Sunday, November 13, 2022

Ngomong Dong, Rashya [4]: Gangguan Artikulasi



Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya, alhamdulillah sejak usia 2 tahun Rashya sudah lancar berbicara, baceo. Tapi... artikulasinya belum jelas.

Saya perhatikan, setiap waktu ada perbaikan sih, perbendaharaan katanya terus bertambah. Namun hingga usianya 4 tahun, hanya saya dan kakaknya yang bisa mengerti kata-kata yang Rashya ucapkan. Bahkan ayah dan neneknya pun sering enggak mengerti. Apalagi orang lain, hiks....

Saat usianya 5 tahun pun masih begitu. Masih banyak kata-kata yang belum jelas pelafalannya. Biasanya sih kata-kata yang cukup susah. Misal kata-kata yang mengandung huruf R, S, dan lain-lain. Atau kata-kata yang memiliki lebih dari 2 suku kata, seperti pemadam kebakaran, dan lain-lain.

Mumpung kasus Covid-19 sudah mulai mereda, awal tahun ini tadinya ingin konsultasi ke Kids Learning Center di Grand Sharon Residence, sesuai rekomendasi kepala sekolah sekaligus psikolog di sekolah kakaknya. Tapi setelah dipikir-pikir, nanti saja deh kalau sudah sekolah.

Makanya ketika masuk TK pertengahan tahun kemarin, saya minta perhatian khusus dari gurunya mengenai kemampuan berbahasa Rashya. Dan memang menurut pengamatan gurunya, Rashya sering mengalami salah paham dengan teman-temannya. Kalau temannya bercanda, Rashya sering merespon dengan cara memukul atau menendang temannya. Rashya masih memiliki keterbatasan untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya secara lisan karena bicaranya belum jelas.

Hal tersebut diperkuat dengan laporan hasil observasi psikolog Psy Center di sekolahnya. Fix, Rashya dinyatakan mengalami gangguan artikulasi dan direkomendasikan untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan dan terapi wicara. Enggak kaget sih, tapi tetap saja sedih.

Sayangnya, belum ada terapis wicara di Psy Center. Kami direkomendasikan untuk terapi di sebuah klinik di Antapani. Jauh euy....

Saya juga coba menghubungi Kids Learning Center. Ternyata tempatnya bukan di Grand Sharon Residence lagi, sudah pindah ke Margahayu. Sama-sama enak sih. Tapi ternyata penuh, harus masuk waiting list.

Inginnya mah santai saja, menunggu waiting list. Tapi kasihan Rashya. Apalagi puncaknya pernah kejadian di rumah, Rashya bilang "boten" sambil menunjukkan botol. Saya, suami, dan kakaknya enggak ada yang mengerti apa maksud Rashya. Bukan "botol", bukan juga "bosen". Hingga akhirnya Rashya marah, melemparkan botolnya, dan menangis, hiks....

Setelah drama penuh tangisan dan teriakan Rashya, serta saya coba 'gali' lagi pelan-pelan, akhirnya ketahuan kalau maksud Rashya itu "bocor", huhuhu....

Saya dan suami pun segera mencoba konsul ke dr. Burhan di Klinik Tumbuh Kembang RSKIA Harapan Bunda. Rashya diobservasi lagi dan dirujuk untuk terapi wicara di Klinik Brawijaya, soalnya beliau praktik di sana juga. Katanya di RSKIA Harapan Bunda juga bakal ada terapis, tapi entah kapan.

Lumayan juga kalau harus ke Klinik Brawijaya, di Buah Batu euy. Tapi daripada menunggu terapis di RSKIA Harapan Bunda yang belum jelas kapan buka praktiknya, akhirnya dikereyeuh saja lah terapi ke Klinik Brawijaya.

Terapis wicara pertama di Klinik Brawijaya yang saya hubungi ternyata jadwalnya bentrok dengan jadwal saya mengajar SHiNE Dance Fitness. Kemudian dialihkan ke terapis wicara yang lain, Teh Fita. Alhamdulillah ada jadwal yang cocok, Jumat pukul 13. Lumayan lah, bisa berangkat pas Jumatan, jadi jalannya enggak terlalu macet.

Pertemuan pertama, perkenalan sambil observasi lagi. Rashya diajak main puzzle, main balok, meniup balon sabun, meniup terompet pesta, dan lain-lain sambil mengobrol. Selain itu Rashya juga diminta membacakan kalimat dari kartu bergambar. Ditutup dengan terapi. Waktunya 45 menit, ditambah laporan 15 menit, jadi total 60 menit.

Dari hasil observasi terapis, ketahuan kalau Rashya mengucapkan konsonan S, C, J, dan R dengan kurang tepat. Saya pun diberi program latihan untuk terapi di rumah, sebelum bertemu lagi dengan terapis seminggu kemudian.

Ada bukunya, supaya enggak lupa. Jadi setiap pertemuan, terapis membuat catatan evaluasi home program yang sudah dilakukan, serta catatan intervensi (tindakan terapi yang sudah dilakukan dan home program yang harus dilakukan).


Alhamdulillah, selama terapi, Rashya cukup kooperatif, baik di klinik maupun di rumah. Setelah 4 kali pertemuan, Rashya pun dinyatakan sudah mengalami kemajuan. Untuk huruf S, C, dan J sudah ada perbaikan, meski kadang lupa dan harus diingatkan.

Sedangkan untuk huruf R, lumayan sudah mulai terbentuk meski masih tipis sekali. Saya enggak perlu khawatir karena kemampuan mengucapkan huruf R batas waktunya masih lama, yaitu sampai usianya 8 tahun. Yang penting latihan saja terus.

Rashya pun siap untuk evaluasi kembali dengan dr. Burhan. Setelah diobservasi lagi, dokter pun menyatakan bahwa terapi wicaranya sudah cukup. Yeay....

Untuk memastikan lagi, saya bertanya juga kepada gurunya di sekolah. Alhamdulillah, katanya komunikasi dengan teman-temannya sudah lebih lancar.

Oke, artikel soal kemampuan berbahasa Rashya sudah tamat nih. Semoga enggak bersambung lagi ya, hehehe....

1 comment :

  1. Ehm memang soal gangguan berbicara perlu ekstrak banget ngajarinnya, lebih kompleks dari parenting bicara umumnya. Perlu ketelatenan, ya, tapi tetap semangat sampai bisa bicara. Alhamdulillah walau artikulasinya belum jelas, kedepannya pasti lancar. Terima kasih sharingnya!

    ReplyDelete