Wednesday, November 7, 2018

Family Time di Jatinangor


"Bunda, kapan kita nginep di hotel lagi?" tanya Jav. "Duh Jav, Bunda juga mau banget bisa pergi liburan ke luar kota dan nginep di hotel. Tapi kan Rashya masih bayi, pasti repot deh." Belum apa-apa, saya sudah malas duluan membayangkan perlengkapan Rashya yang harus dibawa apabila kami pergi berlibur. Tapi saya juga bosan di rumah terus, mau banget bisa refreshing di tengah kesibukan mengurus anak. Akhirnya suami mengajak kami staycation. Di luar kota, tapi enggak terlalu jauh dari Bandung. Yup, Jatinangor, hohoho.... 

Memangnya ada apa di Jatinangor? Eits, jangan salah. Sebagai kota satelit yang sudah lebih mandiri dibanding dengan kota satelit lainnya di Metropolitan Bandung seperti Lembang, Padalarang, Soreang, dan Rancaekek (ini kesimpulan dari tesis saya beberapa tahun yang lalu, hihihi....), Jatinangor juga memiliki beberapa tempat wisata yang menarik. Memang belum segreget tempat wisata Indonesia lain seperti di Bandung, Malang, atau Jogja sih, tapi cukup asyik untuk kabur sejenak dari rutinitas harian. 

Wisata Kuliner di Jatinangor

Kalau membahas Jatinangor, saya selalu ingat Warung Nasi Adi Ada Aja (A3). Soto ayamnya favorit banget karena bumbu kuahnya sangat lekoh ala soto betawi gitu. Ayamnya pun bukan ayam yang disuwir, tetapi ayam potong yang bisa kita pilih sendiri mau dada atau paha. Tapi hmmm... sayang, warung nasi ini sudah enggak ada lagi. Tutup, entah karena apa.

Selain soto ayam A3, sebenarnya ada banyak makanan di Jatinangor yang ketika itu ingin saya nikmati. Namun karena hanya menginap selama satu malam di Jatinangor, kami pun hanya sempat menjajal tiga tempat saja.

Pertama, Checo Cafe. Kami makan malam di restoran yang berada di Jalan Raya Jatinangor No. 83 ini. Tempatnya instagramable deh. Bahkan karena malam minggu, di area belakang (smoking area) ada fasilitas karaokenya juga. Tapi suami enggak nyanyi karena kami duduk di area depan (non smoking area). Plus, malam itu Persib sedang tanding, jadi si dia kayanya engga mood nyanyi, hehe....

Suami memesan Beef Curry Mozarella Pepper Rice yaitu nasi yang dicampur daging sapi dan jamur dengan saus kari, telur setengah matang, dan mozarella. Tumben loh suami memesan menu yang seperti ini, yang berkeju-keju. Di awal, rasanya memang enak. Dagingnya melimpah. Namun semakin lama, perpaduan saus kari yang kental dan spicy dengan mozarella yang gurih malah bikin enek. Memang, sekarang ini segala macam makanan sering diberi topping mozarella, mungkin supaya kekininan. Tapi menurut saya, enggak semua cocok. Ya seperti saus kari ini, heuheu....

Beef Curry Mozarella Pepper Rice (Rp 28.000)

Kalau saya memesan Mozarella Carbonara Fricassee yaitu spageti dengan saus krim, ayam fricassee, dan mozarella. Ini enak, sausnya creamy, ayamnya tebal dan gurih, ditambah mozarella jadi semakin mantap.

Mozarella Carbonara Fricassee (Rp 32.000)

Sedangkan Jav memesan Nasi Goreng Kampung yaitu nasi goreng dengan bumbu terasi dengan telur dadar dan kerupuk. Ya ampun, anak ini, jauh-jauh ke sini kok malah makan nasi goreng, hihihi....Tapi nasi gorengnya memuaskan kok.

Nasi Goreng Kampung (Rp 13.000)

Adapun untuk minumnya, kami memesan Hot Chocolate Latte, Hot Thai Tea Latte, dan Taro Jelly Shake. Semuanya enak. Manisnya pas, dan minuman dinginnya segar juga. 

Hot Chocolate Latte (Rp 16.000) - Hot Thai Tea Latte (Rp 16.000) - Taro Jelly Shake (Rp 18.000)

Kemudian menu sarapan kami, Bubur Ayam Parantina. Bubur ayam favorit adik dan adik ipar saya ini lokasinya berada di depan outlet Amanda Jatinangor. Tempatnya ramai terus. Saking penuhnya, sampai banyak yang duduk dan makan di tangga juga. 


Bubur ayam ini memang lezat sih. Teksturnya lebih encer dan rasanya gurih. Toppingnya standar. Untuk bubur ayam biasa yaitu suwiran ayam, potongan cakwe, dan kacang. Kalau mau yang luar biasa bisa ditambah telur, ati ampela, sate usus, atau sate telur puyuh. Sate ususnya enak, empuk dan gurih.

Yang membuat bubur ayam ini menjadi semakin spesial yaitu sambalnya yang berupa cabai kering bubuk. Wuih, pedasnya mantap. Sayang enggak ada kerupuknya. Untungnya disediakan emping dan keripik bayam. Keripik bayamnya agak keras, tapi lumayan asyik juga menjadi pelengkap bubur ayam kami. 

Bubur ayam biasa (Rp 11.000) - Sate usus (Rp 1.000) - Keripik bayam (Rp 2.000)

Terakhir, yaitu Tahu Sumedang H. Ateng. Kami membeli tahu ini untuk dibawa pulang ke rumah serta sekalian juga sebagai oleh-oleh untuk orang tua. Tahunya gurih. Selain itu, berbeda dengan tahu sumedang biasa yang hanya dimakan bersama cabai rawit, tahu sumedang ini ada sambalnya juga. Suka deh.

Wisata Sejarah di Jatinangor

Sambil berjemur, kami jalan-jalan ke Jembatan Cincin. Lokasinya berada di Kampung Cikuda Jatinangor, sangat dekat dari tempat kami menginap, hanya 10 menit berjalan kaki. Jembatan bergaya arsitektur Eropa yang megah ini merupakan peninggalan dari Belanda. Disebut sebagai Jembatan Cincin karena lengkungan-lengkungan yang ada menyerupai lingkaran cincin.


Jembatan ini dibangun oleh Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf, sebuah perusahaan kereta api milik Belanda pada tahun 1918. Fungsinya yaitu sebagai salah satu jalur kereta api yang menghubungkan daerah Rancaekek dan Tanjungsari. Namun, saat Jepang datang dan mulai menduduki Indonesia pada 1942, Jembatan Cincin pun diambil alih. Tiang dan besi tua yang menjadi rel di jembatan ini dibongkar dan dibawa paksa. Sekarang, jembatan ini masih kokoh dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.


Selanjutnya, setelah sarapan, kami berkendara menuju pasar UNPAD. Tapi ternyata ramai banget dan kami bingung harus parkir di mana. Akhirnya kami memilih untuk balik lagi saja dan mampir ke Menara Loji. Lokasinya berada di lingkungan kampus ITB Jatinangor (sebelumnya merupakan kampus UNWIM).


Menara Loji merupakan menara lonceng dengan gaya arsitektur Neo-Gothik yang dibangun pada tahun 1800-an oleh Baron Braud, seorang tuan tanah yang memiliki perkebunan karet seluas kurang lebih 962 hektare. Dulu menara ini memiliki dua fungsi, yaitu sebagai tempat untuk mengawasi para penyadap karet yang sedang bekerja dan sebagai penanda waktu bagi para penyadap karet tersebut. Sayang, pada tahun 1980-an, lonceng Menara Loji ini dicuri.


Setiap hari Minggu, Menara Loji ini ramai didatangi pengunjung. Terutama oleh komunitas penyayang binatang. Saat itu, kami bertemu dengan sekumpulan orang yang sedang menjemur ularnya dan lari pagi bersama berang-berangnya. Suami sih senang banget bisa main-main sama binatang di sana.

Akomodasi di Jatinangor

Selama di sana, kami menginap di Appartel Taman Melati yang berada di Jalan Cikuda Jatinangor. Meski bukan hotel mewah, namun fasilitasnya cukup lengkap. Mulai dari AC, TV, air hangat, WiFi, dan lain-lain.


Yang paling kami suka dari appartel ini adalah kolam renangnya. Airnya dingin sih, tetapi pemandangannya asyik banget. Soalnya menghadap ke Jembatan Cincin dengan latar sawah dan Gunung Manglayang.


Transportasi Menuju Jatinangor

Karena dekat, kami berangkat ke Jatinangor dengan menggunakan kendaraan pribadi. Lama perjalanannya sekitar 1,5 jam. Maklum hari Sabtu, lalu lintas ramai dan macet. Selain itu, Jatinangor bisa juga dijangkau dari Kota Bandung dengan bus atau angkutan umum kok.

Tentang Pegipegi

Nah, bagi teman-teman di luar kota yang tertarik untuk berkunjung ke Bandung dan mampir ke Jatinangor, bisa memesan akomodasi dan transportasinya melalui Pegipegi.

Pegipegi merupakan layanan reservasi online untuk hotel, tiket pesawat, dan tiket kereta api. Pegipegi diresmikan pada 7 Mei 2012 oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Marie Elka Pangestu. Pegipegi berkomitmen menjadi fun traveling partner dengan memberikan berbagai inspirasi seru dan informasi seputar traveling yang bisa ditemukan di media sosial, website, serta aplikasi mobile Pegipegi.

Saat ini Pegipegi sudah terhubung langsung dengan lebih dari 7.000 pilihan hotel, memiliki lebih dari 20.000 rute penerbangan, serta lebih dari 1.600 rute kereta api dan Kereta Api Bandara (Railink) yang dapat dibooking baik melalui website maupun aplikasi mobile Pegipegi.


Berikut beberapa keunggulan apabila memesan hotel, tiket pesawat, dan tiket kereta api di Pegipegi.
  • Proses pemesanan mudah. Dimulai dengan mengisi formulir pencarian. Kemudian memilih hotel/penerbangan/perjalanan kereta. Dan terakhir, memilih metode pembayaran. Beres deh.
  • Memberikan berbagai promo menarik. Pssst, apabila memesan melalui aplikasi mobile, bisa mendapatkan promo eksklusif loh.
  • Menyediakan berbagai metode pembayaran. Mulai dari transfer bank, kartu kredit, hingga pembayaran di swalayan.
  • Customer service dengan pelayanan profesional. Untuk menghubungi customer service, bisa melalui telepon, email, live chat, atau media sosial.

So, tunggu apa lagi? Yuk, liburan bersama Pegipegi.

20 comments :

  1. Ngliat jembatan cincin dari jauh berasa kaya di eropa ya mbak, jembatannya klasik bgt, bagus

    ReplyDelete
  2. ternyata Jatinangor keren yah, sumpah saya belum pernah ke Jatinangor dong teh huhuh menyedihkan, cuman lewat doang sih ga eksplor banyak

    ReplyDelete
  3. Baru tau Jatinangor itu dekat2 Bandung..dan asik juga daerah nya.. makasih ya kak infonya

    ReplyDelete
  4. Wah, asyiknya staycation yaaa, mamak rehat masak hihi. Jatinangor indah jyga pemandangannya,Miss yuu bingiit..

    ReplyDelete
  5. Wah, banyak juga ya jajanan yang bisa dicicipi di Jatinangor. Dan ada wisata sejarah juga. Kalo ke sana, aku biasanya cuma mampi aja. Paling main pun ke mall-nya. Entar mah kudu nyoba jajan dan jalan2.

    ReplyDelete
  6. Wah kangen banget ma jatinangor, kangen ma kulinernya sama suasananya,kangen ma jembatan cincin, btw makasi ya mba, udah ngobatin rasa kangen ku ini, salam kenal :)

    ReplyDelete
  7. Saya jarang banget ke Jatinangor. Tetapi, seharusnya banyak tempat yang menarik, ya. Minimal banyak kulineran lah di sana. Di Jatinagor kan banyak juga mahasiswa yang tinggal di sana

    ReplyDelete
  8. wahhh seneng banget ya kak,, jangan lupa ya kak kunjungi blog kita juga

    ReplyDelete
  9. itu jajanannya bikin meleleh euy mbak... #jejakbiru

    ReplyDelete
  10. View kolam renangnya CAKEP BANGET. Kayak di LN. Dan, penasaran sama kulinernya. Nampak sangat menggiurkan :D

    ReplyDelete
  11. Jatinangor tuh di Jawa Barat ya, Mbak? Dari Bandung berapa jam? Cerita jembatan cincinnya menarik. Saya suka wisata-wisata sejarah seneng menikmati bangunan lawasnya

    ReplyDelete
  12. Seneng banget kelihatannya ya, semoga saya bisa kesitu

    ReplyDelete
  13. Langsung tandain list kulinerannya.
    Nanti daku sontek ya kakak. ^^

    ReplyDelete
  14. Kemaren banget ke jatinagor, tapi ga ngikutin itinerary spt ini. Cuman ke Ikonyo ajah. Hahaha . Ke A3 udah Tutup. Menarik jg nginep di apartel itu ya. Dulu Saya sering lewat jembatan Cincin kalau mau ke kampus

    ReplyDelete
  15. Jatinangor, gak kepikiran lho mau ke sini buat liburan sama keluarga ternyata bagus juga ya. gak kalah keren sama tempat wisata lainnya.

    ReplyDelete
  16. Duh kolam renangnya koq keren kaliii, asik banget buat renang sambil menikmati alam terbuka gini

    ReplyDelete
  17. Wah,,, makanan di Jatinagor murah-murah yaaa. Kapan2 diagendakan untuk mampir ah.

    ReplyDelete
  18. Jembatan cincinnya menarik banget. Aku selama ini ke Jatinangor cuma numpang lewat doang pas mau ke Sumedang. Belum pernah mampir. Mungkin sesekali harus berhenti dan mampir ya

    ReplyDelete
  19. Nanti klo k rumah mamah pengen explore jatinangor ah, makasih sharingnya teh saya penasaran sama menara loji berasa ke. Jam gadang

    ReplyDelete
  20. wah mantap pemandangan kolam renangnya sekalian lihat jembatan cincin, jadi brasa di eropa. Ternyata enak juga di jatinangor ya

    ReplyDelete