Sunday, May 26, 2019

Ngomong Dong, Rashya [1]: Speech Delay?


Ada beberapa hal yang pada masa Jav masih bayi dulu saya hanya mendengar namanya saja, baik dari artikel parenting maupun forum ibu-ibu, eh ternyata sekarang harus mengalami sendiri di saat masanya Rashya. Salah satunya yaitu speech delay.

Jadi, Februari 2019 kemarin Rashya sudah menginjak umur 18 bulan. Seperti biasa, saya cek tumbuh kembangnya dan alhamdulillah semuanya oke. Tapi... ada satu poin yang belum oke, Rashya belum pernah mengatakan satu patah kata pun. Satu kata yang keluar dari mulutnya cuma "emah". Mau makan ngomongnya "emah", mau ke sana ngomongnya "emah", mau nenen ngomongnya "emah".

Padahal dulu Jav sudah mulai ngomong "nenen" dan "mamam" sejak umur 15 bulan. Apalagi, perasaan saya nih ya, stimulasi untuk Rashya malah lebih banyak daripada stimulasi untuk Jav. Saya mikirnya sih setiap anak memang unik. Mungkin karena dia anak laki-laki, jadi telat ngomong. Mungkin juga karena dia jalan dulu, jadi ngomongnya belakangan. Tapi... Jav juga laki-laki, dan Jav juga jalan dulu tuh. Makanya, saya tetap khawatir. 

Hingga saatnya tiba jadwal Rashya imunisasi di RSIA Humana Prima. Ketika bertemu dr. Fiva, Rashya langsung minta digendong sama beliau. Kangen kali ya udah lama enggak ketemu, hihihi.... Dokternya terus nanya sama Rashya, "Udah bisa ngomong apa?" Saya pun langsung menceritakan kegelisahan hati ini.

dr. Fiva mengerutkan dahinya, kemudian melihat tabel tumbuh kembang anak di dinding. 18 bulan, seharusnya sudah bisa mengucapkan 20 kata yang berarti. Akhirnya imunisasinya enggak jadi, ditunda dulu soalnya bikin demam. dr. Fiva menganjurkan agar saya dan suami langsung membawa Rashya ke dokter tumbuh kembang saja. Beliau pun memberi surat rujukan untuk konsultasi dengan dr. Purboyo di RSHS.

Wow, dr. Purboyo. Sebelum menemui dr. Fiva, saya sempat baca-baca soal speech delay. Dari situ saya tahu kalau dr. Purboyo itu dokter senior yang terkenal banget. Untuk mendapatkan jadwal konsultasi dengan beliau, orang-orang harus menunggu lama, waiting listnya berbulan-bulan loh. Dan saya bisa langsung konsultasi sama beliau? Ah masa sih? Semudah itu? Rasanya enggak percaya, tapi excited juga.

Keesokan harinya, 26 Februari, kami langsung membawa Rashya ke RSHS. Meski harus mengalami drama ban mobil cabut pentil karena susah mendapatkan tempat parkir, alhamdulillah proses pendaftarannya lancar banget. Tempatnya juga nyaman, di gedung baru, namanya Gedung Anggrek.

Hanya saja, kami harus menunggu berjam-jam. Jadi, saat kami selesai mendaftar pukul setengah 10, susternya bilang kalau dokternya sedang mengajar sampai pukul 12. Bingung juga karena harus menunggu cukup lama. Susternya menghibur, "Main dulu aja ke PVJ, daripada di Melinda, waiting listnya sampai 9 bulan." Heuheu, iya juga sih....

Kami pun memutuskan untuk makan siang dulu di Waroeng Steak Pasadena. Namun ternyata ketika kembali ke RSHS pukul 12, dokternya belum datang karena ada tamu. Kami pun harus menunggu lagi. Untungnya Rashya enggak rewel. Selain lari-lari ke sana ke mari, buka-tutup lemari hydrant, guling-guling di lantai, huft..., dia senang main sama teteh-teteh dan aa-aa yang mau kontrol ke dr. Purboyo juga. Kebanyakan karena riwayat kejang, dan mereka sudah rutin berobat ke dr. Purboyo setiap satu bulan sekali, huhuhu....


Akhirnya pukul 2, yang ditunggu-tunggu, dr. Purboyo datang juga. Ketika tiba giliran Rashya, setelah menunjukkan surat rujukan dari dr. Fiva, awalnya dr. Purboyo mewawancarai kami. Mengenai riwayat kelahiran Rashya, bisa jalan di usia berapa, bagaimana cara Rashya meminta sesuatu, dan lain-lain. Selanjutnya, beliau mengajak Rashya berinteraksi. Disuruh dadah, diajak main senter, dan lain-lain. 


Diagnosisnya yaitu Gangguan Bahasa Ekspresif. Menurut dr. Purboyo, istilah speech delay itu kurang tepat. Karena Rashya sebenarnya bisa berkomunikasi (dengan isyarat seperti menunjuk, menarik, dan lain-lain). Hanya saja dia sulit mengungkapkannya dalam bentuk bahasa yang baik dan benar. 

Gangguan bahasa ada dua macam, yaitu Gangguan Bahasa Reseptif dan Gangguan Bahasa Ekspresif. Rashya bisa mengerti instruksi yang diberikan (menoleh ketika dipanggil, mau disuruh dadah, dan lain-lain). Enggak ada masalah dalam kemampuannya memahami bahasa (fungsi reseptif). Jadi masuknya Gangguan Bahasa Ekspresif. 

Aspek perkembangan lainnya pun (kognitif, motorik, dan sosial) oke. Berarti penyebabnya bukan karena kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan, atau gangguan lain.

Nah, dengan diagnosis seperti itu, kesimpulannya, dr. Purboyo merujuk Rashya ke Instalasi Rehabilitasi Medik untuk mendapatkan terapi wicara. Sesuai perkiraan sih. Tapi tetap saja saya penasaran. "Kalau stimulasi di rumah aja bisa enggak, dok?" Jawabannya enggak bisa, karena ada metode khusus. Kasihan juga anaknya, kalau ingin apa-apa cuma bisa ngomong "emah".

Terapinya minimal dua kali seminggu. Duh, terbayang repotnya seminggu dua kali harus bolak-balik Ciwastra-RSHS, hiks.... Sempat minta dirujuk ke Al-Islam aja, supaya dekat dari rumah, tapi enggak dikasih. Pilihannya kalau enggak di RSHS ya Indigrow. Kami dianjurkan untuk mencoba yang RSHS dulu. Misal ternyata waiting listnya lebih dari dua bulan, nanti surat rujukannya diganti ke Indigrow.

Akhirnya kami pun langsung menuju ke Instalasi Rehabilitasi Medik RSHS. Di sana, Rashya mendapat jadwal pemeriksaan untuk tanggal 20 Maret, tiga minggu lagi. Fiuh.... Penentuan jadwalnya fleksibel kok, bisa disesuaikan dengan ketersediaan waktu kami. Hanya saja, kalau sudah dapat jadwal, harus datang sesuai dengan jadwal tersebut. Enggak bisa datang lebih awal, apalagi lebih lambat. Kalau terlewat, harus daftar dan menunggu lagi. Begitu....

Selanjutnya, Ngomong Dong, Rashya [2]: Terapi Wicara?

1 comment :

  1. Dulu saya sempet khawatir juga Teh, Gen ngga mau telungkup n yg lain udah bisa jalan, ternyata c gen ngomong dulu dan jalan usia 15 bulan lebih.. Semoga sukses Rahsya tfs ya tetehhh

    ReplyDelete