Thursday, January 23, 2020

Menyusui dan Menyapih Rashya dengan Iman


Alhamdulillah, kewajiban menyusui Rashya selama dua tahun sudah tuntas. Lebih tiga bulan malah, bonus, hihihi.... Momen yang enggak terlupakan dan selalu bikin kangen, huhuhu....

Meski bukan pengalaman menyusui yang pertama kali, tetap saja rasanya enggak mudah. Menyusui anak pertama dan anak kedua sama-sama memiliki tantangan. Ada yang sama dan ada juga yang berbeda. 

Flashback Dulu...

Saya sudah agak lupa sih bagaimana cerita menyusui Jav. Namun yang paling saya ingat saat awal-awal menyusui, tantangannya yaitu kepercayaan diri yang merosot tajam. Pertama, karena payudara saya yang kecil dianggap enggak bisa menghasilkan ASI yang cukup untuk Jav, heuheu.... Serta kedua, pandangan dari lingkungan terdekat yang masih percaya bahwa kandungan susu formula lebih baik dari kandungan ASI. Hadeuh.... Maklum lah cucu pertama. Untungnya setelah saya beri edukasi terus-menerus, cucu kedua dan seterusnya sih didukung banget.


Selain itu, tantangan menyusui Jav yang saya ingat yaitu ketika saya sakit tifus dan alergi terhadap antibiotik yang aman untuk ibu menyusui. Akhirnya, karena mengonsumsi antibiotik yang enggak aman untuk ibu menyusui, saya berhenti menyusui Jav selama dua minggu. Sedih banget. Belum lagi drama nursing strike yang penuh air mata setelahnya, hiks.... Alhamdulillah sudah berlalu dan berakhir bahagia.


Menyusui dengan Keras Kepala

Ketika menyusui anak kedua ini, kepercayaan diri saya sudah lebih baik. Payudara memang kecil, tapi so what gitu loh, hehehe.... Saya ingat ketika kontrol dan imunisasi ke dokter anak 10 hari setelah kelahiran. Saat saya masuk ruangan, dokternya komentar, ”Ibunya kurus banget, ada ASI-nya enggak?" Lalu saya jawab dengan pede, ”Ya ada lah, Dok...."

Kemudian ketika kontrol dan imunisasi pas usia Rashya 3 bulan, beliau komentar lagi, ”Ini umur 3 bulan kok kaya 6 bulan? Campur susu formula ya?" Wkwkwk..... Dokternya memang suka ceplas ceplos, tapi baik banget dan seru diajak konsultasi.

Bahagia habis nenen

Makanya saya pikir, menyusui Rashya akan lebih mudah. Ternyata enggak juga tuh, hihihi.... Sejak hari pertama, proses menyusui Rashya memang berjalan lancar. Namun malam ketiga, tiba-tiba ASI saya enggak keluar. Tengah malam, Rashya menangis meraung-raung. Untungnya ada suami yang menemani saya. Tanpa banyak komentar, beliau membuatkan minuman hangat dan memijat punggung saya. Setelah semalaman begadang, akhirnya ASI saya keluar lagi. Rashya pun kenyang dan bisa tidur nyenyak. 

Rasanya down banget. Padahal saya sudah rutin menyusui Rashya setiap dua jam sekali. Tapi kenapa masih enggak lancar.... Setelah belajar lagi tentang ASI, rupanya hal yang saya alami tersebut wajar-wajar saja. Karena sejak akhir trimester ketiga kehamilan hingga hari 4-6 setelah kelahiran, produksi ASI masih dipengaruhi oleh hormon endokrin. Baru deh setelah itu sesuai dengan prinsip supply-demand. Begitu....


Pernah juga di minggu keberapa gitu, setiap sore Rashya rewel. Rasanya putus asa banget. Saya perhatikan, setiap sore, ASI-nya memang seret. Membuat Rashya menjadi rewel sehingga saya semakin stres dan ASI semakin enggak lancar, bahkan enggak keluar sama sekali. Horor banget. Saya cuma bisa membaca doa sambil ikut menangis.

Setiap hari, saya jadi cemas menghadapi sore. Takut banget sendirian di rumah hanya berdua sama Rashya. Soalnya kalau neneknya datang, Rashya bisa tenang dan tidur pulas. Begitu juga kalau malamnya ayahnya sudah pulang, Rashya anteng banget. Rewel di sore harinya jadi seperti enggak nyata. Tapi besoknya terulang lagi.

Setelah saya coba evaluasi, mungkin badan dan pikiran saya yang lelah setelah seharian berjibaku di rumah sendirian membuat ASI seret dan menularkan emosi negatif juga pada Rashya, sehingga membuat Rashya jadi rewel. Salah satu obatnya yaitu kehadiran neneknya yang bisa menjadi teman bicara saya di sore hari, juga kepulangan ayahnya yang membuat hati saya lebih tenang.

Tapi enggak mungkin kan saya meminta neneknya Rashya mampir setiap sore, atau memohon ayahnya Rashya supaya pulang lebih cepat. Saya enggak boleh mengandalkan orang lain. Akhirnya saya berusaha supaya enggak terlalu capek di siang hari serta lebih rileks dan santai di sore hari. Berhasil loh. ASI lancar terus dan Rashya pun enggak pernah rewel lagi.

Setelah mengalami kejadian-kejadian tadi, saya jadi semakin paham, bahwa ternyata menyusui itu memang enggak mudah. Seandainya saya enggak menyusui dengan keras kepala dan enggak dibekali dengan ilmu yang memadai, saya yakin, saya pasti menyerah, huhuhu....

Tantangan lainnya sih gitu-gitu doang lah. Cuma mastitis yang lebih sering dari Jav. Dulu waktu Jav cuma dua kali, sekarang pas Rashya entah kenapa kok sering banget, sampai saya malas menghitung. Selain itu, sama seperti Jav, sejak usia 18 bulan, Rashya enggak mau lagi menyusu di payudara sebelah kanan, cuma mau yang sebelah kiri.

Menyapih dengan Iman

Selanjutnya, setelah masa menyusui, ketika ibu dan bayi sudah sama-sama nyaman, tibalah masa yang terasa sangat berat. Yup, menyapih. Rashya tuh baru bisa ngomong "nenen" pas usianya 22 bulan. Makanya, meski sudah sounding sejak usianya 18 bulan, saya sendiri masih merasa setengah hati harus menyapih Rashya di usia 24 bulan. 

Saya pun menjalankan prinsip weaning with love, yaitu enggak menawarkan, tetapi juga enggak menolak saat anak meminta. Namun sampai usianya 26 bulan, Rashya masih meminta terus. Di luar waktu tidur sih, Rashya sudah enggak nenen dan bisa dialihkan dengan kegiatan lain. Tapi menjelang tidur siang dan tidur malam, Rashya tuh selalu harus menyusu dulu, enggak bisa dialihkan dengan yang lain. Kalau setiap Rashya minta saya enggak menolak sesuai prinsip weaning with love, lalu kapan berhentinya dong. 

Mulai gusar, suatu malam di bulan November saya memutuskan untuk mulai berhenti menyusui Rashya. Malam minggu, Rashya bisa dikelonin sama ayahnya. Hasilnya Rashya menangis terus. Saya ingatkan lagi kalimat-kalimat sounding yang sudah sering saya ucapkan sebelumnya. Tapi Rashya tetap menangis meraung-raung sambil meminta nenen. Hiks, patah hati banget saya melihatnya.

Ayahnya mencoba menenangkan, tapi enggak berhasil. Soalnya Rashya itu enggak suka dipeluk dan diusap-usap. Berbeda dengan Jav yang diusap sebentar sama ayahnya bisa langsung pulas. Rashya terus meronta dan cuma mau sama saya, meminta nenen, hiks.... 

Baca juga, Menyapih Jav

Akhirnya ya balik lagi sama saya meski masih terus menangis. Rasanya campur aduk, ingin langsung membuka kancing baju dan memberi Rashya nenen. Cuma kasian juga masa sudah lama dan capek menangis tapi sia-sia kalau ujungnya tetap nenen dan gagal disapih.

Sejam kemudian, Rashya pun kelelahan hingga akhirnya ketiduran sambil masih sesenggukan, hiks.... Rasanya remuk banget hati ini. Langsung deh gantian saya yang menangis berderai-derai. Saya pun mengeluh sama suami karena telah membuat Rashya menangis dan gagal menyapih dengan cinta. Mempertanyakan perintah Allah yang tertulis di Al-Quran serta penasaran, "Ada enggak sih referensi yang menunjukkan bagaimana cara Nabi Muhammad disapih?”

Suami malah menawarkan mi tektek yang lewat di depan rumah. Padahal saya sedang belajar food combining, tapi dalam kondisi seperti itu ya enggak mungkin juga saya tolak, hihihi.... Selesai makan rasanya lumayan lebih tenang, tapi tetep saja air mata merembes terus, heuheu.... Enggak tega dan belum ikhlas harus menyapih Rashya.

Hingga sebelum tidur, saya tiba-tiba mendapat hidayah, teringat dengan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Saya pun langsung berbicara sendiri di dalam hati, "Ya elah Nath, cuma disuruh menyapih doang lebay banget sih." Setelah itu saya pun merasa lebih ikhlas. 

”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. ...”
(Al-Baqarah: 233)

Bismillah.... Lebih mantap untuk benar-benar menyapih Rashya. Menyusui karena taat pada perintah-Nya. Menyapih pun karena taat pada perintah-Nya. Sesederhana itu, enggak perlu dipertanyakan lagi. Dan momen ini merupakan momen pertama Rashya belajar taat pada perintah-Nya. Belakangan, saya baru tahu ada istilahnya, yaitu menyapih dengan iman.

Selanjutnya, menyapih menjadi terasa lebih mudah. Karena saya sendiri sudah ikhlas dan mantap, Rashya juga bisa lebih tenang. Enggak ada lagi tangisan meraung-raung. Padahal seandainya Rashya menangis lagi, rencananya mau saya tunda dulu menyapihnya. Ternyata enggak terjadi loh.

Hanya saja, masalahnya memang selama ini Rashya selalu menjadikan nenen sebagai alat penenang/sumber kenyamanan sebelum tidur. Kebetulan, dua hari berikutnya kami selalu pergi ke luar, jadi Rashya ketiduran di mobil. Nah, yang deg-degan ini hari selanjutnya, mana ayahnya sudah pergi lagi. Untungnya ternyata ketika mengantuk Rashya cuma merengek sedikit saja. Masya Allah....

Jadi, di awal proses menyapih, tidur siangnya saya gendong dulu. Memakai gendongan ergonomis dong supaya enggak pegal. Kadang pakai ring sling, kadang pakai SSC. Alhamdulillah tanpa drama. Digendong sebentar Rashya langsung tidur. Rata-rata 5 menit sudah tidur, paling lama tuh 15 menit lah.

Tidur di dekapan Bunda

Kalau malam, Rashya lebih senang menyamankan diri dengan tidur di lantai. Sebelum disapih pun dia memang sudah hobi tidur di lantai. Habis puas nenen, pindah tidur ke lantai, kalau mau nenen naik lagi ke kasur, begitu terus. Sekarang, tidur di lantai, saya gendong ke kasur, bangun pindah lagi ke lantai, saya gendong lagi ke kasur, begitu terus, heuheu....

Tidur di lantai

Sedangkan yang nenen menjelang subuh, 5 hari pertama masih saya kasih. Menikmati indahnya menyusui di detik-detik terakhir, huhuhu.... Hingga akhirnya setelah itu diganti dengan air putih. Jadi di hari keenam, Rashya sudah total berhenti menyusu.

Setelah disapih, tidurnya jadi enak. Enggak kebangun-bangun lagi untuk meminta nenen. Biasanya saya beranjak kurang mulus dari kasur saja, Rashya langsung bangun. Supaya tidur lagi ya dinenenin lagi, pegal, heuheu.... Sedangkan kemarin, saya gotong ke mobil, terus digendong buat jemput Jav sekolah, disimpan lagi di car seat, lanjut saya tinggal belanja mingguan, hingga sampai kembali lagi ke rumah, Rashya enggak terganggu, tidur terus, hihihi....

Sekarang, dua bulan sudah berlalu. Malah sayanya yang belum bisa move on nih, masih suka iseng menawarkan Rashya nenen. Tapi anaknya sudah enggak tertarik sama sekali. Selamat ya, Nak :)

No comments :

Post a Comment