Sunday, November 5, 2023

Tips Memilih Lokasi Sebelum Membeli Rumah

memilih lokasi sebelum membeli rumah

Rumahku Surgaku

Setelah menikah, saya dan suami tinggal bersama dengan orang tua saya. Baru setelah mempunyai anak pertama, kami pindah. Pindahnya enggak jauh-jauh sih, masih di komplek yang sama dan hanya berselang beberapa rumah aja dari rumah orang tua, hihihi....

Alhamdulillah, enggak perlu beradaptasi lagi tinggal di lingkungan baru. Karena masih di komplek yang sama, orang-orangnya pun sudah enggak asing.

Dulu, lokasi tempat berdirinya rumah ini merupakan sawah tempat saya bermain sewaktu masih kecil. Namun akhirnya dijual oleh pemiliknya, diuruk, dan dijadikan kavling untuk rumah-rumah. Semacam cluster baru di komplek.


Saat itu tanahnya masih kosong, hanya ada dua rumah yang baru berdiri, rumah kami dan rumah tetangga di ujung. Kami merupakan penghuni kedua di cluster tersebut.

Enak deh. Karena masih kosong, pemandangannya lapang sekali. Paling asyik meninabobokan anak sambil nongkrong di balkon. Kadang kalau pagi, bisa melihat ibu-ibu yang sedang bertani juga.

Tapinya nih, lumayan suka kaget juga kalau malam. Saya sering mendengar suara-suara aneh, yang ketika diintip ternyata suara burung hantu yang bertengger di pagar, serangga yang menabrak jendela, atau unggas yang terjebak di halaman.

Tetangga Masa Gitu

Beberapa tahun kemudian, suasananya sudah benar-benar berbeda. Rumah-rumah sudah banyak berdiri, hanya tersisa beberapa kavling aja yang belum dibangun. Tetangga-tetangga baru pun bermunculan sehingga semakin ramai. Alhamdulillah, meski enggak dekat, tapi enggak ada tetangga yang aneh-aneh.


Hingga 2 tahun yang lalu, tiba-tiba ada orang yang membuat bangunan di kavling yang berada di pertigaan jalan tempat satu-satunya akses masuk ke cluster kami. Izin pada tetangga sekitarnya (tetangga kanan, kiri, depan, belakang) sih untuk tempat tinggal. Namun setelah bangunannya selesai, ternyata dijadikan sekolah TK dong.

Sudah pasti lah ribut. Ya suara anak-anaknya, suara orang tuanya, juga suara kendaraan yang mengantar jemput. Belum lagi saat waktunya bubaran, motor dan mobil parkir seenaknya menghalangi jalan, sehingga setiap saya mau pergi menjemput anak sekolah, harus sabar menunggu mereka merapikan kendaraannya.

Pernah tuh saya sedang buru-buru, tapi terhalang mobil, saya klakson, maju lagi terhalang motor, saya klakson, maju lagi terhalang ibu-ibu, saya klakson, maju lagi terhalang stroller. Iya stroller, disimpan di tengah jalan.


Luar biasa kan? Sudah lah sekolahnya enggak meminta izin pada saya sebagai warga paling terdampak, orang tua muridnya enggak ada etika pula.

Bahkan pernah orang tua saya mengklakson motor orang tua yang menghalangi jalan, malah dibentak dong. Astaghfirullah, mamah muda orang asing yang menumpang sekolah di komplek kami kok enggak ada sopan santunnya sama warga lama yang sudah sepuh.

Saya dan orang tua sudah mencoba melapor pada RT dan RW, tapi ya begitu deh. Masalahnya sudah naik juga sampai ke tingkat kelurahan, tapi jangankan aspirasi kami didengar, diundang juga enggak.

Benar-benar menguji emosi deh. Bukannya saya enggak mendukung kegiatan pendidikan ya, saya mah mendukung banget. Tapi tolong lah dipakai logikanya, masa membuka sekolah yang ramai di pertigaan jalan yang pastinya membuat kendaraan butuh ruang lebih luas ketika berbelok.

Selain itu, yang namanya kegiatan pendidikan pastinya memiliki tujuan baik dong ya, seharusnya diawali dengan proses yang baik juga. Sedangkan ini, mengajarkan anak-anak salat dan mengaji, tetapi enggak memperhatikan adab kepada tetangga.

Sekolah kan pasti ribut ya, apalagi ini level TK yang muridnya masih kecil-kecil. Masa sama sekali enggak ada empati dan usaha untuk berbicara pada saya sebagai warga terdampak yang pastinya paling terganggu.

Bagaimana enggak terganggu coba. Suara anak-anak dari arah sebelah kanan, memantul ke tembok tetangga di sebelah kiri rumah saya. Wuih, mantap banget suaranya di balkon saya, stereo. Padahal balkon di pagi hari menjadi tempat dan waktu terbaik saya untuk membuat konten video. Soalnya rumah sepi karena anak-anak pergi sekolah, cahayanya juga sedang bagus-bagusnya.

Sekarang? Bye bye.... Susah sih berhubungan sama manusia yang egois dan serakah.

Pindah Rumah Aja Gitu?

Rasanya kepingin deh pindah rumah, tapi enggak mungkin karena suami sedang memegang amanah di sini. Lagipula, kenapa juga mesti saya yang pindah, saya sudah tinggal di sini sejak dari lahir. Yup, sejak 39 tahun yang lalu.

Tapi nih, seandainya mendapatkan rezeki untuk memiliki rumah kedua, pastinya senang banget dong. Namun namanya membeli rumah, tentu enggak boleh sembarangan.

Memilih Lokasi Sebelum Membeli Rumah

Siapa tahu ada teman-teman yang sedang berencana membeli rumah juga, berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika memilih lokasi untuk membeli rumah berdasarkan pengalaman saya selama ini.


1. Tentukan Prioritas
Pertimbangkan faktor-faktor apa aja yang paling penting. Apakah lokasi yang strategis, harga yang terjangkau, atau udara yang sejuk, dan lain-lain.

2. Periksa Keamanan Lingkungan
Pastikan lingkungan sekitar rumah aman dan memiliki tingkat kejahatan yang rendah.

3. Evaluasi Aksesibilitas
Periksa aksesibilitas ke jalan raya utama, transportasi umum, dan fasilitas penting lainnya.

4. Lihat Infrastruktur
Pastikan lokasi tersebut memiliki infrastruktur yang baik, termasuk jalan yang baik, sistem saluran air, listrik, dan fasilitas umum lainnya.

5. Cek Kualitas Sekolah
Dengan sistem zonasi seperti sekarang ini, pastikan ada sekolah berkualitas di dekatnya.

6. Pertimbangkan Pertumbuhan Daerah
Periksa proyek-proyek pengembangan atau perencanaan pembangunan di sekitar lokasi tersebut.

7. Tinjau Kondisi Lingkungan
Lihat apakah lingkungan tersebut memiliki taman, tempat bermain, lapangan olahraga, atau area hijau lainnya yang bisa dinikmati oleh keluarga.

8. Cek Fasilitas Umum
Pastikan ada fasilitas umum seperti rumah sakit, supermarket, restoran, dan bank yang mudah diakses.

9. Komunikasi dengan Warga Lama
Bicaralah dengan warga setempat untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang kehidupan di wilayah tersebut. Apakah calon tetangganya tipe yang cuek atau justru malah terlalu kepo, bagaimana cara mencari solusi jika ada masalah antar warga, dan lain-lain.

10. Perencanaan Masa Depan
Pertimbangkan rencana dalam jangka panjang. Apakah untuk sementara aja, atau untuk waktu yang lama.

Menghitung Biaya Sebelum Membeli Rumah

Teman-teman pastinya ingin dong ya bisa membeli rumah secara tunai. Saya juga. Namun, meski harga rumah di Bandung termasuk rendah kenaikannya, mungkin tetap aja ada kondisi tertentu yang menyebabkan teman-teman belum memungkinkan untuk membeli rumah secara tunai. Kalau sudah begitu, mencicil bisa menjadi solusinya.

Bagi teman-teman yang sedang berencana untuk membeli rumah dengan cara mencicil, bisa loh menggunakan kalkulator di https://www.mortgagecalculator.uk. Dengan kalkulator ini, teman-teman bisa menghitung pajak dan suku bunga secara akurat, sehingga lebih mudah untuk memperkirakan rencana pembayaran cicilan bulanan.


Sebenarnya, kalkulator ini ditujukan untuk pengguna di Inggris. Tapi bisa juga kok dipakai untuk pengguna di mana pun termasuk di Indonesia, karena rumus perhitungannya kan sama aja ya. Hanya berbeda di unit mata uang, tinggal disesuaikan aja dengan pajak dan suku bunga di Indonesia.

Penutup

Oke, sekian curcolnya, hehehe.... Semoga informasinya bermanfaat ya bagi teman-teman.

19 comments :

  1. Punya tetan─Łga baik dan klik dan lingkungan nyaman ternyata rejeki juga ya mbak. Emang kalau beli rumah jg harus pertimbangkan hal hal sekitar termasuk tetangga. Alhamdulilah tetangga di tempat saya baik baik mbak. Jadi kayak dapat rejeki juga.

    Ini tempat mbak bagus sih sudah ijin mau bangun. Sayangnya gak bilang dari awal kalau mau dijadikan TK.

    ReplyDelete
  2. Duh, bener banget ya, cek lokasi sebelum membeli rumah tuh penting banget banget. Supaya gak zonk begitu sudah tinggal di situ.

    Tapi kalau kasus rumahnya sih, kenapa sekolahnya gak beritikad baik gitu ya untuk berkomunikasi dengan warga komplek supaya bisa mendiskusikan solusinya bersama, huhu

    ReplyDelete
  3. Di komplekku juga. Tiba-tiba ada rumah lama dijual, pembeli barunya renovasi dan menjadikannya TK dan TPA (pagi dan sore full anak-anak dan pengantarnya) komplek yang tenang jadi riuh rendah, terlebih karena para pengantar yang suka-suka mereka. Aku ga terdampak langsung sih, karena beda blok, cuma soal pengantar yang parkir ada sih bikin macet jalanan pas dekat lewat situ. Akhirnya para tetangga di blok itu bikin laporan dan tembus, berhasil meminta mereka pindah. Pindah ke blok lain, yang posisi jalan lebih lebar, sampingnya lahan kosong , dan rumah lebih luas ..jadi mayan amanlah bagi penghuni lainnya

    ReplyDelete
  4. Bisa panjang urusannya kalau perilaku tetangga sangat mengganggu kehidupan :( Apalagi soal parkir di depan gerbang rumah misalnya hhhmmm bikin pusing kepala. Untuk menghitung budet membeli rumah supaya sesuai harapan, kita terbantu dengan Mortgage Calculator ya mbak. Kita bisa estimasi dana sekian untuk memiliki hunian idaman.

    ReplyDelete
  5. Bener banget ini, aku kemarin beli rumah kurang detik karena lupa tanyain sejarah banjirnya dan gak tahu kalau bakal ada sutet plus ada sungai karena tertutup rumah.

    ReplyDelete
  6. Lalu sekarang gimana kelanjutannya, mbak? Di satu sisi seneng ya, deket TK. Misal mau sekolahin anak di situ, deket banget sama rumah.
    Antar jemput dan ngawasinnya jauh lebih mudah
    Tapi ya begitu, berisik dan akses jalan terganggu, huhu.
    Memang cari rumah itu beneran harus dipertimbangkan A-Znya deh. Kaya harga, lingkungan, dll. Biar nyaman dan aman.

    ReplyDelete
  7. Memilih lokasi rumah itu memang harus dipertimbangkan banget yaa. Paling pas memang kalau lokasinya dekat dengan sekolah anak jadinya nggak capek antar jemput

    ReplyDelete
  8. Ternyata ada enak gaknya ya tinggal dekat fasilitas umum itu. Aku yang pernah ngalamin rumahku persis seberang mushola ternyata TOA-nya gak bisa di-rem hehe. Ya namanya bermasyarakat seharusnya saling paham dan menghargai. Itulah sebabnya pemilihan lokasi rumah penting banget ya mbak. Semoga kalau bisa beli rumah baru bisa dapat lingkungan dan tetangga yang baik aamiin.

    ReplyDelete
  9. Saya juga pakai mortgage calculator nih utk berhitung keuangan rumah. Soalnya rinci banget aplikasinya. Jadi kita ada gambaran berapa spend money nya per bulan.

    ReplyDelete
  10. Memilih rumah tuh memang bagaikan memilih pasangan hidup, terutama menentukan lokasinya. Alhamdulillah rumah yang sekarang aku tempati memiliki lokasi yang sangat baik.

    ReplyDelete
  11. Huhu, aku paling sensi sama suara.
    Pinginnya di rumah tuh ya, anteng, damai dan saling tepa selira.
    Biasanya bangun TK gak semudah itu yaa.. ijinnya.

    Kudu hati-hati banget dalam bertetangga yaa..
    Semoga kita senantiasa diberi kemudahan rejeki. Termasuk dalam perhitungan keuangan untuk beli properti menggunakan mortgagecalculator.uk.

    Jadi kebayang besaran dana yang harus dikeluarkan.

    ReplyDelete
  12. Bangun sekolah tapi gak ada halaman. Jadinya ngeselin ya karena yang antar jemput pasti pada nongkrong di jalan. Beli rumah itu emang kaya nyari jodoh. Kadang kita yang duluan, yang belakang malah bangun yang aneh-aneh sampai nutup jalan

    ReplyDelete
  13. Teh Nathalia daerah manakah tinggalnya? Kita samaan nih rumah ortu deket masih satu lingkungan. Memang masalah parkir ini kadang suka bikin agak gimana gitu. Di daerah saya juga ada sekolahan yang ngambil jalan umum sehingga kalau mobil mau lewat ke sana susah banget jalannya, takut kesenggol saking sempitnya. Bisa disampaikan mungkin keluhan Teteh ke pihak sekolah biar nanti pihak sekolah bisa ikut mengatur lalu lalang ortu yang anter jemput anaknya.

    ReplyDelete
  14. Memilih lingkungan yang kondusif adalah pertimbangan utama buat saya dan suami, apalagi sudah mau menjalani masa pensiun pasti butuh yang adem, tetangga yang baik dan lingkungan yang tenang. Kalau dapat tetangga seperti tetangga mbak pasti hari-hari emosi jiwa deh.

    ReplyDelete
  15. Makanya ada yg bilang, punya tetangga baik itu rezeki
    Kadang ya gitu kan ya, ada aja drama perteanggaan

    ReplyDelete
  16. Mbaakk, saya kok jadi gemes banget ya. Itu sekolah TKnya gitu ya. Gak ada izin, orangtuanya pada gak ada etika. Suara-suara mengganggu lingkungan. Astagfirulloh.. kalau saya yang sabarnya setiois tisu, bisa berantem ama emak-emak wali muridnya itu.

    ReplyDelete
  17. Wah kayaknya perlu ada SOP pendirian ruang publik ya khususnya sekolah karena setiap hari mesti rame antar jemput pastinya mengganggu masyarakat sekitar sekolah nih

    ReplyDelete
  18. Penting banget memang memilik lokasi kalau beli rumah, karena kan ini untuk jangka panjang ya. Benar-benar musti diperhatikan lokasinya strategis dan nyaman

    ReplyDelete
  19. masya Allah mb, semoga ditemukan solusi yang baik untuk semua pihak. Agak sedih nih kalau ada lembaga pendidikan yang abai dengan kemacetan yang mereka buat di lingkungan warga

    ReplyDelete