Monday, July 10, 2017

Tentang Varikokel


Beberapa waktu yang lalu, suami baru saja menjalani operasi varikokel. Jujur, saya baru tahu kali ini loh ada yang namanya penyakit varikokel. Padahal kalau browsing, ternyata banyak juga yang sudah pernah mengalami. Untuk meramaikan topik tentang varikokel ini di dunia maya, saya mau berbagi cerita juga nih mengenai pengalaman suami dengan varikokelnya.

Kronologis
Jadi, beberapa tahun terakhir ini, suami saya sering mengeluh sakit enggak nyaman di bagian perut bawahnya. Agak aneh, karena suami saya bukan tipe orang yang susah minum dan sering menahan pipis. Tapi karena kambuhnya jarang, jadi ya dibiarkan saja.

Namun tiba-tiba, bulan Oktober kemarin, sakitnya menjadi semakin parah. Berjalan, berganti posisi dari duduk ke berdiri dan sebaliknya, hingga salat pun harus pelan-pelan sekali. Menghambat semua aktivitas.

Beberapa hari kemudian, setelah nyerinya agak berkurang, suami datang ke Puskesmas Margahayu. Maksudnya untuk meminta surat rujukan ke dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit. Memanfaatkan BPJS, hohoho.... Tetapi dokter di sana (yang rupanya adik kelas saya di SMA) enggak langsung memberikannya. Dicoba ditangani di fasilitas kesehatan tingkat satu dulu. Apabila enggak ada kemajuan, baru diberi surat rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan. Suami pun diberi obat anti nyeri. Selama mengkonsumsi obat tersebut, nyerinya memang berkurang. Namun setelah obatnya habis, terasa nyeri lagi. 

Akhirnya suami langsung mengunjungi dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Al-Islam. Malas balik lagi ke puskesmas. Dokter senior tersebut memberi obat anti nyeri juga serta surat pengantar untuk melakukan tes darah dan tes urine. Ternyata hasil tesnya bagus, enggak ada masalah. 

Bingung, suami pun kembali ke puskesmas serta menunjukkan hasil tes darah dan tes urine. Kini dokter di puskesmas memberi surat rujukan ke dokter spesialis bedah urologi di Rumah Sakit Al-Islam. Pssst, dokternya ganteng loh, mirip artis siapa ya. Oh itu, Okan Cornelius, hihihi.... Dokter tersebut memeriksa skrotum suami dan mengatakan bahwa mungkin suami mengalami varikokel. Agar lebih pasti, beliau memberi surat pengantar untuk melakukan USG ginjal dan USG skrotum.

Karena menggunakan BPJS, USG-nya enggak bisa langsung. Peraturan di Rumah Sakit Al-Islam sih harus ada jarak selang tiga hari. Hasil USG ginjalnya oke. Tetapi hasil USG skrotum memang menunjukkan bahwa terdapat varikokel di kedua skrotum suami. Bahasa kerennya bilateral varicocele. Karena sudah terasa nyeri, dokter menyebutnya varikokel grade 2.

Varikokel, Apaan Tuh?
Teman-teman tahu varises kan? Itu loh, pembengkakan pembuluh darah di kaki. Nah, varikokel juga mirip varises, tapi bukan di kaki melainkan di skrotum. Kata dokter, katup di pembuluh darah venanya enggak berfungsi. Jadi darah dari skrotum enggak bisa mengalir kembali ke jantung. Makanya terjadi penumpukan darah sehingga menimbulkan pelebaran dan pembengkakan pembuluh darah. Hmmm, ada-ada saja ya.

Ketika saya menanyakan penyebabnya, dokter enggak memberikan jawaban yang pasti. Bisa karena memang bawaan lahir, sering mengangkat benda berat, atau mengendarai motor dengan tangki bensin di depan. Kalau suami, mungkin karena bawaan lahir kali ya. Soalnya waktu bayi pernah hernia juga. Serta enggak pernah naik motor gede dan bukan pula kuli panggul, hehehe....

Varikokel, Bisa Punya Anak?
Setelah mendengar bahwa suami mengalami varikokel, saya langsung mencari tahu tentang penyakit tersebut di Google. Hasilnya mengejutkan. Ternyata sebagian besar pria yang mengalami varikokel enggak merasakan gejala apapun, termasuk nyeri seperti yang dialami suami. Santai saja. Biasanya mereka enggak sengaja mengetahui menderita varikokel ketika mengikuti tes kesehatan sebelum masuk akademi kepolisian/militer. Atau ketika menjalani program hamil dan mengikuti tes kesuburan. 

Yup, varikokel bisa memengaruhi tingkat kesuburan pria. Aliran darah yang enggak lancar membuat suhu di skrotum menjadi lebih tinggi. Sehingga menyebabkan penurunan kualitas sperma yang dihasilkan oleh testis. 

Saya lumayan kaget ketika mengetahui informasi tersebut. Soalnya saya dan suami sedang menjalankan program adik untuk Jav. Tapi mau bagaimana lagi, saya hanya bisa mencoba untuk pasrah menerima kenyataan bahwa mungkin belum dapat hamil lagi sampai varikokel suami sembuh. Dalam pikiran saya, yang enggak merasakan nyeri saja susah mempunyai anak, bagaimana suami yang sudah sampai nyeri.

Tapi memang ya, kalau Allah sudah berkehendak mah, kun fayakun. Faktanya, akhir November, saat dokter secara resmi menyatakan bahwa suami positif varikokel, saya juga telat haid. Nyobain test pack, hasilnya positif. Sempat khawatir blighted ovum lagi, tapi alhamdulillah enggak. Sekarang usia kandungan saya sudah 36 minggu, lagi deg-degan menjelang persalinan, heuheu.... Mohon doanya ya teman-teman :)

Penantian Panjang
Satu-satunya cara untuk menyembuhkan varikokel yaitu dengan operasi. Enggak ada cara lain, baik melalui konsumsi obat ataupun menjalani terapi. Yup, harus operasi, yaitu melakukan pembedahan di perut bagian bawah dan memotong atau mengikat (lupa) pembuluh darah vena yang bengkak. Karena apabila dibiarkan, selain memengaruhi tingkat kesuburan, juga bisa menjadi tumor. 

Suami pun mendaftarkan diri untuk dioperasi. Namun karena keterbatasan kamar rawat inap, ternyata harus menunggu dan masuk dalam waiting list ke-23, heuheu....

Waiting list di Rumah Sakit Al-Islam yang panjang ditambah perkataan dokter bahwa kemungkinan operasinya akan dilakukan dua kali (sebelah kanan atau kiri dulu) membuat suami mencoba pindah ke Rumah Sakit Muhammadiyah. Kebetulan rumah sakit tersebut bekerjasama dengan Prudential. Mudah-mudahan dengan begitu operasinya bisa dilakukan sekali saja. Enggak mau sakit dan repot dua kali.

Tapi hasilnya malah lebih parah lagi. Pengajuan suami saya enggak diterima oleh Prudential. Alasannya karena operasi untuk kosmetik dan fertilitas enggak dijamin asuransi. Lah, memangnya suami saya operasi untuk alasan estetika dan karena saya susah hamil? Jelas-jelas saya sedang hamil, dan suami disarankan dokter untuk operasi karena rasa nyeri yang mengganggu serta khawatir akan menjadi tumor. Ckckck, mengecewakan. Sudah membayar premi tiap bulan, giliran sedang membutuhkan, enggak bisa dimanfaatkan. 

Malas berurusan dengan pihak asuransi, suami memilih untuk kembali menunggu giliran di Rumah Sakit Al-Islam. Baru tiga bulan kemudian suami mendapat panggilan untuk operasi. Namun karena sedang sibuk di luar kota, suami meminta operasinya diundur sampai akhir April atau awal Mei. 

Operasi Varikokel
Suatu hari di awal Mei pukul sembilan pagi, suami mendapat telepon dari rumah sakit. Sudah ada kamar yang tersedia. Kami pun segera bersiap dan berangkat ke rumah sakit pukul sepuluh. Tiba di rumah sakit, kami langsung datang ke bagian pendaftaran rawat inap. 

Setelah urusan administrasi selesai, kami diarahkan menuju bagian keperawatan. Di sana suami diperiksa kesehatannya seperti suhu tubuh, tekanan darah, dan sedikit wawancara. Kemudian diberi surat pengantar untuk melakukan tes darah dan rontgen dada. Beres semua, kami menyempatkan diri untuk salat Dzuhur dan makan siang.

Operasi dijadwalkan pada pukul delapan malam, oleh karena itu pukul dua siang suami harus mulai puasa serta langsung menempati ruang kamar inap. Berhubung suami sudah nyaman di kamarnya, saya memutuskan untuk pulang dulu. Melihat kondisi Jav. 

Saya kembali ke rumah sakit setelah salat Magrib. Pssst, kali itu merupakan pengalaman pertama saya menyetir mobil di malam hari dan diiringi hujan. Lumayan bikin keringatan, hihihi.... Ketika tiba di ruangan, suami sedang mulai dipasangi infus. Nah, pukul tujuh, seorang ustadz masuk ke ruangan. Kaget, hehehe.... Rupanya di rumah sakit ini, ada rutinitas berdoa bersama sejam sebelum operasi. Keren ya.... 

Pukul delapan, perawat mengantar kami ke ruang isolasi. Kirain bakal langsung operasi, tapi ternyata dokternya belum tiba, huhuhu.... Baru pukul sembilan suami masuk ke ruang operasi. Untuk hiburan selama menunggu, saya sudah menyiapkan beberapa buku dan film di ZenFone 3 Max. Tapi enggak ada satupun buku yang saya baca atau film yang saya tonton. Enggak mood, heuheu....

Pukul setengah sebelas, dokter menghampiri saya. Beliau menyampaikan bahwa operasinya sudah selesai, kanan dan kiri. Alhamdulillah.... Beliau juga memberi tahu bahwa apabila enggak ada masalah, suami boleh langsung pulang keesokan harinya. Tapi suami masih belum keluar juga dari ruang operasi, hiks.... Baru pukul dua belas suami dibawa kembali ke kamar. Setelah berbicara dengan suami, saya baru tahu bahwa saat operasi dia dibius total. Hooo, kirain bius lokal. 

Hingga siang keesokan harinya, memang enggak ada keluhan. Maka kami pun pulang setelah selesai makan siang. Hanya membawa antibiotik dan obat antinyeri untuk dikonsumsi suami di rumah.

Pemulihan 
Dokter meminta suami untuk kontrol lima hari setelah operasi. Selama itu, luka bekas operasi enggak boleh terkena air. Jadi mandinya cukup diseka saja. 

Saat kontrol, dokter memberi resep berupa perban dan cairannya. Setiap hari selama tiga hari, perbannya harus diganti. Adapun pantangannya yaitu masih enggak boleh terkena air sampai tiga hari, enggak boleh berolahraga selama satu bulan, enggak boleh mengangkat benda berat selama satu bulan, dan enggak boleh mengendarai motor selama tiga minggu. Dokter juga menyarankan suami untuk mengenakan celana supporter yang bisa dibeli di toko perlengkapan olahraga. 

Alhamdulillah....
Varikokel yang dialami suami ini cukup menyita pikiran saya selama berbulan-bulan. Soalnya harus dioperasi segala. Takut kenapa-kenapa, huhu....

Namun setelah menjalani semua prosesnya, saya benar-benar merasa bersyukur. Operasinya lancar (enggak ada komplikasi dan lain-lain), langsung kanan dan kiri (enggak mesti operasi dua kali), pemulihannya cepat (enggak ada keluhan, bekas lukanya cepat kering, seminggu sudah bisa ke kantor lagi), biayanya ditanggung BPJS (saya hanya mengeluarkan biaya untuk membeli pispot serta perban dan kawan-kawannya untuk perawatan di rumah), pelayanan rumah sakit memuaskan (Islami, urusan keuangan diselesaikan oleh perawat, dan lain-lain).

Ya, begitulah cerita dan sedikit curhat colongan saya tentang pengalaman dengan varikokel. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang membutuhkan :)

11 comments :

  1. Waah.. mba, suaminya punya penyakit yg sama dgn suami ku... tapi gegara itu aku jadi sulit pny anak krn mungkin level suami udah lbh parah :) alhamdulillah setelah operasi suami jg sembuh.. sehat2 terus yaaa

    ReplyDelete
  2. Mba, emang asuransi BPJS gitu.. Hanya sebagian rumah sakit yang bener-bener mau nerima. Aku juga pernah BO, udah bayar tiap bulan asuransinya dan giliran mau dipake gak bisa. Bisanya 1 bulan kemudian, yah namanya BO kan harus cepet-cepet diangkat .. Akhirnya pake dana pribadi, tapi alhamdulillah diganti sama perusahaan suami. Jadi sekarang aku jaga2, punya 2 asuransi dan gak terlalu berharap sama bpjs lah. Kemarin juga operasi Tumor Nodul Thyroid gak pake bpjs, karena susah ngurusnya. Tapi alhamdulillah mba bisa ketanggung yaa, semoga sehat selalu mba dan keluarga

    ReplyDelete
  3. terasa banget ya manfaatnya bpjs, aku belum bikin nih padahal dari sekian purnama mamahku udah bolak balik ngingetin supaya bikin bpjs karena paksuami bukan orang kantoran alias wirausaha aja

    sehat2 selalu untuk mbak nathalia, pak suami dan keluarga

    ReplyDelete
  4. Kalau saya malah pernah kena varises yang mirip-mirip dengan suami teteh, penyebabnya karena tekanan perut selama kehamilan dan sering duduk lama saat hamil. Sempat takut juga varisesnya berulang saat hamil kedua. Alhamdulillah pas hamil kedua ternyata gak berulang karena saya sudah gak terlalu sering duduk pas hamil kedua dan mengurangi makan jadi hamil kedua gak terlalu bersar seperti kehamilan pertama.

    ReplyDelete
  5. Aku baru denger penyakit ini mbk,aku kira tadi hernia.
    semoga suaminya mbk Lia lekas sembuh, semoga persalinannya lancar ya mbk

    ReplyDelete
  6. waduhhh.... harus waspda nih saya juga mirip gejalanya.

    semoga kita dalam lindungan Tuhan AAMMIINN...

    ReplyDelete
  7. saya baru tau tentang varikokel. Terima kasih banyak infonya. Semoga setelah ini sehat selalu, ya. aamiin

    ReplyDelete
  8. oh berarti kalo gak lulus akabri itu akibat penyakit ini tho mbak? emang byk yg gagal krn ada "varises" ,tapi mungkin ini yg dimaksud ya.. thanks mbak infonya.

    eh ya, selamat ya mbak, semoga persalinannya nanti lancar. Amiin.

    ReplyDelete
  9. baru tahu ttg penyakit ini mba makasih sharingnya btw aku salfok sama dokter gantengnya mirip okan wkwkwk *komen plg ngeselin ��

    ReplyDelete
  10. Kebetulan aku juga lagi program hamil mbak. Ntar coba deh suami periksa juga barangkali ada hubungannya sama penyakit ini.

    ReplyDelete
  11. Aku bacanya kok ngilu yaa mba :o.. Varises di kaki aja sakit nyeri, apalagi di scrotum... Ga kebayang lah..untung semua di tanggung bpjs ya mba.. Itu emg berguna bgt lah.. Drpd asuransi yg katanya slalu mendengarkan, selalu mengerti :p. Dulu aku jg pake dia. Aku tutup skr. Mengecwakan memang..

    ReplyDelete