Saturday, April 20, 2024

Pengalaman Mengompos dengan Kang Empos


Awalnya...

Masih ingat kejadian kebakaran TPA Sarimukti pertengahan tahun 2023 yang lalu?

"Sumber apinya diduga dari puntung rokok yang dibuang saat masih menyala. Ditambah adanya gas metan dari tumpukan sampah. Dengan gas itu maka ada perembetan api, ditambah sedang kemarau."
(AKP Kusmawan Kapolsek Cipatat)

Apapun penyebabnya, yang pasti kebakaran ini telah berdampak pada kurang lebih 120 ribu jiwa warga di sekitarnya. Saya, meskipun tinggal jauh dari lokasi kebakaran, sebagai warga Kota Bandung tentu turut merasakan dampaknya juga.

Sejak kebakaran tanggal 19 Agustus, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan status darurat sampah pada tanggal 24 Agustus. Status tersebut baru dicabut pada tanggal 25 Oktober setelah api dinyatakan padam.

Selama masa status darurat sampah tersebut, sampah rumah tangga yang biasanya diambil seminggu 3 kali oleh petugas kebersihan di komplek kami, pernah enggak diambil bahkan sampai 2 minggu.

Pemerintah kota dan RW setempat pun sudah berkali-kali memberikan arahan agar setiap rumah tangga mulai mengelola sampahnya sendiri, yaitu memilah sampah anorganik dan mengolah sampah organik.

Mengolah Sampah Organik? Hmmm...

Memilah sampah anorganik sih sudah lama saya lakukan. Dikumpulkan berdasarkan jenisnya dan dijual ke tukang loak. Tapi baru benar-benar konsisten sejak Jav sekolah di SD Binar Indonesia.

Jadi, setiap minggu sampah anorganik di rumah bisa disetor ke Tasindo (Tabungan Sampah Bindo). Bukan hanya solusi untuk sampah anorganik di rumah, tapi juga masuk ke poin penilaian mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup. Serta bonusnya, di akhir tahun ajaran anak-anak mendapatkan reward sesuai dengan jumah tabungannya masing-masing.


Nah, sejak Jav lulus dari SD Binar Indonesia, sampah anorganiknya saya sedekahkan aja kepada tukang sampah di komplek. Semuanya sudah terpilah, termasuk minyak jelantah juga. Inginnya sih menabung ke bank sampah, tetapi enggak ada yang bisa menjemput gratis ke daerah saya.

Berbagai macam usaha sebagai bentuk kepedulian saya dalam menjaga kelestarian bumi juga sudah rutin saya lakukan. Menghemat penggunaan listrik, meminimalkan penggunaan BBM, menggunakan botol minum sendiri, membawa kantong belanja sendiri, memakai cloth diaper ketika anak-anak masih bayi, membawa wadah makan sendiri kalau take away, membatasi belanja online, dan lain-lain.

Yang saat ini belum berani saya lakukan ada 2, yaitu memakai menstrual cup sebagai pengganti pembalut dan mengolah sampah organik menjadi kompos.

Yup, sejak dulu saya enggak pernah memiliki niat untuk mengolah sampah organik sendiri. Pertama, tentu karena saya malas berurusan dengan sampah dan tanah. Khawatir kotor dan bau, serta takut akan bertemu hewan-hewan mungil putih yang membuat bulu kuduk merinding. Pokoknya bukan saya banget deh. Biarlah yang seperti itu dilakukan hanya oleh pecinta lingkungan garis keras.

Kedua, karena ya untuk apa saya membuat kompos. Saya enggak suka berkebun. Pernah sih belajar bercocok tanam sayuran hijau waktu pandemi, tapi itupun memakai cara hidroponik. Malas kotor-kotoran dengan tanah, heuheu....


Maju Mundur

Namun setelah insiden kebakaran TPA Sarimukti itu, hati saya mulai tergerak untuk mengolah sampah organik sendiri. Ya bagaimana enggak tergerak coba. Karena sejak kejadian tersebut, saya jadi tahu kalau sampah organik menyumbang 60% volume sampah yang ada di TPA.

Dan jadi tahu juga kalau sampah organik yang enggak diolah dengan benar, dibiarkan tercampur dengan sampah lain, lalu menggunung di TPA akan menghasilkan gas rumah kaca (metana dan karbon dioksida) penyebab krisis iklim. Air lindinya pun dapat mencemari tanah dan air di sekitar TPA.

Mengolah sampah organik bukan hanya kewajiban pecinta lingkungan garis keras. tetapi menjadi tanggung jawab saya juga sebagai khalifah di bumi.

Untuk memantapkan hati sebelum mulai mengompos, saya sudah:
  • Membaca artikel tentang cara mengompos
  • Menonton video tentang cara mengompos
  • Mengikuti akun Instagram yang sering berbagi tentang ilmu dan pengalaman membuat kompos
  • Mengikuti workshop membuat kompos
  • Memasukkan perlengkapan membuat kompos ke keranjang di marketplace

Tapi, susah sekali untuk benar-benar memulainya. Apalagi meski ada pemberitahuan bahwa mulai tahun 2024 TPA Sarimukti enggak akan menerima sampah organik lagi, namun pada kenyataannya petugas sampah di komplek masih mau mengambil sampah organik saya tuh. Membuat saya tetap terlena. Sambil bertanya-tanya juga, sebenarnya pemerintah tuh serius enggak sih memikirkan masalah sampah ini.  

Oh iya, saya juga sempat tertarik untuk mencoba jasa waste management. Kan enak tuh, selain dibantu mengelola semua jenis sampah rumah tangga termasuk sampah organik, bisa mendapatkan hasil pangan organik pula. Sayangnya suami belum memberi lampu hijau.

Kang Empos Gratis

Hingga suatu hari, Pak RT mengumumkan di WAG bahwa ada beberapa Kang Empos gratis untuk warga. Kang Empos ini dibagikan oleh Pemerintah Kota Bandung kepada seluruh ketua RW se-Kota Bandung. Nah, masing-masing RT di RW kami mendapat jatah 10 Kang Empos.

Aha, ini dia saatnya. Bismillah, saya langsung mendaftarkan diri untuk menjadi salah satu penerima. Toh gratis ini, kalau gagal enggak akan rugi, hehehe.... Komposnya buat apa? Ya lihat nanti aja lah. Bisa menjadi bahan untuk membuat kompos selanjutnya, dikasih ke orang, atau dijual juga bisa kali, hihihi.... Oh, atau siapa tahu jadi termotivasi untuk mulai berkebun lagi. 

Siapa Kang Empos? Kang Empos bukan akang-akang ya, tapi salah satu metode dalam mengompos, merupakan akronim dari Karung Ember Kompos.

panduan kang empos
Sumber: bandung.go.id

Kelebihannya:
  • Bisa disimpan di dalam rumah
  • Enggak wajib diaduk
  • Enggak wajib menggunakan bioaktivator
  • Enggak wajib ditambahkan materi cokelat

Menarik kan? Cocok banget untuk pemalas pemula seperti saya. Apalagi metode ini juga enggak memerlukan banyak ember, cukup 1 ember aja. Tinggal menyetok karung yang banyak aja.

Pengalaman Mengompos dengan Kang Empos

Pak RT membagikan Kang Empos pada tanggal 20 Januari. Sebelumnya pun sudah memberikan video panduannya juga. Tapi sayanya mager. Akhirnya, berbekal ilmu dan tips mengompos yang sudah dipelajari selama berbulan-bulan, saya baru mulai mengompos tanggal 27 Januari.

kang empos
Paket lengkap Kang Empos

Semua bahannya sudah disediakan. Jadi di dalam ember Kang Empos ada karung, tanah, kompos, dan sekam. Saya pun membuatnya sesuai dengan panduan. Mengisi karung dengan lapisan materi cokelat (potongan kardus, tanah, kompos, dan sekam), cacahan sampah organik hijau, diaduk, lalu ditutup kembali dengan campuran materi cokelat (tanah, kompos, dan sekam).

mengompos
Lapisan yang dimasukkan ke dalam Kang Empos

Karena masih belajar, sampah organik hijaunya saya batasi untuk sisa sayur dan buah aja. Dikumpulkan terlebih dahulu selama 1 hari. Jadi ada besek di dapur yang siap menampung sampah organik hijau semua anggota keluarga. Selesai memasak, buang sisanya ke besek. Habis makan buah, buang kulit dan bijinya ke besek. Setelah terkumpul, baru dicacah dan dimasukkan ke Kang Empos.

Tapi kadang seringnya sih malas, saya kumpulkan dulu sampah organik hijaunya selama beberapa hari. Setiap hari, setelah dicacah, dimasukkan ke dalam wadah tertutup, lalu simpan di kulkas.  Kalau sudah menumpuk 3-4 hari, baru deh dimasukkan ke Kang Empos. Jadi enggak perlu membuka ember setiap hari.

Sumber: Workshop Mengompos Itu Mudah - Sustaination

Meski katanya enggak wajib diaduk, tapi saya tetap mengaduk. Biasanya setiap memasukkan sampah organik hijau baru. Bau? Enggak bau sama sekali loh. Aromanya malah segar harum jeruk. Menjadi mood booster yang bikin nagih. Cuma ternyata lumayan juga ya, semakin penuh, semakin berat mengaduknya. Ya anggap aja sambil olahraga, hihihi....

Saya menyimpan Kang Empos di halaman rumah. Karena karung dan embernya selalu tertutup rapat, alhamdulillah setiap mengaduk enggak ada belatung, aman.

Baru 2 minggu, ternyata karungnya sudah penuh. Sebenarnya 1 minggu juga sudah terlihat penuh sih. Tapi karena menyusut, enggak jadi penuhnya, bisa diisi beberapa kali lagi. Makanya dengan mengolah sampah organik hijau sendiri, lumayan terasa banget mengurangi volume sampah yang saya sumbang ke TPS. Tinggal sampah residu dan sedikit sampah organik sisa masakan (sisa nasi kering di rice cooker, tulang, dan lain-lain).

Untuk karung kedua, saya membeli lagi tanah, kompos, dan sekamnya. Baru untuk karung ketiga, saya memanfaatkan hasil panen kompos dari karung pertama.

Oh iya, membahas soal panen kompos. Idealnya setelah karungnya penuh dan didiamkan (sambil diaduk setiap 1 minggu sekali) selama 1-2 bulan, kompos siap dipanen. Tanda kompos yang sudah matang itu warnanya hitam, aromanya segar seperti tanah hutan, dan teksturnya lembap. Serta bonusnya, banyak biji yang tumbuh juga.

panen kompos
Panen kompos karung ketiga

Sekarang saya sudah mulai mengisi karung keenam loh.  Apakah semuanya berjalan mulus dan lancar? Oh, enggak dong.

Karung pertama memang lancar. Hasil panennya bagus banget. Warnanya hitam, aromanya segar khas tanah hutan, serta teksturnya lembap dan lembut. Sayang enggak sempat difoto, keburu habis dijadikan bahan untuk karung ketiga dan keempat. Makanya semakin semangat nih mengomposnya.

Nah, karung kedua nih. Warnanya sudah hitam, tapi teksturnya kering. Selain itu banyak potongan kulit buah (rambutan dan duku) yang belum terurai. Bisa aja sih dipanen sebagian, yang belum terurai dimasukkan lagi ke karung berikutnya. Tapi saya malas menyaringnya, hehehe.... Sekarang saya rutin menambahkan air cucian beras aja. Kalau misalnya masih belum berhasil, akan saya tambahkan sampah organik hijau aja lagi. Tenang, ini bukan gagal kok, hanya panen yang tertunda.

Kalau karung ketiga, warnanya sudah hitam, aromanya segar khas tanah hutan, teksturnya pun lembap. Tapi saya menemukan pupa, sisa dari maggot yang sudah berubah menjadi lalat tentara hitam (BSF). Hmmm, dari mana ya.... Kalau saya ingat-ingat, mungkin terbawa dari buah duku yang sudah busuk? Selain itu juga terlihat masih ada potongan kulit rambutan dan duku. Eits, yang ini berbeda dengan yang ada di karung kedua. Karena ternyata ketika diremas, kulit rambutan dan duku ini mudah dihancurkan loh. Artinya sudah matang dan siap panen.

Adapun karung keempat dan karung kelima masih dalam proses didiamkan.

Penutup

Meski enggak selalu mulus, kegiatan mengompos ini menjadi pencapaian pribadi di awal tahun 2024. Semoga bisa terus konsisten.

Next, PR-nya membuat biopori untuk mengompos sampah organik sisa masakan.

"Mengompos itu mudah.
Asal tahu caranya.
Karena Allah sudah menciptakan siklus hidup yang sempurna.
Segala sesuatu akan terurai, termasuk kita.
Jangan sampai siklus hidup yang sudah sempurna, malah kita rusak.
Dengan mencampur sampah, dengan membuang dalam kresek.
Yang seharusnya terurai, malah kita perangkap."
(DK Wardhani)

~~~

Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog April 2024
Tema: Bumi


29 comments :

  1. Eh kok menarik nih Kang Empos. Saya pun malas kotor-kotoran. Tapi sepertinya ini cukup mudah ya. Jadi pengen nyoba juga. Mudah-mudahan bisa dapat starternya juga.

    ReplyDelete
  2. Saya juga lagi belajar mengompos teh, tp belum panen. Baca ini saya jadi tambah semangat mau mengompos.

    ReplyDelete
  3. Hohooo. Keren ini! Semoga makin meluas kampanyenya di Indonesia 👍

    ReplyDelete
  4. Wah selamat untuk keberaniannya mencoba mengolah sampah organik teh! Menarik juga ini Kang Empos. Sudah ada kit lengkapnya ya. Dan aku baru tahu bioaktivatornya bisa air cucian beras juga ya. Menarik.

    ReplyDelete
  5. Teh Nathalia, aku ikut seneng Teteh berhasil mengompos. Saat pandemi, aku juga mengompos pake ember khusus, tapi gagal terus gagal terus. Sampai embernya penuh dan tidak terlihat tanda-tanda pembusukan secara sempurna. Akjirnya nyerah Teh :(.

    Baca tulisan Nathalia, jadi semangat lagi. Semoga ku berhasil ya ehehehe

    ReplyDelete
  6. Di rumah saya juga ada kompos seperti ini. Tapi, hanya diisi dengan sampah sayur dan buah. Pernah kemasukan sedikit sampah hewani, malah jadi ada belatungnya. Makanya enggak dulu deh kalau untuk sampah hewani. Soalnya saya suka gelian lihat belatung hehehe.

    ReplyDelete
  7. Gara-gara puntung rokok dari oranhg yang gak bertanggung jawab malah merugikan banyak orang ya.
    Waktu anaku bayi pakai clody juga lumayan irit jadi ga beli diapers banyak. Nah mesntrual cup belum cobain nih enak ya?
    Harus belajar mengompos sedniri juga nih spaya bisa mendaur ulang sampah di rumah. Kalau diikuti cara-caranya mudah juga sih tinggal niat aja

    ReplyDelete
  8. Wah patut di contoh ini, kelola sampah sendiri untuk kompos yang manfaatnya bukan saja untuk kita sendiri tapi berdampak positif untuk lingkungan. Keren banget si upaya kang empos, luar biasa!

    ReplyDelete
  9. Salut ama konsistennya dan semoga tetap terjaga konsistensinya ya mba. Bagus dan ada kepedulian juga di wilayah mba. Aku jadi penasaran dan mau mencoba juga. Lumayan buat pupuk ya mba dan juga menjaga lingkungan

    ReplyDelete
  10. Mak aku tertarik banget deh dengan kang empos ini. Selama ini sudah coba ngompos tapi selalu mandek di tengah jalan. Kalau boleh tahu, ini karungnya pake karung putih kata karung beras itu atau karung khusus ya, mak?

    ReplyDelete
  11. Kayaknya emang paling mudah mengompos dengan metode kayak gini ya. dulu pernah nyoba mengompos yang versi jadi cairan itu loh tapi stop karena nggak sanggup dengan aromanya. Sepertinya memang ada yang salah dengan stepnya.

    ReplyDelete
  12. Mengompos memang tidak serumit yang dibayangkan dan tidak mudah banget juga. Intinya kudu paham ilmunya dan langsung ptaktek deh. Keren nih Kang Empos Gratis, memicu warga buat lebih care serta aware ngompos sendiri, sehingga limbah rumah tangga bisa tertangani baik dan positif banget dampaknya bagi lingkungan.

    ReplyDelete
  13. Hebat, usahanya gak main-main ini, sampai karung keenam loh. Saya baca artikelnya sampai tuntas dan beberapa kali diulang di bagian yg penting buat saya karena beberapa kali mengompol hasilnya kurang oke. Warnanya hitam tapi aromanya tidak segar, heuheu. Akhirnya menyerah krn gak tahan sama baunya. Bismillah setelah baca postingan ini jadi semangat ingin coba lagi.

    ReplyDelete
  14. Iyaa lhooo sampah organik bahkan sampai 60% volume sampah di TPA. Padahal sampah organic kebanyakan juga dari rumah tangga, dan seharusnya masing2 rumah bisa mengolahnya sendiri kan. Bayangin deh kalau menggunung bisa lho menghasilkan gas metan yang bahaya dan bikin climate change. Bisa banget nyobain Kang Empos nihhh.

    ReplyDelete
  15. Di Palembang belum ada nih program kayak Kang Empos. Tapi kalo namanya molly kepikiran jadi Mangcik Empos. hahaa.. btw programnya bagus loh. jadi warga bisa turut andil menjaga lingkungan. Buat yg nggak mageran tapi..

    ReplyDelete
  16. Kalau ada teman yang berhasil mengompos, jadi pengen coba juga. Di rumah banyak bahan organik kaya daun-daun. Cuma malesnya itu masih ngikut mulu. Padahal ini bisa jadi salah satu cara jaga lingkungan kita

    ReplyDelete
  17. Keren euy Mbak Nathalia, aku seandainya udah punya rumah sendiri mah mungkin akan mengompos juga. Cuma karena masih menumpang di PMI, jadinya khawatir kalau pakmer manggil tukang buat membuang ember-ember kompos ini karena dikira sampah. Ya sih sampah organik ya sebenarnya, hahaha.. duuuh nasiib.

    ReplyDelete
  18. Saya mulai mengompos sejak tahun 2017. Awalnya karena Pak Sampah sakit selama seminggu, jadi sampah di depan rumah menumpuk dan menimbulkan bau. Sejak itu, sampah organik saya olah jadi kompos dengan komposter yang dibeli oleh suami. Tapi, saya masih tetep buang sampah plastik. 🙈

    Pengen banget bisa zero waste, tapi susah banget, Ya Allah... :'(

    ReplyDelete
  19. Boleh sebenarnya kalau memang tidak punya lahan dibagi2 Kang Empos gratis untuk warga. Jadi bisa ikut menjaga bumi dari sampah rumah tangga....aku buat cuma pakai pipa kak yg ditanam beneran bikin tanaman lebih subur

    ReplyDelete
  20. Pengin cobaaaaa
    mayan banyak sampah organik di rumah.
    Bagus banget klo bisa dioptimalkan manfaatnya kan

    ReplyDelete
  21. Jujur aku belum bisa mengompos sendiri karena masih maju mundur gitu. Karena kebetulan ada tetangga yang ngompos, jadi setiap sampai rumah tangga biasanya saya kasih dia nanti dikompos. Tapi setelah membaca tentang mengompos dengan kang empos nampak menarik ya.

    ReplyDelete
  22. Hahhaaa, berassa digaplok baca ini, beberapa kali belajar dan tahu ilmunya kenapa ko ((malassnya gede banget)) yaaa, ahh cuma sampe memilah-milah sampah aja kontribusiku, sisanya tak serahin ke yang lebih pandai. tetanggaku ada juga nih yang bikin kompos ini.

    ReplyDelete
  23. Jadi ingat insiden kebakaran TPA Sarimukti kemarin itu. Di perumahan saya juga banyak tumpukan sampah karena gak ada truk pengangkut sampah yang datang.
    Ada himbuan untuk mengelola sampah juga waktu itu, supaya tidak menggunung di lingkungan perumahan saya

    ReplyDelete
  24. Wah terimakasih ilmunya. Saya juga bikin kompos nih di rumah. Tapi sederhana banget. Baru tahu ini tahapan sebenarnya. Saya izin nyerap ilmunya ya

    ReplyDelete
  25. Aku udah agak lama mengompos tapi pake yg versi compost bag. Alhamdulillah sih berhasil. Tapi kalo yg pake ember dan bisa taro dalam rumah ini aku belum coba

    ReplyDelete
  26. Masa sih wangi bikin mood booster. Sesuatu yang baru dipelajari bikin happy apalagi buat masa depan bumi

    ReplyDelete
  27. Seru banget teh yah, di daerah saya ga ada deh bagi2 kang empos ini padahal saya penasaran sih ingin nyobain juga

    ReplyDelete
  28. Kami di rumah juga sudah mulai melakukan pengomposan mba, apalagi pengambilan sampah disini 1 minggu 1x

    ReplyDelete
  29. Wah senang sekali dapat artikel ini, kebetulan sudah niat mau belajar ngobrol dari rumah..

    ReplyDelete