Showing posts with label #SembuhkanTB. Show all posts
Showing posts with label #SembuhkanTB. Show all posts

Sunday, July 13, 2014

Hapus Stigma dan Diskriminasi terhadap Pasien TB

Berikut beberapa kasus diskriminasi pada pasien TB di Indonesia:
  • Yulinda Santosa (mantan pasien TB-MDR) pernah dikucilkan dan mendapat perlakukan diskriminatif dari teman-teman dan keluarganya. Bahkan, dia juga pernah diusir dari rumah kosnya. “Gelas dan piring saya sengaja dipisahkan. Setiap berbicara dengan orang lain, mereka menutup hidung. Saya dianggap penyebar penyakit.” (Sumber)
  • Setelah lulus beberapa kali tes penyaringan, Ben kehilangan kesempatan bekerja di perusahaan idamannya karena pada saat tes kesehatan, hasil rontgen menunjukkan terdapat luka TB di paru-parunya. (Sumber)
  • Jumiran ditemukan tergeletak tak bernyawa di toilet umum Pelabuhan. "Saat dimintai KTP, Jumiran juga melampirkan surat keterangan dari Puskesmas yang menyatakan jika dirinya menderita penyakit TB. Hal inilah yang membuat petugas melarang Jumiran untuk berlayar dengan kapal." (Sumber)
  • Seorang teman mengeluh di sebuah grup media sosial karena dokter menyebutkan bahwa anaknya menderita TB. "Kami dari keluarga berada, semuanya sehat. Bagaimana mungkin anak saya bisa terkena TB?" (Pengalaman pribadi)
  • Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tribowo Tuahta Ginting di RS Persahabatan, didapatkan kesimpulan bahwa pasien TB tidak ingin penyakitnya diketahui oleh orang lain, karena khawatir mendapatkan perlakuan diskriminatif dari masyarakat. (Sumber)
Kasus-kasus di atas terjadi karena stigma tentang penyakit TB yang terlanjur berkembang di masyarakat. Bahwa TB merupakan penyakit menular yang tidak dapat disembuhkan, bahwa penyakit TB hanya dapat menimpa orang-orang miskin, bahwa TB merupakan penyakit turunan, dan lain-lain. Stigma tersebut menghasilkan sikap diskriminatif pada pasien TB. Bisa berupa pengusiran, pengasingan, penolakan pelayanan di fasilitas umum, penolakan saat melamar pekerjaan atau beasiswa, dan sebagainya. Bahkan, di Cina, seorang narapidana penderita TB yang telah beberapa kali ditangkap, selalu dilepaskan lagi karena penjara selalu menolaknya.

Diskriminasi terhadap penderita TB dapat menyebabkan mereka malu atau enggan memeriksakan dirinya saat merasakan gejala-gejala penyakit TB, karena khawatir akan mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari lingkungan di sekitarnya. Hal ini tentu saja akan menghambat proses pengobatan serta meningkatkan resiko penularan.

Stigma merupakan label negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungan. Jadi, bukan pribadi seseorangnya yang negatif, melainkan pandangan lingkungannya. Dalam kasus penderita TB, stigma tersebut muncul karena adanya informasi yang salah tentang penyakit TB.

Ilustrasi oleh penulis
Untuk mendukung keberhasilan penanganan TB, stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB harus dihilangkan. Yaitu dengan meluruskan pandangan-pandangan yang salah tentang penyakit TB selama ini.
  • TB merupakan penyakit turunan. Salah. TB bukan penyakit turunan, apalagi penyakit kutukan atau penyakit karena guna-guna. Penyakit TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
  • TB merupakan penyakit orang miskin. Salah. Sebagian besar kasus TB memang terjadi di wilayah dengan penduduk miskin, karena terkait dengan pola hidup dan tingkat kesehatan di lingkungan tersebut. Namun bukan berarti penyakit TB hanya dapat menimpa orang-orang miskin. Proses penularan TB begitu mudah, yaitu melalui udara yang tercemar kuman TB dari percikan dahak penderita TB. Karena itu, penyakit TB dapat mengenai siapa saja. Terutama apabila daya tahan tubuh orang tersebut sedang lemah.
  • TB merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Salah. Penyakit TB memang menular bahkan mematikan. Tetapi penyakit TB bisa disembuhkan asalkan pasien TB menjalani pengobatan secara teratur dengan jenis, dosis, dan jangka waktu pemberian obat yang tepat.
Selama pasien TB menjaga diri untuk tidak menularkan penyakitnya (yaitu menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, membuang dahak dengan air yang mengalir, serta konsisten menggunakan masker), juga menjalani pengobatan secara teratur, maka masyarakat tidak berhak untuk mengucilkan mereka. Bayangkan, menderita sakit dan menjalani pengobatan saja sudah cukup berat bagi pasien TB. Jangan sampai mereka harus menanggung beban mental juga akibat stigma dan diskriminasi tersebut.

Dengan adanya kemudahan akses terhadap informasi, diharapkan terjadi perubahan pandangan tentang penyakit TB sehingga tidak ada lagi stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB. Kita sudah sepantasnya ikut membantu menghapus stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB dengan:
  • Learn. Mari mencari informasi yang benar dan belajar sebanyak-banyaknya mengenai seluk beluk penyakit TB. Mulai dari penyebabnya, gejalanya, penularannya, hingga pengobatannya. 
  • Share. Mari sebarkan informasi tentang penyakit TB yang sudah kita pelajari, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Luruskan berbagai stigma tentang penyakit TB. Tunjukkan mana yang mitos dan mana yang fakta.
  • Action. Mari berbuat lebih jauh dengan melakukan tindakan langsung turun ke lapangan dan menjadi kader TB. Temukan penderita TB dan ajak mereka untuk melakukan pengobatan. Dukung mereka dan berikan informasi yang benar di lingkungannya tentang penyakit TB. 
Ilustrasi oleh penulis
Dengan usaha-usaha tersebut, diharapkan tidak ada lagi informasi yang salah mengenai penyakit TB, sehingga stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB pun tidak terjadi lagi. Semoga dengan begitu, penderita TB tidak ragu lagi untuk memeriksakan dirinya apabila mengalami gejala-gejala penyakit TB. Untuk Indonesia yang lebih sehat :)

~~~

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition: Temukan dan Sembuhkan Pasien TB
(Serial #8: Stigma dan Diskriminasi Terhadap Pasien TB)


Sunday, June 29, 2014

Ikut Serta Dalam Pengendalian TB, Yuk!

Sumber
Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular yang mematikan. Tetapi, TB bisa disembuhkan, asalkan penderita TB mendapatkan pengobatan secara memadai. Sayangnya, sampai sekarang, setiap tahunnya, masih terdapat sepertiga kasus TB yang belum terjangkau atau tidak mendapatkan pengobatan.

Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Di antaranya:
  • Penderita TB, merasa tidak perlu memeriksakan dirinya, sehingga akhirnya tidak mendapatkan pengobatan yang memadai. Bisa terjadi karena kurangnya informasi dan pengetahuan mengenai TB, karena faktor ekonomi, atau karena adanya perasaan malu dan rendah diri.
  • Penderita TB tidak bisa memeriksakan dirinya dan tidak bisa mendapatkan pengobatan yang memadai. Bisa terjadi karena tidak adanya fasilitas kesehatan, atau karena lingkungan yang terisolasi sehingga sulit untuk mengakses fasilitas kesehatan.
  • Penderita TB memeriksakan dirinya, namun tidak mendapatkan pengobatan yang memadai. Bisa terjadi karena kurangnya kemampuan petugas kesehatan untuk mendeteksi penyakit tersebut, atau karena hasil tes laboratorium yang tidak akurat.
Sumber
Sebagai kemitraan berskala internasional, WHO dan Stop TB Partnership, sedang mengupayakan kampanye untuk menjangkau sepertiga kasus TB yang belum tertangani tersebut. Yaitu:
  • Find. Penderita TB harus ditemukan, karena apabila dibiarkan, penyakit tersebut bisa menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi, bahkan bisa menyebabkan kematian yang tentu akan menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi yang lebih tinggi.
  • Treat. Penderita TB harus mendapat penanganan, karena apabila tidak, seorang penderita TB dapat menularkan penyakitnya pada sepuluh orang setiap tahunnya.
  • Cure. Dengan penanganan yang tepat, diharapkan seluruh penderita TB bisa sembuh.
Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk mendukung keberhasilan kampanye tersebut? Tentu saja kita tidak perlu mengambil pusing soal fasilitas dan tenaga kesehatan. Biarlah hal itu menjadi urusan Kementerian Kesehatan. Namun bukan berarti kita harus diam saja. Kenapa? Pertama, karena kita tidak ingin kan kita sendiri atau orang-orang terdekat kita terpapar TB? Kedua, karena kita mempunyai hati nurani. Tidak mungkin kan kita membiarkan TB ini terus menjadi masalah utama masyarakat Indonesia? 

Tapi bagaimana caranya? Kita dapat memulainya dari hal yang paling mudah. Yaitu:
  • Learn. Bagi kita yang memiliki akses terhadap informasi yang tidak terbatas, dapat memanfaatkan hal tersebut untuk mencari segala informasi yang benar tentang TB. Mulai dari penyebabnya, gejalanya, penularannya, hingga pengobatannya. Semua itu bisa didapatkan dari buku misalnya Buku Pintar TB, internet misalnya website TB Indonesia, brosur, seminar, workshop, dan lain-lain.
  • Share. Kita dapat membagikan informasi tentang TB yang sudah kita serap, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Kita bisa mulai dengan berbagi informasi di lingkungan dan komunitas sekitar kita, atau bisa juga berbagi informasi sesuai dengan kesenangan masing-masing. Misalnya, bagi yang senang menggambar bisa membuat poster, bagi yang senang menulis bisa membuat artikel di blog dan media cetak, atau bagi yang senang eksis bisa membagikannya melalui media sosial.
  • Action. Kita juga bisa berbuat lebih jauh dengan melakukan tindakan langsung turun ke lapangan dan menjadi kader TB. Misalnya dengan bergabung dalam Jaringan Peduli Tuberkulosis Indonesia (Japeti) atau Komunitas Peduli TB di daerah masing-masing. Komunitas tersebut tidak hanya berusaha untuk menjangkau sepertiga kasus TB yang belum ditemukan, tetapi juga menjangkau kasus TB pada kelompok rentan karena bekerjasama dengan berbagai komunitas seperti LSM HIV-AIDS, LSM anak, dan lain-lain.
Dok. Pribadi
Melalui tulisan ini saya mengajak setiap pembaca untuk ikut serta dalam penanggulan TB. Iya kamu, kamu, dan kamu. Sesuai dengan kemampuannya, apapun bentuknya. Kalau bukan kita, siapa lagi? :)

~~~

Referensi:
  • http://www.stoptb.org/assets/documents/resources/publications/acsm/WORLD_TB_DAY_BROCHURE_14March.pdf
  • http://www.tbindonesia.or.id/
~~~

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition: Temukan dan Sembuhkan Pasien TB
(Serial 7: Peran Masyarakat dalam Pengendalian TB)


Sunday, May 18, 2014

Mari Cegah dan Obati TB Resistan Obat

Masih ingat cerita tentang Alya? Beberapa tahun yang lalu, dia merupakan pasien Tuberkulosis (TB) Paru. Namun, setelah berobat secara teratur selama enam bulan, Alya pun dinyatakan sembuh.

Beberapa waktu yang lalu, Alya mengalami batuk yang disertai rasa sesak di dadanya. Sebagai mantan pasien TB, gejala tersebut tentu membuat Alya khawatir. Dia takut penyakit TB-nya kambuh lagi. TB bisa kambuh? Iya. TB bisa sembuh, tapi tidak menutup kemungkinan untuk bisa kambuh lagi apabila mantan pasien tidak menjaga kesehatan tubuh dan lingkungan.

Alya akhirnya memeriksakan dirinya ke dokter dengan perasaan putus asa. Bagaimana tidak. Alya merasa dia selalu menjaga kesehatan dan lingkungannya. Selain itu, apabila TB-nya memang benar-benar kambuh, maka Alya harus menjalani lagi pengobatan TB dengan jangka waktu yang lebih lama. Pengobatan tersebut bukan hanya dengan obat-obatan yang ditelan, tapi juga dengan tambahan suntikan Streptomicin setiap hari selama dua bulan masa insentif.

Alya berusaha untuk ikhlas menerima apapun hasil diagnosis dokter, apalagi cara penularan TB begitu mudah. Alya bisa saja tertular kuman TB lagi di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Syukurlah, kecemasan Alya tidak terbukti. Setelah menjalani berbagai tes, dokter menyatakan bahwa TB Alya tidak kambuh lagi.

Alya merasa lega luar biasa. Sebenarnya dia tidak keberatan apabila harus menjalani pengobatan TB lagi, apalagi obat TB kan gratis. Yang penting, dia bisa sembuh. Namun yang membuat Alya galau luar biasa adalah kondisinya yang kini jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Kini Alya sudah menikah dan mempunyai seorang batita yang manis dan menggemaskan. Bayangkan apabila TB Alya memang kambuh lagi. Kemungkinan besar, suami dan gadis kecilnya pun ikut tertular. Selain itu, Alya juga harus menjalani uji resistansi untuk mengetahui apakah TB yang dideritanya termasuk TB Resistan Obat atau bukan.

TB Resistan Obat
Seperti penyakit TB, penyakit TB Resistan Obat juga disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Bedanya, kuman pada TB Resistan Obat telah mengalami kekebalan terhadap Obat Anti TB (OAT). Apabila kuman tersebut kebal terhadap dua atau lebih OAT lini pertama, seperti Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamide, Ethambutol, dan Streptomicin maka disebut Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB). Sedangkan apabila kuman tersebut sudah kebal terhadap salah satu OAT lini kedua seperti Fluorokuinolon, Kanamisin, Amikasin, dan Kapreomisin maka disebut Extensively Drug Resistant Tuberculosis (XDR-TB).

TB Resistan Obat (Credit, animasi oleh penulis)
Penyebab TB Resistan Obat
TB Resistan Obat dapat terjadi karena cara pengobatan TB yang tidak tepat, baik oleh petugas kesehatan maupun oleh pasien TB itu sendiri.

Oleh petugas kesehatan, diantaranya karena:
  • Diagnosis yang tidak tepat.
  • Pengobatan yang tidak tepat (paduan, dosis, jenis, jumlah, kualitas obat dan jangka waktu pengobatan).
  • Penyuluhan yang tidak memadai.
  • Suplai obat yang tidak selalu tersedia.
Oleh pasien, diantaranya karena:
  • Penggunaan obat yang tidak tepat (tidak teratur, tidak sesuai anjuran petugas kesehatan).
  • Tidak menyelesaikan pengobatan.
Identifikasi Pasien TB Resisten Obat
TB Resistan Obat dapat mengenai siapa saja. Namun, biasanya tersangka pasien TB Resistan Obat adalah orang-orang dengan gejala TB yang memenuhi salah satu kriteria berikut ini:
  • Tidak melakukan pengobatan TB sesuai dengan anjuran petugas kesehatan (tidak teratur atau tidak tuntas).
  • Sakit TB berulang dan pernah mendapatkan pengobatan TB sebelumnya.
  • Tinggal di lingkungan dengan angka TB Resistan Obat yang tinggi.
  • Mempunyai kontak erat dengan pasien TB Resistan Obat.
Diagnosis TB Resistan Obat
Diagnosis TB Resistan Obat dapat dilakukan melalui pemeriksaan biakan (kultur) serta uji kepekaan kuman terhadap obat TB (Drugs Sensitivity Test/DST). Sayangnya, hasil dari pemeriksaan tersebut baru dapat diketahui dalam jangka waktu yang cukup lama. Namun sekarang, diagnosis TB Resistan Obat juga dapat dilakukan melalui tes cepat yang menggunakan metode PCR (Xpert MTB/RIF). Tahun ini, tes Xpert MTB/RIF direncanakan dapat dilakukan di semua provinsi.

Penularan TB Resistan Obat
Penularan kuman TB Resistan Obat sama seperti penularan kuman TB pada umumnya, yaitu melalui udara. Orang yang terinfeksi TB Resistan Obat, saat daya tahan tubuhnya lemah dan kuman TB-nya menjadi aktif, maka penyakit TB yang dideritanya pun merupakan TB Resistan Obat.

Pengobatan TB Resistan Obat
Untuk menyembuhkan dan mencegah penularan TB Resistan Obat, maka pasien harus menjalani pengobatan. Tenang, TB Resistan Obat dapat disembuhkan, asalkan pengobatan dilakukan dengan tepat. Tentu saja, pengobatan TB Resisten Obat ini membutuhkan penanganan yang lebih sulit, obat yang lebih banyak, waktu yang lebih lama (sekitar 18-24 bulan), serta efek samping yang lebih berat.

Pencegahan TB Resistan Obat
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Keberhasilan pencegahan TB Resistan Obat memerlukan dukungan dari berbagai pihak.

Pasien:
  • Melaksanakan pola hidup sehat. 
  • Menjalani pengobatan sesuai dengan anjuran dari petugas kesehatan.
Petugas kesehatan:
  • Melakukan pemeriksaan dan pengobatan sedini mungkin.
  • Memberikan pengobatan yang tepat.
  • Memastikan ketersediaan obat.
Keluarga pasien:
  • Menjaga kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien.
  • Memberikan dukungan mental.
  • Menjadi Pengawas Menelan Obat (PMO) yang dapat diandalkan.
Masyarakat:
  • Menyebarkan informasi tentang TB dan TB Resistan Obat.
Dukungan untuk mencegah dan mengobati TB Resistan Obat (Animasi oleh penulis)

Yuk! Mari kita sama-sama cegah dan obati TB Resistan Obat, untuk Indonesia bebas TB :)

~~~

Referensi:
  • http://www.tbindonesia.or.id/tb-mdr/
~~~


Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition:
Temukan dan Sembuhkan Pasien TB
(Serial 4: TB Resistan Obat)


Sunday, April 20, 2014

Obat Gratis untuk Sembuhkan Pasien TB

Masih cerita tentang Alya nih, survivor Tuberkulosis (TB) Paru. Jadi, setelah mengalami gejala TB dan memeriksakannya ke rumah sakit, Alya pun divonis dokter bahwa dia positif mengidap penyakit TB Paru Aktif.

Apa TB Bisa Disembuhkan?
Seperti yang sudah saya jelaskan di artikel sebelumnya, TB disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis, bukan penyakit turunan, apalagi penyakit kiriman alias disantet :p Selain itu, kabar baiknya penyakit TB ini bisa disembuhkan. Iya, TB memang bisa disembuhkan. Namun tentu saja ada syaratnya, yaitu pasien TB  harus mengkonsumsi obat secara teratur hingga dinyatakan sembuh oleh dokter.

Obat Apa Saja yang Harus Dikonsumsi Pasien TB?
Untuk pasien TB baru, obat anti TB (OAT) yang harus dikonsumsi adalah Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamide, dan Ethambutol. Obat-obatan tersebut dikonsumsi selama dua bulan pertama (tahap intensif) pengobatan. Empat bulan selanjutnya (tahap lanjutan), OAT yang harus dikonsumsi cukup Rifampicin dan Isoniazid saja.

Banyak banget ya obatnya? Memang. Kuman TB sangatlah kuat, tidak dapat disembuhkan hanya dengan satu macam obat saja. Pada tahap intensif, jika OAT dikonsumsi secara teratur, TB yang menular dapat berubah menjadi tidak menular. Walaupun begitu, pengobatan tetap harus dilanjutkan, untuk membunuh kuman persister serta mencegah penyakit TB kambuh lagi.

Apa yang Akan Terjadi Jika Pasien TB Tidak Mengkonsumsi OAT Secara Teratur?
Sayangnya, banyak pasien TB yang tidak teratur, bahkan tidak tuntas mengkonsumsi OAT. Alasannya biasanya karena malas.
  • Malas karena obatnya sangat banyak.
  • Malas karena obatnya harus dikonsumsi setiap hari.
  • Malas karena harus kontrol secara rutin.
  • Malas karena tidak mempunyai uang untuk berobat.
  • Malas karena setelah dua minggu mengkonsumsi obat, pasien TB biasanya sudah merasa sembuh.
Padahal, apabila sekali saja OAT tidak dikonsumsi sesuai anjuran, resikonya selain pasien TB tidak akan sembuh, juga:
  • Jika berhenti sebelum satu bulan, maka pengobatan harus diulang dari awal. Duh, males kan...
  • Jika berhenti setelah satu bulan, kuman TB akan resisten. Penyakit TB yang diderita pasien pun akan naik tingkat menjadi MDR-TB (Multi-drug Resistance Tuberculosis). Maka obat yang harus dikonsumsi pun lebih banyak, yaitu tambahan suntikan Streptomycin setiap hari selama dua bulan. Hmmm lebih repot lagi, kan... Tapi kalau tidak diobati, maka pasien TB akan menularkan kuman TB yang resisten juga. Duh, jangan sampai deh :(
Program Pemerintah untuk Keberhasilan Pengobatan TB
TB termasuk salah satu masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah benar-benar serius menangani masalah ini.

OAT Kombinasi Dosis Tetap (KDT)
Sejak tahun 1995/1996, pemerintah mulai menyediakan OAT KDT. Keuntungannya:
  • Dosis obat disesuaikan dengan berat badan pasien, sehingga hasilnya lebih efektif dan efek sampingnya pun lebih sedikit.
  • Mengurangi resiko konsumsi obat tunggal (karena pasien lupa atau tidak teliti) juga kesalahan dalam penulisan resep.
  • Jumlah tablet yang ditelan pasien lebih sedikit, sehingga lebih memudahkan pasien.
Sumber

Directly Observed Treatment Short-course (DOTS)
Sejak tahun 1995, Indonesia telah menerapkan strategi DOTS. Pada tahun 2000, strategi ini sudah berjalan secara nasional di seluruh pelayanan kesehatan (puskesmas). Komponen dalam strategi ini salah satunya yaitu pengobatan menggunakan OAT dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). PMO adalah seseorang yang dipercaya oleh petugas kesehatan sekaligus disegani oleh pasien. Tugasnya yaitu mengingatkan, mengawasi, dan mendorong pasien TB agar disiplin mengkonsumsi OAT.

OAT Gratis
Dalam rangka mendukung program DOTS, pemerintah juga memberikan OAT secara gratis.

Apa?! OAT Gratis?
Iya! Gratis! Pengobatan TB gratis bisa didapatkan di seluruh puskesmas, rumah sakit pemerintah, dan dokter swasta yang bekerjasama dengan pemerintah. Syaratnya? Tidak ada syarat apapun. Pasien TB cukup datang ke puskesmas atau rumah sakit pemerintah dengan membawa hasil diagnosa yang menunjukkan bahwa dia mengidap penyakit TB Aktif. Selanjutnya pasien TB pun dapat menikmati pengobatan TB secara gratis.

Tapi jadi curiga nih... Gratis begitu, jangan-jangan kualitasnya kurang oke. Eits, tidak perlu khawatir, dengan mengkonsumsi obat TB gratis, pasien TB dijamin tetap akan sembuh kok. Tentu syaratnya masih berlaku, obat TB dikonsumsi secara teratur ya... Jadi kalau dianalogikan, obat TB gratis dan obat TB yang bayar itu ibarat seseorang yang melakukan perjalanan Bandung-Jakarta dengan menumpang teman dan menggunakan travel. Yang satu gratis, sedangkan yang satu lagi harus mengeluarkan ongkos. Tapi dua-duanya memberikan hasil yang sama kan, yaitu sampai di Jakarta :)

Bagaimana? Sebenarnya tidak ada alasan pasien TB untuk malas berobat. Obatnya gratis! Cukup kemauan yang kuat dari diri sendiri serta dukungan dari orang terdekat (PMO), maka pasien TB pun bisa sembuh. Seperti Alya :)

So, apabila mengalami gejala TB atau menemukan saudara/teman yang mengalami gejala TB, langsung periksakan ke dokter agar segera diobati. Karena pengobatan TB yang teratur bukan hanya bertujuan untuk menyembuhkan penyakit pasien TB, tapi juga untuk mencegah kekambuhan, memutus rantai penularan, dan mencegah resistensi kuman TB terhadap OAT. Demi Indonesia yang lebih sehat :)

~~~

Referensi:
  • http://www.tbindonesia.or.id
  • KMK No. 364 tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis

~~~

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition: Temukan dan Sembuhkan Pasien TB
(Serial 2: Obat TB Gratis)


Sunday, April 6, 2014

Temukan Pasien TB: 7 Fakta Tentang TB

Fakta 1:
Tanggal 24 Maret merupakan Hari TB (Tuberkulosis) sedunia.

Yup! Pada tanggal tersebut di tahun 1882, Dr. Robert Koch mengumumkan bahwa dia telah menemukan sumber penyakit TB. Penyakit TB memang bukan penyakit baru. Para ilmuwan telah menemukan bukti pada mumi yang menunjukkan adanya penyakit TB dan menyebabkan meninggalnya seorang wanita yang hidup 600 tahun sebelum Masehi. Wow udah lama banget ya! Walaupun begitu, saya sendiri baru beberapa tahun terakhir ini mengetahui lebih dalam tentang penyakit TB.

Ketika itu, Alya (bukan nama sebenarnya), 25 tahun, kondisi kesehatannya tiba-tiba menurun. Dia mengalami demam dan batuk. Karena gejalanya tidak seperti batuk biasa, maka keluarganya segera membawa Alya ke dokter. Setelah diperiksa, dokter menyebutkan bahwa dia merupakan tersangka (suspek) pasien TB Paru. Dokter menyarankannya untuk mengunjungi dokter spesialis paru di RS Paru Rotinsulu. 

Fakta 2:
TB merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

TB yang menyerang paru disebut TB Paru. Penyakit ini menjadi penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut. Namun, TB ternyata tidak hanya dapat menyerang paru, TB juga bisa menyerang organ tubuh lain seperti otak, kulit, kelenjar, atau tulang, yang disebut dengan TB Ekstra Paru.

Mycobacterium tuberculosis (Sumber dari sini)
Tentu saja Alya merasa sangat terkejut mendengar pernyataan dokter tersebut. Beberapa waktu belakangan ini, berat badannya memang menurun. Dia mengira hal itu disebabkan karena kawat gigi yang baru dipasangnya. Namun dia sadar, bahwa gejala penyakitnya memang mirip dengan gejala penyakit TB Paru.

Fakta 3:
Gejala utama penyakit TB Paru adalah batuk berdahak (kadang disertai dengan darah) selama lebih dari 2 minggu.

Selain itu, dapat juga diikuti dengan gejala tambahan seperti:
  • Demam meriang selama lebih dari 1 bulan
  • Berkeringat dingin meskipun tidak melakukan aktivitas
  • Sesak napas
  • Lemas
  • Tidak nafsu makan
  • Berat badan menurun
Gejala TB (Sumber dari sini, sini, sini, sini, dan sini)
Menyadari mempunyai gejala yang sama dengan gejala penyakit TB Paru, Alya pun mengikuti saran dokter untuk memeriksakan diri ke RS Paru Rotinsulu. Selain melakukan pemeriksaan fisik, dia juga harus melakukan beberapa tes sebagai bahan diagnosis penyakit TB Paru.

Fakta 4:
Diagnosis utama TB Paru dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis.

Pemeriksaan dahak mikroskopis dilakukan pada 3 spesimen dahak yaitu sewaktu-pagi-sewaktu (SPS).
  • S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada waktu suspek TB datang berkunjung pertama kali
  • P (pagi): dahak dikumpulkan pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur
  • S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi
Foto toraks, biakan, dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis.
Alur diagnosis TB (Sumber: KMK No. 364 tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis)
Hasil tes menunjukkan bahwa ternyata Alya positif mengidap TB Paru. Meskipun pemeriksaan dahak mikroskopis menunjukkan hasil BTA negatif, namun foto toraks menunjukkan bahwa terdapat bercak putih pada paru Alya.

Bukan hanya Alya yang merasa shock, keluarganya pun merasa terpukul. Selama ini mereka tidak pernah mendengar ada saudara atau teman yang pernah mengalami sakit TB. Yang mereka tahu selama ini, TB hanya penyakit yang biasa dialami oleh masyarakat golongan bawah, dengan gizi buruk dan lingkungan yang tidak sehat. Sedangkan Alya, dia tinggal di rumah orang tuanya di sebuah kompleks perumahan. Lingkungannya sehat dan makanannya pun bergizi.

Fakta 5:
TB menular melalui udara. Bisa menginfeksi siapa saja, tidak mengenal jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, profesi, atau status ekonomi.

Sumber penularan TB berasal dari pasien TB BTA positif. Ketika batuk, bersin, atau berbicara, pasien menyebarkan kuman ke udara melalui percikan dahak. Dahak tersebut dapat bertahan selama beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab.

Media penularan TB (Sumber dari sini, sini, sini, sini, dan sini)
Melihat cara penularan TB, memang memungkinkan bagi siapa saja untuk dapat tertular TB. Apalagi Alya yang memang sering berhubungan dengan banyak orang. Mungkin saja dia terinfeksi ketika sedang menaiki angkutan umum, atau mungkin ketika dia sedang survei ke pemukiman kumuh, atau mungkin juga ketika dia sedang belanja di pasar. Sulit untuk menemukan siapa yang menularkan TB pada Alya.

Fakta 6:
Hanya 10% orang yang terinfeksi TB (TB Laten), kemudian menjadi sakit TB (TB Aktif).

Uji tuberkulin (Mantoux) merupakan suatu cara untuk mengetahui apakah seseorang sudah terinfeksi TB atau belum. Tidak semua orang yang terinfeksi TB (TB Laten) bisa menjadi sakit TB (TB Aktif). Pada tahun 2011, diketahui bahwa 80% masyarakat Indonesia sudah terpapar kuman TB. Namun kuman tersebut tidur (dormant) di dalam tubuh dan baru aktif ketika daya tahan tubuh orang tersebut sedang lemah. Jadi bisa saja Alya terinfeksi kuman TB satu minggu sebelumnya, satu bulan sebelumnya, atau bahkan satu tahun sebelumnya. Hanya Tuhan yang tau :)

Fakta 7:
TB bisa disembuhkan.

Untungnya, meskipun mematikan, selama pasien TB berobat secara teratur hingga tuntas, maka pasien tersebut bisa sembuh. Demi kesembuhannya, Alya mengkonsumsi obat secara teratur sesuai dengan resep dokter, serta secara rutin memeriksakan perkembangan kesehatannya. Tidak penting lagi mencari tahu dari mana sumber penularannya. Akhirnya Alya pun dinyatakan sembuh enam bulan kemudian.

So, kesimpulannya, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penyebaran TB?
  1. Waspada terhadap gejala-gejala TB. Apabila menemukan gejala TB baik pada diri sendiri atau pun pada orang lain, segera periksakan ke dokter, agar bisa segera diobati.
  2. Kita tidak bisa menghindar dari paparan kuman TB. Untuk itu, kita harus selalu menjaga daya tahan tubuh untuk menghindari meningkatnya TB Laten menjadi TB Aktif.
~~~

Referensi:
  • http://detik.com/health/read/2012/02/17/165455/1845390/763/80-persen-orang-indonesia-pernah-terpapar-kuman-tb
  • http://www.tbindonesia.or.id/
  • KMK No. 364 tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis
~~~

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition: Temukan dan Sembuhkan Pasien TB 
(Serial 1: Temukan Pasien TB)