitu cantik. Aku begitu kagum padanya. Ya, aku sadar diri bahwa aku tidak pantas untuk mencintainya. Aku hanya ingin bisa lebih dekat dengannya. Namun lagi-lagi Ferdy tidak memberiku kesempatan untuk dapat 'melayani'-nya.
Nino mengantarkan sendiri Hot Cappucino buatannya pada perempuan itu. Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lain, tidak sanggup melihat pemandangan yang menyakitkan ini.
"Black Coffee untuk pelanggan yang di luar ya!" kudengar Ferdy berteriak lagi.
"Oke Bos!" jawab Nino.
Tidak lama kemudian, Nino meraih tubuhku. Rupanya kali ini giliranku. Setelah menuangkan kopi panas yang telah diraciknya, Nino lalu mengantarku ke meja di bagian halaman toko.
Uh bau! Ternyata aku harus 'melayani' seorang lelaki perokok. Kini seluruh tubuhku bau rokok. Sementara di dalam, kulihat cangkir spesial kesayangan Ferdy mendapatkan cap bibir berwarna merah muda dari perempuan cantik itu. Tidak adil!
![]() |
Credit |
![]() |
Credit |
263/500 kata
Ditulis dalam rangka menjawab tantangan Berani Cerita #08.

Ditulis dalam rangka menjawab tantangan Berani Cerita #08.

ha... gak ... ngerti mau baca sekali lagi ah....
ReplyDeletehuhu..
Deleteudah dibaca ulang kah? udah ngerti kah? :D
Saya kira Aku itu adalah Nino, ga taunya cangkirnya hehehe... nice
ReplyDeletehehe..
DeleteAgak bingung menebak siapa sih si "Aku" ini?? hehe, ternyata...
ReplyDeletehihi..
Deletekirain tadi si Aku nya Nino :)
ReplyDeletesalam kenal dari Batam
iya bukan :)
DeleteKirain aku dan NIno itu waiters ternyata sebuah cangkir :)
ReplyDeleteklo nino memang orang, bukan cangkir :)
Deleteaihhhhh kerennn :D
ReplyDeletemakasih mak :)
Delete*puk puk cangkir*
ReplyDeleteKeren idenya.. :)
tapi eksekusinya ga keren yah? :p
DeleteMba Diana selalu bisa membuat cerita yang segar :)
ReplyDeleteheuheu.. masih blajar :)
Deletekeren mbak..
ReplyDeletemakasih :)
DeleteGood! Sudut pandang yang berbeda!
ReplyDeleteKeep writing ya!
Insha Allah :)
Deletemembuat berfikir untuk kesekian kali, "aku" siapa dia? bukan Nino bukan juga ferdy,, and guess it. "aku" adalah cangkir ,, topppp mak
ReplyDelete