Wednesday, January 23, 2019

Review Film: Keluarga Cemara


Produser: Anggia Kharisma, Gina S Noer
Sutradara: Yandy Laurens
Penulis: Gina S Noer, Yandy Laurens
Pemeran: Nirina Zubir, Ringgo Agus Rahman, Adhisty Zara, Widuri Puteri
Tanggal edar: Kamis, 3 Januari 2019

~~~

Terakhir kali saya nonton film di bioskop itu sekitar 2 tahun yang lalu, ketika masih mengandung Rashya. Setelah Rashya lahir, saya mengikhlaskan diri untuk enggak ikut nonton kalau Jav nonton film di bioskop sama ayahnya. Sekalian supaya mereka bisa menikmati quality time berdua.

Nah, pas kemarin film Keluarga Cemara rilis, saya bilang sama suami, "Jav harus nonton nih. Berdua kamu atau berdua Lia?" Ya siapa tahu suami mau main-main berdua Rashya dan memberi saya kesempatan untuk nonton berdua Jav, hihihi.... Eh, jawabannya malah, "Berempat aja, yuk."

Hmmm, setelah mempertimbangkan baik-baik, akhirnya sehari sebelumnya, saya pun memesan 3 tiket film Keluarga Cemara via M-Tix untuk hari Minggu tanggal 6 Januari 2019 di Transmart Buah Batu XXI. Sambil berdoa semoga Rashya bisa anteng selama kami nonton. Untuk mengkondisikan hal tersebut, saya memilih jam tayang pukul 14.20 WIB (waktu tidur Rashya) dan tempat duduk di baris paling belakang (supaya enggak mengganggu penonton lain).

Jadi rencananya, Rashya makan siang dulu di rumah, main-main di mobil, lanjut ngemil-ngemil di dalam studio. Harapannya, Rashya ngantuk dan cape, ditambah dingin pula, terus tidur deh. Kenyataannya? Awalnya Rashya duduk manis sambil ngemil. Tapi setelah itu, boro-boro ngantuk dan tidur, dia malah antusias melihat lampu di tangga, bahkan ingin turun ke bawah, huhuhu.... So, kemarin adalah pertama dan terakhir kalinya saya mengajak bayi nonton film di bioskop. Enggak mau lagi ah, kapok, heuheu.... 

Panjang amat ya pengantarnya, hihihi.... Alhamdulillah sih, walau agak riweuh, saya masih bisa menikmati filmnya. Terbukti bahwa perempuan memang jago multitasking, hohoho... Meski tangan sibuk menjaga Rashya yang berusaha kabur, saya masih bisa mengikuti dan menghayati jalan ceritanya, bahkan hingga berurai air mata, hihihi....

Saya memang rutin mengikuti serial Keluarga Cemara dalam versi sinetron ketika masih SMP dulu. Tapi jujur, saya sudah lupa bagaimana detailnya. Makanya, ketika menonton film ini, saya enggak berekspektasi apa-apa.

Film ini diawali dengan adegan Euis (Zara JKT48) yang sedang mengikuti lomba modern dance bersama teman-temannya. Euis dan timnya menang, tapi Euis kecewa karena Abah (Ringgo Agus Rahman), enggak ikut menyaksikan penampilan dirinya. Kekecewaan berlanjut ketika Euis sedang merayakan ulang tahun di rumahnya. Semua sudah hadir, kecuali Abah.

Rupanya Abah sedang disibukkan dengan para mandor dan kuli di lokasi proyek yang menagih gaji mereka karena sudah beberapa bulan enggak dibayarkan. Kemudian, di saat yang sama, rumah mereka malah didatangi dan disita oleh debt collector. Kakak Emak (Nirina Zubir), Kang Fajar, ternyata menggadaikan rumah tersebut.

Sambil menunggu pengadilan memutuskan penyelesaian masalah tersebut, Abah dan keluarga kecilnya akhirnya pindah ke rumah warisan dari ayah Abah di sebuah desa terpencil. Di mana untuk mendapatkan sinyal saja, harus naik ke pohon dulu, heuheu.... 

Di sana, Abah yang seorang kontraktor pun mulai bekerja sebagai kuli bangunan dan Euis yang cerdas harus pindah ke sekolah yang biasa saja. Cemara/Ara (Widuri Puteri) tampak beruntung karena Abah menyekolahkannya di tempat yang kualitasnya sama seperti di sekolah lamanya di Jakarta. 

Tapi jangan salah, Emak meminta pada gurunya agar Ara menjadi pohon saja dalam acara pentas seni sekolah. Soalnya kondisi keuangan mereka enggak memungkinkan untuk membeli kostum princess, dan kebetulan sekolah masih memiliki kostum pohon tahun kemarin, huhuhu.... Eh, masalah semakin bertambah karena Abah cidera ketika sedang bekerja. Akhirnya Emak pun mulai turun tangan dengan cara membuat opak.

Semua berusaha beradaptasi dengan kondisi mereka yang tiba-tiba berubah drastis. Terutama Abah yang merasa bersalah telah membuat keluarganya harus menjalani itu semua. Euis yang sedang beranjak remaja pun kesal karena harus berpisah dengan teman-temannya. Kalau Emak cukup rasional. Hanya Ara yang tampak bahagia, karena sekarang bisa tidur sekamar dengan kakaknya, hihihi....

Sebelum filmnya mulai, suami sempat menyayangkan para pemerannya. Ya bagaimana, Agus Ringgo dan Nirina yang identik dengan cerita komedi memerankan Abah dan Emak. Tapi ternyata pernyataan suami tersebut enggak beralasan. Aktingnya oke kok. Memang enggak wow, tapi bisa membuat perasaan saya ikut teraduk-aduk. Apalagi akting Zara dan Widuri. Sebagai pendatang baru, mereka luar biasa banget.

Jalan ceritanya sih biasa, ya namanya juga film keluarga. Menurut saya sih kekuatan utamanya ada di dialog. Sederhana dan ringan tapi selalu dalam dan penuh makna. Jleb banget.


Saya merasa kisah mereka begitu relate dengan kehidupan saya. Dan dari mereka saya diingatkan kembali bahwa apapun keadaannya, keluarga adalah segalanya. Mulai dari Euis yang mengingatkan peran saya sebagai anak, dari Abah sebagai orang tua yang bertanggungjawab dan berusaha membahagiakan keluarganya, dari Emak yang sabar serta selalu mendampingi dan mendukung suaminya, juga Ara yang selalu ceria dan dapat melihat hikmah positif dalam setiap keadaan.

Menyesuaikan dengan zaman, film ini diracik dengan lebih modern. Meski begitu, menonton film ini justru membuat pikiran dan perasaan saya terbang kembali ke masa lalu.

Saya tahu banget bagaimana rasanya menjadi Euis. Harus selalu mengalah pada adik. Karena ketika SMP dulu, saya pernah menangis sesenggukan saat ayah saya mendapatkan tawaran proyek di NTT dan kami semua akan ikut pindah. Rasanya mengerikan harus meninggalkan kehidupan kota dan berpisah dengan teman-teman. Hingga kemudian ayah saya pun menolak tawaran tersebut di detik-detik terakhir. Padahal sebagian isi rumah sudah dijual. Surat pindah sekolah pun sudah diurus, heuheu....

Tapi dari film ini juga, saya diingatkan tentang bagaimana beratnya, bagaimana dilemanya menjadi orang tua. Orang tua pasti selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Tapi kalau kondisi keuangan enggak memungkinkan?

Jadi, saat kuliah dulu saya pernah merasa sangat kecewa ketika enggak bisa ikut study tour ke Malaysia, padahal telah melalui seleksi yang ketat. Orang tua enggak mengizinkan karena khawatir enggak bisa membiayai apabila kami gagal mendapatkan sponsor. Sedih banget, saya merasa mereka begitu berlebihan. Saya kan mau study tour, bukan mau piknik. Saya baru tahu akhir-akhir ini, bahwa kondisi keuangan kami pada masa itu memang sangat kritis. Tapi kerennya, mereka enggak pernah menunjukkan, bahkan mengeluhkan hal tersebut di depan anak-anak, huhuhu....

Ah, pokoknya film ini membuat saya terus menangis di sepanjang cerita. Celetukan Ara yang polos, serta kehadiran Ceu Salma dan Romli yang menghibur hanya bisa membuat saya tersenyum. Enggak sampai tertawa terbahak-bahak seperti Jav, hihihi....

Jujur, saya enggak menyangka film sederhana ini bisa begitu menguras emosi. Mungkin ditambah karena saya sedang PMS. Mungkin ditambah karena paginya saya habis memarahi Jav dan merasa sakit hati hanya karena hal sepele.

Kesimpulannya, very recomended. Sekian review film yang isinya jadi lebih banyak curhatnya ini, hihihi....


Walau mata sembap, tetap harta yang paling berharga adalah keluarga :D

7 comments :

  1. Terima kasih informasinya, sangat membantu :)

    ReplyDelete
  2. Wah bagus banget sepertinya film keluarga cemara

    ReplyDelete
  3. Bener banget bun, harta paling berharga adalah keluarga :)

    ReplyDelete
  4. Waktu baru lahir Alvin juga aku puasa nonton ke bioskop, tapi sekarang mah udah sering diajak nonton anaknya udah gede. Apa kabar mbak? lama gak bw ke sini :)
    Aku belum nonton keluarga cemara, anaknya cowo semua diajakin gak mau katanya, jadi harus nonton sendiri kayanya.

    ReplyDelete