Sunday, March 28, 2021

Alasan Kuliah di Planologi ITB

alasan kuliah di planologi itb

Selamat datang putra putri terbaik bangsa.

Spanduk bertuliskan kalimat tersebut menyambut saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Institut Teknologi Bandung (ITB). Rasa haru dan bangga menyelinap di hati. Saat itulah saya tersadar, enggak semua orang memiliki kesempatan ini.

Padahal sebelumnya, bagi saya ITB merupakan tempat yang asing. Meski lahir dan besar di Bandung, saya enggak terlalu mengenal ITB.

Orang lain memiliki orang tua lulusan ITB, saya enggak. Ayah saya lulusan STT Mandala dan ibu saya lulusan UNPAD.

Orang lain sudah bercita-cita masuk ITB sejak kecil, saya enggak. Cuma tahu ITB itu keren, karena Soekarno dan Habibie belajar di sana. Serta hampir semua orang pun ingin kuliah sana.

Orang lain sudah jalan-jalan dan menjajaki lingkungan ITB sejak masih sekolah, saya enggak. Saya baru menginjakkan kaki di kampus ini ketika Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (OSKM).

Pengalaman saya yang hampir berkaitan dengan ITB cuma ketika SMP, menemani adik sepupu naik kuda di Jalan Ganesha, hihihi....

Cita-Citaku....

Yang pasti bukan menjadi planner. Sejak kecil, cita-cita saya enggak pernah sama.


Ketika SD, saya pernah ingin menjadi astronot. Hati ini selalu deg-deg serrr jika melihat gambar pemandangan luar angkasa. Pasti luar biasa jika bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Saya juga pernah ingin menjadi pramugari. Supaya bisa jalan-jalan gratis, hihihi.... Tapi berubah pikiran karena takut pesawatnya jatuh, heuheu....

Selain itu, saya juga pernah ingin menjadi arsitek. Terinspirasi dari ayah saya yang waktu itu bekerja sebagai konsultan sipil. Setiap malam saya sering menemani beliau menggambar di atas kertas kalkir. Makanya saya juga sering mencorat-coret denah rumah impian. Tapi seiring berjalannya waktu, saya memupuskan cita-cita ini karena sadar diri enggak pandai menggambar.

Meski begitu, saya juga pernah bercita-cita ingin menjadi perancang busana. Saya mempunyai buku gambar khusus kumpulan sketsa baju rancangan loh, dengan tema yang berbeda-beda. Beberapa desain pun ada yang sempat terealisasi menjadi baju boneka barbie, hohoho....

Setelah SMP, cita-cita saya berubah lagi. Diam-diam, saya ingin menjadi pacar Taylor Hanson model. Rencananya diawali dari model Gadis Sampul dulu. Tapi enggak pernah terwujud lah karena enggak pede, hahaha....

Hobi membaca cerpen di majalah Gadis, Kawanku, Hai, dan tabloid Nova, membuat saya bercita-cita ingin menjadi penulis. Namun langsung redup ketika cerpen pertama saya ditolak Kawanku. Akhirnya cita-cita ini bisa terwujud juga sih, meski belasan tahun kemudian, hihihi....

Baca juga, buku antologi pertama saya, Ini Gila Ini Cinta

Sedangkan ketika SMA, saya malah enggak tahu ingin menjadi apa. Pas kelas 3, yang penting masuk IPA saja dulu. No, bukan karena saya pintar di pelajaran IPA. Tetapi karena enggak tahan dengan pelajaran IPS. Bagi saya, Akuntansi tuh rumit sekali, account payable lah, depreciation lah. Begitupun dengan Sejarah dan Geografi yang hafalannya bikin merinding.

Selain itu, saya memilih IPA karena sesuai juga dengan Hasil Tes Penelusuran Minat dan Bakat pas kelas 2. Katanya saya tuh cocoknya kuliah dan bekerja di bidang MIPA, farmasi, atau kesehatan.

Lalu bagaimana ceritanya kok saya bisa masuk Planologi ITB?

Alasan Saya Memilih Kuliah di Planologi ITB

Dulu, ketika ditanya ingin kuliah di mana, sebenarnya saya enggak benar-benar memiliki pilihan yang mantap berasal dari hati. Ikut orang lain saja lah, memilih ITB. Hampir semua ingin kuliah di ITB, ya masa saya enggak, hihihi....

Selain itu, ITB kan perguruan tinggi negeri. Biayanya enggak akan semahal perguruan tinggi swasta. Apalagi waktu itu perusahaan tempat ayah saya bekerja sedang gonjang-ganjing, karena dampak krisis moneter tahun 1999. Dengan kuliah di perguruan tinggi negeri, saya berharap bisa mengurangi beban orang tua.

Terakhir tetapi yang paling penting, lokasinya ada di Bandung. Orang lain dari seluruh penjuru Indonesia sengaja datang ke Bandung demi kuliah di ITB. Untuk apa coba, saya yang sudah lahir dan tinggal di Bandung, jauh-jauh kuliah ke Depok, Bogor, Jogja, atau lain-lain. Maklum, waktu itu saya tipenya orang rumahan banget, heuheu...

Padahal saya enggak tahu apa-apa soal ITB, apalagi jurusan-jurusannya. Dulu mah informasi mengenai jurusan kuliah enggak sebanyak sekarang. Atau mungkin sayanya saja yang kurang gaul kali ya, hehehe.... Sekarang tuh informasi tentang jurusan kuliah bisa didapatkan dari buku, internet, dan lain-lain.

Baca juga, review saya untuk buku Mbak Wid tentang pengalamannya kuliah di jurusan Teknik Lingkungan, Kupas Tuntas Jurusan Teknik Lingkungan

Nah, berhubung ayah saya lulusan Teknik Sipil, beliau menyarankan agar saya mencoba kuliah di Teknik Planologi(1) atau Teknik Lingkungan. Karena kedua jurusan tersebut merupakan jurusan teknik yang masih satu fakultas di FTSP(2) ITB. Tetapi kuliahnya enggak seberat Teknik Sipil. "Cocok untuk perempuan," katanya.

Kebetulan teman-teman banyak yang mengincar kedua jurusan itu. Jadi saya juga ikut semangat deh.

Persiapan Menuju SPMB(3) 2002

Pertama, sesuai janji pada ibu, kelas 3 saya berhenti aktif di kegiatan ekstrakurikuler tari 'Star Eight'. Meski ujung-ujungnya malah mulai bergabung dengan grup tari di luar. "Menari kan baik untuk meningkatkan kecerdasan otak," begitu argumen saya, hihihi....

Kedua, seperti teman-teman yang lain, kelas 3 saya mulai ikut bimbingan belajar. Ada banyak tempat bimbingan belajar di Bandung, namun sejak awal saya langsung tertarik pada Sony Sugema College (SSC). SSC ini banyak cabangnya. Tetapi saya memilih belajar di SSC Sumur Bandung. Di sana kelasnya eksklusif, satu kelas isinya siswa-siswi dari satu sekolah yang sama. Jadi materinya bisa selaras dengan materi yang sudah disampaikan di sekolah.

Lumayan jauh juga perjalanan dari SMUN 8 di Buah Batu ke SSC Sumur Bandung di Dago. Kadang menebeng mobil teman, tetapi seringnya ya naik angkot. "Ngapain jauh-jauh, capek di jalan," ibu saya sempat keberatan. "Latihan kuliah di ITB," begitu alasan saya. Sambil berharap semoga ucapan tersebut menjadi doa.

Selain itu, ketika di sekolah ada pendaftaran PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) dari STT Telkom(4), saya juga mencoba mendaftar, untuk cadangan. Saya memilih Teknik Informatika dan Teknik Industri.

Kalau enggak salah, penilaiannya dari rapor. Padahal dibandingkan teman-teman lain, rapor saya biasa-biasa saja. Tetapi hasilnya, entah kenapa hanya saya yang lolos. Alhamdulillah, saya diterima di Teknik Industri STT Telkom.

Berhubung batas akhir pendaftaran ulangnya satu hari setelah pengumuman SPMB, saya (dan orang tua) enggak langsung daftar ulang. Siapa tahu lulus SPMB, meski setiap tryout enggak pernah berhasil lulus baik di Teknik Planologi maupun Teknik Lingkungan, heuheu....

Membahas tryout, membuat saya teringat sesuatu nih. Jadi di SSC tuh ada guru matematika yang gaya mengajarnya asyik banget. Pas sedang istirahat, sambil jajan batagor, saya dan teman-teman konsultasi sama beliau. "Pak, nilai tryout saya sekian, bisa masuk ke jurusan ini enggak?" Ada yang dijawab "Bisa," ada juga yang disarankan "Coba ganti jurusan lain."

Sedangkan saya mendapat jawaban apa coba? "Kamu enggak usah lanjut kuliah aja ya." Entah maksudnya serius, bercanda, atau memotivasi. Yang pasti membuat saya langsung bertekad di dalam hati, "Lihat saja, saya bakal masuk ITB," hihihi....

Saat Penentuan

Hingga malam sebelum pengumpulan formulir pendaftaran SPMB, saya masih bingung mau memilih jurusan apa. Tapi mau enggak mau, saya harus menentukan. Berbekal beberapa kali salat Istikharah, akhirnya saya menulis Teknik Planologi ITB sebagai pilihan pertama dan Teknologi Pangan UNPAD sebagai pilihan kedua.

Kenapa Teknik Planologi? Karena dipikir-pikir, kalau Teknik Lingkungan pasti ada Kimianya. Enggak mau ah.... Bagi saya Kimia dan reaksi-reaksinya itu sangat abstrak. Buktinya nilai ulangan Kimia saya pas kelas 1 pernah -1. Yup, minus, hihihi.... Gurunya terlalu visioner, ulangan saja sistem penilaiannya seperti SPMB (jawaban betul plus 4, jawaban salah minus 1).

Selain itu saya juga khawatir kuliah di Teknik Lingkungan harus berurusan dengan limbah dan sampah. Makanya lebih mantap memilih Teknik Planologi saja. Menata kota gitu, tampaknya seru seperti bermain Sim City, hehehe....

Kenapa pilihan keduanya Teknologi Pangan? Karena saya suka makan. Ya ampun, alasan yang 'ilmiah' dan 'cerdas' sekali ya, heuheu....

Setelah diingat-ingat, dulu tuh saya orangnya disiplin dan terencana banget deh. Sehari sebelum SPMB, saya sudah siap, enggak belajar lagi. Hari tenang, makanya tinggal santai-santai saja. Selesai survei tempat tes di SMUN 5, lanjut jalan-jalan berburu gaun untuk malam perpisahan, hihihi.... Berbeda dengan sekarang yang deadliner garis keras, hiks....

....

Hari yang dinantikan pun akhirnya tiba, pengumuman SPMB. Pukul 5, saya sudah sibuk berkutat dengan koran. Alhamdulillah, nama saya tercantum di sana. Yup, saya diterima di Teknik Planologi ITB. Enggak sia-sia ya latihan ngangkot ke Sumur Bandung. 

planologi itb
Tahun 2018, sementara suami latihan basket, saja ajak anak-anak ke Gedung Labtek IX A

Waktu yang saya miliki untuk memutuskan memilih Teknik Industri STT Telkom atau Teknik Planologi hanya satu malam. Tentu saja saya akhirnya memilih ITB.

Tak Seindah yang Dibayangkan

Keluarga, teman sekolah, dan teman komplek memberi selamat atas kelulusan saya. Sayangnya enggak semua familiar dengan Planologi. Ada yang menyangka jurusan tentang tanaman (plant). Ada yang mengira jurusan tentang planet. Ada juga yang menebak jurusan tentang pesawat (plane). Sedih, hihihi.... Setelah saya memberi petunjuk 'tata kota', baru deh mengerti.

Ditambah lagi rupanya harapan saya supaya enggak bertemu lagi dengan pelajaran Kimia enggak kesampaian. Selama masa Tahap Persiapan Bersama (TPB), semua mahasiswa harus menjalani mata kuliah Kimia Dasar. Termasuk anak Planologi, lengkap dengan praktikumnya. Hasilnya, dua nilai D. Saya biarkan saja lah. Enggak ada tuh keinginan untuk mengulangnya, heuheu....

Serta yang paling mengejutkan, waktu itu saya baru tahu bahwa ternyata Planologi tuh sosial banget. Karena merencanakan kota bukan hanya merencanakan fisik, tetapi mengatur juga orang-orang yang berada di dalamnya. Makanya semua dipelajari, termasuk lingkungan, sosial, ekonomi, hukum, hingga politik.

Mata kuliahnya ada Tata Guna Lahan, Kependudukan, Ekonomi Wilayah dan Kota, Sistem Sosial, Pengembangan Komunitas, Hukum dan Administrasi Pembangunan. Ironis ya, hahaha.... Untungnya masih ada yang saya suka juga sih, seperti Geologi Teknik, Statistik, Analisis Lokasi dan Pola Keruangan, Sistem Informasi.

Meski merasa terjebak, alhamdulillah saya berhasil juga melaluinya. Di antara teman-teman seangkatan, saya menjadi mahasiswa yang pertama kali sidang dan lulus. Serta ikut rombongan wisuda Juli 2006. Tentunya saya memilih tugas akhir tentang transportasi, lebih banyak berhitungnya daripada sosialnya.

Walau bukan passion saya, seru juga sih kuliah di Planologi. Bahkan setelah lulus saya langsung menerima tawaran menjadi research assistant di Kelompok Keahlian Sistem Infrastruktur Wilayah dan Kota.

Kartu nama tahun 2007, sudah kedaluwarsa

Nanti saya cerita ya bagaimana pengalaman dan suka duka kuliah di Planologi ITB.

Catatan:
1) Teknik Planologi sekarang Perencanaan Wilayah dan Kota
2) FTSP (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan), sekarang terbagi menjadi FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan) dan SAPPK (Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan)
3) Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), sebelumnya Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), sekarang entah apa namanya, heuheu....
4) Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (STT Telkom) sekarang Telkom University

~~~

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Maret.
Tema: Mengapa Memilih Kuliah di Jurusan Masing-Masing


30 comments :

  1. Canggih, bukan passion tp sidang dan lulus duluan. Atau maksudnya biar ga terjebak lama2 ya teh?hihi..Soal deadliners memang kayanya faktor umur juga ya teh, seiring banyak yg dipikirin dan hrs dikerjain, kayanya kita (saya deng) jd ga serajin atau seproduktif dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lulus duluan mah karena rezeki aja teh, saya enggak seambisius itu, hihihi...

      Delete
  2. Wihihi kepikiran jadi model tehh. Btw di Sipil juga cocok buat perempuan kok teh :D kerennn jadi pertama kali luluss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya teh, maksud ayah saya mah mungkin ada lanjutannya, "cocok untuk perempuan kaya saya," hihihi...

      Delete
  3. Jadi tahu sedikit tentang Planologi. Teman SMPku juga ada yg masuk Planologi, baru tahu saat itu ada ilmu tata kota terutama di ITB

    ReplyDelete
  4. teeh kupun sempet jadi asisten di KK Kota tapi belum sempet dapet kartu nama udah keluar wqwqwq XD

    ReplyDelete
  5. Seruu ngikutin ceritanya .. ditunggu lanjutannya yaaa

    ReplyDelete
  6. eh keren teteh banyak iklannya nih blognya, ajarin teh hihihi... deuhhh Taylor Hanson,O-EM-JII!! jadi flashbackk lah teh, wkkww. seru teh critanya, cmn nanggung blm beres yaaa, diantos kelanjutannya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh keliatan iklannya? Banyak? Mengganggu enggak?
      Soalnya selama ini saya enggak pernah liat iklannya muncul heuheu...
      Iya teh, sekarang temanya tentang alasan dulu, nanti dilanjut lagi cerita kuliahnya ;)

      Delete
  7. Saya juga kuliah di jurusan yang nggak saya rencanakan sebelumnya. Saya ingin kuliah di urusan perkomputeran. Eh lha kok saya kuliah di pertanian. Meski begitu saya bisa lulus cepat. Hehehe...

    ReplyDelete
  8. Wah keren ya dulu persiapan belajarnya, jadi sebelum SPMB sempet belanja gaun dulu hehe. Alhamdulillah walau bukan passion bisa lulus duluan dan dapet tawaran pekerjaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangankan teteh, saya sendiri juga takjub, sempet-sempetnya belanja dulu :D

      Delete
  9. teh lia ... anakku kedua sedang kuliah di planologi btw sekarang pwk itb semester 6
    apa teteh masih ngajar ?

    benar juga kata anakku banyak matkul sosial humaniora, dia sempat gak nyambung karena awalnya kepingin arsi kayak ibunya, trus aku bilang ... kalau tahu dulu planologi matkulnya gini, ibu malah pilih planologi bukan arsi yang full ngegambar studio

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi anak sama ibu kebalik? Hihihi...
      Saya mah peneliti teh, enggak ngajar... Itupun resign setelah melahirkan :D

      Delete
  10. Ternyata kita seangkatan yaa walaupun beda fakultas. Mungkin, mungkin kalau Jurusan Plano ga mensyaratkan harus dari jurusan IPA dan gak harus melalui TPB bersama anak MIPA dan Teknik, sy juga mau daftar ke situ, hihihi... Tampak asyik kuliahnya.

    ReplyDelete
  11. Yailah. Jadi googling taylor hanson! 😂
    Terjebak, tapi menikmati kan!? Ditunggu lanjutannya... 🤗

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi... Sekalian googling bsb, nsync, the moffats teh :D
      Iya, alhamdulillah menikmati :)

      Delete
  12. Kocak juga ada yang ngira planologi ada hubungannya dengan tanam-tanaman. Tos dulu Nat, sesama fans Hanson...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun, enggak nyangka teh shanty ngefans juga sama hanson...
      Soalnya orang kebanyakan kan ngefansnya sama boyzone atau bsb :D

      Delete
  13. ternyata teteh beda angkatan tipis sama saya. Dan sejujurnya banyak teman-teman saya yang mengincar dan tembus ITB meski kami dari Pekanbaru. Oh ya seinget saya diangkatan 2004, planologi itu jurusan yang hits banget lho...

    Senengnya dari cerita langsung atau blogwalking, rasanya baru kali ini ada yang sama, menghindari masuk IPS lalu masuk IPA karena pusing sama akutansi! Hehehe Toss dulu dan salam kenal :))

    ReplyDelete
  14. Dulu aku direkomendasiin tutor primagama untuk pilih planologi
    Kayaknya keren banget ya jadi perencana tata kota....

    Woohooo....hanson yaks....samaaa...

    ReplyDelete
  15. wahh selama ini aq tau planologi tuh berkaitan dengan tumbuh2an aja, ternyata salah :-0

    ReplyDelete
  16. Semoga sukses selalu diberikan rizki melimpah, apalagi di masa pandemi yang sekarang untuk melakukan aktifitas agak sulit, semoga pandemi cepat berlalu. Semangat :-)

    ReplyDelete