Jav sudah dua bulan jadi anak SMA. Masya Allah terharu, tapi banyak sedihnya. Kenapa waktu cepat banget berlalu ya. Rasanya baru kemarin mengantar dia sekolah hari pertama di TK, huhuhu....
Di jenjang SMA ini, Jav berjodoh dengan sekolah negeri. Tentu aja sebelumnya kami harus melalui proses SPMB yang wow banget itu. Pengalaman yang enggak akan terlupakan deh. Bingung, antusias, panik, marah, kecewa, deg-degan, pasrah, dan lega berkumpul menjadi satu.
Kenapa Sekolah Negeri?
Sebenarnya kami sudah mendaftarkan Jav ke salah satu sekolah swasta. Semuanya cocok. Program sekolahnya sesuai dengan nilai-nilai keluarga kami, biayanya cukup terjangkau bagi kami, lokasinya strategis, teman-teman SMP-nya juga banyak yang meneruskan ke sana.
Hanya satu kekurangannya, jaraknya jauh dari rumah, 13 km dong. Saya sih stres membayangkan biaya transportasi dan waktu yang harus dia habiskan di jalan.
Makanya kami merasa enggak ada salahnya ikut mencoba SPMB sekolah negeri. Karena dari dulu pun, saya sih berharapnya anak-anak itu SD dan SMP-nya di sekolah swasta, lalu melanjutkan SMA di sekolah negeri dan PT di kampus luar negeri, hihihi....
Lingkungan sekolah negeri yang lebih heterogen, bisa menjadi miniatur kehidupan dunia nyata. Apalagi anaknya juga memang ingin ke SMA negeri, bosan katanya di sekolah swasta.
Persiapan Dadakan
Persiapan mengikuti SPMB ini saya lakukan sejak beberapa minggu sebelum kick off. Tiba-tiba muncul postingan Instagram salah satu sekolah di Jawa Barat yang menyebutkan untuk segera melakukan aktivasi IKD Disdukcapil. Katanya akan digunakan sebagai dasar dalam proses SPMB.
Sesuai petunjuk, akhirnya saya pasang aplikasi IKD di rumah dan aktivasi di kantor kecamatan. Yup, enggak bisa aktivasi sendiri, harus sama operator di kantor kecamatan. Alhamdulillah cuma antre sebentar dan prosesnya langsung selesai dalam beberapa menit. KTP saya dan suami serta KIA anak-anak pun otomatis muncul di aplikasi.
Loh, tapi kok KK-nya enggak muncul. Kata petugas di kantor kecamatan, itu karena KK kami belum di-upgrade ke KK barcode. Duh, padahal setahun yang lalu seorang teman pernah mengingatkan untuk segera upgrade KK barcode.
Berhubung katanya usia KK untuk SPMB itu minimal 1 tahun, ya sudah lah saya tahan dulu upgrade-nya. Namun ternyata kata teman yang lain, bisa upgrade KK barcode, nanti lampirkan aja KK lamanya saat pendaftaran SPMB.
Karena ingin proses yang lebih cepat, saya memutuskan untuk mengurus KK barcode langsung ke Disdukcapil di MIM. Dengan membawa KK lama, surat nikah, dan KTP sebagai persyaratan. Supaya enggak mubazir, saya sekalian update pendidikan terakhir Jav. Jadi ditambah Ijazah SD juga.
Eh, taunya memang harus diurus di kantor kelurahan atau kecamatan. Untung petugasnya baik. KK kami bisa diurus di sana. Hasilnya dikirim ke email beberapa jam kemudian. Tinggal diunduh deh.
Kick Off yang Dinanti
Pengalaman pertama ikut SPMB sekolah negeri membuat saya bertekad untuk menyimak Kick Off SPMB Jabar meski hanya streaming melalui Youtube. Dipantau sejam, dua jam, isinya cuma rentetan sambutan membahas kemenangan PERSIB dan pementasan seni dari anak-anak sekolah.
Hadeuh, nyerah.... Akhirnya nonton siaran ulangnya aja. Ditambah Materi Sosialisasi Juklak dan Petunjuk Teknis SPMB yang dibagikan di WAG sekolah asal.
Sekolah Maung, Yes or No?
Salah satu yang baru di SPMB Jabar tahun ini yaitu adanya Sekolah Maung. Di Bandung ada dua, SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung.
Tapi Jav tuh inginnya daftar ke SMAN 12 Bandung. Enggak mau yang lain, termasuk ke SMAN yang ada di dekat rumah melalui jalur Domisili maupun Sekolah Maung.
Padahal saya merasa sayang kalau Jav enggak mencoba daftar Sekolah Maung, terutama melalui jalur Potensi Akademik. Kalau jalur Kompetensi Akademik mah, memang yakin enggak akan masuk sih, hehehe.... Nilai rapot dari SMP-nya memang apa adanya. Meski dari kompetensi, saya yakin enggak kalah bersaing dengan sekolah lain. Bisa dibuktikan lah dari nilai TKA-nya.
Pas saya cek, jalur Potensi Akademik itu syaratnya memiliki kecerdasan di atas rata-rata dengan IQ sebesar 130 ke atas (skala Wichsler).
Mengatasi rasa penasaran, sambil membujuk Jav, saya pun mencari jadwal tes di psikolog yang memenuhi syarat (terdaftar di HIMPSI). Yang saya kenal dan lokasinya dekat, sudah penuh. Yang paling murah di UNPAD, lokasinya jauh. Anaknya enggak tertarik pula. Malas harus mengikuti psikotes selama 4-5 jam.
Eh, algoritma Instagram memunculkan psikotes yang bisa dilakukan secara online. Langsung deh daftar. Lumayan, Jav yang tadinya malas-malasan jadi sedikit semangat kalau tesnya online.
Namun sehari sebelum tes, kami tiba-tiba diberitahu pihak klinik kalau ternyata aturan psikotes untuk SPMB enggak bisa dilakukan secara online. Kami diberi pilihan, mau offline atau refund. Duh, kalau refund pusing lagi mencari tempat psikotesnya.
Akhirnya kami memilih tes offline aja. Itupun jadwalnya berubah. Plus dalam kondisi badan Jav enggak fit setelah sibuk mempersiapkan sidang akhir jenjang di sekolahnya.
Hasilnya, IQ-nya di bawah 130. Jav lega, saya kecewa, hehehe.... Apalagi setelah saya cek klasemen akhirnya, skor dari hasil gabungan nilai rapor dan TKA Jav jauh di atas batas skor terendah, baik di SMAN 3 maupun SMAN 5 Bandung. Gemas. Tapi ya sudahlah, jauh juga dari rumah.
Hampir Batal Daftar SPMB
Yang baru lainnya di SPMB Jabar tahun ini yaitu adanya Pemetaan (PCMB). Karena Jav ingin daftar ke SMAN 12 Bandung, berarti harus daftar melalui jalur Prestasi. Itupun enggak mungkin cuma memilih 1 sekolah. Kan sayang ya, mending maksimalkan peluang dengan memilih 3 sekolah. Setelah berdiskusi, akhirnya kami sepakat akan memilih SMAN 8, SMAN 12, dan SMAN 22 Bandung.
Saya sih sudah pusing duluan melihat daftar dokumen administrasi yang harus disiapkan. Tapi Jav tetap semangat menyiapkan sendiri, saya membantu mengecek aja.
Namun setelah semua dokumen diunggah, saya meminta Jav untuk enggak langsung memasukkan pilihan sekolahnya. "Tahan, pantau klasemen dulu," kata saya.
Eh, ternyata benar kan. Meski awalnya posisi Jav aman di ketiga sekolah tersebut, akhirnya enggak bisa masuk. Skornya tinggi-tinggi euy. Duh, untung kan belum di-submit. Kalau sudah terlanjur submit, Jav enggak bisa masuk ke mana-mana.
Namun bingung juga, ganti pilihan sekolah ke mana ya. "Udah enggak usah jadi ikut SPMB aja ya Jav?" tanya saya pasrah. "Ih aku udah capek-capek scan dan upload dokumen," jawabnya enggak terima. Hehe, kasian juga. "Tapi mau daftar ke mana?" saya bertanya karena rasanya benar-benar gelap.
Akhirnya kami pun mencoba membuka mata lebih lebar. Malam-malam browsing bareng suami mencari tau sekolah negeri apa aja yang oke dan lokasinya enggak terlalu jauh selain di daerah Buah Batu dan Kiaracondong. Keesokan paginya kami juga menyempatkan untuk survei langsung ke lokasi. Hmmm, enggak ada yang membuat kami sreg.
Setitik Harapan
Saat tengah malam sedang pillow talk sama suami, saya tiba-tiba dapat pencerahan. Awalnya saya membatin, kenapa di Pemetaan SPMB sekolah reguler ini enggak ada jalur Potensi Akademik seperti di Sekolah Maung.
Iseng cek website, eh ternyata ada dong. Sayanya aja yang enggak ngeuh karena namanya bukan Potensi Akademik, tapi CIBI (Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa). Masuknya di jalur Afirmasi bareng sama MBK (Murid Berkebutuhan Khusus) dan KETM (Keluarga Ekonomi Tidak Mampu).
| Tuh, enggak ada jalur CIBI di Juklak dan Juknis |
Syaratnya sama, memiliki kecerdasan di atas rata-rata dengan IQ sebesar 130 ke atas (skala Wichsler).
Keesokan paginya, saya langsung meminta Jav untuk mengikuti psikotes (lagi). Namanya juga usaha, coba dulu (lagi) aja kan ya.
Kenapa saya keukeuh? Pertama, kondisi Jav sekarang sudah lebih santai dan fit. Kedua, hasil tes IQ sebelumnya kurang sedikit dari syarat. Dan terakhir, bukannya sombong, tapi melihat IQ bundanya, harusnya sih IQ Jav enggak jauh dari IQ bundanya. Kan katanya kecerdasan anak menurun dari ibu. Katanya, hehehe.... Wallahualam.
Algoritma Instagram kembali memunculkan psikolog yang menyediakan Tes CIBI. Langsung lah saya hubungi. Lokasinya enggak terlalu jauh dari rumah. Dibanding yang lain, harganya lumayan lebih tinggi. Tapi hasilnya bisa cepat, dan yang paling penting masih ada slot available. Tes minggu pagi, hasil softcopy-nya bisa didapatkan minggu malam.
Sayang, ternyata anaknya enggak seantusias bundanya. Dia pesimis dengan hasilnya. Ditambah malas harus mengikuti psikotes 4-5 jam (lagi).
Psikotes Dadakan
Minggu, 7 Juni, setelah dibujuk, untungnya akhirnya anaknya mau. Langsung deh daftar dadakan. Daftar pukul 6 pagi untuk tes pukul 7.30 pagi.
Eh, di lokasi malah bertemu teman suami yang anaknya mau psikotes juga di sana. Bukan Tes CIBI, tapi Tes Minat Bakat sebagai bahan pertimbangan sebelum memilih antara Sekolah Islam Swasta atau Sekolah Maung. Beda level, hihihi....
Selama menunggu hasil, saya berdoa terus. Karena ini satu-satunya harapan untuk bisa ikut SPMB di sekolah incaran. Kalau enggak bisa, sudah lah, sekolah swasta aja. Yang sudah jelas kualitasnya, daripada memaksakan asal masuk ke sekolah negeri yang enggak jelas.
Malamnya suami mengajak kami ngemil ke Summarecon. Pengen Eskalasi Coffee sama Chikuro katanya.
Di perjalanan menuju Summarecon, saya mendapat softcopy hasil tes dari psikolog. Dibuka bersama-sama di tempat parkir Summaba. Hasilnya alhamdulillah IQ di atas 130. Bisa daftar SPMB ke sekolah incaran melalui jalur CIBI. Yeay!
Jalur CIBI-nya Enggak Ada
Minggu tengah malam, pulang dari Summarecon, sesampainya di rumah, Jav langsung semangat membuka website SPMB Jabar. Tapi kaget banget karena pilihan jalur CIBI-nya enggak ada.
Setelah diulik, ternyata kalau mau daftar melalui jalur CIBI, seharusnya di halaman awal Jav mencentang status sebagai Mahasiswa Berkebutuhan Khusus, hmmm.... Setelah dicentang, Jav pun bisa menyelesaikan proses pendaftaran dengan lancar. Tinggal menunggu proses verifikasi data.
Informasi Enggak Jelas
Salah satu berkas yang harus diunggah yaitu Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) yang sudah dicetak, diisi, dan ditandatangani oleh orang tua.
Di juknis dan juklak, enggak ada penjelasannya tuh tentang materai. Di grup sekolah pun, gurunya bilang tahun ini enggak perlu memakai materai. Ya sudah, meski stok materai aman, suami menandatangani surat tersebut tanpa materai.
Tapi ternyata Senin sore, update akun Jav statusnya butuh perbaikan. Rupanya SPTJM-nya harus ditandatangan di atas materai. Hadeuh, suami sudah berangkat ke luar kota pula. Akhirnya saya deh yang menandatangani.
Agak kesal karena seharusnya sudah beres verifikasi data, jadi tertunda karena informasi yang enggak jelas.
Dag Dig Dug Dimulai
Alhamdulillah, akhirnya Selasa siang status Jav lolos verifikasi data. Pada klasemen sementara di SMAN 8, posisi awalnya berada di ranking 13 dari 34 kuota dan 38 pendaftar. Agak lega, berharap semoga sampai penutupan saingannya sedikit, hehehe....
Namun di sisi lain, agak kecewa karena jarak garis lurus rumah kami ke sekolah ternyata 5,01 km. Lumayan jauh juga. Yup, perankingannya menggunakan jarak dari rumah ke sekolah. Sedih, #EnggakAdil hiks....
Rasanya bakal lebih adil (dan lebih pede bagi kami) kalau perankingannya menggunakan skor dari nilai rapor dan TKA deh. Murni hasil usaha anak. Pasti bakal nyeseuk banget kalau enggak diterima hanya gara-gara jarak rumah yang jauh.
Ditambah lagi ternyata pendaftaran PCMB yang seharusnya ditutup tanggal 8 Juni, diundur menjadi tanggal 9 Juni. Rupanya, menunggu anak-anak yang gagal masuk Sekolah Maung dan belum berhasil daftar PCMB. #EnggakAdil ih, ckckck....
Menurut saya ya, supaya adil, seharusnya pendaftaran Sekolah Maung dan PCMB itu dilakukan di waktu yang sama.
Keesokan harinya, Selasa tanggal 9 Juni posisi Jav turun ke ranking 14. Plus penutupan pendaftaran PCMB diundur (lagi) menjadi 11 Juni. Ya ampun, benar-benar enggak profesional dan #EnggakAdil.
Rabu 10 Juni, posisi Jav tergeser jauh oleh anak-anak buangan Sekolah Maung yang daftar di masa perpanjangan setelah 8 Juni ke ranking 25.
Saya enggak bisa memprediksi jarak rumah anak-anak yang datanya belum terverifikasi. Tapi saya bisa memantau anak-anak yang statusnya masih antrean (karena pilihan pertamanya bukan di SMAN 8) dan jarak rumahnya lebih dekat dari Jav (kurang dari 5,01 km).
Saya cek satu persatu bagaimana posisinya di klasemen sementara sekolah pilihan pertama dan/atau keduanya. Seniat itu, heuheu.... Sejauh ini posisi mereka aman sih. Saya doakan mereka diterima di sekolah pilihan pertamanya, supaya enggak menggeser posisi Jav di SMAN 8, hehehe....
Tapi karena masih banyak data yang belum diverifikasi, Kamis 11 Juni posisi Jav turun lagi ke ranking 31. Jumat 12 Juni turun lagi ke ranking 33. Surprise banget, posisi 32 dan 34-nya ternyata teman Jav di SD.
Baca juga, Pengalaman Jav Sekolah di SD Binar Indonesia
Terakhir, saat semua data selesai diverifikasi hari Sabtu 13 Juni dini hari, berkat doa dari semuanya dan atas izin Allah, posisi Jav ada di ranking 34. Yup, ranking 34 dari 34 kuota dan 69 pendaftar. Masya Allah, nyaris banget. Benar-benar di ujung tanduk. Alhamdulillah, huhuhu....
Masih Banyak Drama
Dramanya sudah selesai? Enggak dong. Masih ada website yang error enggak bisa dibuka, saat waktunya pengumuman 13 Juni sore. Soalnya masih harus melakukan konfirmasi hasil Pemetaan, setuju atau enggak.
Bagi yang menolak dan belum terpetakan, bisa mencoba daftar lagi pada Tahap 1 dan Tahap 2, yang sebenarnya menurut saya percuma sih, kuotanya juga sudah habis.
Tanggal 10 Juli, baru ada update status dari 'terpetakan pada SMAN 8 Bandung' menjadi 'terpetakan di PCMB dan Lulus Tahap 2 diterima di SMAN 8 Bandung Jalur Afirmasi'.
Jadwal ulangnya pun mepet jadwal MPLS. Jav daftar ulang tanggal 13 Juli, sementara MPLS dimulai tanggal 15 Juli.
| Daftar ulang |
Penutup
Fiuh, seru banget ya mendaftarkan anak ke sekolah negeri itu. Sensasinya benar-benar berbeda. Panitia yang enggak profesional bikin darah tinggi. Deg-degan setiap saat sambil bolak-balik memantau klasemen. Mana di-updatenya selalu tengah malam, membuat tidur jadi enggak nyenyak.
Alhamdulillah rezeki Jav bisa sealmamater sama bundanya.
Tapi perjuangan belum selesai. Saya berharap semoga Jav dilancarkan sekolahnya, semoga dia dikelilingi teman-teman dan guru-guru yang mendukung, semoga dia bisa memaksimalkan potensinya, serta menemukan dan mencapai cita-cita dengan rido Allah.
No comments :
Post a Comment