Tuesday, April 29, 2014

Masakan Spesial untuk Suami

Beberapa waktu yang lalu, saya dapet kiriman ikan mujair banyak banget dari balong ayah saya. Saking banyaknya, suami saya sampai bosen, karena ikannya digoreng lagi digoreng lagi. Padahal saya doyan banget ikan goreng.

Akhirnya suami minta dimasakin ikan campur soun yang suka dibikinin ibunya, makanan favoritnya suami. Karena enggak tau resepnya, saya mencoba menghubungi ibu mertua. Sayangnya enggak berhasil. Di-SMS failed, ditelepon ke ponsel enggak nyambung, ditelepon ke rumah enggak ada yang angkat. Browsing di internet juga enggak membuahkan hasil, karena saya enggak tau masakan seperti itu apa namanya.

Berbekal nekat, saya pun mencoba membuatnya dengan resep kira-kira.

Dok. Pribadi
Bahan:
  • Ikan mujair yang sudah dipotong-potong dan diberi garam, dan digoreng.
  • Soun yang sudah direndam air hangat
  • Daun salam
  • Serai, iris tipis
  • Bawang daun, iris tipis
  • Garam
  • Merica

Bumbu yang dihaluskan:
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Lengkuas
  • Jahe
  • Tomat
  • Cabai merah

Cara membuat:
  • Tumis bumbu halus, daun salam, dan serai
  • Tambahkan ikan goreng, aduk hingga tercampur rata
  • Masukkan soun dan daun bawang
  • Tambahkan garam dan merica secukupnya
  • Masakan siap disajikan bersama nasi putih hangat

Dok. Pribadi
Rasanya? Enak! Enggak kalah sama masakan ibu mertua. Menurut saya sih, enggak tau kalau menurut suami hihihi...

Tidak lama setelah itu, saya berkesempatan melihat ibu mertua membuat masakan ini. Ternyata resepnya lebih sederhana. Cabai merahnya lebih banyak, tapi tanpa lengkuas, daun salam, serai, dan daun bawang. Selain itu, setelah bumbunya ditumis dan ditambah ikan goreng, ditambahkan air dulu dan dimasak hingga airnya menyusut. Setelah itu baru ditambah soun. Saya pribadi sih lebih senang memasaknya dengan cara kering versi saya. Lebih tahan lama :)

Monday, April 28, 2014

Trip to Batu Karas: Day 2

Sebelumnya, Trip to Batu Karas: Day 1


Batu Karas
Sabtu pagi, saya bangun dengan tubuh yang segar. Malam itu, tidur saya nyenyak sekali. Soalnya, waktu malam sebelumya, di perjalanan, saya hanya bisa tidur selama satu setengah jam.

Setelah sarapan, kami langsung cabut lagi ke pantai. Kali ini pantai yang kami tuju yaitu sisi pantai yang agak jauh dari penginapan, di mana pusat keramaian berada. Sekarang Jav enggak sendiri lagi. Ada Agta (sepupunya) dan teteh-teteh lainnya (sepupu-sepupunya Agta).

Sesuai rencana, suami, adik, dan adik ipar saya bersama sepupunya berkumpul dan menyewa Gladiator. Gladiator ini mirip Banana Boat (penumpang menaiki ban yang ditarik speed boat), tapi enggak ada acara diceburin ke lautnya. Satu ban dapat diisi oleh tujuh orang. Biayanya Rp 50.000 per orang. Saya iri huhuhu...

Daripada nyesel udah jauh-jauh ke sini tapi enggak nyobain seru-seruan. Akhirnya saya bersama orang tua dan mertua menyewa Doughnut. Biayanya sama, Rp 50.000 per orang dan satu ban dapat diisi oleh tujuh orang. Kalau Gladiator duduknya menghadap ke luar, Doughnut ini duduknya menghadap ke dalam. Lumayan seru juga, meskipun sebenarnya kurang menantang sih. Tapi bagaimana lagi, terpaksa, daripada menanggung resiko terlempar ke laut heuheu...

Enin lagi ngasuh :D (Dok. Bagas)
Grup pemberani: Gladiator (Dok. Pribadi)
Grup penakut: Doughnut (Dok. Bagas)
Green Canyon
Setelah mandi dan bersiap-siap, jam 10 kami check out dari penginapan dan menuju ke lokasi selanjutnya, Green Canyon. Jarak dari penginapan ke Green Canyon cukup dekat, sekitar setengah jam lah. Letaknya satu arah dengan jalur pulang. Saat dalam perjalanan ke Green Canyon itu, kami berpapasan dengan rombongan mobil dan bus yang hendak menuju ke Batu Karas. Pasti crowded banget di sana, untung kami sudah mencuri start :D

Sampai di sana, tempatnya ramai banget oleh pengunjung. Untungnya, kami udah di-booking-in tiket perahu juga sama adik ipar, jadi cukup antri setengah jam saja. Entah harus mengantri bverapa jam kalau belum booking tiketnya. Saya dan keluarga kebagian tiket nomor 150-an. Saat turun dari perahu, pihak penyelenggara mengumumkan bahwa untuk hari itu, tiket sudah tidak dijual lagi, karena sudah 650 tiket yang terjual. Wow! 

Biaya tiketnya Rp 150.000 per perahu. Ditambah biaya booking Rp 25.000 jadi Rp 175.000 per perahu. Satu perahu bisa diisi oleh maksimal enam orang (termasuk bayi dan anak kecil). Waktunya sekitar empat puluh lima menit. Lima belas menit untuk pergi, lima belas menit untuk nongkrong, lima belas menit untuk pulang. Kalau mau nyebur dulu, biayanya Rp 200.000 per jam. Karena crowded banget, jadi perahu kami enggak nongkrong dulu, langsung pulang lagi.

Menunggu antrian (Dok. Pribadi)
Beda perahu sama Jav :( (Dok. Pribadi) 
Walaupun crowded tapi tidak menutupi keindahannya (Dok. Bagas)
Seafood di Pangandaran
Heran deh... Kenapa harga seafood di restoran Pangandaran lebih mahal dari harga seafood di restoran Bandung langganan saya yah... Padahal kan dekat sumbernya... Walaupun begitu, enggak afdal rasanya kalau main ke pantai tapi enggak makan seafood. Jadinya, dari Green Canyon, kami masuk lagi ke Pangandaran (enggak perlu bayar lagi, cukup liatin aja karcis masuk yang kemarin). Pangandaran yang kemarin sepi, hari ini tampak ramai juga.

Yang sempat didokumentasikan.. Sayur sama lobsternya keburu diserbu :p (Dok. Pribadi)
Home Sweet Home
Waktunya pulang. Berangkat dari Pangandaran jam 3 sore. Kami memang sengaja menyusun jadwal seperti ini, supaya hari Minggunya ada waktu untuk beristirahat. Sejak istirahat untuk shalat dan makan, saya tiduuur terus. Jadi enggak ngerasain macetnya lalu lintas di Gentong. Bangun-bangun udah nyampe di rumah jam 11 malam. Alhamdulillah bisa kembali pulang dengan sehat dan selamat :) 

Tapi banyak tugas yang menanti untuk diselesaikan. Salah satunya nyuci baju basah yang berpasir heuheu...

Sunday, April 27, 2014

Trip to Batu Karas: Day 1

Seperti yang sudah pernah sedikit saya singgung di sini. Awalnya, rencana liburan saya sekeluarga long weekend bulan Maret yang lalu itu ke Puncak, terus lanjut ke rumah peristirahatan keluarga adik ipar di Puraseda. Sayang, rencana hanya tinggal rencana. Beberapa hari sebelum berangkat, saya malah sakit.

Kebetulan, long weekend bulan April ini, keluarga besar adik ipar liburan ramai-ramai ke Batu Karas. Ibu saya pun tertarik untuk ikut bergabung. Enggak bergabung bener-bener gabung sih. Cuman numpang dipesenin penginapan sama ngikutin itenerary yang sudah mereka susun. Berangkat juga masing-masing. Mereka berangkat dari Bogor, sedangkan kami berangkat dari Bandung. Nanti langsung ketemu di sana.

Awalnya saya agak males. Meskipun belum pernah ke Batu Karas, tapi saya udah sering banget ke Pangandaran. Namun, berhubung ini adalah pertama kalinya Jav main ke pantai, saya pun akhirnya excited juga. Apalagi mertua dan tetangga dekat pun ikut. Total sebelas orang yang berangkat. Jadi lebih rame deh :)

Long Weekend Itu Berarti...
Macet! Padahal kami sengaja berangkat Kamis malam. Berharap semoga dengan mencuri start, maka akan terhindar dari macet, karena pengguna jalan lain masih beristirahat. Menggunakan dua mobil, kami berangkat dari Bandung jam setengah 1 malam, dan baru sampai di Pangandaran jam 10 pagi. Hampir sepuluh jam (termasuk dua kali istirahat untuk Shalat Shubuh dan sarapan)! Padahal saat kondisi normal, perjalanan Bandung-Pangandaran biasanya membutuhkan waktu sekitar tujuh jam saja.

Tapi ternyata kami masih jauh lebih mending, hanya kena macet di daerah Gentong. Rombongan yang berangkat dari Bogor, baru masuk Cipularang saja udah kena macet. Di Rancaekek kena macet juga. Di Gentong apalagi. Ketika kami sudah tiba di Pangandaran, mereka baru sampai di Rajapolah. Itenerary yang sudah disusun pun berubah total :(

Pangandaran
Biaya masuk Pangandaran untuk dua mobil adalah Rp 70.000. Saat kami tiba, matahari bersinar dengan sangat terik. Ya iyalah, namanya juga pantai hihihi... Seandainya pergi sendiri, tentu saya akan memilih untuk duduk manis di warung sambil menikmati kelapa muda. Tapi seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, ini adalah pertama kalinya Jav main ke pantai. So, kami (saya dan kedua neneknya) pun sibuk mengasuh Jav bermain-main dengan ombak di pantai. Awalnya dia agak takut, tapi lama-lama malah enggak mau diajak berhenti :D

Waktunya bapak-bapak Shalat Jumat, kami para ibu-ibu keliling-keliling sebentar belanja suvenir yang banyak dijual di sepanjang jalan. Belanja udah beres, tapi yang Shalat Jumat belum juga selesai. Akhirnya dilanjut keliling Pangandaran dengan menyewa delman. Lumayan lama karena semua penjuru Pangandaran kami lewati. Ongkosnya Rp 30.000 untuk satu keliling. Baru setelah bapak-bapak selesai Jumatan, kami meneruskan perjalanan ke Batu Karas, setelah sebelumnya memborong ikan jambal dulu.

Pangandaran siang itu... (Dok. Pribadi)
Belum mandi :D (Dok. Bagas)
Doyan :D (Dok. Bagas)
Penginapan di Batu Karas
Perjalanan Pangandaran-Batu Karas menghabiskan waktu sekitar dua jam. Seharusnya bisa lebih cepat, tapi kondisi jalan di daerah sebelum Parigi jelek banget. Karena penginapannya udah di-booking-in sama keluarga adik ipar, jadi kami langsung menghubungi contact person penginapannya begitu melewati gerbang Batu Karas. Biaya untuk dua mobil, sama seperti di Pangandaran, Rp 70.000. Dari gerbang, kami dijemput menuju penginapan.

Penginapan yang kami booking berupa rumah yang terdiri dari tiga kamar dan dua kamar mandi. Biayanya Rp 800.000 per malam, sebanding dengan fasilitasnya. Saya sekeluarga merasa puas. Setiap ruangan dilengkapi dengan kipas angin, bahkan ada satu ruangan yang dilengkapi dengan AC. Ruang tengahnya dilengkapi dengan TV layar datar. Selain itu disediakan tiga buah kasur tambahan. Jadi buat yang enggak kebagian kamar bisa ngampar di luar pakai kasur. Kamar mandinya nyaman. Dapurnya juga oke. Bukan hanya disediakan kompor, tapi juga lengkap dengan kulkas, dispenser, rice cooker, sampai piring dan gelas. Jadi untuk makan malam dan sarapan, kami memasak nasi serta lauk pauknya, karena memang sudah menyiapkan bahan mentahnya dari Bandung. Serasa di rumah sendiri :D

Penginapannya (Dok. Penginapan)
Batu Karas
Sementara yang lain beristirahat, saya dan suami mengajak Jav main ke pantai lagi. Berhubung udah sore, jadi kami main ke sisi pantai yang paling dekat dari penginapan. Enak, sepi. Batu Karas itu berasal dari kata batu dan keras, yang artinya batu yang keras. Lucu juga bukankah semua batu memang keras hihihi... Batunya memang cukup besar. Kalau berjalan dari sisi pantai sebelah kiri batu menuju pantai sebelah kanan batu, maka kita harus melewati jalan yang sangat menanjak.

Seperti biasa, setelah foto-foto, Jav main air dan pasir lagi. Kali ini sama ayahnya. Akhirnya Jav bisa main pasir di pantai, setelah selama ini cuman main di bak pasir :D Sedangkan saya ngiler ngeliatin yang main Banana Boat di sisi pantai lainnya. Pengen... Tapi saya takut air enggak bisa berenang :(

Menatap lautan... (Dok. Pribadi)
Kompak main pasir (Dok. Pribadi)
Suka sama latar belakangnya :) (Dok. Suami)
Bersambung ke Trip to Batukaras: Day 2

Friday, April 25, 2014

Tentang Sarapan Pagi

Sarapan Pagi Itu...
Wajib! Bagi saya, sarapan pagi itu penting sekali. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa sarapan pagi merupakan bekal nutrisi untuk beraktivitas di siang hari. Dan memang benar, kalau tidak sarapan pagi, biasanya saya akan merasa lemas sepanjang siang, itu kemungkinan buruk terbaiknya. Kemungkinan buruk terburuknya, maag saya bisa kambuh. Duh, ribet deh kalau sudah begitu. Makanya, saya selalu berusaha agar selalu makan teratur, termasuk rutin sarapan pagi.

Kebiasaan sarapan pagi ini sudah dimulai sejak saya masih kecil. Ibu saya lah yang mengenalkan saya pada kebiasaan ini. Beliau tidak ingin perut anaknya kemasukan angin duluan. Makanya sepagi mungkin setelah bangun tidur, keluarga kami terbiasa untuk sarapan. Bahkan ketika harus bepergian. Tidak peduli kami harus berangkat pagi sekali, sarapan tetap tidak boleh ditinggalkan.

Kini kebiasaan itu sudah berubah menjadi suatu kebutuhan. Makanya jangan heran kalau zaman kuliah dulu, saya bisa sarapan pagi sampai tiga kali dalam satu hari. Kok bisa? Jadi, kalau saya ada kuliah jam tujuh pagi, berarti saya harus berangkat dari rumah jam setengah enam pagi. Karena saya tidak bisa pergi sebelum sarapan, otomatis jam lima pagi saya sarapan dulu di rumah. Kadang lalu lintasnya sangat padat sehingga saya tiba di kampus tepat waktu. Namun tidak jarang juga lalu lintasnya agak lengang, jadi saya terlalu cepat tiba di kampus. Kalau sudah begitu, biasanya saya ngebubur ayam atau ngelontong kari dulu di pedagang kaki lima dekat gerbang kampus. Harap maklum, perjalanan rumah-kampus jauh sih, jadi lapar lagi hihihi... Selesai kuliah jam sembilan pagi, teman-teman saya yang sebagian besar adalah anak kos biasanya sarapan di kantin. Enggak asyik dong kalau saya tidak ikut makan juga. Jadi tiga kali deh, sarapan pagi saya hari itu hohoho...

Menu Sarapan Pagi Itu...
Apa saja... Saya tidak pernah pilih-pilih dalam menentukan menu sarapan pagi. Apapun, selama enak, sehat, dan mengenyangkan, pasti saya makan.

Setelah berkeluarga, kewajiban saya bertambah dengan menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anak tercinta. Kalau sedang rajin, saya akan memasak menu lengkap untuk sarapan. Kalau sedang agak malas, saya akan memasak menu yang lebih simple seperti nasi goreng atau mie goreng atau roti. Kalau sedang benar-benar malas, saya akan membeli nasi kuning atau kupat tahu di depan kompleks. Kalau malasnya sudah tidak ketolongan lagi, saya akan menunggu tukang bubur ayam yang lewat di depan rumah :p

Paling enak sih sarapan pagi di hotel yah. Semuanya ada, mulai dari menu sarapan tradisional sampai internasional. Lebih enak lagi karena semuanya bisa dimakan, tidak dibatasi. Surga banget untuk perut saya yang seperti karet ini hihihi...

Sarapan saya di Hotel Aston Makassar hari pertama (Dok. Pribadi) 
Sarapan saya di Hotel Aston Makassar hari kedua (Dok. Pribadi)
Sarapan Pagi Favorit Itu...
Bubur ayam Abah. Bubur ayam kampung ini dijual menggunakan gerobak mengelilingi kompleks. Karena penjualnya sudah agak tua, maka saya sekeluarga biasa memanggilnya Abah. Bagi orang lain, bubur ayam ini mungkin biasa saja. Tapi bagi saya, bubur ayam ini sangat spesial. Agak mirip dengan Bubur Ayam Cianjur. Buburnya tidak terlalu kental, disiram dengan sedikit kuah kari, dan rasanya enak meskipun dimakan tanpa sambal.

Sayangnya, bubur ayam Abah ini baru lewat di depan rumah saya sekitar jam sembilan atau sepuluh pagi. Duh, terlalu siang. Bisa-bisa maag saya keburu kambuh. Ada sih bubur ayam lain yang lewatnya lebih pagi, tapi saya sukanya bubur ayam Abah :(

Pernah saya meminta ke Abah, supaya sekali-sekali keliling ke kompleks rumah saya dulu, baru agak siang keliling ke kompleks yang lain. Tapi Abahnya enggak mau hiks... Ya sudahlah, bukan rezeki saya bisa sering-sering makan bubur ayam Abah. Bukan rezeki Abah juga, bubur ayamnya bisa sering-sering dibeli sama saya.

Bubur ayam Abah (Dok. Pribadi)
Begitulah serba-serbi sarapan pagi versi saya. Bagaimana sarapan pagi versi teman-teman?

~~~

Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway Yuk Menulis Part 1



Thursday, April 24, 2014

Gagasan Tentang Transportasi Publik @ Koran Jakarta

Tidak pernah terpikirkan bahwa saya akan nekat mengirimkan sebuah opini ke media cetak.

Dulu, waktu masih jadi mahasiswa, salah satu dosen saya pernah memberi tantangan pada mahasiswanya: "Siapa yang tulisannya tentang guna lahan atau pertanahan berhasil menembus media cetak, maka nilai A sudah ditangan." Tapi saya sama sekali tidak tertarik dengan tantangan yang menggiurkan itu. Enggak pede.

Apalagi sekarang. Setelah tiga tahun tidak pernah berkutat lagi dengan dunia perencanaan kota dan wilayah, saya mana berani mengirim opini tentang bidang itu ke media.

Tapi, beberapa bulan yang lalu, saat mengirim resensi pertama saya ke Koran Jakarta, redaksinya meminta saya untuk menulis opini tentang perencanaan kota. Saya pun bingung harus menulis apa, dan akhirnya lupa dengan permintaan tersebut.

Saat saya mengirim resensi yang kedua kalinya ke Koran Jakarta, lagi-lagi redaksinya meminta saya untuk menulis opini tentang perencanaan kota. Kali ini akhirnya saya putuskan untuk mencoba. Kalau dimuat ya syukur, kalau tidak ya saya tau diri.

Ternyata tulisan saya dimuat. Tapi dengan banyak catatan dan beberapa kalimat yang dihilangkan. Intinya sih, standar layaknya opini yang dimuat di Gagasan-nya Koran Jakarta itu:
  • Bersifat nasional
  • Tidak menonjolkan seseorang
  • Pembahasan yang mendalam
  • Menunjukkan temuan baru
Versi cetaknya (Dok. Pribadi)
Berikut tulisan asli yang saya kirimkan.

~~~

A developed country is not a place where the poor have cars. It’s where the rich use public transport. (Enrique Penalosa, former Mayor of Bogotá, Colombia)

Beberapa tahun terakhir ini, masalah kemacetan di kota-kota besar Indonesia terasa semakin memprihatinkan. Sebagai contoh, jika sebelumnya kemacetan di Kota Bandung hanya terjadi pada saat akhir pekan dan di ruas-ruas jalan tertentu saja, kini kemacetan selalu terjadi kapan saja dan di mana saja. Melelahkan dan merugikan.

Kemacetan ini, pada dasarnya disebabkan oleh pertumbuhan penggunaan kendaraan pribadi yang terus meningkat. Dinas Perhubungan Kota Bandung menyebutkan bahwa pada tahun 2010, jumlah kendaraan pribadi di Kota Bandung adalah sebanyak 1,2 juta unit, dengan rincian sepeda motor sebanyak 800 ribu unit dan mobil sebanyak 400 ribu unit. Pada tahun 2012, jumlah tersebut meningkat menjadi sebanyak 2,2 juta unit, dengan rincian sepeda motor sebanyak 1,3 juta unit dan mobil sebanyak 900 ribu unit. Ditambah lagi, ada sebanyak 15 ribu sampai 20 ribu unit kendaraan yang masuk ke Kota Bandung setiap akhir pekan. Sementara itu, infrastruktur jalan tidak pernah bertambah.

Banyak hal yang melatarbelakangi peningkatan jumlah penggunaan kendaraan pribadi. Pertama, alihfungsi guna lahan yang tidak terkendali dan tidak memperhatikan bangkitan dan tarikan pergerakan yang diakibatkannya. Kedua, kualitas transportasi publik yang tidak memadai, sehingga menyebabkan masyarakat beralih ke kendaraan pribadi. Dan ketiga, kebijakan pemerintah yang memberikan kemudahan bagi para produsen kendaraan sehingga akses masyarakat untuk memiliki kendaraan pribadi semakin terjangkau.

Berbagai program kini diluncurkan oleh pemerintah dalam usaha untuk mengembalikan citra Kota Bandung sebagai kota yang nyaman. Termasuk diantaranya beberapa program yang bertujuan untuk mengatasi masalah kemacetan di Kota Bandung.

Program jangka pendek yang saat ini sudah berjalan diantaranya adalah #SeninGratis. Setiap hari Senin dan Kamis, siswa SD, SMP, dan SMA di Kota Bandung dapat menikmati bus sekolah gratis yang merupakan bantuan dari dana CSR beberapa perusahaan swasta. Ada juga #JumatBersepeda. Setiap hari Jumat, diharapkan masyarakat Kota Bandung menggunakan sepeda untuk pergi ke kantor ataupun ke sekolah. Serta yang beberapa waktu lalu baru diperkenalkan yaitu Bandros (Bandung Tour on Bus) untuk para wisatawan. Program-program tersebut melibatkan masyarakat secara langsung untuk ikut ambil bagian dalam mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Selain itu, pemerintah Kota Bandung juga mempunyai program jangka menengah dan jangka panjang seperti membangun monorel untuk daerah perkotaan dan cable car untuk daerah yang berbukit. Semuanya diupayakan dengan menarik investor dari luar negeri.

Program-program tersebut merupakan sebuah gebrakan yang sangat positif, meskipun dampaknya belum terlihat secara signifikan. Setidaknya sudah ada usaha untuk mulai mengubah budaya masyarakat Kota Bandung agar kembali melirik moda transportasi lain selain kendaraan pribadi.

Lalu bagaimana nasib program-program tersebut apabila Kota Bandung mengalami pergantian kepemimpinan? Akankah terus berlanjut?

Bagaimana juga nasib angkutan umum di Kota Bandung? Angkutan umum (atau biasa disebut angkot) merupakan moda transportasi publik yang paling sesuai dengan karakteristik jalan di Kota Bandung yang lebarnya kecil dan memiliki jumlah persimpangan yang banyak.

Sayangnya, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, banyak hal yang melatarbelakangi penurunan jumlah penggunaan angkutan umum. Namun hal yang paling krusial yaitu kualitas pelayanan angkutan umum itu sendiri yang tidak dapat diandalkan. Ngetem, ugal-ugalan, menentukan tarif sesukanya (karena ada target jumlah setoran yang harus dipenuhi para supir), menyebabkan masyarakat mulai meninggalkan angkutan umum. Dampaknya, pendapatan para supir angkutan umum semakin berkurang. Hal ini membuat mereka semakin senang ngetem, ugal-ugalan, dan menentukan tarif sesukanya. Yang tentu saja membuat masyarakat semakin enggan untuk kembali menggunakan angkutan umum. Sebuah lingkaran setan yang tidak akan ada ujungnya.

Dari Masyarakat untuk Masyarakat

Riset Indie (sebuah kelompok penelitian independen) mencoba untuk memotong lingkaran tersebut. Setelah mengundang beberapa ahli untuk melakukan pemetaan masalah kemacetan di Kota Bandung bersama komunitas kreatif lainnya, Riset Indie juga menginisiasi kegiatan Angkot Day. Pada hari itu, masyarakat Kota Bandung dapat menikmati pelayanan angkutan umum rute Kebon Kelapa-Dago dengan nyaman (gratis, tidak ngetem, dan tidak ugal-ugalan). Begitu juga dengan para supir angkutan umum, mereka dapat memberikan pelayanan terbaik tanpa perlu merisaukan pendapatan yang masuk. Ya, hari itu Riset Indie menyewa 200 angkutan umum yang dananya berasal dari anggota komunitas dan para donatur.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, sekarang ini Riset Indie bekerjasama dengan Organda dan Pemerintah Kota, sedang mencoba mengembangkan konsep integrasi angkutan umum. Dengan terintegrasinya angkutan umum di Kota Bandung, maka semua angkutan umum akan memiliki standar pelayanan yang sama. Serta pengelolaan dan pengawasannya pun akan lebih mudah.

Selain itu, agar program ini dapat terjaga keberlanjutannya, Riset Indie juga sedang berusaha membentuk sebuah forum yang anggotanya merupakan kelompok masyarakat pengguna angkutan umum. Forum inilah yang akan mengelola angkutan umum di Kota Bandung secara mandiri.

Forum tersebut berkaca pada keberhasilan Central Park Conservancy, sebuah organisasi privat non-profit yang mengelola Central Park di New York. Organisasi yang dibentuk pada tahun 1980 ini merupakan kelompok masyarakat yang peduli pada perbaikan dan peningkatan Central Park. Walaupun begitu, organisasi ini masih berada di bawah tanggung jawab Pemerintah Kota New York.

Meskipun belum dapat dipastikan keberhasilannya, konsep yang disusun oleh Riset Indie juga memberikan suatu harapan baru bagi pelayanan transportasi publik yang lebih baik di Kota Bandung.

Apabila masyarakat mengelola sendiri angkutan umumnya, seharusnya hasilnya akan lebih efisien. Kenapa?

Pertama, karena andil yang besar dalam pengelolaan angkutan umum tersebut dimiliki oleh masyarakat sebagai stakeholder utama, yaitu pengguna angkutan umum.

Kedua, karena dikelola oleh masyarakat, maka hasilnya pun akan lebih tepat sasaran, sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Masyarakat lah yang paling memahami pelayanan angkutan umum seperti apa yang mereka harapkan. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk meninggalkan angkutan umum.

Ketiga, dalam prosesnya, masyarakat akan terpicu untuk menghasilkan ide-ide yang kreatif demi terciptanya pelayanan angkutan umum yang sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Baik itu dalam hal pengumpulan dana maupun dalam pengelolaannya, karena hasilnya akan mereka nikmati sendiri.

Keempat, karena terlibat secara langsung, masyarakat akan mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab yang besar terhadap keberlanjutan pelayanan angkutan umum. Secara logika, hal ini seharusnya membuat semua masyarakat turut serta untuk memanfaatkan pelayanan angkutan umum.

Kelima, pengelolaan angkutan umum oleh forum masyarakat akan lebih terorganisasi dibandingkan dengan pengelolaan angkutan umum yang saat ini dilakukan secara tersendiri oleh masing-masing pengusaha.

Keenam, pengelolaan angkutan umum oleh forum masyarakat tidak akan terpengaruh oleh pergantian kepemimpinan, meskipun pada pelaksanaannya tetap bertanggungjawab pada Pemerintah Kota.

Secara teori, pelayanan angkutan umum yang lebih baik seharusnya akan berhasil membuat masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih pada angkutan umum. Namun, apakah pada pelaksanaannya akan benar-benar berhasil? Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya. Dan kita tidak mungkin dapat mencobanya sebelum ada yang memulainya.

~~~

Sedangkan yang sudah diedit bisa dilihat di sini. Silakan dibandingkan :)

Versi online-nye (Dok. Pribadi)

Tuesday, April 22, 2014

Packing: Kerudung

Selamat malam semuanya! Asyik ya, kemarin long weekend :)

Nah, setelah long weekend bulan kemarin gagal liburan ke daerah Bogor dan sekitarnya gara-gara sayanya sakit (hiks jadi batal juga deh ngebubur ayam Cianjur dan nyoto mie Puraseda), long weekend minggu kemarin akhirnya saya sekeluarga liburan ke Batu Karas dan sekitarnya.

Tapiii... Ada satu hal yang paling saya enggak suka dari liburan. Saya enggak suka packing! Dulu saya sering iri sama temen-temen yang tasnya lebih kecil tapi isinya lebih banyak dari saya. Saya emang enggak jago packing :(

Tapi itu dulu. Sebelum saya tau teknik menggulung pakaian. Dengan menggulungnya (daripada dengan melipat biasa), pakaian yang bisa masuk ke dalam tas/koper menjadi lebih banyak. Seneng deh :)

Nah, sekarang masalahnya lain lagi. Saya baru mulai berhijab sejak tahun 2011. Jadi, baru akhir-akhir ini saya bermasalah untuk memasukkan kerudung ke dalam tas/koper tanpa membuatnya kusut. Paling enak sih bawa kerudung instan ya. Tapi persediaan kerudung instan saya masih bisa dihitung dengan jari dari satu tangan heuheu...

Sebagian besar pasmina sih bahannya enggak gampang kusut. Tinggal diuwel-uwel, terus masukin koper. Beres deh. Pas waktunya mau dipakai, ya langsung pakai aja, enggak perlu disetrika dulu. Sayangnya, kebanyakan kerudung saya bahannya katun paris yang gampang kusut itu loh. Ribet juga kan kalau harus bawa setrikaan cuma untuk nyetrika kerudung.

Pasmina yang cukup diuwel-uwel :p (Dok. Pribadi)
Nah, keluhan saya ini didengar oleh ayah saya. Beliau menyarankan untuk menggulung kerudung menggunakan karton bekas tisu atau kertas fax supaya enggak kusut. Setelah dicoba, hasilnya memang oke. Saya udah beberapa kali menggunakan teknik ini.

1. Siapkan kerudung katun paris yang sudah dilipat dua dan disetrika rapi serta karton bekas tisu atau kertas fax. Lebih enak sih pakai karton bekas kertas fax karena lebih panjang.

Dok. Pribadi
2. Letakkan karton di ujung kerudung.

Dok. Pribadi
3. Gulung perlahan-lahan.

Dok. Pribadi
4. Kerudung siap dimasukkan ke dalam tas/koper.

Dok. Pribadi
Gimana? Atau ada yang punya tips lain? :)

Sunday, April 20, 2014

Obat Gratis untuk Sembuhkan Pasien TB

Masih cerita tentang Alya nih, survivor Tuberkulosis (TB) Paru. Jadi, setelah mengalami gejala TB dan memeriksakannya ke rumah sakit, Alya pun divonis dokter bahwa dia positif mengidap penyakit TB Paru Aktif.

Apa TB Bisa Disembuhkan?
Seperti yang sudah saya jelaskan di artikel sebelumnya, TB disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis, bukan penyakit turunan, apalagi penyakit kiriman alias disantet :p Selain itu, kabar baiknya penyakit TB ini bisa disembuhkan. Iya, TB memang bisa disembuhkan. Namun tentu saja ada syaratnya, yaitu pasien TB  harus mengkonsumsi obat secara teratur hingga dinyatakan sembuh oleh dokter.

Obat Apa Saja yang Harus Dikonsumsi Pasien TB?
Untuk pasien TB baru, obat anti TB (OAT) yang harus dikonsumsi adalah Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamide, dan Ethambutol. Obat-obatan tersebut dikonsumsi selama dua bulan pertama (tahap intensif) pengobatan. Empat bulan selanjutnya (tahap lanjutan), OAT yang harus dikonsumsi cukup Rifampicin dan Isoniazid saja.

Banyak banget ya obatnya? Memang. Kuman TB sangatlah kuat, tidak dapat disembuhkan hanya dengan satu macam obat saja. Pada tahap intensif, jika OAT dikonsumsi secara teratur, TB yang menular dapat berubah menjadi tidak menular. Walaupun begitu, pengobatan tetap harus dilanjutkan, untuk membunuh kuman persister serta mencegah penyakit TB kambuh lagi.

Apa yang Akan Terjadi Jika Pasien TB Tidak Mengkonsumsi OAT Secara Teratur?
Sayangnya, banyak pasien TB yang tidak teratur, bahkan tidak tuntas mengkonsumsi OAT. Alasannya biasanya karena malas.
  • Malas karena obatnya sangat banyak.
  • Malas karena obatnya harus dikonsumsi setiap hari.
  • Malas karena harus kontrol secara rutin.
  • Malas karena tidak mempunyai uang untuk berobat.
  • Malas karena setelah dua minggu mengkonsumsi obat, pasien TB biasanya sudah merasa sembuh.
Padahal, apabila sekali saja OAT tidak dikonsumsi sesuai anjuran, resikonya selain pasien TB tidak akan sembuh, juga:
  • Jika berhenti sebelum satu bulan, maka pengobatan harus diulang dari awal. Duh, males kan...
  • Jika berhenti setelah satu bulan, kuman TB akan resisten. Penyakit TB yang diderita pasien pun akan naik tingkat menjadi MDR-TB (Multi-drug Resistance Tuberculosis). Maka obat yang harus dikonsumsi pun lebih banyak, yaitu tambahan suntikan Streptomycin setiap hari selama dua bulan. Hmmm lebih repot lagi, kan... Tapi kalau tidak diobati, maka pasien TB akan menularkan kuman TB yang resisten juga. Duh, jangan sampai deh :(
Program Pemerintah untuk Keberhasilan Pengobatan TB
TB termasuk salah satu masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah benar-benar serius menangani masalah ini.

OAT Kombinasi Dosis Tetap (KDT)
Sejak tahun 1995/1996, pemerintah mulai menyediakan OAT KDT. Keuntungannya:
  • Dosis obat disesuaikan dengan berat badan pasien, sehingga hasilnya lebih efektif dan efek sampingnya pun lebih sedikit.
  • Mengurangi resiko konsumsi obat tunggal (karena pasien lupa atau tidak teliti) juga kesalahan dalam penulisan resep.
  • Jumlah tablet yang ditelan pasien lebih sedikit, sehingga lebih memudahkan pasien.
Sumber

Directly Observed Treatment Short-course (DOTS)
Sejak tahun 1995, Indonesia telah menerapkan strategi DOTS. Pada tahun 2000, strategi ini sudah berjalan secara nasional di seluruh pelayanan kesehatan (puskesmas). Komponen dalam strategi ini salah satunya yaitu pengobatan menggunakan OAT dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). PMO adalah seseorang yang dipercaya oleh petugas kesehatan sekaligus disegani oleh pasien. Tugasnya yaitu mengingatkan, mengawasi, dan mendorong pasien TB agar disiplin mengkonsumsi OAT.

OAT Gratis
Dalam rangka mendukung program DOTS, pemerintah juga memberikan OAT secara gratis.

Apa?! OAT Gratis?
Iya! Gratis! Pengobatan TB gratis bisa didapatkan di seluruh puskesmas, rumah sakit pemerintah, dan dokter swasta yang bekerjasama dengan pemerintah. Syaratnya? Tidak ada syarat apapun. Pasien TB cukup datang ke puskesmas atau rumah sakit pemerintah dengan membawa hasil diagnosa yang menunjukkan bahwa dia mengidap penyakit TB Aktif. Selanjutnya pasien TB pun dapat menikmati pengobatan TB secara gratis.

Tapi jadi curiga nih... Gratis begitu, jangan-jangan kualitasnya kurang oke. Eits, tidak perlu khawatir, dengan mengkonsumsi obat TB gratis, pasien TB dijamin tetap akan sembuh kok. Tentu syaratnya masih berlaku, obat TB dikonsumsi secara teratur ya... Jadi kalau dianalogikan, obat TB gratis dan obat TB yang bayar itu ibarat seseorang yang melakukan perjalanan Bandung-Jakarta dengan menumpang teman dan menggunakan travel. Yang satu gratis, sedangkan yang satu lagi harus mengeluarkan ongkos. Tapi dua-duanya memberikan hasil yang sama kan, yaitu sampai di Jakarta :)

Bagaimana? Sebenarnya tidak ada alasan pasien TB untuk malas berobat. Obatnya gratis! Cukup kemauan yang kuat dari diri sendiri serta dukungan dari orang terdekat (PMO), maka pasien TB pun bisa sembuh. Seperti Alya :)

So, apabila mengalami gejala TB atau menemukan saudara/teman yang mengalami gejala TB, langsung periksakan ke dokter agar segera diobati. Karena pengobatan TB yang teratur bukan hanya bertujuan untuk menyembuhkan penyakit pasien TB, tapi juga untuk mencegah kekambuhan, memutus rantai penularan, dan mencegah resistensi kuman TB terhadap OAT. Demi Indonesia yang lebih sehat :)

~~~

Referensi:
  • http://www.tbindonesia.or.id
  • KMK No. 364 tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis

~~~

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition: Temukan dan Sembuhkan Pasien TB
(Serial 2: Obat TB Gratis)


Monday, April 14, 2014

Unforgettable Journey: Yang Pertama

Once you have traveled, the voyage never ends, but is played out over and over again in the quietest chambers. The mind can never break off from the journey. (Pat Conroy)

Yup! Pengalaman paling menyenangkan untuk dikenang adalah sebuah perjalanan. Setiap perjalanan selalu pantas untuk diiingat dengan kisah suka dukanya masing-masing. Namun ada satu perjalanan yang paling tak terlupakan bagi saya, yaitu perjalanan ke Yogya untuk mengikuti "Just Write 2" yang diadakan oleh Diva Press pada bulan Juni tahun yang lalu. Bukan perjalanan dinas, perjalanan wisata, perjalanan religius, apalagi honeymoon, tapi pelatihan menulis.

Kenapa paling tak terlupakan? Karena perjalanan itu merupakan 'yang pertama'...

Pertama Kali Pergi Sendiri
Sudah tidak terhitung berapa kali saya pernah melakukan perjalanan ke luar kota bahkan ke luar pulau selama hidup saya, baik itu perjalanan bersama keluarga, teman, ataupun rekan kerja. Tapi... saya tidak pernah pergi sendiri. Iyah, 28 tahun dan saya belum pernah pergi ke luar kota sendiri!

Bayangkan, beberapa kali saya pernah mengabaikan wawancara kerja di Jakarta ketika masih berstatus fresh graduate zaman dahulu kala, hanya karena tidak berani pergi sendiri. Selain karena memang tidak pernah berniat untuk bekerja di Jakarta, juga karena malas apabila harus menanggung resiko tersasar di rimba Jakarta sana. Cupu banget yah hiks...

Sempat terlintas untuk menghubungi Aji (peserta pelatihan dari Jatinangor) supaya bisa pergi bersama dari Bandung menuju Yogya. Setelah mengintip profil Facebooknya, saya jadi enggak pede. Dia seorang mahasiswa yang masih muda (dan ganteng). Mana mau dia jalan bareng sama saya yang udah emak-emak begini, bisa-bisa dia turun pasaran hihihi...

Daripada ditolak, atau malah dia menerima tawaran saya dengan terpaksa, mending pergi sendiri aja deh. Toh, kini saya sudah lebih tua dewasa, udah berani pergi sendiri hohoho... Apalagi udah terjamin juga kalau saya bakal dijemput sama panitia ketika sampai di Yogya sana :)

Pertama Kali Pergi Sendiri Menggunakan Kereta
Sebelumnya, kereta bukanlah moda transportasi favorit saya. Apalagi untuk perjalanan jauh seperti Bandung-Yogya. Pasti membosankan. Tapi enggak mungkin juga saya minta dibeliin tiket pesawat sama suami. Dikasih izin untuk pergi enam hari aja, saya udah bersyukur banget :p

Saya pernah pergi ke Surabaya menggunakan kereta. Hasilnya? Mati gaya. Padahal ketika itu saya pergi bersama rekan kerja saya. Apalagi kalau pergi sendiri...

Namun ternyata saya keliru. Perjalanan menggunakan kereta itu asyik banget. Dan lebih asyik lagi kalau sendiri. Loh? Iya. Saya bisa dengan khusyuk menulis draft tulisan untuk blog, membaca buku, mendengarkan musik sambil melihat pemandangan, tidur, sampai hanya melamun. Tanpa ada yang mengganggu. Asyik banget kan. Waktu delapan jam bener-bener enggak terasa :)

Dan, saya baru tahu setelah melewati lebih dari setengah perjalanan bahwa ternyata saya dan Aji menggunakan kereta yang sama, hanya berbeda gerbong. Setelah sampai di Stasiun Tugu dan ngobrol sama Aji, terungkaplah bahwa sebenarnya dia pernah menghubungi saya lewat Facebook. Tapi saya enggak ngeuh karena enggak ada notifikasinya huhuhu... "Jangan-jangan Mba Lia enggak mau pergi bareng sama ABG kaya saya," begitu pikirnya ketika saya enggak merespon pesannya hihihi...

Pertama Kali Pergi Meninggalkan Anak
Hmmm... Ini yang membuat perjalanan saya terasa berat. Selama dua setengah tahun, saya dan Jav adalah satu paket. Di mana ada saya di situ pasti ada Jav. Namanya juga ibu rumah tangga tanpa ART, ke mana-mana pasti bawa anak, soalnya enggak ada yang bisa dititipin.

Saat mengetahui bahwa saya lulus seleksi sebagai peserta pelatihan ini, bukan hanya senang yang saya rasakan, tapi juga bingung, sedih, galau, dan sebagainya. Jav sama siapa? Lalu setelah masalah Jav sama siapa terpecahkan, bukan berarti saya bisa tenang. Bagaimana mungkin saya pergi sendiri dan meninggalkan Jav? Enam hari pula :(

Tapi, untunglah semuanya baik-baik saja. Jav sempat beberapa kali menanyakan saya, tapi tidak sampai menangis. Justru saya yang menangis, saat satu jam pertama di kereta :D

Pertama Kali Mengikuti Pelatihan Menulis Fiksi
Sebagai (mantan) peneliti, saya sudah beberapa kali mengikuti pelatihan menulis. Tapi bukan menulis fiksi, melainkan menulis artikel ilmiah :p

Terpilih sebagai 30 peserta dari 900 pendaftar dalam seleksi pelatihan ini, merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya. Apalagi bisa bertemu langsung dengan Pak Edi (bosnya Diva Press), mendapatkan motivasi menulis dari Tere Liye (penulis favorit saya), berkenalan sama teman-teman editor, dan berbagi pengalaman dengan teman-teman penulis. Kesempatan ini meningkatkan kepercayaan diri saya agar tidak pernah patah semangat untuk selalu mengasah kemampuan menulis.

Dok. Panitia Just Write 2
Pertama Kali Mencoba Lava Tour Merapi
Ini memang bukan perjalanan wisata, namun Lava Tour Merapi ini adalah bonus sebagai bagian dari acara pelatihan. Saya berharap acara wisata ini dilaksanakan di hari terakhir pelatihan, sehingga saya bisa pulang lebih dulu dan kembali ke Bandung lebih cepat. Apa serunya coba, melihat daerah sisa bencana yang tertutupi abu? Tapi tidak, acara wisata tersebut dilaksanakan di hari kedua pelatihan dan wajib diikuti oleh semua peserta.

Lagi-lagi saya salah. Mengikuti lava tour ini seru sekali, memberikan pengalaman yang membuat perasaan saya campur aduk. Di satu sisi, nyesss banget rasanya melihat pemandangan yang indah di sekitar Merapi. Tapi di sisi lain, lebih nyesss lagi melihat desa-desa dan pemukiman yang sudah tak bersisa :(

Lalu sebagai penutup, adrenalin saya pun dipacu dengan pengalaman offroad yang gokil. Semenjak mempunyai anak, jangankan offroad, nonton film di bioskop saja belum pernah lagi. Makanya, offroad ini membuat seluruh jiwa dan raga saya menjadi segar kembali.

Dok. Panitia Just Write 2
So, perjalanan serba pertama ini benar-benar pengalaman yang tak akan terlupakan. Karena setelah perjalanan ini, saya lebih pede pergi sendiri. Saya juga tidak ragu lagi meminta izin pada suami untuk sesekali pergi menikmati me time dan menitipkan Jav padanya. Serta yang paling penting, saya juga mulai berani bermimpi untuk menulis sebuah novel :)

~~~

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Unforgettable Journey Momtraveler’s Tale.


Sunday, April 6, 2014

Temukan Pasien TB: 7 Fakta Tentang TB

Fakta 1:
Tanggal 24 Maret merupakan Hari TB (Tuberkulosis) sedunia.

Yup! Pada tanggal tersebut di tahun 1882, Dr. Robert Koch mengumumkan bahwa dia telah menemukan sumber penyakit TB. Penyakit TB memang bukan penyakit baru. Para ilmuwan telah menemukan bukti pada mumi yang menunjukkan adanya penyakit TB dan menyebabkan meninggalnya seorang wanita yang hidup 600 tahun sebelum Masehi. Wow udah lama banget ya! Walaupun begitu, saya sendiri baru beberapa tahun terakhir ini mengetahui lebih dalam tentang penyakit TB.

Ketika itu, Alya (bukan nama sebenarnya), 25 tahun, kondisi kesehatannya tiba-tiba menurun. Dia mengalami demam dan batuk. Karena gejalanya tidak seperti batuk biasa, maka keluarganya segera membawa Alya ke dokter. Setelah diperiksa, dokter menyebutkan bahwa dia merupakan tersangka (suspek) pasien TB Paru. Dokter menyarankannya untuk mengunjungi dokter spesialis paru di RS Paru Rotinsulu. 

Fakta 2:
TB merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

TB yang menyerang paru disebut TB Paru. Penyakit ini menjadi penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut. Namun, TB ternyata tidak hanya dapat menyerang paru, TB juga bisa menyerang organ tubuh lain seperti otak, kulit, kelenjar, atau tulang, yang disebut dengan TB Ekstra Paru.

Mycobacterium tuberculosis (Sumber dari sini)
Tentu saja Alya merasa sangat terkejut mendengar pernyataan dokter tersebut. Beberapa waktu belakangan ini, berat badannya memang menurun. Dia mengira hal itu disebabkan karena kawat gigi yang baru dipasangnya. Namun dia sadar, bahwa gejala penyakitnya memang mirip dengan gejala penyakit TB Paru.

Fakta 3:
Gejala utama penyakit TB Paru adalah batuk berdahak (kadang disertai dengan darah) selama lebih dari 2 minggu.

Selain itu, dapat juga diikuti dengan gejala tambahan seperti:
  • Demam meriang selama lebih dari 1 bulan
  • Berkeringat dingin meskipun tidak melakukan aktivitas
  • Sesak napas
  • Lemas
  • Tidak nafsu makan
  • Berat badan menurun
Gejala TB (Sumber dari sini, sini, sini, sini, dan sini)
Menyadari mempunyai gejala yang sama dengan gejala penyakit TB Paru, Alya pun mengikuti saran dokter untuk memeriksakan diri ke RS Paru Rotinsulu. Selain melakukan pemeriksaan fisik, dia juga harus melakukan beberapa tes sebagai bahan diagnosis penyakit TB Paru.

Fakta 4:
Diagnosis utama TB Paru dilakukan melalui pemeriksaan dahak mikroskopis.

Pemeriksaan dahak mikroskopis dilakukan pada 3 spesimen dahak yaitu sewaktu-pagi-sewaktu (SPS).
  • S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada waktu suspek TB datang berkunjung pertama kali
  • P (pagi): dahak dikumpulkan pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur
  • S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi
Foto toraks, biakan, dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis.
Alur diagnosis TB (Sumber: KMK No. 364 tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis)
Hasil tes menunjukkan bahwa ternyata Alya positif mengidap TB Paru. Meskipun pemeriksaan dahak mikroskopis menunjukkan hasil BTA negatif, namun foto toraks menunjukkan bahwa terdapat bercak putih pada paru Alya.

Bukan hanya Alya yang merasa shock, keluarganya pun merasa terpukul. Selama ini mereka tidak pernah mendengar ada saudara atau teman yang pernah mengalami sakit TB. Yang mereka tahu selama ini, TB hanya penyakit yang biasa dialami oleh masyarakat golongan bawah, dengan gizi buruk dan lingkungan yang tidak sehat. Sedangkan Alya, dia tinggal di rumah orang tuanya di sebuah kompleks perumahan. Lingkungannya sehat dan makanannya pun bergizi.

Fakta 5:
TB menular melalui udara. Bisa menginfeksi siapa saja, tidak mengenal jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, profesi, atau status ekonomi.

Sumber penularan TB berasal dari pasien TB BTA positif. Ketika batuk, bersin, atau berbicara, pasien menyebarkan kuman ke udara melalui percikan dahak. Dahak tersebut dapat bertahan selama beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab.

Media penularan TB (Sumber dari sini, sini, sini, sini, dan sini)
Melihat cara penularan TB, memang memungkinkan bagi siapa saja untuk dapat tertular TB. Apalagi Alya yang memang sering berhubungan dengan banyak orang. Mungkin saja dia terinfeksi ketika sedang menaiki angkutan umum, atau mungkin ketika dia sedang survei ke pemukiman kumuh, atau mungkin juga ketika dia sedang belanja di pasar. Sulit untuk menemukan siapa yang menularkan TB pada Alya.

Fakta 6:
Hanya 10% orang yang terinfeksi TB (TB Laten), kemudian menjadi sakit TB (TB Aktif).

Uji tuberkulin (Mantoux) merupakan suatu cara untuk mengetahui apakah seseorang sudah terinfeksi TB atau belum. Tidak semua orang yang terinfeksi TB (TB Laten) bisa menjadi sakit TB (TB Aktif). Pada tahun 2011, diketahui bahwa 80% masyarakat Indonesia sudah terpapar kuman TB. Namun kuman tersebut tidur (dormant) di dalam tubuh dan baru aktif ketika daya tahan tubuh orang tersebut sedang lemah. Jadi bisa saja Alya terinfeksi kuman TB satu minggu sebelumnya, satu bulan sebelumnya, atau bahkan satu tahun sebelumnya. Hanya Tuhan yang tau :)

Fakta 7:
TB bisa disembuhkan.

Untungnya, meskipun mematikan, selama pasien TB berobat secara teratur hingga tuntas, maka pasien tersebut bisa sembuh. Demi kesembuhannya, Alya mengkonsumsi obat secara teratur sesuai dengan resep dokter, serta secara rutin memeriksakan perkembangan kesehatannya. Tidak penting lagi mencari tahu dari mana sumber penularannya. Akhirnya Alya pun dinyatakan sembuh enam bulan kemudian.

So, kesimpulannya, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penyebaran TB?
  1. Waspada terhadap gejala-gejala TB. Apabila menemukan gejala TB baik pada diri sendiri atau pun pada orang lain, segera periksakan ke dokter, agar bisa segera diobati.
  2. Kita tidak bisa menghindar dari paparan kuman TB. Untuk itu, kita harus selalu menjaga daya tahan tubuh untuk menghindari meningkatnya TB Laten menjadi TB Aktif.
~~~

Referensi:
  • http://detik.com/health/read/2012/02/17/165455/1845390/763/80-persen-orang-indonesia-pernah-terpapar-kuman-tb
  • http://www.tbindonesia.or.id/
  • KMK No. 364 tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis
~~~

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition: Temukan dan Sembuhkan Pasien TB 
(Serial 1: Temukan Pasien TB)





Thursday, April 3, 2014

Jav 3 Tahun 3 Bulan

Dok. Pribadi

  • Udah bisa sikat gigi pakai pasta gigi...
  • Setiap pintu depan dibuka, langsung ngambil sepedanya terus main sepeda di luar :D
  • Pengetahuan main ngemudiin mobilnya makin banyak

Tuesday, April 1, 2014

Penunggu Rumah

Selamat pagi semua...! Alhamdulillah akhirnya bisa blogging lagi. Ada yang ngerasa kehilangan enggak? Enggak ada yah hihihi...

Ada yang udah baca Amelia-nya Tere Liye belum? Kalau belum, baca deh. Soalnya Amelia dan Serial Anak-Anak Mamak lainnya ini keren banget. Bercerita tentang sebuah keluarga sederhana yang tinggal di sebuah perkampungan di tengah hutan di lembah Bukit Barisan.

Amelia ini anak bungsu di keluarga Mamak. Sebagai anak bungsu, pasti paling disayang dong ya. Sayangnya, Amel justru resah menghadapi masa depan karena sebuah tradisi di kampungnya. Dalam tradisi tersebut, Amel, sebagai anak bungsu tetap tinggal di rumah merawat orang tua, meskipun sudah berkeluarga. Penunggu rumah. Padahal Amel ingin sekolah yang jauh, melihat dunia.
"Amel tidak harus menunggu rumah, kan, Pak?"Bapak diam sejenak, membuatku jadi cemas menunggu jawabannya."Wawak kau benar, kau boleh tinggal di mana pun, Amel. Boleh menjadi apa pun saat kau besar nanti. Tidak ada yang akan menghalangi anak bungsu Bapak." Bapak tersenyum, akhirnya menjawab."Tapi, Amel, kalau kau kelak bersedia tinggal bersama kami yang semakin tua, menemani Bapak dan Mamak di kampung, tentu itu juga amat menyenangkan, Amel." Bapak menatapku lembut meneruskan kalimatnya.
(Amelia - Tere Liye, halaman 201)
Untuk kasus keluarga saya, saya lah yang kini menjadi penunggu rumah. Saya memang bukan anak bungsu. Kebetulan saja base pekerjaan suami saya di Bandung, meskipun tiap minggu harus pergi ke luar kota. Sedangkan adik saya, si bungsu, harus mengikuti suaminya bekerja keliling Jawa Barat.

Makanya beberapa bulan setelah menikah, sebelum saya sempat mencari rumah kontrakan, orang tua saya langsung membangun rumah untuk keluarga kecil saya, tidak jauh dari rumah mereka. Alasannya, karena katanya sejak kecil saya tidak pernah menyusahkan. Namun saya yakin, mereka hanya ingin dekat dengan salah satu putrinya, agar dapat menjaga dan merawat saat mereka sudah tua nanti. Meskipun tidak tinggal di rumah yang sama, tapi prinsipnya mirip lah ya dengan penunggu rumahnya Amelia.

Tapi lihatlah sekarang. Sebagai penunggu rumah, justru saya lah yang sering merepotkan mereka. Selama ini,  fungsi saya sebagai penunggu rumah hanya sekedar menyediakan makan untuk ayah saya setiap ibu saya pergi dinas ke luar kota. Di luar itu, alhamdulillah mereka adalah orang tua yang sehat dan mandiri.

Sedangkan saya, sering sekali merepotkan mereka. Saya sering sakit-sakitan. Dan sakitnya biasanya ketika suami sedang tidak ada. Sudah jelas, akhirnya mereka yang paling repot. Bukan hanya mengantar saya ke dokter, tapi juga mengasuh Jav di antara kesibukan mereka :(

Seperti kejadian baru-baru ini. Meskipun merasa lega karena penyebab sesak napas saya sudah diketahui, tapi proses panjang mengunjungi empat rumah sakit dan menemui empat dokter harus melibatkan orang tua saya. Saya merasa menjadi penunggu rumah yang merepotkan :(

Semoga setelah ini, saya bisa selalu menjaga kesehatan. Semoga orang tua saya selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang. Serta semoga, saya bisa membalas kasih sayang mereka yang begitu besar dan tidak pernah lekang oleh waktu.

Dok. Pribadi