Thursday, January 14, 2021

Memanjakan Mata di Wayang Windu Panenjoan


Di masa pandemi ini, jenis wisata yang memiliki risiko penularan paling rendah ya wisata alam. Tapi wisata alam yang bagaimana dulu nih? Kalau wisatanya bersama teman dan dilanjut botram (makan bersama), menurut saya sih enggak aman. Soalnya enggak mungkin kan makan tanpa membuka masker.

Makanya, ketika ibu saya cerita kalau RT-nya bakal mengadakan piknik ke Wayang Windu Panenjoan, jelas saya (dan adik) melarang. Tapi karena enggak tega, akhirnya "Udahlah, nanti sama kita-kita aja." 


Wayang Windu Panenjoan ini merupakan objek wisata kekinian di Bandung Selatan. Baru dibuka sejak akhir tahun 2019 yang lalu. Lokasinya berada di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Tepatnya yaitu di wilayah Kebun Kertamanah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Namanya diambil dari dua gunung kembar yaitu Gunung Wayang dan Gunung Windu.

Berhubung objek wisata ini sedang hits, kami memilih mengunjunginya pada hari kerja, Selasa tanggal 22 Desember 2020 yang lalu. Kebetulan adik ipar sedang cuti, serta mumpung belum masuk libur panjang natal dan tahun baru juga. Harapannya tempatnya masih sepi, supaya bisa refreshing tanpa rasa khawatir.

Tetapi ada yang kurang, suami enggak ikut. Karena sebelumnya baru banget izin sakit seminggu, dan memang ada jadwal kontrol ke dokter juga. Awalnya enggak tega, tapi suami mendorong saya dan anak-anak agar tetap ikut, "Kasihan anak-anak, biar main sama sepupu-sepupunya."

Meski hari kerja, kami tetap berangkat sepagi mungkin. Berdasarkan info dari teman adik ipar, enggak ada jam operasional khusus kok di Wayang Windu Panenjoan ini. Bebas mau datang jam berapa pun. 

Makanya, selesai salat Subuh, kami langsung siap-siap. Alhamdulillah anak-anak bangun tepat waktu dan bisa diajak kerjasama. Pukul 5, kami sudah bertolak dari Ciwastra. Anak-anak lanjut tidur di mobil. Enggak lupa, kami juga membawa bekal untuk sarapan di jalan. Walau kangen nyobain bubur ayam atau nasi kuning di pinggir jalan, ditahan dulu deh.

Kami tiba di gerbang Kebun Kertamanah PTPN VIII sekitar pukul setengah 7. Gerbang Kebun Kertamanah ini ada dua. Yang pertama di seberang Kawitan Coffee. Yang kedua, masih ke depan lagi. Sama aja sih, nanti juga bertemu di tengah.

Sesuai instruksi teman adik ipar, kami masuk melalui gerbang yang pertama dan langsung disuguhi pemandangan kebun teh. Kami pun segera membuka jendela mobil. Masya Allah, sejuk dan segar banget. Awalnya jalannya mulus, namun mendekati lokasi Wayang Windu Panenjoan, jalannya masih berupa tanah berbatu.

Selain kebun teh, kami juga melewati kantor Star Energy Geothermal dan rumah ex lokasi syuting Pengabdi Setan. Bersama keluarga besar ayah saya, kami pernah mengunjungi rumah tersebut awal tahun 2018. Ya ampun, suasana di sekitarnya bikin pangling. Dulu mah sepiii banget. Sekarang lebih hidul karena banyak tukang jualan, bahkan di sampingnya ada taman bermain untuk anak-anak juga.


Kami sampai di tempat parkir Wayang Windu Panenjoan pukul 7. Selain mobil kami, hanya ada satu mobil lain. Rombongan pemuda gitu. Itupun ketika kami masuk, mereka keluar dan pergi. Jadi pagi itu cuma ada rombongan keluarga kami. Yes! 


Setelah keluar dari mobil, terasa sekali udaranya dingin banget. Wajar lah, ketinggiannya berada pada 1800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kabut pun di mana-mana. Kami langsung menikmati keindahan alam sekitar dari atas jembatan kayu. Pastinya sekalian foto-foto juga. Meskipun saya sih cuma bisa foto seadanya karena menjaga Rashya yang maunya lari-lari terus. 


Oh iya, kami juga sempat duduk-duduk di saung. Istirahat dan ngemil perbekalan yang dibawa dari rumah. Yup, di area kebun teh ini ada beberapa saung yang disewakan.

Pukul 8, cuacanya sudah lebih cerah. Hamparan kebun teh, barisan gunung, dan hutan pinus kini lebih jelas terlihat. Masya Allah, indah banget. Benar-benar memanjakan mata. Hamparan kebun tehnya super luas sejauh mata memandang. Beda lah dengan pemandangan kebun teh yang biasa saya lihat di jalan kalau lagi di Puncak atau Garut.


Yang ini mah spesial. Sesuai dengan judulnya 'Panenjoan', diambil dari bahasa Sunda yang artinya pengamatan. Jadi memang bisa mengamati sekeliling dengan leluasa. Berasa di Swiss deh. Sok tau, padahal belum pernah ke Swiss, hihihi.... Katanya asyik banget melihat sunset dari sini.


Di beberapa area, tampak ada jalan dan pipa yang membelah hamparan kebun teh. Bahkan di kejauhan terlihat pula kepulan asap putih yang membumbung tinggi, yup panas bumi yang dikelola oleh Star Energy Geothermal untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).


Selain itu, kami juga berkesempatan melihat pemetikan pucuk daun teh. Prosesnya enggak dilakukan secara manual, tetapi menggunakan mesin, jadi lebih cepat.


Pukul 9, mulai bermunculan pengunjung lain. Ada dua pasangan muda dan dua remaja pesepeda. Rupanya, enggak jauh dari Wayang Windu Panenjoan ada Wayang Windu Bike Park juga, trek seru untuk para pesepeda gunung. 


Pukul setengah 10, cuaca mulai mendung. Kami memutuskan untuk pulang. Sedih deh, masih betah. Rasanya ingin membawa pemandangan di sana ke rumah.

Sebelum pulang, kami ke toilet dulu. Kondisi toiletnya pas-pasan, tapi cukup bersih dan nyaman. Yang pasti airnya dingin banget, brrrr....

Ketika di toilet, kami mendengar tukang parkir ribut, "Ada 4 mobil." Wow, pengunjungnya mulai banyak. Ternyata selain mobil kami, di tempat parkir sudah ada 7 mobil lain. Rupanya hari kerja pun tempat ini tetap ramai ya. Apalagi kalau libur panjang, enggak terbayang deh padatnya seperti apa.

Untung datang pagi sekali, jadi ketika pengunjung yang lain baru tiba, kami sih sudah tinggal pulang. Kami pun buru-buru kembali ke mobil supaya enggak perlu berpapasan dengan rombongan yang baru datang. Sebelum keluar, kami membayar biaya parkir sebesar 5 ribu rupiah untuk kendaraan roda 4.

Pas banget loh, saat kami meninggalkan Wayang Windu Panenjoan ternyata langsung turun hujan dong. Alhamdulillah.... 

Kali ini kami pulang melalui gerbang Kebun Kertamanah yang satu lagi. Pada rute ini, di sepanjang jalan lebih didominasi perumahan. Jadi menurut saya sih pemandangannya lebih asyik melalui rute yang pertama tadi.

Tapi kalau mau membeli oleh-oleh dulu, memang lebih enak menggunakan rute ini. Jadi searah gitu menuju Bandung. Yup, pastinya kami mampir dulu ke toko oleh-oleh khas Pangalengan. Membeli jajanan serba susu. Mulai dari permen susu, dodol susu, kerupuk susu, dan bola susu. 

Alhamdulillah, pukul 12 kami sudah sampai kembali di rumah. Di siang hari, kondisi jalannya memang lebih padat. Ya yang penting enggak perlu salat dan makan siang di luar. Aman....

~~~

Wayang Windu Panenjoan
Instagram: @wwp1800skypark
Harga Tiket Masuk: Rp 10.000 per orang
Waktu Operasional: 06.00 - 18.00 WIB

No comments :

Post a Comment