Sunday, February 14, 2021

Ketika Jav Sakit Hepatitis

People vector created by pch.vector - www.freepik.com

Selama pandemi ini, anak-anak di rumah aja, enggak ke mana-mana, enggak bertemu siapa-siapa. Circle kami cuma dua, orang tua dan mertua. Salah satu hikmahnya, alhamdulillah jadi jarang sakit. Biasanya batuk pilek sebulan sekali, bergantian Jav dan Rashya, sekarang enggak pernah. Eh pernah sih sekali, tertular dari sepupunya.

Hingga bulan Januari kemarin, Jav demam. Biasanya saya enggak khawatir, karena demam kan salah satu cara tubuh melawan virus dan bakteri. Namun karena sedang pandemi, jadi khawatir banget. Setiap 2-3 jam sekali saya cek suhu, saturasi oksigen, dan penciumannya. Melelahkan deh sakit di masa pandemi, cape hati, heuheu.... Tapi alhamdulillah penciuman normal, nafsu makan juga bagus.

Cuma anehnya nih, demamnya naik turun. Dalam seminggu Jav demam tiga kali. Sehari demam, dua hari normal, setelah itu demam lagi. Begitu terus. Seperti biasa, saya kasih madu dan vitamin. Pernah minum parasetamol sekali aja, pas pusing.

Setelah seminggu, enggak ada demam lagi, saya kira sudah aman. Namun ternyata hari Rabu tanggal 20 Januari mulai terasa mual. Jav bilang ada sesaknya juga, tapi setelah dirasa-rasa rupanya bukan sesak melainkan ngos-ngosan karena menahan mual. Makannya susah banget, tiga suap pun selesainya lama sekali, malah kadang enggak habis.

Anaknya sendiri tetap sekolah. Padahal sudah saya suruh supaya izin dulu, tapi dianya masih semangat. Sempat membuat konten untuk Youtube juga. Bahkan praktik olahraga basket keesokan harinya pun dia jabani. Setelahnya langsung lemas dan mual lagi deh. Membuat saya semakin cemas karena biasanya Jav enggak pernah seperti ini. Bingung juga karena apa, mual tapi perut enggak ada yang sakit.

Puncak kekhawatiran saya yaitu setelah Jav bilang kalau warna urinnya pekat serta warna fesesnya pucat dan cair.

Makanya hari Jumat, saya dan suami memutuskan untuk membawa Jav ke dokter. Kami memilih dokter anak di RSKIA Harapan Bunda. Mudah-mudahan aman karena ini merupakan rumah sakit khusus ibu dan anak, serta bukan rumah sakit rujukan Covid-19. Pendaftarannya pun canggih, menggunakan aplikasi. Enak deh, mudah dan praktis banget.

Siang itu, Jav diantar ke dokter oleh ayahnya. Untung ayahnya WFH, soalnya saya suka enggan kalau kaya gini tuh. Bukan malas ya, tapi deg-degan takut mendengar hasil diagnosis dokter.

Ketika mereka pulang dan melihat suami membawa bungkusan plastik putih, saya sempat merasa lega. Oh cuma dikasih obat, berarti sakit biasa aja. Tapi ternyata itu camilan, bukan obat, huhuhu.... Kata suami, Jav sudah dites darah, jadi menunggu hasilnya dulu.

Satu jam kemudian, mereka kembali lagi ke RS. Akhirnya saya mendapat kabar dari suami bahwa Jav harus dirawat karena terdapat peradangan pada hati (liver)-nya. Angka SGOT dan SGPT-nya tinggi sekali, jauh di atas normal.


SGOT (serum glutamic oxaloacetic transaminase) adalah enzim yang biasa ditemukan pada organ hati, jantung, ginjal, hingga otak. Adapun SGPT (serum glutamic pyruvic transaminase) adalah enzim yang paling banyak dijumpai pada organ hati. Bila jumlahnya melebihi angka normal, ada kemungkinan sedang terjadi gangguan fungsi hati.

Selain mengurus administrasi, karena sedang pandemi, sebagai syarat rawat inap, Jav harus menjalani tes swab antigen dan suami sebagai penunggu pun harus menjalani tes rapid antibodi. Alhamdulillah, hasilnya Jav negatif dan suami non reaktif.

Sambil menyiapkan kebutuhan Jav, perasaan saya campur aduk. Khawatir, sedih, dan yang pasti merasa bersalah. Kasihan, disuntik vaksin aja suka tegang, sekarang harus diambil darah, diinfus, bahkan dites swab juga, hiks....

Tetapi lumayan menjadi lebih tenang setelah mendengar kabar bahwa Jav mendapat kamar VIP. Maklum lah ya, sedang pandemi begini rasanya risih jika harus berbagi ruangan dengan pasien lain. Alhamdulillah, Jav juga makan malamnya habis. Mungkin karena sudah diberi obat antimual melalui infus. Meski infusnya sempat dipindah ke tangan yang lain karena tangan sebelumnya bengkak.


Selanjutnya saya dan suami bergantian menjaga Jav. Suami bagian malam dan saya bagian siang. Karena sedang pandemi, awalnya merasa berat ketika Jav perlu dirawat inap. Harus ada yang menunggu, harus bolak-balik ke RS, sementara di rumah ada Rashya yang masih balita. Belum lagi makan ketika sedang menunggu, lagi pandemi begini enggak nyaman kalau harus jajan di luar.

Namun setelah dijalani, alhamdulillah ternyata nyaman-nyaman aja. Tempat parkir sepi, masuk gedung pun langsung belok naik ke atas, jadi jarang berpapasan dengan orang lain. Makanan untuk penunggu juga disediakan, jadi enggak perlu pusing mencari makanan. Enak pula. Pikiran pun enggak terlalu stres lagi, karena kondisi Jav baik-baik aja, makannya lahap dan habis terus.



Setelah dites darah lagi, ketahuan kalau Jav positif Hepatitis A (HAV positif, HBV negatif). Bagi saya, penyakit hepatitis ini begitu asing. Selama ini, belum pernah ada pengalaman anggota keluarga yang sakit hepatitis. Kalau suami dan adik ipar katanya pernah waktu kecil.

Hepatitis itu banyak jenisnya. Kata dokter, hepatitis yang dialami Jav merupakan hepatitis akut (cepat dan tiba-tiba). Hepatisis A merupakan infeksi virus HAV yang menyerang organ hati. Penularannya berasal dari makanan dan minuman yang tercemar.

Duh, padahal sebelas bulan ini kan kami di rumah aja, tapi memang masih suka jajan Go-Food sih. Pastinya apa yang Jav makan, dimakan oleh semua anggota keluarga juga. Mungkin karena daya tahan tubuhnya sedang enggak bagus, jadinya dia kena deh.

Ditengok Nin

Hari Senin, Jav dites darah lagi. Ternyata angka SGOT dan SGPT-nya masih di atas normal, tapi sudah lumayan turun. Karena kondisinya bagus, kata dokter sudah boleh pulang. Tetapi dengan syarat harus tetap bed rest serta makanannya harus sama seperti di RS, yaitu bubur, no minyak, dan no santan. Selain itu, kami juga dibekali resep obat, yaitu antibiotik, obat untuk hati, curcuma, dan multivitamin.

Fiuh, lumayan cape juga. Biasa di RS enak tinggal menyuapi aja, di rumah harus membuat bubur sendiri setiap hari. Kalau menu sih seperti biasa aja sehari-hari. Lengkap terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan buah. Cuma bedanya, nasi diganti bubur, lauknya tanpa minyak, dan double protein hewani agar sel hati yang rusak bisa cepat sembuh.

Berbeda dengan perawatan di RS, di mana pergerakan Jav dibatasi oleh infus, butuh usaha lebih agar di rumah dia enggak terlalu banyak bergerak. Seperti ketika cacar akhir tahun 2019 yang lalu, kami meminjam TV orang tua supaya dia mau diam di kamar. Tetapi meski begitu, ada aja godaan main dari adiknya. Heuheu....


Tiga hari kemudian, hari Kamis, Jav kontrol lagi ke dokter, setelah sebelumnya tes darah juga. Hasilnya terus membaik, meski masih di atas normal. Kata dokter, Jav sudah boleh sekolah, toh belajarnya di rumah ini. Supaya ada kegiatan, supaya happy bertemu teman-teman, dan supaya otaknya enggak beku. Cuma pelajaran olahraga izin dulu.

Seminggu kemudian, Jav kembali kontrol ke dokter. Hasil tes darahnya sudah jauh lebih baik. Kata dokter enggak perlu kontrol lagi. Makannya pun sudah boleh nasi. Yeay! Tapi ya tetap harus dijaga makanan dan aktivitasnya, jangan langsung heboh.

Alhamdulillah, sudah berlalu. Meski sempat sedih dan merasa bersalah, saya yakin banyak hikmahnya. Seperti:
  • Jav mempunyai pengalaman diambil darah, diinfus, bahkan dites swab juga. Mudah-mudahan jadi lebih tangguh ya, Nak....
  • Saya jadi lebih berhati-hati dalam memilih jajanan.
  • Saya jadi lebih kreatif memasak menu tanpa minyak. Jadi ikut sehat juga nih 10 hari tanpa lemak jenuh, hohoho....
  • Kami jadi lebih sadar mengenai pentingnya vaksin. Semua penting, bukan cuma yang dasar aja (Hepatitis B masuk imunisasi dasar, tetapi Hepatitis A enggak).
  • Jav jadi lebih bersyukur karena ketika sakit banyak mendapatkan doa dan perhatian dari saudara dan teman-temannya.
Dan pasti masih banyak hikmah lain yang kami enggak tau.


No comments :

Post a Comment