Sunday, March 31, 2013

Blogiveaway - Hmmm...

Hore! Ada giveaway dari TomKuu yang caranya gampang banget nih, hadiahnya juga sangat menarik. Caranya tinggal daftarin aja tulisan-tulisan review yang ada di blog hohoho.

So, setelah ngubek-ngubek arsip blog dengan penuh semangat, inilah daftar beberapa tulisan review yang pernah saya buat.

Kuliner

Jasa

Buku

Produk kecantikan

Film

Buat yang mau baca-baca tulisan review dari saya, silakan mampir dan semoga bermanfaat. Buat yang suka nulis review dan mau ikut giveaway ini juga, klik aja banner di bawah ini :)

Saturday, March 30, 2013

Dicakar Setan

Siapa yang tidak tahu seblak basah? Semua orang pasti tahu jajanan khas Bandung ini, yaitu kerupuk mentah yang dikukus hingga lunak lalu dimasak bersama bumbu pedas. 

Kalau seblak ceker? Wah, saya juga penasaran karena belum pernah mencobanya. Awalnya saya tahu seblak ceker ini dari twitternya @cekersetan. Liat foto-foto dan testimoninya membuat saya benar-benar ngiler. Ya gimana enggak ngiler? Ceker biasa aja saya suka banget, apalagi ceker yang pedas. 

Akhirnya kemarin saya pesan juga si ceker setan ini. Saya memesan lewat SMS, dan responnya cukup cepat. Karena minimal pemesanan dua porsi, jadi saya pesan ceker setan satu porsi dan seblak ceker satu porsi. Waktu saya tanya apa bedanya antara seblak ceker dan ceker setan, katanya kalau ceker setan ditambah bumbu kecap.

Lalu tadi siang, sampailah ceker setan itu di rumah saya. Ini penampakannya, kemasannya cukup rapi. 

Ceker dibungkus plastik lalu dimasukkan ke dalam kotak sterofoam 
Sumber: koleksi pribadi

Satu porsi seharga Rp 10.000 berisi kurang lebih sepuluh potong ceker (sengaja dihitung soalnya suami lagi di saung siap-siap mau nyate, supaya pembagiannya adil gitu hihihi).

Seblak Ceker
Sumber: koleksi pribadi

Waktu dibuka? Mmmm wangi rempah-rempah dan daun jeruk. Rasanya? Potongan ceker pertama, dagingnya lembut sehingga mudah lepas dari kulitnya. Gurih dan enak, tapi kok enggak pedas. Potongan ceker kedua, bibir mulai terasa jontor karena pedas. Potongan ceker keempat, hidung mulai meler dan keringat mulai bercucuran. Efeknya sama seperti kalau saya makan tulang jambal. Huh! Hah! Sumpah deh ceker ini memang mantep banget pedasnya, serasa dicakar-cakar setan. Tapi sekaligus bikin nagih dan enggak bisa berhenti. Ditambah minumnya es teh manis, uuuhh nikmat :D

Ceker Setan
Sumber: koleksi pribadi

Kalau dibandingkan dari segi penampilan, seblak ceker terlihat lebih menarik karena warnanya yang lebih terang. Namun dari segi rasa, saya pribadi lebih suka ceker setan karena ada rasa manisnya.

Tidak terasa, saya sudah sampai pada potongan ceker yang kesepuluh. Suamiku, kamu kok enggak pulang-pulang? Tolong.. Istrimu enggak bisa berhenti makan cekernya.. Bisa-bisa jatahmu abis nih.. Hihihi..

Lalu saya pun meneruskan keseruan bersama si ceker hingga akhirnya hanya tersisa masing-masing tiga potong seblak ceker dan tiga potong ceker setan (semoga suami enggak akan ambil pusing, biasanya juga kalau dia makan mie baso ceker, saya yang ngabisin cekernya hihihi). Baiklah, cukup dulu ah, nanti beli aja lagi *jilatin jari satu-persatu*. Kita liat dulu sampai besok pagi, gimana efeknya ke pencernaan saya hihihi.

So, buat para pecinta makanan pedas yang tinggal di Bandung, enggak gaul deh kalau belum nyobain ceker setan ini *celingak-celinguk di depan rumah, siapa tahu dikirim ceker setan gratis dari @cekersetan karena udah promosiin dagangannya*.

Friday, March 29, 2013

Cemburu

Anggi menghampiri Tesa setelah Hendro pamit dan meninggalkan rumah.

"Mba marah?" tanya Anggi sedikit takut.

"Pertanyaan bodoh!" Tesa berbalik dan menatap jendela.

"Maaf Mba.. Tapi Mba enggak cemburu kan?" Anggi menyentuh pundak Tessa.

"Hah? Tentu saja aku cemburu! Mengetahui Hendro menikahimu saja aku tidak dapat terima! Apalagi membawamu tinggal di rumah ini! Hendro benar-benar tidak punya hati!" Tesa menahan air matanya.

"Maaf Mba.. Aku tidak bermaksud membuat Mba cemburu.." Anggi mundur dan duduk di kursi.

"Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku tadi malam, saat membayangkan apa yang kamu lakukan dengan suamiku di kamar sebelah pada malam pertama kalian!" Tesa berteriak, air matanya kini turun tak dapat dibendung lagi.

Anggi terdiam sambil menunduk.

"Tolong jawab dengan jujur.. Kamu mencintainya?" tanya Tesa.

"Kurasa Mba sudah tahu jawabannya.." jawab Anggi.

"Sepertinya aku akan minta cerai saja.. Aku tidak akan tahan melihat Hendro bersikap mesra padamu!" kata Tesa.

"Tetapi Mas Hendro juga tentu tidak akan berhenti bersikap mesra pada Mba, karena Mba masih istrinya.. Tentu aku juga akan cemburu, bukan Mba saja!" Anggi pun mulai terisak.

"Jangan pergi Mba.. Aku melakukan ini demi kita semua.. Dengan menikahinya, maka aku bisa melahirkan anak untuk Mas Hendro.." lanjut Anggi.

Tesa berbalik menatap Anggi.

"Lagipula dengan begini, Mba tidak perlu pergi diam-diam di belakang Mas Hendro dan menempuh waktu berjam-jam untuk dapat menemuiku.. Sekarang kita bisa bertemu tiap hari Mba.." kata Anggi sambil menatap mata Tesa.

Tesa berjalan menghampiri Anggi.

"Maafkan Mba ya karena sempat terbawa emosi.. Terima kasih atas pengorbanan yang telah kamu lakukan.. Aku sangat mencintaimu.." Tesa memeluk Anggi.

"Aku juga Mba.." Anggi mencium bibir Tesa sekilas lalu membalas pelukannya.

~~~~~

Monday Flashfiction: Prompt #7

Sumber: tumblr

Thursday, March 28, 2013

Anak Manusia Belajar Terbang

Jav (5 bulan) lagi belajar terbang
Sumber: koleksi pribadi
~~~~~

Untuk Lampu Bohlam: Prompt #4 Terbang

Tuesday, March 26, 2013

[BeraniCerita #04] Cukup!

Aku sedang membersihkan luka di pelipisku dengan sapu tangan yang sudah direndam air hangat saat mendengar suara Angga yang baru pulang. Aku pun segera keluar kamar untuk menemuinya.

"Dari mana saja kamu?" aku menegurnya karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.

Angga tidak menjawab dan meninggalkanku sambil pergi berlalu ke kamarnya.

"Angga! Mama tanya sama kamu! Kenapa baru pulang jam segini?!" tanyaku mulai kesal sambil menyusul Angga ke kamarnya.

"Berisik! Bukan urusan Mama!" jawab Angga ketus.

"Angga! Sekarang kamu berani bersikap kurang ajar ya sama Mama! Belajar apa kamu di sekolah?!" sakit akibat benturan di pelipisku ditambah sikap Angga yang tidak sopan membuatku berteriak kepadanya. 

"Enggak usah nyalahin sekolah! Mama sama Papa tuh yang harusnya ngaca! Dasar orang tua enggak becus!" Angga balas berteriak padaku.

Plak! Aku menampar anakku.

"Angga benci Mama! Angga benci Papa!" Angga berteriak sambil pergi kembali meninggalkan rumah dan membanting pintu.

"Angga! Angga! Kembali!" aku berteriak memanggil anakku.

Ea.. Ea.. Ea..!

Aku membuka mataku. Ya Tuhan, ternyata aku ketiduran saat sedang menyusui Angga. Bayiku ini rupanya mengompol. Sambil mengganti popoknya, aku membayangkan mimpi barusan yang masih begitu kuat melekat di ingatanku. Mimpi itu terasa begitu nyata. Mimpi yang membuat hatiku menjadi gelisah. 

Setelah selesai mengganti popok, mataku menatap ruangan yang begitu berantakan. Pecahan gelas berserakan di sekitar tempat tidur. Setelah menimbang-nimbang akhirnya aku bertekad untuk segera berbuat sesuatu.

Tut! Tut! Tut!

"Sari.. Ada apa Say?" Lina menjawab teleponku setelah nada panggil yang ketiga.

"Aku mau minta tolong.. Aku mau bicara dengan teman ibu kamu.." kataku.

"Kamu yakin?" tanyanya.

"Iya.. Cukup sekali saja aku membuat kesalahan dengan hamil di luar nikah.. Tetapi aku tidak akan menambah daftar kesalahanku dengan membesarkan Angga dalam lingkungan yang tidak kondusif.." jawabku.

"Akhirnya! Tentu aku tolongin! Kamu tunggu dulu yah, sekarang aku telepon Tante Helmi.. Nanti aku telepon kamu lagi! Aku yakin ini merupakan jalan yang terbaik untuk kalian.." kata sahabatku dengan penuh semangat. 

"Oke.. Makasih ya.." kataku sebelum sambungan telepon terputus.

Samar-samar terdengar sebuah lagu dari kamar kos di sebelah. 

Today is where your book begins
The rest is still unwritten 
The rest is still unwritten 

Bait lagu tersebut terasa begitu pas dengan kondisi Angga. Bayi mungil ini masih sangat suci dan aku tidak ingin menodainya dengan keributan dan KDRT yang selalu dilakukan oleh ayahnya kepadaku.

~~~~~

375/500 kata

Ditulis dalam rangka menjawab tantangan Berani Cerita #04 dengan tema: Unwritten - Natasha Bedingfield. 

Monday, March 25, 2013

Doggie Cookies

Akhirnya kesampaian juga bikin Doggie Cookies buat Jav. Saya buat setengah resep yang versi kacang hijau, resepnya nyontek dari sini. Kalau resep aslinya dari sini.
Fresh from the oven
Sumber: koleksi pribadi
Bahan :
  • 90 gr unsalted butter
  • 50 gr Energen rasa kacang hijau
  • 100 gr tepung terigu
  • 25 gr tepung maizena
  • Koko Krunch secukupnya
  • Meises secukupnya
  • Chocolate chips secukupnya
Saya baru sadar waktu bikin, bahwa ternyata resep cookies ini tanpa gula dan telur.

Cara membuat :
  • Panaskan oven dan siapkan loyang yang sudah dialasi silpat
  • Ayak tepung terigu dan tepung maizena
  • Kocok butter dan Energen
  • Masukkan campuran tepung dan aduk hingga menjadi adonan yang dapat dipulung
  • Bagi adonan menjadi bulatan seberat 10 gr 
  • Beri Koko Crunch untuk telinga, meises untuk mata, dan chocolate chips untuk hidung
  • Panggang selama sekitar 25 menit
  • Hilangkan uap panasnya sebelum dimasukkan ke dalam toples
Fiuh, lumayan pegel juga ngehiasnya. Tapi terbayar kok sama ekspresi senengnya Jav waktu ngeliat si cookies :)
Jav gemes liat si guguk
Sumber: koleksi pribadi

Sunday, March 24, 2013

Belanja di Toko Buku Online

Semenjak berubah status menjadi stay at home mother, mobilitas saya pun otomatis berkurang. Kalau ingin keluar rumah, biasanya harus menunggu weekend supaya bisa diantar suami. Termasuk untuk membeli buku. Itupun tidak bisa sebebas dulu, gara-gara perhatian saya selalu terpecah karena sambil mengejar-ngejar Jav. Memilih buku pun rasanya menjadi tidak tenang.

Sementara itu, toko buku online begitu banyak bertebaran. Maka toko buku online pun menjadi alternatif bagi saya untuk membeli buku. Selain dapat membeli buku tanpa perlu khawatir Jav hilang hehehe, berbelanja di toko buku online juga mempunyai berbagai keuntungan seperti tidak perlu berpakaian rapi, hemat waktu dan energi karena bebas macet, bisa dilakukan sambil tidur-tiduran di sofa, dan biasanya diberi diskon sebesar 10-25% :))

Berikut beberapa toko buku online yang pernah saya coba.

Bukabuku
(+) Tarif ongkos kirim flat.
(+) Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer, setoran tunai, atau COD (khusus untuk wilayah Jakarta).
(+) Status pesanan dan konfirmasi pembayaran dapat dilihat dengan lengkap dan jelas di Mybukabuku.
(+) Selain dapat dilihat di Mybukabuku, Bukabuku juga mengirimkan konfirmasi pemesanan, konfirmasi ketersediaan barang, dan konfirmasi pengiriman lewat email.
(+) Respon terhadap pertanyaan cepat.
(+) Menyediakan jasa pembungkusan kado.
(-) Prosesnya lama yaitu 4 hari kerja untuk buku lokal dan 15-20 hari kerja untuk buku import diluar sabtu dan minggu. Waktu itu saya memesan buku Antologi Rasa, Kening, dan Remember Me. Hari ke-16 setelah pelunasan, saya mendapat pemberitahuan bahwa buku Remember Me tidak tersedia, dan diminta nomor rekening untuk pengembalian dana. Saya memberikan nomor rekening sambil mengomel karena sudah menunggu lebih dari dua minggu, tapi bukunya malah tidak ada padahal status ketersediaan buku di website tersedia. Hari ke-17 saya mendapat pemberitahuan bahwa semua buku termasuk Remember Me siap dikirim dalam waktu maksimal 24 jam.
(+) Saat bukunya sampai, saya merasa senang karena ternyata Bukabuku memberikan bonus tiga buah pembatas buku hohoho.

Kesan: Toko buku online ini aneh ya, tinggal cek ketersediaan buku di gudang saja lama sekali. Dan buku yang awalnya katanya tidak ada, bisa tiba-tiba jadi ada *bingung*.

Kutukutubuku
(-) Ongkos kirim disesuaikan dengan tarif yang berlaku pada TIKI JNE.
(+) Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer Bank (BCA dan
Mandiri), Western Union, atau Moneygram.
(-) Tidak bisa melihat status pemesanan di website. Setelah melakukan pemesanan di website, komunikasi selajutnya dilakukan melalui email.
(+) Konfirmasi dan tanya jawab melalui email cukup responsif.
(-) Prosesnya lama yaitu 3-5 hari kerja di luar sabtu dan minggu (beberapa penerbit bisa 2 minggu sampai 1 bulan). Waktu itu saya pesan buku Rumah Cokelat, Sakinah Bersamamu, dan The Lion King. Hari ke-9 setelah pelunasan saya mendapat pemberitahuan bahwa buku belum bisa dikirim karena masih menunggu konfirmasi ketersediaan buku Sakinah Bersamamu dan The Lion King. Hari ke-10 saya mendapat pemberitahuan bahwa buku akan segera dikirim, kecuali buku Sakinah Bersamamu yang saat itu sedang kosong. Pengembalian dana akan dikirimkan maksimal 5x24 jam.
(-) Tidak teliti. Hari ke-12, buku sudah sampai, tetapi ternyata buku The Lion King yang dikirim berbeda dengan buku The Lion King yang saya pesan. Saya pun langsung menyampaikan keluhan melalui email. Hari ke-14, saya mendapat pemberitahuan bahwa buku dapat ditukar. Saya diminta untuk mengirimkan buku yang salah, namun tidak diberitahu alamat pengirimannya. Hari ke-15 saya diberi alamat pengiriman buku. Hari ke-17 saya mengirimkan kembali buku yang salah.
(+) Bertanggungjawab
Hari ke-18 buku yang benar akhirnya dikirim, begitu juga dengan pengembalian dana untuk buku yang kosong dan penggantian ongkos kirim.

Kesan: Saya baru tahu bahwa gudang yang disebut-sebut di setiap toko buku online itu ternyata gudang penerbit, pantas saja lama.

Gramediaonline
(+) Pembayaran dapat dilakukan melalui kartu kredit (Master Card dan Visa Card) atau transfer Bank (BCA, BNI, dan Mandiri).
(+) Status pesanan dan konfirmasi pembayaran dapat dilihat dengan lengkap dan jelas di My Account.
(+) Selain dapat dilihat di My Account, Gramediaonline juga mengirimkan konfirmasi pemesanan, pembayaran, dan konfirmasi pengiriman lewat email.
(+) Koleksinya lumayan lengkap. Waktu itu saya memesan buku Emilie Belum Mau Tidur dan Emilie Sedang Kesal yang sudah sangat susah dicari dimana-mana baik di toko buku online maupun toko buku offline.
(+) Prosesnya cepat. Buku pesanan saya langsung dikirim sehari setelah konfirmasi pembayaran.

Kesan: Singkat, jelas, padat, dan cepat. Puas! Mungkin karena mempunyai toko offline juga, maka gudangnya cukup lengkap sehingga tidak perlu menunggu konfirmasi ketersediaan buku dari gudang penerbit.

Lentera Hati
Waktu itu saya ngidam buku Baby Blues yang sudah susah dicari dimana-mana. Akhirnya saya langsung saja tanya ke penerbitnya, ternyata masih ada! Jadi selain pesan buku Baby Blues 1 dan 2 (Buah Hati), saya juga sekalian pesan Catatan Ayah Asi (Buah Hati) dan Untuk Indonesia yang Kuat (Literati).
(+) Respon cepat melalui email. Tanya jawab ketersediaan buku serta cara pembayaran bisa selesai dalam satu hari.
(-) Prosesnya lama.
Hari ke-5 setelah konfirmasi pembayaran, saya menanyakan status pesanan saya dan mendapat jawaban bahwa pengiriman tertunda karena sedang dilakukan stock opname selama 2 hari. Hari ke-10 saya bertanya lagi, tapi tidak mendapatkan respon. Hari ke-14, buku pesanan saya akhirnya sampai.

Erlanggashop
Sejak belanja buku di Lentera Hati, saya mulai keranjingan pesan buku langsung ke penerbitnya. Waktu itu saya pesan buku Tidurlah Anakku, Aku dan Ayahku, dan Hiu Murah Senyum.
(+) Respon cepat melalui email. Tanya jawab ketersediaan buku serta cara pembayaran bisa selesai dalam satu hari.
(+) Prosesnya cepat. Buku dikirim di hari yang sama atau sehari setelah pembayaran.

Stiletto Book
Akhir tahun yang lalu, Stiletto Book mengadakan #stilettoshockingsale, jadi saya pesan buku A Cup of Tea for Writer dan Girl Talk.
(-) Email saya yang dikirim dari Yahoo tidak direspon. 2 hari kemudian baru ketahuan bahwa email saya tersebut masuk spam. Tetapi saya sudah mengirim email lagi dari Gmail.
(+) Respon cepat melalui email. Tanya jawab ketersediaan buku serta cara pembayaran bisa selesai dalam satu hari.
(+) Prosesnya cepat. Buku dikirim di hari yang sama atau sehari setelah pembayaran.

Diva Press
Waktu itu Papah minta dicariin buku pengelolaan dan peraturan tentang perusahaan untuk saya baca tetapi belum saya baca juga sampai sekarang :(. Kebetulan Diva Press mempromosikan salah satu buku barunya yaitu Tata Cara Lengkap Mendirikan PT. Saya cek di toko buku online lain belum ada, padahal mau sekalian beli buku yang lain juga. Akhirnya saya pesan di penerbitnya saja dan agar tidak boros ongkos kirim saya pesan Surat Cinta untuk Kisha juga.
(-) Susah dihubungi. Hari pertama saya menghubungi melalui email tapi tidak ada respon. Hari kedua siang saya memesan buku di website, juga tidak direspon. Hari kedua sore saya menghubungi melalui SMS pada nomor yang tertera di website (cara pemesanan), juga tidak direspon. Hari kedua malam saya mengadu melalui Twitter, dan diberi nomor telepon lain (nomor telepon penerbit yang tertera di halaman depan website). Hari ketiga akhirnya SMS saya mendapatkan respon.
(+) Respon cepat melalui SMS. Tanya jawab ketersediaan buku serta cara pembayaran bisa selesai dalam satu hari.
(+) Prosesnya cepat. Buku dikirim sehari setelah pembayaran.

Semoga tulisan saya tentang pengalaman belanja di toko buku online ini bermanfaat. Jangan menggunakan tulisan ini sebagai patokan, cukup sebagai gambaran saja karena saya baru belanja di toko-toko buku online tersebut satu kali saja (yang cukup sering hanya di Gramediaonline dan Erlanggashop).

Saya pribadi sebenarnya lebih senang belanja di toko buku offline. Ada kepuasan tersendiri bisa berada di tengah-tengah ruangan yang berisi rak penuh buku. Apalagi kalau belanjanya di toko buku diskon, selain mendapatkan diskon, bukunya juga bisa diberi sampul plastik gratis :D

Saturday, March 23, 2013

Reuni

Noura menggeliat berusaha lepas dari security. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia masih sempat berbalik dan berteriak, “Saya sudah mencari anda bertahun-tahun, Tuan Black. Tiga hari lalu saya melihat facebook anda dan menemukan kisah yang sama seperti yang selalu diceritakan Ibu saya.”

Mendengar teriakan Noura, Tuan Black tercekat. 

"Biarkan dia masuk." kata Tuan Black berubah pikiran.

"Apa maksud perkataanmu barusan? Kamu tahu siapa aku?" tanya Tuan Black pada Noura yang masih terengah-engah.

"Saya dan ibu saya membaca notes Anda mengenai potongan-potongan ingatan Anda tentang perkebunan yang akhir-akhir ini sering muncul. Kami sudah lama mencari Anda, Tuan Fernando Jose." jelas Noura tanpa basa-basi.

"Bagaimana aku bisa yakin bahwa perkataanmu itu benar?" tanya Tuan Black tidak percaya.

"Ingatanmu mungkin akan kembali setelah melihat Ibu saya. Anda mau ikut?" tanya Noura.

Tuan Black mengangguk. Dia mempercayakan dirinya dibawa pergi oleh Noura ke sebuah perkebunan anggur yang jaraknya ratusan kilometer dari kota tempat dia tinggal. Ingatannya sudah hilang selama belasan tahun. Dia berharap bisa segera mengetahui jati diri yang sebenarnya.

~~~

"Soraya..!" Tuan Black jatuh tersungkur saat melihat wanita di depannya. Kepalanya terasa sangat sakit seiring dengan ingatannya yang kembali bertubi-tubi. Ingatan tentang ayahnya, perkebunan, perjodohan, pernikahan, bayi.

"Fernando, ternyata kamu masih hidup. Kami tidak dapat menemukan mayatmu saat kecelakaan pesawat itu terjadi. Kamu sudah ingat padaku?" tanya Soraya sambil menghampiri Tuan Black.

"Istriku.." Tuan Black berusaha memeluk Soraya.

"Bayi kita sudah menjadi gadis yang cantik." Tuan Black melirik Noura, tetapi terkejut karena gadis itu ternyata sedang mengarahkan sebuah pistol padanya. Soraya melepaskan pelukan Tuan Black.

Dor!

"Ke.. Kenapa?" tanya Tuan Black di sela-sela rintihannya.

"Rupanya ingatanmu belum pulih benar. Noura bukan anakmu. Kami melakukan ini sebagai balasan atas perbuatanmu yang telah membunuh Sergio, ayah Noura, cinta sejatiku." ucap Soraya dingin. Dia tersenyum puas setelah memastikan bahwa usaha pembunuhan yang kedua kali ini berhasil.

~~~~~

Monday Flashfiction: Prompt #6 Black

Friday, March 22, 2013

Singkong Thailand

Udah lamaaa banget saya ingin bikin singkong thailand. Tapi karena enggak pernah dimasukin ke list belanja, jadi setiap ke pasar selalu lupa beli singkong. Kebetulan kemarin mamang sayur bawa singkong, langsung beli deh setengah kilo aja. Singkongnya baru sempat diolah tadi siang, resepnya nyontek dari NCC.

Sumber: koleksi pribadi

Bahan:
  • 500 gr singkong, kupas, cuci, potong ukuran sedang
  • 100 gr gula pasir
  • 200 ml air
  • ½ sdt garam
  • ½ sdt vanili (inisiatif saya)
Bahan saus santan (kalau dari NCC, aslinya masak santannya disatuin sama singkongnya, saya mah dipisah aja supaya kaya di Hanamasa :D):
  • 200 ml santan
  • ½ sdt garam 
  • 1 sdm tepung maizena
Cara membuat :
  • Rebus singkong hingga lunak (inisiatif saya juga)
  • Didihkan air di dalam panci, masukkan singkong, gula, garam, dan vanili
  • Rebus dengan api sedang hingga gula meresap
Saus Santan:
  • Rebus santan dan garam, aduk-aduk hingga mendidih
  • Larutkan tepung maizena dengan sedikit santan
  • Masukkan ke dalam santan dan didihkan kembali sambil diaduk-aduk sampai agak kental.
Penyajian:
  • Letakkan singkong dalam mangkuk
  • Siram dengan saus santan
Biasanya kalau bikin makanan lain langsung habis sendiri, tapi kali ini alhamdulillah bisa ngasih ke Mamah, Papah, dan Sela juga buat icip2. Berhubung saya enggak terlalu suka manis, jadi makan sedikit aja udah giung *langsung manggil mamang baso malang* :))

Wednesday, March 20, 2013

Terpesona Itu...

Kalau kata KBBI terpesona adalah:
ter.pe.so.na v cak 1 kena pesona (guna-guna); cak 2 v kena pukau; ter-kena daya tarik; sangat terpikat (tergiur) hatinya; tercengang (terkejut dsb) seperti kena mantra; terkagum-kagum : saya ~ oleh pemandangan seindah itu 
Sesuai pengertian tersebut, bagi saya terpesona itu adalah ketika Jav sedang tidur dan saya seperti kena mantra. Bukannya ikut tidur atau mengerjakan kegiatan lain, tetapi malah terpesona memperhatikan wajahnya yang sedang tidur.
Jav lagi tidur nyenyak (banget) :D
Sumber: koleksi pribadi
Terpesona juga mengingatkan saya pada sebuah lagu dari Glenn Fredly yang dinyanyikan bersama Audy. Lagu tersebut rilis dan beken di masa awal saya kuliah. Judulnya? Terpesona :)

Jika mengenang masa awal kuliah dan hubungannya dengan terpesona, maka saya ingat pernah memergoki seorang pria di kelas gabungan yang bukannya memperhatikan kuliah dosen, dia malah terkagum-kagum pada saya *siap-siap ditimpuk :))*. Kalau hanya curi-curi pandang sih itu biasa, tetapi karena dia duduk dua baris di depan saya maka dia mengintip saya melalui front camera di ponselnya. Kreatif ya? Hihihi..

Bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu terpesona? Pernahkah memergoki seseorang sedang terpesona padamu? Atau justru kamu yang pernah tepergok sedang terpesona pada seseorang? :p

~~~~~

Untuk Lampu Bohlam: Prompt #3 Pesona

Tuesday, March 19, 2013

[BeraniCerita #03] Girl Talk

Credit
"Tolong tutup ritsletingnya dong.."

"Pas banget nih di badan lo.."

"Iya ya.. Dipakenya juga nyaman banget.. Menurut lo gimana? Mending yang ini atau yang tadi?"

"Gue sih lebih suka yang ini.. Tapi harganya itu loh.. Memangnya enggak sayang? Harganya kan sama dengan setengah gaji kita.."

"Enggak apa-apa lah.. Gue ingin buktiin sama orang-orang kantor kalau bukan Lala aja yang bisa tampil mewah.. Tolong bukain lagi dong ritsletingnya.."

"Lala kan memang udah kaya dari sananya.."

"Iya sih, tapi enggak seharusnya dia pamer kekayaan kaya gitu.. Fashion, gadget, semua selalu up to date.."

"Gue rasa dia enggak pamer, memang gayanya aja yang kaya gitu.."

"Buat gue, itu namanya sombong.."

"Enggak usah dipermasalahin deh.. Kalau gue sih males ngurusin penampilan orang lain.."

"Eh tapi ada satu hal yang Lala enggak punya.."

"Apa?"

"Cowok! Kasian deh enggak laku-laku.."

"Bukannya lo juga lagi enggak punya cowok? Lo udah putus kan sama Tomi?"

"Tapi gue yakin Tomi mau balik lagi sama gue.. Gue dan Tomi masih saling sayang kok.."

"Oke terserah lo deh.. Udah beres nih?"

"Udah.. Cabut yuk.."

Mendengar suara pintu ruang sebelah yang sudah dibuka, aku pun segera keluar dari ruang ganti.

"Eh Lala.." kata Fina salah tingkah sambil berusaha tersenyum, sementara Yola tidak dapat menyembunyikan kekagetannya karena melihatku.

"Hai.. Gue duluan ya.." kataku sambil mencoba tersenyum sopan pada dua teman kantorku dan segera berjalan menuju kasir.

Sejak awal aku sudah menyadari bahwa Yola tidak begitu menyukaiku, membuatku menjaga jarak dengannya. Tapi aku tidak menyangka bahwa Yola ternyata membenciku sedahsyat itu. Setelah selesai membayar barang belanjaanku, aku pun segera menuju ke tempat parkir.

"Udah lama?" tanyaku pada pria tampan yang sedang duduk menungguku di dalam mobilnya.

"Baru nyampe.. Langsung makan?" tanyanya.

"Yuk.." jawabku sambil mengangguk.

Aku tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi Yola bila mengetahui bahwa mantan pacar yang masih disayanginya itu kini sudah menjadi pacarku.

~~~~~

303/500 kata

Ditulis dalam rangka menjawab tantangan Berani Cerita #03 dengan setting: ruang ganti.


Thursday, March 14, 2013

Menanam Pohon

Dalam agama saya (Islam), syarat menikah diatur dalam lima rukun nikah yaitu pengantin lelaki, pengantin perempuan, wali pengantin perempuan, dua orang saksi, serta ijab dan qabul.

Kemudian untuk membuatnya resmi dan diakui oleh negara, pernikahan tersebut harus didaftarkan ke Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama dengan melengkapi syarat-syarat formal seperti fotocopy KTP, fotocopy Kartu Keluarga, pas foto, surat keterangan belum menikah, dan berbagai persyaratan lainnya (yang saya sudah lupa hehe). Namun di daerah saya (Kota Bandung), terdapat syarat tambahan yang harus dilengkapi, yaitu setiap calon pengantin wajib menanam satu bibit pohon. Berarti dari satu pasangan calon pengantin terdapat dua benih pohon yang ditanam. Sepertinya program ini dibuat dalam rangka mengurangi pemanasan global.

Pohonnya bisa ditanam di depan rumah pengantin, di depan KUA atau di tempat lain yang memang layak untuk ditanami.

Kalau saya, acara menanam pohon dimasukkan ke dalam rangkaian acara. Kebetulan akad nikah kami dilaksanakan di Masjid dekat rumah. Jadi setelah pelaksanaan akad nikah, kami menanam pohon dulu di halaman Masjid. Baru setelah itu dilanjutkan dengan upacara adat di halaman rumah dan resepsi di gedung. Pertimbangan kami, daripada menyerahkan bibit pohon ke KUA dan tidak tahu ditanam di mana, lebih baik menghijaukan lingkungan kami sendiri.

Sepertinya acara menanam pohon ini tidak lazim dilakukan secara formal dan dimasukkan dalam rangkaian acara pernikahan. Buktinya, ibu yang merias pengantin sekaligus mengatur susunan acara, terheran-heran ketika kami menyisipkan acara menanam pohon ini. Mungkin agar tidak repot, para calon pengantin lain hanya menyerahkan bibit pohon ke KUA, atau mengganti bibit pohon dengan sejumlah uang?

Suami sedang menanam pohon, saya mah ngeliatin aja :D (tahun 2010)
Sumber: koleksi pribadi
Tidak banyak pengantin yang menanam pohon di halaman Masjid dekat rumah. Tapi ternyata, saat tadi saya lihat, pohon yang tumbuh sudah banyak. Mungkin meskipun tidak menanam sendiri pohon tersebut, para pengantin lain menyerahkan bibitnya ke pihak Masjid?

Yang mana ya pohon saya dan suami? (tahun 2013)
Sumber: koleksi pribadi
Setahu saya, beberapa daerah lain juga mempunyai program yang sama seperti ini. Bagaimana dengan daerahmu?

~~~~~

Untuk Lampu Bohlam: Prompt #2 Pohon

Wednesday, March 13, 2013

[BeraniCerita #02] Demi Kesan Pertama

Mama enggak berhenti-berhenti makan kuenya.. Dia juga enggak cape-cape memuji kamu :)

Aku tersenyum membaca pesan singkat yang dikirim Yoga lewat BBM.

Hari ini aku sangat bahagia. Awalnya aku sangat khawatir menghadapi hari ini. Hari dimana aku pertama kali bertemu dengan calon ibu mertuaku. Aku merasa tidak percaya diri dengan penampilan dan pembawaanku yang menurutku sangat jauh dari tipe calon menantu idaman. Aku sama sekali tidak pandai berdandan, sikapku jauh dari anggun, dan aku juga tidak pintar berbasa-basi meraih hati calon ibu mertua. Tapi Yoga bersikeras bahwa aku tidak perlu mengubah kepribadianku, dia yakin bahwa Mamanya dapat menerimaku apa adanya. Huh! Aku memang tidak mungkin dapat mengubah kepribadianku, tapi aku harus memiliki cara lain agar dapat merebut hati Mamanya Yoga.

Setelah berpikir cukup keras, akhirnya aku memutuskan untuk membawa kue sebagai buah tangan untuk Mamanya Yoga. Bukan kue buatan toko, tapi kue brownies buatan tanganku sendiri!

Sumber
Lalu hasilnya? Mamanya Yoga tidak peduli pada penampilanku yang pas-pasan. Pembicaraan kami pun mengalir lancar tanpa perlu dihiasi basa-basi. Dan kueku? Kue brownies buatanku benar-benar berhasil merebut hati Mamanya Yoga. Membuatku tidak dapat berhenti tersenyum.

"Lala! Geri muntah-muntah nih! Badannya juga lemas sekali!" Mama berteriak panik dari dalam dapur, membuyarkan lamunanku tentang Mamanya Yoga dan kue brownies-ku.

Aku segera menghampiri Mama ke dapur. Benar! Kulihat anjing beagle kami terbaring lemah di lantai dapur.

"Kamu temani Mama bawa Geri ke dokter Radit ya! Cepat! Mama tunggu di mobil!" kata Mama sambil menggendong Geri ke garasi.

Sebelum menyusul Mama, pandanganku sempat terhenti pada dua loyang kue brownies gagal yang tersisa di wadah makan Geri. Berarti Geri sudah memakan tiga loyang kue brownies gagal yang kuberikan padanya. Ya Tuhan! Geri keracunan cokelat!

~~~~~

275/500 kata

Ditulis dalam rangka menjawab tantangan Berani Cerita #02 dengan tema Quote dari Abraham Lincoln:
"Seandainya saya memiliki waktu sepuluh jam untuk menebang pohon, saya akan melewatkan delapan jam pertama untuk mengasah kapak saya"

Tuesday, March 12, 2013

Menggambar Pohon

Sudah berkali-kali saya menjalani psikotes. Pertama kali waktu di SMA, selanjutnya waktu baru masuk kuliah dan yang paling sering yaitu waktu ikut seleksi kerja.

Psikotes ini katanya bertujuan untuk mengetahui berbagai potensi yang dimiliki oleh setiap individu yang tidak terobservasi secara langsung. Prosesnya terdiri dari berbagai tahapan dan menghabiskan waktu sampai berjam-jam.

Tahapan yang paling saya tidak suka dari psikotes adalah tes menggambar pohon. Saya memang tidak pandai menggambar, namun saya tidak pernah merasa kesulitan saat mengerjakan tes meneruskan gambar dan tes menggambar orang. Tapi tes menggambar pohon? Aarrgghh! Mungkin ini ada kaitannya dengan kurangnya minat saya pada pelajaran Biologi.

Pada tes tersebut, peserta psikotes biasanya diminta untuk menggambar pohon berkambium (dikotil), bercabang dan berbuah. Tapi saya benar-benar tidak tahu harus menggambar pohon apa. Pohon mangga, pohon rambutan, pohon jambu, atau pohon durian? Saya tidak tahu bagaimana detail pohon-pohon tersebut. Pohon yang saya tahu detailnya seperti pohon pisang, pohon kelapa, dan pohon bambu tidak masuk dalam kriteria.

Pengalaman terakhir dan paling konyol adalah saat saya menjalani seleksi penerimaan calon dosen. Saat itu saya tidak belajar dari pengalaman dan tidak mempelajari detail salah satu pohon untuk persiapan tes menggambar pohon.

Aula Barat ITB (sumber)
Karena tidak memiliki bayangan sedikit pun tentang pohon yang akan digambar, maka saya pun menggambar salah satu pohon yang berada di taman sekitar lokasi tempat tes. Dengan kemampuan menggambar yang sangat kurang, saya mencoba meniru detail pada pohon tersebut. Dan saya tersenyum puas ketika gambar itu selesai. Hore!

Tapi saya benar-benar terkejut saat menyadari bahwa saya juga diminta untuk menuliskan nama pohon tersebut di bawah gambar yang sudah dibuat. Mampus deh, saya tidak tahu apa nama pohon itu. Duh gawat!

Setelah berpikir keras, menekan rasa malu, dan memupuk kepercayaan diri, saya akhirnya pasrah menuliskan 'Pohon di sekitar Aula Barat ITB' di bawah gambar pohon yang telah selesai saya buat.

~~~~~

Untuk Lampu Bohlam: Prompt #2 Pohon

Saturday, March 9, 2013

Selamat Ulang Tahun



Diikutsertakan pada Event #Postcardfiction Edisi Valentine yang diadakan oleh @kampungfiksi dan @smartfrenworld.

Koma



Diikutsertakan pada Event #Postcardfiction Edisi Valentine yang diadakan oleh @kampungfiksi dan @smartfrenworld.

Panji dan Dea



Diikutsertakan pada Event #Postcardfiction Edisi Valentine yang diadakan oleh @kampungfiksi dan @smartfrenworld.

Foto Prewed



Diikutsertakan pada Event #Postcardfiction Edisi Valentine yang diadakan oleh @kampungfiksi dan @smartfrenworld.

Friday, March 8, 2013

Adik untuk Bayu

"Bukankah selama ini kamu menggunakan alat KB? Bagaimana kamu bisa hamil?!" mata Ayah melotot saat Ibu memperlihatkan test pack dengan dua buah tanda strip.

"Sudah dua bulan aku melepasnya Mas.. Aku tidak tega melihat Bayu yang selalu murung karena ingin mempunyai adik." jawab Ibu.

"Kenapa kamu tidak mendiskusikan dulu hal ini denganku? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menambah anak lagi?!" Ayah sangat marah.

"Maafkan aku Mas.. Aku tidak ingin mengecewakan Bayu." jawab Ibu.

"Terserah!" Ayah meninggalkan Ibu sambil melempar test pack ke bawah meja. Ibu diam saja, air matanya turun ke pipinya.

Beberapa bulan kemudian...

"Ayah! Ibu sudah melahirkan? Bayinya perempuan? Siapa namanya? Aku sudah membelikan boneka untuknya." Bayu yang baru dijemput dari sekolahnya langsung menghampiri Ayah yang sedang merokok di bangku halaman rumah sakit bersalin.

"Namanya Risa, sesuai permintaanmu." jawab Ayah datar tanpa menatap mata putra sulungnya.

Bayu pun masuk ke dalam rumah sakit. Dia sempat kebingungan harus berjalan ke mana, namun Ibu segera menghampirinya.

"Ibu! Lihat! Aku bawa boneka untuk Risa!"

Ibu tersenyum kemudian berkata, “Lucu sekali. Mudah-mudahan Risa suka. Ibu antar ke kamarnya sekarang?”

Bayu mengangguk senang.


"Maaf sayang, selain suster, semua orang tidak boleh masuk ke ruangan ini." kata Suster menahan Bayu di pintu ruang bayi.

"Tapi Suster, aku mau melihat Risa adikku dan memberinya boneka ini." jawab Bayu.

"Kamu bisa melihatnya melalui jendela. Dan boneka ini, biar Suster saja yang menyimpannya di meja sebelah tempat tidur adikmu ya." Suster membujuk Bayu.

Bayu mengangguk dan memberikan boneka itu, lalu berjalan menuju jendela yang ditunjukkan oleh Suster.

"Cantik ya?" kata Ibu yang berdiri di belakang Bayu.

Bayu mengangguk, matanya tidak berkedip memperhatikan adik perempuan yang sudah lama dia idam-idamkan.

"Ibu harap kamu menjaganya dengan baik ya." kata Ibu sambil mencium kepala Bayu.

"Tentu saja Bu." jawab Bayu.

"Bayu! Rupanya kamu sudah ada di sini." Nenek menghampiri Bayu.

"Iya, Ibu yang mengantarku ke si....." Bayu tidak menyelesaikan kalimatnya karena Ibu tiba-tiba menghilang.

"Kamu yang sabar ya Nak. Ibumu.. Ibumu sudah meninggal saat melahirkan adikmu.." kata Nenek sambil memeluk Bayu dan menangis. Dia menyayangkan keputusan putrinya yang bersikeras untuk hamil lagi, padahal dokter jelas-jelas sudah melarang karena kehamilan pada putrinya akan sangat beresiko di usianya yang sudah tidak muda lagi dan tekanan darah tinggi kronis yang diidapnya.

~~~~~

Monday Flashfiction: Prompt #4 Boneka untuk Risa

Thursday, March 7, 2013

Kuis Seven Days by Rhein Fathia

Beberapa hari yang lalu, saya blogwalking ke blognya Mba Rini dan menemukan tulisan tentang liburan ke Pulau Umang. Ternyata Mba Rini sedang ikut Kuis Seven Days by Rhein Fathia. Saya mau ikutan juga ah :D

"Anggap ada yang mau bayarin kamu jalan-jalan ke mana aja, nggak peduli berapa biayanya. Kamu diberi waktu selama TUJUH HARI dan harus mengajak SATU orang saja. Ke mana kamu akan pergi traveling, sama siapa, dan apa alasannya?"
Jawabannya...

Tentu saja saya akan mengajak suami saya. Kapan lagi dapat kesempatan pergi berdua suami tanpa dibuntuti si kecil, kan hanya bisa mengajak satu orang hihihi. Jangankan jalan-jalan berdua suami, saya pergi ke salon atau ke dokter pun si kecil pasti selalu ikut. Sebagai perempuan normal, saya ingin sekali-kali merasakan quality time dengan suami bukan di malam hari saat badan sudah lelah dan mata sudah mengantuk karena harus menunggu si kecil terlelap lebih dahulu. Jadi kali ini biarlah si kecil dititipkan dulu ke kakek-neneknya, dengan berdalih 'mumpung ada yang bayarin, sayang kalau tidak dimanfaatkan' hohoho.

Saya akan mengajak suami ke tempat yang katanya surga terakhir di dunia itu loh. Raja Ampat! Alasannya?

Pertama, karena saya rasa waktu tujuh hari cukup memungkinkan bagi kami untuk melakukan perjalanan dari Indonesia bagian Barat menuju Indonesia bagian Timur. Agar sampai di Raja Ampat, kami akan menggunakan pesawat dengan tujuan Sorong yang terletak di Papua Barat. Rutenya beragam sesuai armada pesawat yang digunakan, ada yang singgah terlebih dahulu di Denpasar, Makassar, atau Ambon. Dari Sorong, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang ke Pelabuhan Waisai Raja Ampat menggunakan transportasi angkutan laut yang hanya berangkat satu kali sehari dengan lama perjalanan sekitar 2 hingga 2,5 jam. Sehingga total lama perjalanan sekitar 21 jam, masih ada sisa lima hari untuk menikmati keindahan Raja Ampat.

Kedua, jalan-jalan ke Raja Ampat membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Lokasi yang jauh dan sulit dijangkau membuat harga bahan bakar dan kebutuhan pokok di sini jauh lebih tinggi daripada di kota besar. Tapi tenang saja, kan ada yang bayarin. Jadi, mumpung ada yang bayarin, saya tidak akan ragu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk jalan-jalan ke tempat mahal ini hihihi.

Ketiga, karena perjalanan yang melelahkan dan biaya yang mahal untuk jalan- jalan di Raja Ampat sebanding dengan kepuasan yang akan didapatkan. Pemandangan bebatuan dan pantai yang indah, puluhan jenis burung, makanan laut yang segar, pemandangan laut yang jernih dari atas bukit karang, dan yang paling terkenal adalah kekayaan biota laut yang sangat beragam. Bayangkan, Raja Ampat memiliki 537 jenis karang, atau mewakili 75% jenis karang yang ada di dunia! Merupakan surga bagi para penyelam.

Karang dan ikan berwarna-warni (sumber)

Sunset di Raja Ampat (sumber)
Keempat dan yang paling penting, tidak terlalu ramai. Untuk menjaga kelestarian alamnya, Raja Ampat memang tidak dikembangkan untuk tempat pariwisata massal. Sampai 10 tahun ke depan, jumlah resor dibatasi maksimal 20 resor saja, begitu juga jumlah kapal cepat yang beroperasi. Sangat cocok untuk tempat berdua-duaan dengan suami hohoho.

Tempat berdua-duaan sama suami, romantis (sumber)
Gimana? Asik kan jalan-jalan ke Raja Ampat? 

Baiklah, sekian berandai-andainya. Mudah-mudahan yang baca tulisan ini mau meng-aamiin-kan khayalan saya ini  :)

Wednesday, March 6, 2013

Langit Pun Tersenyum

Awan
Mungkin aku dapat sedikit menikmati liburan kali ini seandainya hanya aku dan bumi yang berlibur di sini. Tidak ada orang lain, tidak ada langit, hanya kami berdua. 

Bumi
Liburan kali ini tidak terlalu menyenangkan. Bagi teman-temanku, Pantai Pangandaran ini tempat yang mengasyikkan untuk berlibur. Bagiku tidak begitu karena semenjak tiba di sini Langit selalu murung.
~~~

Mau tau bagaimana kisah cinta Awan, Bumi, dan Langit? Yuk beli bukunya :)

Detail Buku
Judul: SECRET ADMIRER #4 -Cinta dalam Diam-
Genre : Antologi cerpen remaja
Penulis : Boneka Lilin et Boliners
Editor : Boneka Lilin
Layout : Boneka Lilin
Design Cover : BoLin & Ary Hansamu Harfeey
Penerbit : Harfeey
ISBN : 978-602-7876-31-6
Tebal : 155 Hlm, 14, 8 x 21 cm (A5)
Harga : Rp 39.000,- 

Blurb
Aku tersenyum untuk senyummu, yang meski itu bukan kamu tujukan untukku.
Aku menikmatimu dalam zona nyamanku, yang walau terkadang tak mampu ku gambarkan seberapa perihnya saat belati kesiaan itu melukaiku.
Aku mengagumimu lebih dari yang seharusnya. Aku rela menukar segalanya agar keberanian mampu melecutku untuk sekadar membuang jarak antara aku dan kamu. Dan kalau itu mimpi, aku tak ingin bangun lagi.
Kalau itu jadi kenyataan, aku tak akan tidur selamanya. Biarkan aku bergumul dengan dysania dan insomnia, demi bertaruh untuk seulas senyummu.
Aku terus bertahan dengan cinta ini, cinta yang berlumur rasa sakit. Jika untuk mencintaimu aku harus selelah ini, maka sudah ku lakukan.
Doakan aku agar tak miliki rasa jengah untuk terus mencintaimu dalam diam.

Penulis Kontributor
Boneka Lilin, Kartika Ariefianthy, Nanda Aulia Novtika, Dinda Amalia Soenandar, Rizma Benedicta, Mia Fitriana,.Amilatun Sakinah, Alida N. Annashar, Risna Utami, Lilynonoyrus, Putri Vellly, Sisillia Tri.Cahyani, Nurul Hasanah, Jeck, Annisa.Rahmadanita, Jay Wijayanti, Lisnawati Tri Hastuti, Vera Yulia, Julia Meta Sari, Rainsya.Pelangi, Ranti Maretna Huri, Devy Widya Cahyani, Mutiah Wijayanti, Anggitan K, Lita Ikhwani, Yulitha Rohman, Annisa Nur Illahi, Irma Garnesia, Nathalia Diana Pitaloka, Nusaibah Az Zahra, Regina Mega Pratiwi, Fathur Rozi, Cucu Nurhalika, Dian Tria Yunita, Yuyun Sri.Wahyuni, Uyi Kaha, Hida Althafunnisa.

Yang berminat langsung hubungi saya ya :)

Sunday, March 3, 2013

Jav 26 Bulan

Sumber: koleksi pribadi
  • Udah lulus weaning with love :D
  • Udah bisa manggil saya dengan sebutan 'bunda' bukan 'buda' lagi :)
  • Udah bisa nyelesain puzzle huruf hijaiyah
  • Udah bisa ngunci diri sendiri di dalam kamar, tapi enggak bisa buka lagi.. Heboh deh :))


Saturday, March 2, 2013

Menyapih Jav

Alhamdulillah..
Akhirnya Jav lulus Weaning With Love *jingkrak jingkrak* hihihi.

Di sini saya hanya akan menulis pengalaman saya saja ya. Saya tidak akan memberikan tips WWL karena sudah banyak artikel yang membahas tentang itu. Namun artikel yang paling saya suka adalah artikel ini. Selain memberikan tips tentang WWL, artikel ini memberi saya pencerahan karena menjelaskan hal yang belum pernah saya temukan di artikel lain. Bahwa inti dari WWL itu bukan mengenai kapan anak mulai berhenti menyusu, tetapi mengenai kapan orang tua mulai menyapih dan anak sendiri lah yang memutuskan kapan dia mau berhenti menyusu.

Sampai dua minggu yang lalu, rupanya saya belum benar-benar mulai menyapih Jav. Sebenarnya saya sudah sounding pada Jav tentang berhenti menyusu sejak umurnya 20 bulan. Namun setiap dia meminta untuk menyusu dan saya ingatkan bahwa 'nenen untuk bayi', dia selalu tidak terima seakan tidak mengerti. Padahal untuk hal-hal lain, Jav selalu mengerti sehingga saya menyimpulkan bahwa Jav memang belum siap untuk disapih. Saking tergila-gilanya dengan nenen, meskipun perhatian Jav sudah dialihkan dengan hal lain, untuk sementara perhatiannya memang dapat teralihkan, tapi beberapa saat kemudian pasti ingat lagi. Bahkan setelah diberi susu UHT pun, Jav masih nagih nenen lagi hahaha.

Meskipun saya masih menikmati proses menyusui dan belum berniat untuk segera menyapih Jav, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa saya mulai galau mendengar pertanyaan-pertanyaan tentang Jav yang belum disapih. Seperti komentar-komentar tidak menyenangkan saat saya mengusahakan ASIX untuk Jav, saya sangat terganggu dengan perkataan orang-orang yang memberi tahu Jav bahwa nenennya sudah kosong, nenennya sudah enggak enak, dan kalimat-kalimat bohong lainnya. Saya tidak suka anak saya dibohongi. Lalu puncaknya adalah saat seseorang mengajak Jav mendatangi 'orang pintar' di Soreang agar 'diobati'. What?! Menyusu di atas dua tahun itu bukan penyakit, kenapa perlu 'diobati'? Saya yang saat itu sedang sensitif *salahkan PMS* merasa sakit hati. Tidak mungkin saya merelakan Jav untuk 'diobati' sehingga membuatnya tiba-tiba lupa untuk menyusu. Sedih sekali membayangkan Jav berhenti menyusu bukan atas kesadarannya sendiri. Tidak adil apabila dulu kami sama-sama belajar menyusu-menyusui, tapi berakhir tanpa kesepakatan kedua belah pihak.

Akhirnya saya bertekad untuk mulai serius menyapih Jav dengan cinta dan berkata pada Jav bahwa kami pasti bisa. Proses menyapih dimulai pada hari itu juga saat waktu tidur siang. Memang Jav sempat menangis, tetapi beberapa saat kemudian dia akhirnya tertidur di pelukan saya. Saya menangis *lagi-lagi salahkan PMS* hehehe. Sebagian hati saya merasa bangga karena berhasil menidurkan Jav tanpa nenen. Tapi sebagian lagi merasa sedih karena tidak bisa lagi melihat ekspresi Jav yang khas saat sedang menyusu. Di hari ketiga, saya tambah dengan  menyapih Jav saat tidur malam. Dan pada hari kelima, saya juga menyapih Jav saat dia terbangun di sepertiga akhir malam.

Dua minggu sudah berlalu. Jav sudah tidak pernah meminta nenen lagi. Sebelum tidur, kadang dia minta dibacakan buku cerita, kadang minta dipijit, kadang minta dibacakan Al-Quran, dan kadang langsung saja nyungsep di kasur tidur sendiri. Dan yang lebih membahagikan, sudah empat malam berturut-turut Jav tidur pulas dari malam sampai pagi tanpa terbangun di sepertiga akhir malam.

Setelah saya pikir-pikir lagi, selama ini sebenarnya Jav bukannya belum mengerti bahwa 'nenen untuk bayi', tapi dia pura-pura tidak mengerti. Buktinya, saya merasa takjub karena proses penyapihan ini berlangsung tanpa sakau dan galau. Awalnya saya khawatir Jav akan sedih seharian serta menangis hingga meronta-ronta sebelum tidur sampai dua jam seperti saat Jav disapih sementara ketika umurnya delapan bulan. Rupanya sekarang Jav memang sudah siap untuk disapih. Mungkin Jav juga sadar bahwa dulu, apa yang saya katakan tidak sesuai dengan apa yang saya rasakan, sehingga dia pun tidak menghiraukan kata-kata saya. Tetapi setelah saya tidak merasa ragu lagi untuk menyapihnya, Jav pun mengerti dan tidak menagih nenen lagi.

Pernyataan saya bahwa mendidik anak itu mudah kini terbukti lagi. Yang sangat tidak mudah itu adalah sebagai orang tua, saya harus menyiapkan mental yang kuat, tetap konsisten, dan selalu sabar dalam mendidik anak.

Dear Jav, Bunda bangga kita bisa sama-sama berhasil melewati tahap ini tanpa obat merah, tanpa brotowali, tanpa tensoplast, dan tanpa 'orang pintar'. Yeay! Namun masih banyak tahapan yang harus kita lewati di depan sana. Tapi Bunda yakin kita pasti bisa. Semangat! :)