Sabtu, 29 Agustus kemarin, ada jadwal parenting sharing di sekolah Rashya. Qadarallah bentrok sama jadwal pengajian rutin di masjid komplek.
Suami sih jelas enggak bisa hadir parenting. Awalnya saya juga enggak tertarik ikut parenting. Saya berpikirnya parenting anak TK dan SD, paling materinya begitu-begitu doang. Sudah bosan dan khatam. Justru sekarang saya butuhnya materi parenting remaja.
Makanya, rencananya saya mau datang ke pengajian di masjid aja, penceramahnya Ust. Abdurahman Yuri (Aa Deda). Sekalian ada donor darah juga dari PMI.
| Pak suami with Aa Deda |
Eh taunya tamu bulanan datang, enggak bisa donor darah deh. Akhirnya saya memutuskan untuk datang parenting, setengah jalan aja yang penting isi daftar hadir. Lalu kabur pulang ikut pengajian, hehehe....
Tapi ternyata parentingnya seru banget. Temanya cocok untuk anak segala usia, termasuk untuk remaja. Yaitu bagaimana mendidik anak supaya tahan banting. Aih, pas banget dengan yang sedang kami butuhkan saat ini. Saya dan suami memang sering ngobrol tentang keresahan kami akan resiliensi anak-anak zaman sekarang.
Judul parenting sharing kemarin yaitu 'Fondasi Pengasuhan yang Sehat', dengan pembicara Dr. Wasmin Al Risyad, S.Pd., M.Pd., CHT.
Materi ini diawali dengan pembahasan mengenai 4 tipe anak dalam Al-Quran, di antaranya yaitu:
- Ujian (QS Al-Anfal ayat 28): Rendah di aspek fisik, intelektual, emosional, dan spiritual (sakit-sakitan, prestasi rendah, emosi buruk, malas ibadah)
- Perhiasan dunia (QS Al-Kahfi ayat 48): Tinggi di aspek fisik, intelektual, dan emosional (sehat, cantik/ganteng, prestasi akademik, sukses karir dan bisnis)
- Penyejuk hati (QS Al-Furqon: 74): Tinggi di aspek emosional dan emosional (beradab, ibadah dan akidah kokoh, keluarga samara)
- Musuh (QS Al-Ataghobun: 74): Zalim dan durhaka (sampah masyarakat)
Dalam Quran surat Ash-Shaaffat ayat 100, Nabi Ibrahim meminta kepada Allah agar diberikan anak yang saleh. Namun di ayat selanjutnya, Allah menjawab doa Nabi Ibrahim dengan memberi anak yang sabar. Kenapa? Rupanya, sabar merupakan fondasi dari kesalehan.
KBBI: sa·bar a tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah
Dalam buku Grit karya Angela Durkworth, disebutkan juga bahwa kesuksesan enggak ditentukan oleh IQ atau IPK. Tetapi ditentukan oleh resiliensi (daya tahan). Apakah keras seperti gelas kaca, tapi enggak tahan banting (jatuh ya pecah). Atau empuk seperti bola bekel, tapi tahan banting (ketika jatuh justru memantul).
Jadi sabar di sini bukan sabarnya orang Sunda yang apabila dijahati orang lain, komentarnya "keun we", "sing sabar", "tong saruana", hehehe....
Justru dalam Islam, apabila dijahati, ya balas. Dalam Quran surat Asy-Syura ayat 40, balasan suatu kejahatan adalah yang setimpal. Qisas, mata ganti dengan mata, tangan ganti dengan tangan. Meski begitu, memaafkan tentunya lebih baik.
Kesabaran/daya tahan merupakan ilmu tingkat tinggi. Belajarnya setiap hari. Latihannya setiap saat. Ujiannya sering mendadak. Sekolahnya seumur hidup. Melatih kesabaran/daya tahan bisa dilakukan dengan Gamification Parenting.
Gamification Parenting adalah metode pengasuhan anak yang mengadopsi sistem permainan. Ada misi, tantangan, poin, reward, punishment, dan lain-lain.
Mindset dalam Gamification Parenting yaitu:
- Jangan gadaikan karakter demi akademik
- Pisahkan antara kasih dengan sayang
Perbedaan antara kasih dan sayang:
- Kasih berupa materi (baju, makanan, pendidikan, dan lain-lain). Sedangkan sayang berupa pemberian afeksi (pelukan, belaian, pertemanan, diskusi yang asyik, dirawat saat sedang sakit, dipergoki saat sedang berbuat baik)
- Kasih harus bersyarat, ada maknanya, enggak boleh diberikan cuma-cuma. Sedangkan sayang enggak ada syaratnya.
- Kasih dan sayang enggak bisa dipertukarkan.
Maksudnya kasih harus ada maknanya, berikut 3 makna kasih:
- Kewajiban (sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan)
- Imbalan (upah atas kerja yang bukan kewajiban)
- Hadiah (reward atas prestasi/karya)
Di bagian ini nih mindblowing banget. Ternyata uang jajan bukan termasuk kewajiban. Konsep uang jajan ala Robert Kiyosaki mengajarkan bahwa uang jajan anak harus didapatkan melalui usaha, bukan diberikan secara cuma-cuma.
Duh, jadi PR dan bahan diskusi bareng suami nih perihal uang jajan ini.
Kurikulum ada 3 tingkat:
- Mata pelajaran
- Pengalaman sehari-hari (apa yang dilihat, didengar, dan dialami)
- Set prosedur mata pelajaran dan pengalaman
Makanya wajar misal di sekolah enggak ada mata pelajaran membuang sampah sembarangan, tetapi sehari-harinya anak melihat orang di sekitarnya membuang sampah sembarangan. Wajar juga misal di sekolah enggak ada mata pelajaran merokok, tetapi sehari-harinya anak melihat gurunya merokok.
Oleh karena itu, ada istilah 'it takes a village to raise a child'. Rumah, sekolah, dan lingkungan, semuanya bertanggung jawab terhadap pendidikan seorang anak.
Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Di mana enggak ada kemauan, di situ adaaa aja alasannya. Semangat!
No comments :
Post a Comment